Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Februari 2013

Akhirnya Menjadi Asing

dalam malam yang benar-benar getir
ada cahaya yang mencari gelap
ada pula gelap yang bersembunyi diantara lorong panjang
kemana cahaya itu?
kucari dalam lipatan-lipatan kisah lama pun tak ada
ada yang benar-benar terasing dalam bayangnya sendiri
sampai-sampai ia menjadi ketakutannya sendiri

lalu dimana terang itu?
harus kah terus berjalan menyusuri langkah dalam liku lorong yang panjang?
atau berdiam diri sambil mendengarkan hardikan caci maki
jika itu membuatnya puas, lakukanlah,. lakukanlah
selagi gelap itu menutupi matanya
biarkan ia terpuruk dalam penyesalan yang sama gelapnya dengan bayangnnya sekarang.
lalu cahaya itu datang menyibakkan kebenaran

semua akan dimulai kembali
saat mata yang biasa saling memandang
bibir yang biasa saling membasahi
dan paha yang saling bertelungkup
sama-sama tidak saling mengenal


Jumat, 16 November 2012

Sajak dari Sang Luna yang berkabut!


“I wanna grow my hair and nails you up my life , I hope to do change your last name and be a wife” (The SIGIT-All The Time)

Aku mulai tulisanku dengan sepenggal lirik dari The SIGIT, band dari Bandung yang beberapa hari terakhir ini lagunya sering kali aku putar untukmu. Lirik itu seolah –mungkin- mewakili perasaan kita dan harapan yang ada dikemudian hari. Ya, sama saat kita putar lagu itu dengan headset yang saling berbagi kau yang kiri dan aku yang kanan. Kita berdua mendengarkan lagu itu dengan suasana yang sedikit berbeda. Ada malam, ada bintang, ada nyanyian jangkrik, ada sunyi, kabut dan bulan. Berirama dalam suasana yang sangat mendukung, ya lagunya tidak sama sekali mendayu tetapi suasanya yang mengiramakan lagu The SIGIT yang terkenal dengan alunan distorsi yang menghentak dengan suasana malam yang sedikit berkabut itu. Kita benar-benar sedang jatuh cinta untuk yang kesekian kalianya. Entah berapa kali. Munggkin ribuan atau jutaan kali?

Kita berdua menyusuri jalanan yang sepi, meski kadang hanya lewat beberapa pengedara saja.. Jalanan memang benar-benar sepi setelah hujan dan berkabut. Tetapi lampu jalanan membuat suasana tidak mencekam oleh sepi. Kita susuri setip jengkal jalanan itu dan kita sedang membuat cerita baru yang tidak pernah aku buat sebelumnya. Tidak ada amarah, curiga atau dendam. Semuanya hanya soal kebersamaan yang ingin “disahihkan”. Kita seolah melupakan kerikuhan beberapa waktu lalu. Melupakannya dengan momen sederhana tetapi sangat mampu mewakili bahwa kita memang ingin berdua. Tak perlu ada kata cinta, tak perlu pula ada kata yang mencoba menyakinkan. Kita hanya berjalan melalui semuanya bersama suara Rekti The SIGIT yang kami berdua suka.
“tak pernah aku merasakan malam seromantis ini, kamu ngebuat aku mendayu-dayu”katamu dengan nada manjamu
 “sungguh?, kita hanya berjalan diantara bulan yang ditutupi kabut saja”kataku sambil memandangi wajahnya
“ini kesederhanaan yang tidak sederhana dampaknya. Aku selalu ingin malam seperti ini datang lagi” Ia sepertinya begitu menikmati.
Entah, aku sendiri tak begitu paham dengan malam itu. Malam itu mungkin semacam akumulasi rindu yang tak juga sempat dipecahkan. Malam itu mungkin pula semacam tumpukan emosi yang tak sempat tersampaikan atau malam itu memang kita bedua sedang ingin bersama dalam keadaan yang benar-benar menyatu sehingga semuanya menjadi berkesan dan sulit untuk ditinggalkan begitu saja dalam ingatan kita. Tak perlu diranjang hotel, tak perlu pula dalam cumbu yang menjadi. Tidak, jauh dari itu semuanya. Kita benar-benar sahih!

