Tampilkan postingan dengan label Jember. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jember. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2016

Jember adalah makna bukan kata



         
      Mengapa saya kuliah di Jember? Pertanyaan itu semacam penolakan diri saya ketika menyadari bahwa Universitas Jember (UNEJ) menerima lamaran pendidikan yang saya ajukan melalui program PMDK. Sebelumnya saya ingin masuk UGM atau paling tidak UNDIP. Semuanya sama, memilih fakultas Hukum sebagai pilihan pertama dan Hubungan Internasional sebagai pilihan kedua.

Suatu pagi di tahun 2009, saya menerima kabar dari Guru BK bahwa berkas saya lolos PMDK di Unej. Unej bukanlah tempat yang asing bagi saya, apalagi fakultas Hukumnya. Saya lahir di Jember, tepatnya di klinik Margirahayu, dekat TK Bayangkara.  Ayah pernah kuliah disana periode tahun 1981-1988an. Sampai saat ini ijasahanya tidak juga diambil. Hem,lupakan. saya tidak sedang membicarakan ayah dalam tulisan kali ini.

Saya memikirkan, kenapa saya harus kuliah di Unej? Sempat ada penolakan yang cukup lama, karena setelah tahu saya mendapat PMDK di Jember, pintu menuju UGM di tutup oleh Ayah. Saya tidak mendapat ijin untuk ikut UM UGM, Universitas harapan, sampai detik saya menulis. Hubungan saya dan ayah pun tidak baik. Sangat tidak baik, karena saya menyimpan bara amarah.

 Saya pun berangkat ke Jember untuk daftar ulang. Sekedar mengingatkan, bahwa PMDK jalur tanpa test hanya mengandalkan prestasi dan nilai rapot. PMDK pun tidak menyahihkan bahwa saya berprestasi, saya lebih suka menyebutnya sebagai keberuntungan karena saya tidak perlu sibuk ikut SMPTN dan keribetan ujian lainnya. Keberuntungan itu baru saya sadari beberapa tahun setelah hari penuh kemurungan. 

Jember bukanlah kota pilihan. Sepi, aneh, dan agak norak. Apalah kota itu, pikir seorang bocah waktu itu. Tak ada daya tarik yang membuat saya memilih Jember sebagai alasan yang mutlak, kalau bukan karena saya yang  tidak diberi kesempatan bertarung di UGM. Tidak ada alasan lain selain itu. Hem, 2009 telah melampaui batas waktu yang liyan.

Tentang Jember dan rindu yang tak bisa dibagi

Tahun 2009 dan segala penolakan pada Jember telah lingsir, menjauh sampai dititik saat ini saya menulis diruang kosong, hanya meja, kursi dan pendingin ruangan, tidak lagi di Jember namun di Jakarta.  Dulu, hampir tiga bulan sekali saya pulang ke Garut dan merasa bahwa Jember bukanlah tempat saya berada. Saya ingin ke UGM. Itu pikiran keruh yang akhirnya berdampak pada hasil ujian saya sangat buruk. Disemester pertama, dua mata kuliah tidak bisa ikut ujian. Mata kuliah Bahasa Belanda dan Pengantar Sosiologi Hukum. IPK 2,14 menjadi konsekuensi paling logis. Enam bulan saya berkutat dengan rasa amarah pada ayah. Kenapa saya tidak diberi ijin untuk mencoba ke UGM, urusan tidak lolos, tak jadi soal. Lebih penting saya bisa merasakan pertarungan untuk memperebutkan satu kursi di Fakultas Hukum UGM, pikir saya waktu itu. Kalaupun berangkat sendiri, saya tak punya cukup logistik. Uang jajan saya terlalu pas-pasan sebagai bekal nekad saya ke Jogjakarta. Alasan lainnya, mamah selalu menahan amarah saya dan memberikan wejangan bijak. Periode 2009 sampai 2010 saya masih belum menyadari bahwa Jember adalah satu keberuntungan bagi saya. 

