Selasa, 07 Mei 2013

Pers Mahasiswa Sebagai Ruang Dialektis

Salam Persma!!!

Sejak awal pergerakan melawan penjajah, kaum pergerakan sadar akan arti penting bacaan dalam meningkatkan kesadaran rakyat anti penindasan sekaligus meluaskan semangat perlawanan. Disinilah peran pers mulai tampak untuk membela rakyat yang terjajah dan menyatukan cita-cita bersama untuk mentang penjajahan. Kesadaran ini pun diambil Tirto Adhi Soeryo dengan mendirikan koran Medan Prijaji (1910-1912) yang bermotto: "Organ boeat bangsa jang terperenta tempat akan memboeka swaranja anak-Hindia". 
Pendikotomian pers ini dimulai pada tahun 1950an antara pers umum dan pers mahasiswa, dimana pada periode ini Indonesia memasuki fase kesinambungan sejarah perjuangan kemerdekaan dari tiga periode sejarah yakni periode Pergerakan Kebangsaan, periode Pendudukan Jepang, dan periode Revolusi Fisik 1945-1949 sampai dengan Pengakuan Kedaulatan di tahun 1950. Puncaknya kembalinya Indonesia dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada masa ini juga sekaligus menandai dimulainya demokrasi parlementer, dimana kekuasaan berada ditangan partai politik. Partai politik menancapkan pengaruhnya sampai pada tataran akar rumput, salah satunya kampus dan media. Tidak sedikit partai politik yang mempunyai media sendiri atau media yang berafiliasi dengan partai politik untuk menjadi corong dari program dan propaganda partai politik, sebut saja Harian Rakyat yang pro pada PKI. Pun dengan kampus, partai politik begitu leluasa memasuki kampus, Partai Sosialis Indonesia (PSI) mendirikan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS), Partai Nasional Indonesia(PNI)  mendirikan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Masyumi mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Partai Komunis Indonesia mendirikan Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan partai-partai lain pun menancapkan kakinya di dalam kampus.