Daun-daun yang berguguran, bau busuk dedaunan dan ranting yang jatuh tentu saja kabut. Kita hanya memandangi itu saja tetapi semua itu seolah saksi kita berdua. Lalu ku ajak dirinya duduk tanah yang cukup lapang. Kita duduk memandangi cahaya bulan yang malu-malu karena kabut. Perasaan kita memang sedang bermekaran, mengeluarkan aroma harum. Mungkin tepat jika malam itu perasaan kita dianalogikan sebagai bunga sedang malam yang menebar keharuman. Ada semilir angin malam sedang berusaha menerbangkan serbuk-serbuk perasaan yang sedang bermekaran itu. Terbang terbawa angin menyebar kemana-mana lalu ketika arah angin dan kabut itu kembali kearah kita, Perasaan-perasaan yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal yang tidak harus kita mengerti Puspita, kita memang tidak sedang mengerti kenapa kebatuan kita tiba-tiba menjadi lumer. Seolah cahaya bulan lebih panas dari matahari sehingga kita yang sebelumnya sama-sama membatu tiba-tiba saja melepaskan keegoisan itu untuk menikmati keberduaan kita yang langka ini.
Ada daun-daun berguguran
Ada pula tawa yang diintip Bulan
Ini tentang kita yang mencoba menjadi sahih

Aku dan kau dalam remang sang luna

Ada jangkrik-jangkrik yang sedang bernyanyi
Ada pula kodok-kodok yang merusak suasana
Tetapi pelukmu adalah keindahan malam yang kunanti
Puspitaku, Bulan ini sedikit muram karena kabut, sedikit sendu oleh hujan
Tapi tangan kita masih sangat erat bergengaman
Menjadikan semua ingatan-ingatan ini untuk sulit melapuk karena waktu

Ini malam yang sengaja Tuhan buat untuk kita nikmati dengan tawa dan lollipop!!

Malam itu berakhir, purnama berganti. Mungkin kita akan membuat cerita lagi di lain waktu. Menceritakan keindahan yang lebih indah dari hari yang lalu. Dikenang ketika tidur dan menanti bunga tidur yang bermekaran. Itu saja, manisku!

Sabtu, 13 Oktober 2012

Senja Terakhir untuk menjadi perempuan Anonim (Twillightend Tobe Anonymous woman)


Senja Terakhir untuk menjadi perempuan Anonim (Twillightend Tobe Anonymous woman)

(The Clouds that suspends bashful rain like the face of a girl who silently)
Ku tulis surat ini dikala perasaan ini bercampur aduk. Bagaimana aku harus memulainya.
Kutulis surat ini, yang besok atau malam ini kau membacanya keadaan sudah berganti rupa. Dan kutulis surat ini, kukirim bersama sepotong senja yang sedang cantik-cantiknya.
Seperti setiap senja di setiap bukit, tentu ada juga burung-burung, rumput yang menghijau, siluet batu koral, dan barangkali juga petani di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga domba, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Amelinda, dalam kertas-kertas yang lusuh, biarkan aku memberikan sesuatu pada lebih dari sekedar kata-kata tentang senja  terakhir yang telah kita nikmati dihari yang lalu.
Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Amelinda, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Amelinda.
Biarkan saja kata-kata itu menjadi pelengkap dan pengukuh bahwa kita sempat bersama, melewatkan senja-senja yang sebelumnya dengan belaian, peluk, cium dan cumbu.
Amelinda yang manis, Amelinda yang sendu. Amelinda yang lucu. Ingin aku jelaskan kenapa aku mengajakamu bertemu dimalam ini lalu membicarakan senja yang selalu aku rindukan itu?
Siang ini aku aku duduk seorang diri di tepi bukit, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Dalam mata terpejamku ini, terlintas bayangmu yang semakin menjauh-menjauh dan hilang. Obrolan siang tadi membukakan mataku yang menurutmu terlampau egois ini. aku masih ingat semua percakapan itu. Kita sama-sama dalam kondisi yang dilematis, sulit memilih.
Kau telah dihadirkan laki-laki yang kau anggap pantas untukmu, “setia” itu kata kuncinya, sedangkan aku “tidak”. Iya. Karena aku sedang tidak sendiri. Apa kau masih ingat dengan hari dimana kita benar-benar berakhir, dimana pada waktu itupun aku tidak memilih siapa-siapa, termasuk kamu. Tujuannku ingin mencari kedamaian yang mencandu. Tetapi kau hadir kembali dengan usaha dan upaya yang membuatku akhirnya melepaskan pilihanku yang terladuhulu, kita bersama kembali.
Memang waktu yang kurang bersahabat, aku tak lagi sendiri, itu masalah utamanya. Karena alasan itulah yang selalu kau jadikan untuk mencambuk diriku ketika aku tidak “well” denganmu, yang sampai membuatmu merasa menderita karena pilihanku itu terlampau sulit dipahami olehmu, amelinda.