         Tahun 2016, dimana banyak proses telah saya lewatkan dari kota itu. Penolakan saya pada Jember telah kalis begitu saja dimakan aktifitas. Lebih tepatnya aktifitas di Organisasi, GmnI dan UKPKM Tegalboto adalah rumah saya waktu itu. Saya berproses menemukan natalitas untuk kedua kalinya dan dibaptis di sungai Bedadung, sampai penolakan pada Jember menjadi cecar rindu yang entah sampai kapan harus ditahan. Saya benar-benar menyukai Jember, sesederhana saya mencintai kebebasan. 

Jember bukan perkara kota di hampir ujuang timur pulau Jawa. Jember bagi saya bukan sebatas geospasial. Sekali lagi, Jember adalah penemukan ‘aku’ yang tak sempat saya temukan di kota tempat saya tinggal, Garut. Saya bertemu dengan perebutan nalar, kuasa sampai pemaknaan. Sederhananya, saya belajar banyak dari kota Jember. Belajar tidak hanya bunyi Pasal-pasal da azas di fakultas Hukum, saya menemukan makna di Jember.

Tak heran, hampir tiga bulan sekali saya berkunjung ke Jember, meski saat ini tempat saya berproses ada di Jakarta. Jakarta-Jember hanya batasan ruang saja namun harapan saya kelak, saya ingin kembali ke kota itu. Entah kapan, entah berapa banyak rambut putih yang menghiasai kepala, entah seberapa lantang saya berteriak, entah seberapa lemah saya berjalan. Pusara saya ingin damai di Jember. 

Jember adalah batas tipis saya dan rindu, dimana saya menemukan rindu pada hal yang absurd. Akan jelas ketika saya rindu Anggie, ia pasangan saya. Namun rindu saya pada Jember seperti ke-absurd-an yang mencandu. Saya rindu jalanan berlubang di Jalan menuju Antirogo, mayang, Tanggul, Panti, Puger, Jenggawah, Kencong dll, saya rindu suasana sehabis hujan di Jember, saya rindu harum udara Jember, saya rindu celetukan dan logat unik dari penduduk Jember, saya rindu pada yang tak terdefinisi oleh inderawi. Sekali lagi, karena saya rindu pada Jember sebisa-bisanya dan sehormat-hormatnya karena “Jember adalah makna bukan kata”. Mungkin saya bukanlah yang pertama atau satu-satunya . banyak kawan yang seperti saya.

Oleh karena itu, biarkan aku merindukan Jember dengan sederhana, sederhana aku menulis rindu pada Jember.
Titip rindu untuk langit Jember.
 

Selasa, 02 Februari 2016

Memelihara Ingatan tentang Sempolan


“siapa kamu? Saya adalah Pejuang Rakyat”