Sejarah gerakan mahasiswa terus berlanjut dari semenjak Boedi Oetomo, gerakan mulai terkonsentrai di kampus-kampus, tidak terkecuali pers. Hal itu ditandai dengan berdirinya Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada tahun 1955 tetapi berakhir para tahun 1980an karena kebijakan dari kepentingan penguasa untuk mengebiri aktifitas mahasiswa yang dijejalkan dalam sistem pendidikan dengan nama NKK/BKK. Baru pada tahun 1992 muncul kembali wadah pers mahasiswa yang bernama Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), dimana pada waktu itu tidak diperbolehkan menggunakan nama pers mahasiswa.
Waktu terus berputar, sejarah tetap ditulis dan perjuangan tidak pernah berakhir, Persma mulai tumbuh sebagai wadah pergerakan bagi mahasiswa untuk mengakutalisasikan aspirasinya melalui tulisan dan foto. Persma  lebih menekankan pada pengodokan isu-isu yang berkembang di kampus, meski tidak jarang ikut terlibat dalam proses proganda isu-isu nasional. Akibatnya pun persma dibredel karena tidak sesuai dengan kehendak penguasa waktu itu, sebut saja di Jember Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sastra UNEJ- SAS- yang pada tahun 1994 di bredel oleh dekanatnya setelah mengangkat hasil wawancara Pramoedya Ananta Toer yang mengkritik pemerintah Orde Bar dan militer.
Pada era ini meski sama-sama pers, pers umum dan pers mahasiswa mengalami perbedaan dalam segi gerakannya. Jurang pemisah itu ditandai dengan runtuhnya semangat perjuangan dan profesionalitas dari pers umum yang kini telah terinfeksi oleh pemodal sehingga sekarang ini, pers umum lebih mengedepankan penaikkan oplah serta pemberitaan yang bombastis dan tendensius. Menuju pencerahan masyarakat sepertinya harus ditanggalkan terlebih dahulu jika berbicara keuntungan. Sedangkan persma, yang terdiri dari mahasiswa masih sedikit lebih aman dari kontaminasi kepentingan para pemodal sehingga persma bisa dikatakan lebih ‘jujur dan ceplas-ceplos’ dalam memberitakan atau menganlisis suatu permasalahan, halangan paling kuat ketika tulisannya terlalu keras mengkritik mungkin sebatas rektorat atau dekanat dan tentu permasalahan klasik soal kaderisasi atau regenerasi. Kerja-kerja persma pun tidak senjelimet pers umum yang kadang diawasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. awak persma lebih banyak cangruk (berkomunal), ‘ngopi’ meski sesekali konsilidasi untuk menguatkan kinerja, kerja-kerja persma sifatnya bukan ‘berkerja’ mencari keutungan tetapi lebih pada proses belajar (nonprofit), tentu belajar secara kultural. Warung kopi menjadi tempat favorit, jika merujuk pemikiran Habermas, warung kopi merupakan salah satu ruang publik yang bebas dari kontaminasi pasar dan pemerintah, sehingga mampu menciptakan konsensus rasional. Mungkin kita akan setuju kalau tempat macam warung kopi itu merupakan salah satu ruang kontemplasi dan dialetika sekaligus meningkatkan jaringan kerja antar LPM.
Nyatanya hasil-hasil pemikiran dari awak persma yang dituangkan dalam karyanya tidak sederhana rutinitasnya. Pengerjaan media yang lebih mendalam dan terkesan hati-hati, karena mengatasnamakan proses belajar. Maka kadang analisisnya atau pemberitaanya lebih menarik dan jernih dari pers umum.  Isu-isu menarik tetapi tidak dilirik oleh pers umum karena dianggap tidak menguntungkan kadang dilahap oleh persma, sebut saja tema majalah tahun 2011 LPM Ekpresi UNY “jalan berliku sastra anak”. Di media itu dikupas habis soal peran yang siginfikan sastra anak. Namun, keberadaanya masih dianggap tidak penting. Termasuk isu-isu sensitif macam pertambangan yang dkupas habis oleh LPM Ecpose UNEJ dimajalahnya tahun 2009 soal mitos kesejahtraan pertambangan emas di Tumpang Pitu, Banyuwangi. begitu pula dengan LPM Natas, Sanatadharma yang mengktisi permasalahan pertambangan di selatan Yogyakarta. Belum lagi permasalahan isu-isu lokal kampus masing-masing yang kadang membuat pihak-pihak terkait macam rektorat atau dekanat kebakaran jenggot menanggapinya.
Kejernihan dan keseterilan dari kontaminasi-kontaminsai yang dapat merusak idealisme pers akan yang tetap dikawal oleh mahasiswa sehingga pers mahasiswa, sekali lagi meskipun mahasiswa tidak bisa dianggap sebelah mata. Persma dapat mengawal isu yang menyangkut permasalahan bersama, karena  sesungguhnya pers tidak akan pernah bisa objektif, kalaupun ada keobjektifan kita hanya satu. Yaitu keperpihakan kepada rakyat, keperpihakan kepada yang tertindas. Hal itu dituangkan dalam satu point kode etik persma. Arti penting persma, khususnya dalam ruang lingkup kampus dapat kita lihat bagaimana LPM-LPM menelurkan kader-kader berbakat, kita pernah mendengar Ahmad Wahib, Muhidin M Dahlan, Dahlan Iskhan yang merupakan jebolan dari Persma.
Ada yang sedikit membuat dahi berkerut ketika melihat perkembangan persma pada saat ini, beberapa tahun belakangan ini. Persma seolah kehilangan tajinya, lemah syahwat dalam menanggapi isu-isu yang terkait dengan keberpihakan persma kepada yang tertindas. Jangan terlalu jauh membicarakan yang tertindas, dalam hal kaderisasipun beberapa persma yang pada akhirnya harus termegap-megap melewatinya, di Jember saja ada beberapa LPM yang pada akhirnya harus mati suri meski pada akhirnya  dengan kerja sama dan ke eratan antar sesama LPM yang tergabung dalam PPMI kota Jember bisa memberikan semangat untuk tetap berproses. Kemunduran itu dikarenakan, ya salah satunya kerena perkembangan jaman. Sepertinya pun tidak adil jika menyalahkan hanya pada jaman yang terus berubah karena itu konsekuensi logis. Alasan lainnya adalah minat mahasiswa yang saat ini memang menurun tetapi pun minat pun tidak ada bisa ditunjuk sebagai biang keladi menunduran persma karena masih ada sistem pendidikan dan paradigma ketika kuliah harus lulus cepat sehingga hanya mahasiswa-mahasiswa pemberani saja yang rela meluangkan waktunya untuk memilih aktif di persma atau di organisasi lainnya, lain dari itu mahasiswa-mahasiswa yang akan menjadi skrup-skrup kapitalis yang terserap oleh kepentingan pasar lebih memilih asyik untuk kuliah lalu pulang. Ah, sepertinya pun tidak bisa menyalahkan sistem. Intinya, kemunduran gerakan dari persma memang melibatkan banyak faktor dan alasan. Sehingga kita antar sesama awak persma perlu sama-sama memikirkan bagaimana keberlangsungan proses kaderisasi yang merupakan tiang penyangga gerakan persma agar tetap terjaga, salah satunya melalui penguatan jaringan kerja antar sesama LPM, penguatan jaringan kerja ini semacam penyatuan permasalahan yang dibahas secara bersama oleh sesama LPM. Sebagai contoh bagaimana arti penting jaringan kerja, LPM Ekspresi UNY dan UKPKM Tegalboto UNEJ. Dua LPM yang berkerabat sudah cukup lama, mungkin dimulai sejak dekade 2002an. Hubungan kekerabatan itu memberikan dampak positif bagi kemanjuan intern LPM,  entah itu sharing soal narasumber, pemateri, permasalahan internal khususnya terkait kaderisasi atau sharing soal percetakan. Kekerabatan itu bahkan tidak hanya dalam tataran organisasi tetapi juga sampai ranah personal. Hubungan semacam ini yang sifatnya kultural itulah yang justru diharapkan dapat memberikan pemecahan baru terkait permasalahan di internal masing-masing organisasi.
Persma bukan sebatas ruang untuk sekedar menulis, me-lay out, atau fotografi tetapi ruang dimana kita ditempa dan terus untuk mengedukasi diri agar menjadi kader-kader bangsa yang sama berpihaknya seperti dalam kode etik persma yaitu keberpihakan pada kaum yang tertindas.[]
Tabik!!

0 komentar:

Posting Komentar