Menulis adalah rileksasi. Menulis adalah kontemplasi. Menulis
adalah penyembuhan rohani. Seperti itu kiranya. Rutinitas padat, ala ibu kota,
dengan segala lalu lalang yang serba cepat namun menanggalkan kepedulian. Tentu,
tidak akan baik jika berkutat dengan kekakuan maka menulis adalah penggendapan
rasa. Saya menulis apapun. Namun ada tanya ketika saya menulis puisi. Apakah saya
menulis puisi? Apakah yang saya tulis itu puisi? Apa itu puisi? Jika memang
puisi itu karya sastra, lalu apakah saya menulis sastra?
Pemahaman saya tidak mendalam terkait pertanyaan-pertanyaan
tersebut. Literatur tidak memuaskan pertanyaan saya. Apa yang saya baca
berdasarkan pengalaman spiritual si pendefinisinya. Saya ingin mencari sendiri
spiritualitas dalam puisi itu, tentu dengan pemahaman dari mereka yang bisa
dikatakan ahli.
Kemudian, apa karya sastra itu? Semacam kata-kata yang tidak
biasa yang diberikan pakem-pakem
tertentu sehingga sahih dikatakan sastra?
Di titik pertemuan yang liyan, pertanyaan itu sepertinya tak
perlu dijadikan terang. Biarkan terus bertanya. Sampai saat ini, pemahaman
karya sastra bagi saya adalah taburan bahasa yang didalamnya membentuk
keindahan, seperti bintang di malam hari, jika satu bintang tentu tak akan
indah. Namun jika bertaburan, akan lain definisinya.






0 komentar:
Posting Komentar