Senin, 24 April 2017

Kamarku semestaku




Riciknya sudah tidak terdengar, namun masih menyisakan harum tanah yang disiram hujan. Angin menyelinap tanpa permisi melalui jendela kamar yang sengaja tak ditutup. Mengisi sejuk di seantero kamar. Saya masih duduk bersila, menyelesaikan lembar-lembar tentang Stamford Raffles di Cilincing. Malam ini, Jakarta sungguh mempersona. Sisa hujan tadi sore, semerebak harum tanah, dedaunan yang tesipu dibelai angin atau udara segar sehabis hujan. Tuhan hadir!

Saya keluar kamar, menghirup dalam-dalam aroma kedamaian yang diceritakan alam malam ini. Langit pun sepertinya sengaja harmonis dengan malam, taburan bintang samar terlihat. Saya tidak percaya, apakah betul saya sedang di Jakarta? Ya, ini Jakarta jawab pohon-pohon pisang itu. Betul ini memang Jakarta, namun pemandangan syahdu seperti malam ini seperti rekaan yang amat sulit dicerna nalar, seolah keindahan tidak berhak di kota ini. Jakarta jarang sekali seromantis ini. Lebih sering banal daripada damai.

Libur tiga hari saya manfaatkan untuk melakukan kesenangan yang sering terlewatkan. Membaca, nonton film, menulis, sorenya olahraga, berekperimen rasa dan hal-hal menyenangkan lainnya. Saya amat senang menghabiskan waktu berlama-lama di kamar, sendirian. Kadang kala, saya butuh waktu untuk benar-benar sendiri, menikmati kesendirian tepatnya. Tanpa peduli keadaan di luar sana yang riuh dengan kemacetan, tawuran di jalan Dewi Sartika, Mall yang dipadati generasi urban atau apapun itu. Meskipun libur Jakarta tetap penat dan saya tidak memilih untuk menghabiskan waktu dikeramaian.

Di kamar ini, saya bisa tak perlu banyak bicara, melakukan petualangan dalam fantasi-fantasi yang luar bisa, kemudian mengendapkan realitas dalam tulisan-tulisan, ritus kontemplatif yang paling sahih. Saya ingin belajar menilai saya sendiri, melihat sampai saya melangkah dan seberapa sering terjatuh, agar menolak menjadi manusia congkak, boleh menyebalkan namun menjadi sombong bukanlah didikan orang tua di rumah.

Menikmati keasyikan diri sendiri sangat jarang saya lakukan, rutinitas urban seringkali membuat saya jarang menyentuh kamar kost. Oleh karena itu, libur tiga hari ini saya gunakan sebagai balas dendam terbaik.

Sejak tiga tahun di Jakarta, ada beberapa hal mendasar yang merubah diri saya. salah satunya, saya menyukai sendiri. Sendiri membuat saya lebih tenang dan fokus. Kesendirian membuat saya belajar memahami diri sendiri yang sebenarnya tidak rumit-rumit amat dijelaskan. Pastinya, ada ruang-ruang yang membuat saya meminta untuk sendiri, padahal ketika di Jember, saya paling tidak suka kesendirian, dulu. Entahlah, saya tidak terlalu ambil pusing karena ada kenikmatan dan kekhimatan yang tidak didapatkan di tengah keramaian.

Kesemestaan itu ada di Kamar Pojok
Setahun setengah kamar ini menjadi keseharian yang tak terpisahkan. Buku-buku menjadi peneduh yang paling kentara di kamar ini. Tidak sebanyak buku-buku yang di Surabaya, kebutuhan rohani saya masih diisi kisaran 200an buku. Merintis dari awal lagi, buku-buku yang kelak akan menjadi pengisi hari tua saya sudah dipersiapkan sejak sekarang. Kamar ini sebisa mungkin harus rapi dan wangi. karena memang fungsi utamanya sebagai oase kesemestaan yang menentramkan. 

Selain buku, saya melengkapi kamar ini dengan hal-hal yang memudahkan kebutuhan saya. ruang berukuran 5x5 dengan kamar mandi di dalam ini merupakam oase kesemestaan, tempat segala lelah dan resah saya diendapkan. Tak jarang saya bereksperimen rasa, memasak atau membuat kudapan yang menyenangkan. Saya menambah fasilitas sendiri, agar tidak bau asap ketika memasak saya memasang kipas penyedot, agar memudahkan berselancar saya pasang wifi. Di kamar ini, segalanya harus terlihat mudah dan efektif. Kebutuhan akan tentram terjawab di ruang ini. saya bisa dikatakan beruntung mendapatkan kontrakan ini, dekat dengan kebun pisang ketika malam terasa sejuk, ketika siang dibelai angin, airnya yang jernih dan tidak bau kaporit, tetangga yang guyub dan memahami rutinitas saya yang suka pulang tengah malam atau bahkan dini hari. Semuanya terasa memudahkan di kontrakan ini.

Kesemestaan di kamar ini karena banyak memberikan insiprasi, mengajak saya berselencar dalam imaji-imaji yang luas. Sekali lagi saya mengulanginya, di kamar ini ketenangan saya benar-benar diendapkan. Tempat ide-ide saya dituliskan. 

Soal kontrakan ini, saya sengaja menyembunyikan dari banyak kawan. Hanya kawan yang dekat yang mengetahui lokasi kontrakan ini. Di tempat ini, saya ingin privasi saya benar-benar terjaga. Tidak ada yang menjemput atau berkunjung ketika saya benar-benar butuh istrahat. Sesungguhnya saya amat menyesal dengan habit baru saya ini, saya seperti orang yang solitaire, individualis. Ketahuilah, menjalani ritus di Jakarta itu tidak mudah. Saya tidak ingin menjadi teralienasi karena harus mengikui laju kota yang sangat dinamis. Saya tidak ingin selalu menghabiskan kesenangan di mall, di kedai kopi yang mahal, di kedai junk food yang sialan. Kebiasaan itu mengkhawatirkan saya. oleh karena itu, menjauh dari rutinitas demikian dengan sekekali perjumpaan tentunya, merupakan hal yang harus saya lakukan. Demi tetap menjaga agar humanitas saya tetap utuh.

Pada akhirnya, di Jakarta saya harus mengakui bahwa kita butuh ruang untuk ‘bersembunyi’, menendap atau apalah itu demi tetap menjadi seutuhnya manusia. Meskipun saya kecewa dengan diri saya yang dekontruksi oleh kota ini, namun ada keberuntungan yang masih saya syukuri: saya tidak terlahir kembali menjadi manusia urban yang bapuk. Di kamar ini, saya tetap di jaga sebagai manusia sederhana!


Ah, saya sampai lupa kalau sebenarnya saya mau menulis laporan riset, malah nulis ngalor-ngidul. Suara Liam Gallagher seringkali membuat tetiba saya meletupkan semangat . Sialan. 

0 komentar:

Posting Komentar