Rabu, 31 Agustus 2016

Obituary Jatigede dan Runtuhnya Grand Narrative


"A work can become modern only if it is first postmodern. Postmodernism thus understood is not modernism at its end but in the nascent state, and this state is constant"
Jean-Francois Lyotard

***
Setahun telah berlalu, namun ingatan masih tetap membara. Pada waktu itu, 31 September 2015, saya dan seorang kawan berkunjung ke suatu tempat yang hari ini tak mungkin lagi saya memijak tanahnya. Kira-kira 80Km dari Jakarta, lokasi itu kini telah menjadi Waduk terbesar di Asia Tenggara. Iya, generasi setelah saya akan mengenalnya sebagai waduk Jatigede. Waduk yang akan mengairi saluran irigasi seluas 90 ribu ha, penyediaan air baku bagi 100 ribu KK untuk kawasan Kabupaten Cirebon, Indramayu, dan Balongan. Selain itu, waduk ini juga akan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 110 MV.[1] Begitu luar biasa manfaat waduk itu bagi negara ini. Belum lagi, perkembangan sektor pariwisata dan perikanan. Tentu, tak ada yang menihilkan kebermanfaatan waduk Jatigede. 
Dari Kejauhan Pintu Bendungan sebelum digenangi

Kedatangan saya ke Desa Cipaku tentu bukan untuk menyambut genggap gempita perayaan rakyat dan pemerintah karena telah berhasil merealisasikan ide Bung Karno. Tentu bukan. Memang benar, bahwa Bung Karno pada tahun 1963 namun terkendala permasalah sosial yaitu relokasi warga yang mendiami lokasi penggenangan sehingga proyek tersebut ditangguhkan cukup lama. Entah, saya tak begitu yakin jika Bung Karno masih hidup, apakah ia akan senang atau justru sedih, ideya telah terrealisasi namun mengorbankan rakyat. Lupakan soal Bung Karno kita kembali pada hari itu. Kedatangan saya pun bukan untuk menjadi ‘Jakarta’ yang sok tau pada urusan daerah, apalagi sok jadi pahlawan. 
Hari itu, tepat sehari sebelum pesta peresmian Waduk Jati Gede oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriawan dan Menter Pekerjaan Umum dan Perumaah Rakyat, Basuki Hadimuljono. Namun persoalan relokasi masih belum juga usai. Sekitar 80ribu warga dari 26 desa dari total 34 desa dari 5 kecamatan terancam terombang ambing tanpa relokasi dan ganti rugi yang jelas. Pihak pemerintah mempunyai kebenarannya sendiri, yang mana kebenaran versi pemerintah tidak sesuai dengan kebernaran versi rakyat. Akhirnya, tidak ada solusi yang brilian. Pemerintah telah berdalih, pada tahun 1982 telah ada ganti rugi. Memang benar, prose ganti rugi telah dilakukan namun pertanyaannya apakah semua warga terdampak telah benar-benar mendapatkan ganti rugi? Menurut rakyat Jatigede, masih banyak pula yang belum mendapatkan ganti rugi. Begitu kondisi kusut tersebut terus berlangsung.
Rakyat tak butuh negara saat itu, mereka dengan perasaan sedih, resah, dan bingung meninggalkan kampung halamannya yang telah mereka diamin sejak lama. Kenangan akan kehidupan desa Cipaku yang damai, penduduk desa yang hangat, dan tanah yang subur harus direlakan demi pembangunan. Demi tujuan-tujuan mulia. Satu persatu rumah dibongkari, anak-anak mulai tidak masuk sekolah karena sekolahnya tidak ada guru yang mengajar, bagaiaman akan mengajar para guru pun sibuk boyongan. Sepanjang jalan dari arah Wado, hilir mudik truck yang mengakuti baran-barang pindahan memadati jalan desa. Namun tak sedikit yang masih bertahan, alasannya akan pindah kemana? Banyak yang tak punya tujuan, tak sedikit yang gila. Beberapa waktu sebelum saya datang, seorang ibu yang sedang mengandung mengalami musibah keguguran. Situasi Jatigede saat itu sungguh kacau balau. Rakyat resah.
Sekolah di Desa Cipaku Sebelum Tergenang

Pembangunan (tidak) Berkeadilan

Saya saat itu tinggal dirumah perangkat desa yang juga dijadikan posko gerakan perlawanan rakyat Jatigede. Semalaman kami berdiskusi, mencoba mencari tau kehedak apa yang diharapkan oleh rakyat Jatigede. Mereka secara umum sepakat dengan pembangunan Waduk Jatigede. Tak ada yang menolak apalagi menabaikan manfaatnya. Namun, pembangunan tersebut haruslah adil dan berpihak pada rakyat secara umum. Rakyat Jatigede hanya butuh kepastian mereka akan tinggal dimana, bagaiaman pekerjaanya, bagaiamana infrastrukturnya. Apabila semua itu telah terpenuhi dengan senang hati mereka akan pindah. Tuntutan yang sederhana namun tidak juga dipahami secara pasti oleh Pemerintah saat itu. 
Pemerintah mengembor-gemborkan bagaimana manfaat besar yang didapat dari pembangunan Jatigede sebagai narasi agung. Pembangunan fisik dianggap sebagai simbol kemajuan bangsa namun mereka lupa tentang narasi-narasi kecil. Lupa bagaiamana kehidupan rakyat yang tergusur, pemerintah akan memindahkan sekitar 70.000 jiwa dari 8.114 KK[1], soal situ 43 situ bersejarah di kawasan genangan atau soal lahan-lahan subur.
Bahwa wilayah yang digenangi merupakan lumbung padi di wilayah Jawab barat. Potensinya  sekitar 3.200 ha lahan subur termasuk lahan pertanian Sumedang yang kehilangan rata rata 6,45 ton/per hektar, dengan total 80.000 ton padi per tahun.[2] Kemudian ada pula 43 Situsyang menjadi simbol sejarah perkembangan Sumedang dan Jawa Barat. Yang paling disesalkan dan dikhawatirkan warga adalah ikut tenggalamnya Makan Prabu Aji Putih karena makan tersebut dianggap sebagai leluhur masyarakat Sumedang bahkan raja di kerajaan pertama di wilayah Sumedang, yakni Kerajaan Tembong Agung. Namun Pemerintah sepertinya tak begitu serius menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Sekali lagi pemerintah lebih fokus pada pembangunan sebagai narasi besarnya. 


