Rabu, 05 Oktober 2016

Tidak Perlu Judul



Menulis adalah rileksasi. Menulis adalah kontemplasi. Menulis adalah penyembuhan rohani. Seperti itu kiranya. Rutinitas padat, ala ibu kota, dengan segala lalu lalang yang serba cepat namun menanggalkan kepedulian. Tentu, tidak akan baik jika berkutat dengan kekakuan maka menulis adalah penggendapan rasa. Saya menulis apapun. Namun ada tanya ketika saya menulis puisi. Apakah saya menulis puisi? Apakah yang saya tulis itu puisi? Apa itu puisi? Jika memang puisi itu karya sastra, lalu apakah saya menulis sastra?
Pemahaman saya tidak mendalam terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut. Literatur tidak memuaskan pertanyaan saya. Apa yang saya baca berdasarkan pengalaman spiritual si pendefinisinya. Saya ingin mencari sendiri spiritualitas dalam puisi itu, tentu dengan pemahaman dari mereka yang bisa dikatakan ahli.
Kemudian, apa karya sastra itu? Semacam kata-kata yang tidak biasa yang diberikan pakem-pakem  tertentu sehingga sahih dikatakan sastra?
Di titik pertemuan yang liyan, pertanyaan itu sepertinya tak perlu dijadikan terang. Biarkan terus bertanya. Sampai saat ini, pemahaman karya sastra bagi saya adalah taburan bahasa yang didalamnya membentuk keindahan, seperti bintang di malam hari, jika satu bintang tentu tak akan indah. Namun jika bertaburan, akan lain definisinya.

0 komentar:

Posting Komentar