Sekarang senja benar-benar mencapai senjakalanya, kau dihadapkan dua pilihan. Antara aku dan dia yang aku benci. Jika berbicara egoisme, jelas aku akan sangat tidak suka, aku tidak bisa menerima keadaan itu. Dimana selama ini, hampir empat bulan setelah putus kita masih saja bersama bahkan lebih erat, tiba-tiba kau menjadi ragu “maaf, aku ragu”. Jelas terasa ditusuk uluhatiku. Sebelumnya kita punsempat mengobrol panjang lebar, kau pun sempat mengatakan yang membuatku merasa tenang. Setidaknya aku merasa kita akan tetap merajut mimpi dimasa yang akan datang.
Lagi-lagi, kau harus membuatku berpikir “aku berharap tidak menyesal dengan pilihan ini.” Jelas ada keraguan yang tampak darimu, aku tak ingin kau menyesal manisku, aku tak ingin kau terus merasa menderita karena pilihanmu itu “ tidak memilih siapa-siapa”. Salah satu caranya, aku harus melepaskan egoisme ku, aku harus benar-benar mengubur dalam-dalam cerita yang selama ini sempat kita rajut.
mencintaimu, bagiku
adalah membentuk kesadaran
pada tubuh dan jiwa
pada batas-batas akali, dimana
segala mula dimengerti
dan meniscaya.

Aku minta puisi ini dari seorang kawan diJogja sana, mencintaimu adalah membentuk kesadaranku pada apa yang ada pada tatapan mata dan melupakan bayang-bayang yang kabur dihatam detik yang terus bedetak. Mengawinkan kata dan laku menjadi satu dan menghadiahkan padamu.
Hanya kau yang bisa merubah semua untuk menjadi indah, aku rasa itu tidak berlebihan, tak mudah untuk bisa mencari rasa yang telah mati, namun kamu membangkitkan asa yang ada dihati ini. ketika dulu aku sempat kesulitan melupakan perempuan yang selalu membuatku kelu ketika mengingatnya, tapi sekali lagi “hanya kau yang bisa merubah semua”.
Karena laku memang menyempurnakan kata-kata, karena kata-kata menggenapkan laku “aku ingin kau bahagia.” Pergilah dengan dia yang selama ini ingin kau temui. Kata-kataku harus sesuai dengan laku ku dan akan kubuktikan sekarang. Memang sangat menyakitkan. Tetapi hidup harus memilih.  Mencintai memang tak sesederhana kata-kata yang biasa diucap dua sejoli, lalu aku hanya ingin menafirkan ke“sok tauanku” tentang mu itu. Kutafsirkan setelah kita bercakap-cakap dengan diwarnai amarah, senyum dan air mata. Sebelum lidahku ngilu dan kaku, karena berbatas perasaan pada rindu yang menyiksa, ketika kularung segenap gelisahku atas pilihan untuk mu berlayar bersama dengan dia yang kubenci.
Setelah itu, kusiksa diriku untuk tak bilang sayang dan rindu padamu, biarkan kita sama-sama asing untuk saling mengenal. Mendefinisikan ulang janji yang pernah kita ucap. Karena kau sudah jelas tau setiap apa yang harus dibayar dalam setiap pilihan. Jangan hiraukan itu manisku, jangan pedulikan semua tentangku. Toh sebentar lagi kita akan benar-benar berjarak, tidak ada wajah-wajah dipagi hari yang biasa kau sapa lagi.
kita saling lupa memaafkan ketololan,
pun tetap membingkai sekerdil apa kenangan.
kemudian adalah hidup, masa lalu dan kini
yang melulu kaurekam.

Sebait puisi itu menggabarkan secarik kelembuatan yang selalu kau bingkai rapih tapi kini telah rapuh.
Semua bergantung apa yang inginkan dan yakini, aku tak ingin menjadi pembeban dalam langkah yang kau pilih. Asing dan menjauh adalah kelogisan yang siap dihadapkan pada apa yang kita takutkan.
Amel,

Aku akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan ke laut lepas.  Bukan tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu. kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapa semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seperti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.