Tentang Sempolan dan “Siapa kamu”
Sempolan selalu terasa basah beberapa Minggu terakhir, hujan lembut membasahi Sempolan.  Tentu, Sempolan bagi kader GmnI memiliki kesan tersendiri, setidaknya ada air yang sempat diminum dari sendang Biskit Sempolan, ada  ingatan yang menolak lapuk tentang sisa suara yang akan habis, ada ingatan tentang kantuk yang tak tertahan atau ada kebersamaan dalam proses menjadi kader GmnI. Sempolan tak sekedar  nama, Sempolan telah menjadi rahim bagi kelahiran anak bangsa yang berpihak pada kaum Marhaen, bagitu kata Korlap yang mengkader kami semua. Sempolan ada ruang yang penuh renungan tentang ‘siapa kamu? Saya adalah Pejuang Rakyat’. 
Pertanyaan ‘ siapa kamu’ merupakan bagian dari prosesi Kaderisasi. Pelaksanaannya Senin dini hari ditengah hutan Pinus, nama prosesi tersebut adalah “Malam Seribu Korlap” karena Seluruh Kader GmnI Jember yang hadir diberi kesempatan menjadi korlap yang terbagi dalam  lima pos. Setelah Kader-Kader baru di sumpah,  kemudian satu per satu dari mereka berjalan sendiri melewati semak-semak ditengah senyap hutan Pinus menuju ‘arena seribu korlap’. Pos pertama yang dilalui adalah Pos Pertanyaan Siapa kamu. Pertanyaan filosofis yang mendekonstruksi ulang identitas diri tentang pemaknaan terhadap diri sendiri dan keberpihkannya kepada Rakyat. Entah sejak kapan malam Seribu Korlap itu diadakan, tapi bagi kebanyakan kader 2000an tentu pernah merasakan kehabisan suara karena berteriak-teriak sepanjang lima pos tersebut.
Pertanyaan “Siapa kamu? Saya adalah Pejuang rakyat” tidak sebatas pertanyaan biasa. Saya menemukan pertanyaan yang sama dalam novel Filsafat dari Norwegia, Sohpie World karya Justin Gaardner. Seorang Sophie Amundsen menerima surat misterius, surat itu hanya berisi tulisan pertanyaan, ‘Siapa kamu’. Pertanyaan itu membuat ia berpikir dalam tentang siapa sesungguhnya dia. Sejak saat itu hari-hari Sophie tak pernah terlewatkan tanpa berpikir, surat misterius yang selalu datang mengajarkan Sophie tentang kehidupan filosofis.
Pertanyaan ‘siapa kamu?’ tidak serumit pemikiran Sophie. Siapa kamu merupakan bagian dari pemaknaan ulang akan identitas diri, artinya sebelum menjadi kader ‘saya adalah siapa’ dan setelah setelah menjadi kader GmnI, ‘saya adalah Pejuang rakyat’. Bagi saya pemaknaan tersebut terlihat sangat romantis, pada saaa itu. Menjadi GmnI dan pemaknaan keberpihakan.

Si Empunya Sempolan
Ingatan tentang Sempolan tentu tak akan lepas dari sosok –saat ini- semakin ringkih dimakan waktu, Mbah Tien. Menurut Alm. Mas Jenggik, bagi angkatan *80, Mbah Tien dulu dikenal dengan nama Tante Rina.
Namun  Ingatannya tak seringkih tubuhnya, ia tak pernah lupa dengan nama-nama yang dulu akrab menyambanginya. Di sela-sela obrolan nostalgia, tak jarang Mbah Tien menyebut nama kader-kader lama GmnI Jember. Di tahun 80an, ia masih ingat dengan nama Bismo, Gandhi, Bachrul, Jenggik, Andang, Nur Suhud, Arif Unyil dan lain-lain. Di angkatan 90 awal ia masih ingat betul dengan nama-nama Donny, Sony dan banyak nama lagi yang Mbah Tien ingat  dari nama Kader-Kader GmnI yang saat ini telah melanglang buana.
Sempolan dan Mbah Tien merupakan dua hal yang tak bisa terpisahkan. Dalam setiap ritus Kaderisasi GmnI, KTD, rumah Mbah Tien tidak pernah lepas dari kunjungan kawan-kawan yang hadir dalam KTD tersebut. Tentu Mbah Tien punya ritual tersendiri untuk para kader-kader GmnI, yaitu mencium kening-pipi dan mendoakan kami semua. Selalu seperti itu.
Mbah Tien yang dulu ceria dan sering berbagi cerita pada kawan-kawan yang datang menyambanginya. Di tahun 2009, saat saya KTD, Mbah Tien masih sering membantu kawan-kawan untuk memasak atau sekedar tenguk-tenguk melihat suasana KTD. Namun, kini lebih banyak diam. Beberapa tahun belakang ini, ia sering sakit-sakitan. Sakit karena usia dan sakit karena jarang diobati. Kendala ekonomi memang menjadi persoalan, praktis hanya mas Djito yang menjadi tumpuan.
Dulu rumah Mbah Tien digunakan sebagai tempat memasak dan tempat tidur kader dan tamu yang hadir dalam kegiatan KTD. Namun saat ini, tempat masak dan istirahat kader-kader lebih banyak di rumah mas Djito. Rumah mbah Tien tidak sekokoh dulu, rumahnya kini sudah hampir ambruk, tinggal menunggu beberapa purnama saja mungkin akan berlatar tanah.  