Penolakan pada Narasi Besar

Meminjam pemikiran filsuf Postmodern, tentang penolakannya pada Grand Narative, Jean- Francois Lyotard. Saya ingin menangkal prespektif pemerintah bahwa pembangunan yang dilakukan telah menciderai nilai dan tujuannya. Bahwa pemerintah ingin membangun waduk Jatigede dengan tujuann mulia yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak sehingga seolah menjadi mahfum ketika pembangunan itu ‘memakan’ korban. Anggap saja diskursus tersebut sebagai Grand Narrative (narasi besar) pemerintah sebagai legitimasi menyatukan rakyat agar tujuan itu tercapai, agar persoalan kemanusiaan jangan terlalu menjadi sorotan. Namun sayangnya narasi besar itu runtuh oleh emansipatoris, kemajuan, dan kebebesan rakyat.


Runtuhnya kepercayaaan kepada narasi besar disebabkan oleh proses delegitimasi atau krisis legitimasi, dimana fungsi legitimasi narasi-narasi besar mendapatkan tantangan-tantangan berat. Misalnya apakah memang tujuan pembangunan itu benar-benar bagi rakyat? Sejauh mana keterlibatan rakyat dalam pembangunan tersebut? Seberapa sahih ‘kebenaran’ yang coba diagung-agungkan oleh pemerintah itu efektif bagi kehidupan rakyat?


Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya ‘how’ tersebut menjadi pelatuk skeptisme rakyat pada tata kelola Waduk Jatigede. Justu mengkhawatirkan ketika skeptisme mengarah bahwa Waduk tersebut tidak akan berdampak banyak bagi kehidupan rakyat.  Terang saja, pembangunan Waduk Jatigede melibatkan pihak asing, China Sino Hydro sebagai kontraktor engineering procurement construction (EPC) pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede. Kemudian pinjaman sebesar 250 Juta dollar dari China untuk pembangunan tersebut. Belum lagi, investor yang terlibat dalam pembangunan tempat wisata ditempat tersebut.Pesta pora bukan bagi rakyat Jatigede, rakyat akan menjadi penonton, kurang lebih seperti itu.


Tak heran jika rakyat Jatigede menginginkan pengorbanannya harus digaransi oleh pemerintah yang termanifestasi dalam relokasi, ganti rugi, dan kepastian matapencaharian. Grand narrative yang dikuasi oleh institusi-intitusi dominan (negara) telah gagal merebut hati rakyat untuk secara rasional dan sadar untuk berkorban dengan cuma-cuma.



Tak Hilang meski Tenggelam

Setahun sudah, ingatan masih tetap hidup. Masih terbayang ketika dipanggung terbuka mereka menyanyikan lagu Darah Juang. Luruh hati saya saat itu.  Tawa bocah-bocah SD ketika pulang sekolah telah sirna, berganti genangan air yang damai. Kuburan nenek moyang hanya dapat dikenang lewat cerita, tanah kelahiran telah jadi milik negara. Tak apa, rakyat Jatigede ingin mengajarkan pada kita semua bahwa padi yang kita makan di Jakarta atau di Indonesia ini diairi dari sisa-sisa air mata rakyat Jatigede yang tak sanggup mengering. Kehidupan baru telah direncanakan meski entah kapan realisasinya. Keresahan tetap ada, meski tahun telah berganti. Anak-anak SD yang saya temui kelak akan selalu mengingat alpha-nya negara dalam mengurai permasalah mereka.
Baiklah, nak. Jangan sampai engkau akan menjadi generasi-generasi pemarah, yang kecewa pada negara ini karena membiarkan lapangan sepakbola kalian tergenenang tanpa rasa bersalah. Jangan sampai kalian menjadi pendendam karena tak bisa saban lebaran mengunjungi makan kakek-nenek kalian. Memang, saat ini pembangunan di negara ini selalu memakan korban, dan korbannya adalah kita sebagai rakyat biasa. Kelak, ada harapan agar pembangunan di negara ini adalah pembangunan yang humanis. Bolehlah kampung tenggelam, bolehlah kenangan hilang direndam air, namun semangat mengurai kehidupan tak pernah tenggelam.




[1] http://jabar.metrotvnews.com/read/2016/01/25/474556/warga-sumedang-terusir-air-waduk-jatigede
[2] http://www.alpensteel.com/article/118-105-energi-sungai-plta--waduk--bendungan/2800--proyek-bendungan-jatigede-sumedang-tertunda


Siswa-Siwa termanggu saat sekolahnya mulai dibongkar







[1] http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/07/150714_majalah_lingkungan_jatigede
[2] http://jabar.metrotvnews.com/read/2016/01/25/474556/warga-sumedang-terusir-air-waduk-jatigede
[3] http://www.alpensteel.com/article/118-105-energi-sungai-plta--waduk--bendungan/2800--proyek-bendungan-jatigede-sumedang-tertunda

0 komentar:

Posting Komentar