8 Agustus ketika pertama kau bohong padaku

Untuk tanya yang tak sempat terjawab


Kularutkan namamu dalam bayang senja.
Untukmu, gadisku yang memberi arti dalam setiap tawanya.
Tentu tidak bermaksud untuk berbasa-basi tanpa sedikit pun tanya yang ingin mengungkapkan misteri. Manisku yang datang dari kabut  pagi sampai mengakhiri kebersamaan dengan hilangnya sinar matahari yang berpendar pada permukaan air di malam hari.
Kau terlahir atas nama cinta yang menyatu dengan rasa yang penuh misteri.
 Apalagi kalau bukan “aku sayang pada mu”. Kata klasik dan sederhana.
Sesederhana aku memahamimu dengan banyak tawa dan senyum manis dikala setiap jawaban yang kau berikan adalah kepastian yang kutunggu.
Untukmu manisku yang selalu bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang setiap setan ingin tahu. Tapi aku ingin kau pahami betapa manis dirimu dalam kesederhanaan paras, tanpa banyak kata yang bisa membagi keindahan itu diantara buaian-buaian kalimat yang sebenarnya kaku dan tak bermakna.
Untukmu manisku yang dulu kita membagi senja dan malam bersama sambil melewati langkah-langkah impian tentu saja ketika itu daun-daun maple masih menghijau, bersemian. Tidak untuk kali ini ketika semuanya berguguran menakhiri maknanya.
Sudah itu saja yang kukenang lewat semua kata yang kau ucap, tinggal kerdip lilin yang mencari kegelapan. Bukan itu saja, kadang aku berhalusinasi soal rindu yang tak pernah tuntas. Mengharapkan detik mengendapkan semua rindu yang sempat tertanam. Lalu biarkan rindu itu membuai terbakar waktu yang tak bisa berbohong. Sekali lagi, karena aku tak ingin terbebani rindu.

12 September 2012. tentu kau masih ingat tanggal istimewa itu

Senin, 02 April 2012

Sempolan Yang Biru


-->
Malam ini, entah kenapa aku rindun dengan lebatnya hutan Sempolan. Rindu mbah tien, rindu dimana kita dibentaki oleh Mas Corong yang dulu jadi Korlap kita. Rindu kawan-kawan yang dulu bersama-sama bermandi pelu, kesal. Dan rindu suara yang tak bisa berkata-kata karena kita terus dipaksa berteriak. Aku  rindu itu. Tak terasa sudah hampir tiga tahun semua itu berlalu meninggalkan kenangan yang begitu membuat kelu jika mengingat hari-hari itu. Enathlah, apakah kawan-kawan yang lain seperti itu juga? Tapi jika memang hari-hari pada waktu itu memberikan kesan, aku yakin kita pun akan menahan risau jika kerinduan ini memuncak.
Sempolan yang biru. Benar-benar biru. Bukan biru gerau yang kehitam-hitaman, bukan biru benhur seperti air laut. Tapi Sempolan benar-benar biru dan membiru bagai langit dikala fajar terbit. Dimana harapan kita muncul tanpa kerancauan yang menganggu. Aku rindu sempolan.

Sempolan Yang Biru
Masihkah kita mengingat kunang-kunang yang menjadi teman dikegelapan malam
Atau dengan Tonggeret-Tonggeret yang mengiringi irama malam? memandangi hutan-hutan sempolan yang damai.
Aku sangat ingat malam-malam itu…
Ditempat itu!
Dimana kita bermandi benci, amarah, lelah. Namun pada akhirnya kita mengenang semua itu dengan tawa malu-malu, keharuan yang merasuk dalam relung hati.
Aku pun masih ingat, ketika subuh menjelang kita menyatu dalam sumpah setia yang menjadi jawaban untuk sebuah komitmen.
Kini kita telah berlari-lari menangkapi titik-titik cahaya yang membentangkan harapan. kini kita akan beranjak!
Biskit Sempolan
Di Chandradimukamu, keyakinan kita ditempa..
Di Biskit Sempolan kita menahan kelu..
Biskit  Sempolan, kisah-kisah kami terekam dibalik lebatnya pinus-pinus yang bisu. Sungai yang biru ketika ingatan membawa kami dalam kerinduan yang mengharu!
Ku rindu kau, Hutan-hutan yang basah..
Ku rindu kau Sempolan yang syahdu..
Kini, satu persatu dari kami beranjak meninggalkan mu,,,melanjutkan setapak demi setapak mimpi-mimpi yang pernah kau dengarkan ketika kami masih buta membaca hidup..kita memang akan kembali pada hari yang biasa, berdiri mencari jawaban atas kehidupan ini, kawan!

ingatlah kawan, Di balik bisunya hutan-hutan Sempolan kita pernah menjadi bagian dari pejuang-pemikir!