Ambruknya Rumah Nenek Ideologis Kami
        Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa kawan bersama Ketua Terpilih GmnI Cabang Jember, Hykal coba menuntaskan rindu pada Sempolan. Tentu sowan ke rumah Mbah Tien dan makan jangan (Read:sayur) Pakis buatan Mbak Seh, istri Mas Djito. Kami melihat suasana rumah Mbah Tien yang memorable. “dulu saya sering tidur ditempat ini”gumam saya. Namun kami menjadi prihatin melihat kondisi rumah Mbah Tien, rumah hampir roboh yang ditinggali nenek Ideologis kami semua, Kader GmnI Jember. Mbah Tien sudah tidak mampu berjalan dengan baik sehingga ia lebih banyak duduk di Amben ruang tamu. Ia tak memiliki kamar lagi, karena kamarnya sudah hampir roboh. Tidak hanya kamar, Dapurnya sudah roboh, praktis hanya ruang tamu saja yang lebih baik, meski jauh dari kata layak untuk nenek ringkih yang hanya sekedar berjalan saja sudah tertatih-tatih. Rumah Mbah Tien sudah tidak layak untuk ditinggali, kotor, lembab sehingga semakin membuatnya mudah sakit-sakitan.
       Keprihatinan hanyalah sebatas rasa yang tak ada gunanya jika tak berbuat sesuatu, kami, angkatan 2009 meminta ijin dulu pada Ketua Cabang Jember untuk  menggalang bantuan kepada alumni-alumni untuk urun rembuk, menyisihkan hasil keringatnya untuk berbagi bahagia dengan keluarga yang berada dalam sunyi hutan, Sempolan. Beberapa kader sudah melakukan iuran namun dananya sepertinya masih jauh dari kata cukup. Tujuannya penggalangan dana ini untuk merenovasi rumah Mbah Tien, agar lebih layak dan lebih aman ditinggali oleh Nenek yang tinggal sendiri dirumah lapuk tersebut. Lebih jauhnya agar memelihara ingatan RoDinDa akan Sempolan dan Kaderisasi GmnI.

Bukan tentang berapa banyak yang diberikan namun tentang semangat kolektif lah yang lebih meneduhkan: bahwa kader GmnI Jember masih berpihak dan tak pernah lupa pada Kawah Candradimuka nya GmnI Jember.[]



Merdeka!!!
GmnI Jaya !!!


Post Script:Jika kawan-kawan  dan Alumni GmnI Jember, yang ingin berbagi semangat dan Rejeki bisa disalurkan kepada Pengurus Cabang GmnI Jember yang baru  terpilih atau pada No Rekening saya untuk kemudian saya transfer pada kawan-kawan pengurus. Selebihnya, Dana Gerakan bisa disalurkan pada:

No Rekening: Bank BRI 002101021700532 An Nando Yuselle Mardika   (CP:085746766076)
                       Bank BCA 740-118-778-6 An Gulfino Guevarrato                (08997722689)
                       Bank Mandiri  143 00 13241425 An Gulfino Guevarrato       (08997722689)
                       Bank BNI 0370269594   An Hykal  Shokat Ali                      (081333713833)




FOTO RUMAH MBAH TIEN:

