Selasa, 04 April 2017

Tak Perlu Nama, hanya Bocah

Sekarang saya tidak mengenal kamu. Ingatan telah terlanjur dilarung bermuara pada keterasingan. Ibarat perjumpaan. Perjumpaannya seperti lebah dan bunga. Seperti ngengat dan cahaya, seperti komet dan gravitasi.Tak perlu berlama-lama.

Seperti musafir yg sekedar menginap di tengah oase. Namun kamu, tamu yg tak sekedar merebahkan sakitmu kemudian sembuh menguntai perjalanan baru. Saya pikir begitu mudah melupakannya. Namun Saya tak pernah memahami itu.

Seperti gerimis di malam terakhir saya dan kamu berjumpa, menetes bagi sulur yg menjulai perjalanan sederhana. Kamu adalah anak angin yg datang bagai ombak, riciknya menghapus coretan pasir. Bukan semacam sesal yg menanggung semua ini. Ini hanya komposisi denyut keberpihakan dan semacam rasa rindu yg segan untuk dilarung. Saya memang sdh melarung ingatan namun tidak tentang rindu.

Malam ini. Di Borneo yg basah. Air gambut tempat ikan gabus bernyanyi. Kunang2 yg berpura2 lugu dan hamparan galaksi Bima Sakti, ada nada bicaramu dan senyummu yg tersungging menyelinap dalam lamunan malam. Dan suaramu memanggilku "mas....." Sayup2 dimakan waktu. Sialan. Mengapa kau datang pada malam yg semestinya segera saya musnahkan sedari dulu.

Ini bukan perkara malam dan langit dengan segala ceritanya. Ini hanya perkara memelihara rindu yg tak sederhana. Iya sesederhana itu, memahami kalau sy rumit.
Menjelaga dalam bayang2 yg semakin samar sambil sesekali bertanya, "apakah kamu masih semanis dan sehalus dahulu?". Saya pun pernah meminta jawaban karena sy tidak mengenal kamu lagi.

Namun. Saya dan kamu telah bersepakat menjadi liyan. Dilahirkan kembali dalam ketidaktauan meski sesekali saya memberontak. Mencoba menahan laju waktu yg terlampau cepat menghapus semua tentangmu.
Tetap saja. Kamu telah jauh hilang berjalan pada temarammu sendiri, tentu yang kmu pilih. Sedang saya masih asyik menanak rindu pd melankolia lapuk.

Baiklah. Jika esok hadir kembali. Ketika dedaunan masih membisu diselimuti embun, prenjak2 berlompatan di dahan bakau dan jaring yg ditebar malam ini terisi gabus.
Kutunggu lakumu di sepanjang tanda tanya, jika kamu tidak bisa menjadi rahim bagi anak-anak revolusionerku kelak. Setidaknya padamu tanah gersang melahirkan sajak, anak rohaniku. Tentu kamu yg telah menjadi asing karena saya hanya mengenal senyummu di kota yg tua itu. Tidak lebih. Itu saja.



Selamat malam, -saya tetap panggil- bocah!

0 komentar:

Posting Komentar