BANGUNAN TAMPAK DARI SAMPING



 
DAPUR YANG HAMPIR ROBOH


KAMAR YANG SUDAH ROBOH


TAMPAK DARI DEPAN


RUANG TAMU, DAPUR DAN TEMPAT TIDUR MBAH TIEN JADI SATU


KAMAR YANG SUDAH ROBOH


ATAP YANG BOCOR KETIKA HUJAN DERAS


Add caption

Selasa, 07 Mei 2013

Terlahir Untuk Menjadi Berlian



Jember selalu tak pernah ingin berhenti melahirkan karyanya melalui anak-anak muda yang mengekspresikan bakatnya, salah satunya melalui seni. Sagavo band yang bergenre Alternatif/Rock itu  berdiri sejak 21 Juni 2007 itu mencoba merilis kumpulan lagu-lagunya dalam bentuk Extended Play (EP) yang berjudul Anthem For The Glory"  pada tanggal 13 Mei 2013 di gedung Yabina, Jember. “ini merupakan EP pertama dari kami” kata Rian, salah satu personil Sagavo. “ EP ini sempat tertunda launchingya karena masalah internal kami yaitu hengkangnya Inyok sebagi penggebuk drum Sagavo” tambah Rian disela-sela obrolan ketika sedang ngopi di Cak Wang.

EP ini berisikan enam lagu, dimana lagu yang As hard As Diamond menjadi singel pertamanya. Kesan pertama dari EP ini adalah semangat, pesan sosial dan cinta yang dibahasakan dengan tidak menye-menye. Enam lagu itu akan mengajak kita sebagai pendengar untuk terus jingkrak-jingkrak dan Headbangs, Hell yeah!!.

Sebagai awalan “Anthem For Glory” dan “As hard As Diamond”  terdengar lebih gahar dengan paduan screm Jendik dan clean vokal Rian. Suara vokal Jendik yang khas dengan Screamnya itu seolah mengingatkan saya pada Danny Worsnop, vokalinya Asking Alexandria. Ehm, memang jelas berbeda tetapi ada karakter khas yang tidak jauh berbeda.  Menurut saya, kedua lagu itu sebagai pergambaran semangat Sagavo untuk tetap terus berkarya dan mewarnai dunia musik, tidak hanya di Jember tapi scene Indie secara umum, tentunya dengan karya yang orisinil. “Kita tak Akan mati” kalimat yang menurutku sama garangnya seperti kata-kata Chairil Anwar “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Saya pun sepertinya jatuh hati pada pendengaran pertama pada lagu “ As hard as diamond”, apalagi reffnya karena dalam reff itu Sagavo ‘ngotot’ untuk tetap berkomitmen agar tetap bisa eksis dengan karya-karyanya. Sesuai dengan judul lagunya As hard As Diamnond, semangat mereka  sekeras batu berlian. Oh Fu*kinDamn, Dude!haha

“sampai nanti sampai akhir
sampai ku tak bangun lagi
semua tetap berdiri (siksamu takkan berarti)
sampai nanti sampai akhir
sampai ku tak bangun lagi
semua tetap berdiri”

Lagu lainnya seperti “12 Mei 1998” yang didedikasikan untuk semangat perjuangan mahasiswa 1998, dimana dalam tragedi Trisakti itu ada empat korban yang tewas karena tertembak.
“Tak terbayangkan
jiwa melayang dan berjatuhan
oleh TEMBAKAN”
Sementara, “Cheer dan Move” dan Bangun Dan Bertahanlah” tidak banyak menampilkan perbedaan yang berarti. Keduanya tetap dengan tema semangat melawan, perjuangan dalam arti yang sangat luas. Meski dalam lirik “Bangun dan Bertahanlah” seolah ada ketidak konsistenan makna yaitu “hanya untuk bertahan, hanya untuk melawan”. Disatu sisi betahan tetapi disisi lain melawan. Ketidak sinkronan ini bisa dilihat dikalimat sebelumnya “tersadarlah bahwa perjuangan kita tak kan terhenti karena kita akan bertahan”. Saya paham maksudnya tetepi sepertinya penggunaan diksinya saja yang kurang tepat. Jadi artinya bahwa mereka melawan tetapi dengan bertahan.

Mungkin musik dari Sagavo mungkin tidak akan menjadi hits yang terdengar disetiap 10 meter ditengah keramaian. Namun musik Sagavo akan tetap bisa didengar kapanpun oleh pendengar-pendengar yang ingin mengedukasi telinganya dengan musik-musik yang bermutu. Musik Sagavo pun bukan musik yang terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan komersialisasi pasar.

Semenjak saya pertama kali mendengar Sagavo pada tanggal 12 Desember 2009 di malam inagurasi Fakulatas Hukum sampai saat ini, Sagavo telah menunjukan kematangannya sebagai band yang bergerak di jalur Indie.  Tidak saja soal musik tetapi juga perwajahan yang menjadi identias band, seperti video clip, profil band yang mulai menampakan karakternya, sepertinya mereka tidak main-main dalam bermusik.
Ya, saya yakin mereka benar-benar sedang menuju jalan panjang untuk menjadi lebih baik. “Long way To Be Better” akan terus mereka titi dengan menyingkirkan segala penghalang dan hambatan, sekali lagi untuk menjadi lebih baik dan lebih matang.
Cheers and Move!!!


Pers Mahasiswa Sebagai Ruang Dialektis

Salam Persma!!!

Sejak awal pergerakan melawan penjajah, kaum pergerakan sadar akan arti penting bacaan dalam meningkatkan kesadaran rakyat anti penindasan sekaligus meluaskan semangat perlawanan. Disinilah peran pers mulai tampak untuk membela rakyat yang terjajah dan menyatukan cita-cita bersama untuk mentang penjajahan. Kesadaran ini pun diambil Tirto Adhi Soeryo dengan mendirikan koran Medan Prijaji (1910-1912) yang bermotto: "Organ boeat bangsa jang terperenta tempat akan memboeka swaranja anak-Hindia". 
Pendikotomian pers ini dimulai pada tahun 1950an antara pers umum dan pers mahasiswa, dimana pada periode ini Indonesia memasuki fase kesinambungan sejarah perjuangan kemerdekaan dari tiga periode sejarah yakni periode Pergerakan Kebangsaan, periode Pendudukan Jepang, dan periode Revolusi Fisik 1945-1949 sampai dengan Pengakuan Kedaulatan di tahun 1950. Puncaknya kembalinya Indonesia dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada masa ini juga sekaligus menandai dimulainya demokrasi parlementer, dimana kekuasaan berada ditangan partai politik. Partai politik menancapkan pengaruhnya sampai pada tataran akar rumput, salah satunya kampus dan media. Tidak sedikit partai politik yang mempunyai media sendiri atau media yang berafiliasi dengan partai politik untuk menjadi corong dari program dan propaganda partai politik, sebut saja Harian Rakyat yang pro pada PKI. Pun dengan kampus, partai politik begitu leluasa memasuki kampus, Partai Sosialis Indonesia (PSI) mendirikan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS), Partai Nasional Indonesia(PNI)  mendirikan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Masyumi mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Partai Komunis Indonesia mendirikan Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan partai-partai lain pun menancapkan kakinya di dalam kampus.

Sejarah gerakan mahasiswa terus berlanjut dari semenjak Boedi Oetomo, gerakan mulai terkonsentrai di kampus-kampus, tidak terkecuali pers. Hal itu ditandai dengan berdirinya Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada tahun 1955 tetapi berakhir para tahun 1980an karena kebijakan dari kepentingan penguasa untuk mengebiri aktifitas mahasiswa yang dijejalkan dalam sistem pendidikan dengan nama NKK/BKK. Baru pada tahun 1992 muncul kembali wadah pers mahasiswa yang bernama Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), dimana pada waktu itu tidak diperbolehkan menggunakan nama pers mahasiswa.
Waktu terus berputar, sejarah tetap ditulis dan perjuangan tidak pernah berakhir, Persma mulai tumbuh sebagai wadah pergerakan bagi mahasiswa untuk mengakutalisasikan aspirasinya melalui tulisan dan foto. Persma  lebih menekankan pada pengodokan isu-isu yang berkembang di kampus, meski tidak jarang ikut terlibat dalam proses proganda isu-isu nasional. Akibatnya pun persma dibredel karena tidak sesuai dengan kehendak penguasa waktu itu, sebut saja di Jember Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sastra UNEJ- SAS- yang pada tahun 1994 di bredel oleh dekanatnya setelah mengangkat hasil wawancara Pramoedya Ananta Toer yang mengkritik pemerintah Orde Bar dan militer.
Pada era ini meski sama-sama pers, pers umum dan pers mahasiswa mengalami perbedaan dalam segi gerakannya. Jurang pemisah itu ditandai dengan runtuhnya semangat perjuangan dan profesionalitas dari pers umum yang kini telah terinfeksi oleh pemodal sehingga sekarang ini, pers umum lebih mengedepankan penaikkan oplah serta pemberitaan yang bombastis dan tendensius. Menuju pencerahan masyarakat sepertinya harus ditanggalkan terlebih dahulu jika berbicara keuntungan. Sedangkan persma, yang terdiri dari mahasiswa masih sedikit lebih aman dari kontaminasi kepentingan para pemodal sehingga persma bisa dikatakan lebih ‘jujur dan ceplas-ceplos’ dalam memberitakan atau menganlisis suatu permasalahan, halangan paling kuat ketika tulisannya terlalu keras mengkritik mungkin sebatas rektorat atau dekanat dan tentu permasalahan klasik soal kaderisasi atau regenerasi. Kerja-kerja persma pun tidak senjelimet pers umum yang kadang diawasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. awak persma lebih banyak cangruk (berkomunal), ‘ngopi’ meski sesekali konsilidasi untuk menguatkan kinerja, kerja-kerja persma sifatnya bukan ‘berkerja’ mencari keutungan tetapi lebih pada proses belajar (nonprofit), tentu belajar secara kultural. Warung kopi menjadi tempat favorit, jika merujuk pemikiran Habermas, warung kopi merupakan salah satu ruang publik yang bebas dari kontaminasi pasar dan pemerintah, sehingga mampu menciptakan konsensus rasional. Mungkin kita akan setuju kalau tempat macam warung kopi itu merupakan salah satu ruang kontemplasi dan dialetika sekaligus meningkatkan jaringan kerja antar LPM.
Nyatanya hasil-hasil pemikiran dari awak persma yang dituangkan dalam karyanya tidak sederhana rutinitasnya. Pengerjaan media yang lebih mendalam dan terkesan hati-hati, karena mengatasnamakan proses belajar. Maka kadang analisisnya atau pemberitaanya lebih menarik dan jernih dari pers umum.  Isu-isu menarik tetapi tidak dilirik oleh pers umum karena dianggap tidak menguntungkan kadang dilahap oleh persma, sebut saja tema majalah tahun 2011 LPM Ekpresi UNY “jalan berliku sastra anak”. Di media itu dikupas habis soal peran yang siginfikan sastra anak. Namun, keberadaanya masih dianggap tidak penting. Termasuk isu-isu sensitif macam pertambangan yang dkupas habis oleh LPM Ecpose UNEJ dimajalahnya tahun 2009 soal mitos kesejahtraan pertambangan emas di Tumpang Pitu, Banyuwangi. begitu pula dengan LPM Natas, Sanatadharma yang mengktisi permasalahan pertambangan di selatan Yogyakarta. Belum lagi permasalahan isu-isu lokal kampus masing-masing yang kadang membuat pihak-pihak terkait macam rektorat atau dekanat kebakaran jenggot menanggapinya.
Kejernihan dan keseterilan dari kontaminasi-kontaminsai yang dapat merusak idealisme pers akan yang tetap dikawal oleh mahasiswa sehingga pers mahasiswa, sekali lagi meskipun mahasiswa tidak bisa dianggap sebelah mata. Persma dapat mengawal isu yang menyangkut permasalahan bersama, karena  sesungguhnya pers tidak akan pernah bisa objektif, kalaupun ada keobjektifan kita hanya satu. Yaitu keperpihakan kepada rakyat, keperpihakan kepada yang tertindas. Hal itu dituangkan dalam satu point kode etik persma. Arti penting persma, khususnya dalam ruang lingkup kampus dapat kita lihat bagaimana LPM-LPM menelurkan kader-kader berbakat, kita pernah mendengar Ahmad Wahib, Muhidin M Dahlan, Dahlan Iskhan yang merupakan jebolan dari Persma.
Ada yang sedikit membuat dahi berkerut ketika melihat perkembangan persma pada saat ini, beberapa tahun belakangan ini. Persma seolah kehilangan tajinya, lemah syahwat dalam menanggapi isu-isu yang terkait dengan keberpihakan persma kepada yang tertindas. Jangan terlalu jauh membicarakan yang tertindas, dalam hal kaderisasipun beberapa persma yang pada akhirnya harus termegap-megap melewatinya, di Jember saja ada beberapa LPM yang pada akhirnya harus mati suri meski pada akhirnya  dengan kerja sama dan ke eratan antar sesama LPM yang tergabung dalam PPMI kota Jember bisa memberikan semangat untuk tetap berproses. Kemunduran itu dikarenakan, ya salah satunya kerena perkembangan jaman. Sepertinya pun tidak adil jika menyalahkan hanya pada jaman yang terus berubah karena itu konsekuensi logis. Alasan lainnya adalah minat mahasiswa yang saat ini memang menurun tetapi pun minat pun tidak ada bisa ditunjuk sebagai biang keladi menunduran persma karena masih ada sistem pendidikan dan paradigma ketika kuliah harus lulus cepat sehingga hanya mahasiswa-mahasiswa pemberani saja yang rela meluangkan waktunya untuk memilih aktif di persma atau di organisasi lainnya, lain dari itu mahasiswa-mahasiswa yang akan menjadi skrup-skrup kapitalis yang terserap oleh kepentingan pasar lebih memilih asyik untuk kuliah lalu pulang. Ah, sepertinya pun tidak bisa menyalahkan sistem. Intinya, kemunduran gerakan dari persma memang melibatkan banyak faktor dan alasan. Sehingga kita antar sesama awak persma perlu sama-sama memikirkan bagaimana keberlangsungan proses kaderisasi yang merupakan tiang penyangga gerakan persma agar tetap terjaga, salah satunya melalui penguatan jaringan kerja antar sesama LPM, penguatan jaringan kerja ini semacam penyatuan permasalahan yang dibahas secara bersama oleh sesama LPM. Sebagai contoh bagaimana arti penting jaringan kerja, LPM Ekspresi UNY dan UKPKM Tegalboto UNEJ. Dua LPM yang berkerabat sudah cukup lama, mungkin dimulai sejak dekade 2002an. Hubungan kekerabatan itu memberikan dampak positif bagi kemanjuan intern LPM,  entah itu sharing soal narasumber, pemateri, permasalahan internal khususnya terkait kaderisasi atau sharing soal percetakan. Kekerabatan itu bahkan tidak hanya dalam tataran organisasi tetapi juga sampai ranah personal. Hubungan semacam ini yang sifatnya kultural itulah yang justru diharapkan dapat memberikan pemecahan baru terkait permasalahan di internal masing-masing organisasi.
Persma bukan sebatas ruang untuk sekedar menulis, me-lay out, atau fotografi tetapi ruang dimana kita ditempa dan terus untuk mengedukasi diri agar menjadi kader-kader bangsa yang sama berpihaknya seperti dalam kode etik persma yaitu keberpihakan pada kaum yang tertindas.[]
Tabik!!