Senja Terakhir untuk menjadi perempuan Anonim
(Twillightend Tobe Anonymous woman)
(The Clouds that suspends bashful rain like
the face of a girl who silently)
Ku tulis surat ini dikala
perasaan ini bercampur aduk. Bagaimana aku harus memulainya.
Kutulis surat ini, yang
besok atau malam ini kau membacanya keadaan sudah berganti rupa. Dan kutulis
surat ini, kukirim bersama sepotong senja yang sedang cantik-cantiknya.
Seperti setiap senja di
setiap bukit, tentu ada juga burung-burung, rumput yang menghijau, siluet batu koral,
dan barangkali juga petani di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu
persatu. Mestinya ada juga domba, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya
cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat
aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku
tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi
kenyataan.
Kukirimkan sepotong senja
ini untukmu Amelinda, dalam kertas-kertas yang lusuh, biarkan aku memberikan
sesuatu pada lebih dari sekedar kata-kata tentang senja terakhir yang telah kita nikmati dihari yang
lalu.
Sudah terlalu banyak kata
di dunia ini Amelinda, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku
tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah
kebudayaan manusia Amelinda.
Biarkan saja kata-kata itu
menjadi pelengkap dan pengukuh bahwa kita sempat bersama, melewatkan
senja-senja yang sebelumnya dengan belaian, peluk, cium dan cumbu.
Amelinda yang manis,
Amelinda yang sendu. Amelinda yang lucu. Ingin aku jelaskan kenapa aku
mengajakamu bertemu dimalam ini lalu membicarakan senja yang selalu aku
rindukan itu?
Siang ini aku aku duduk
seorang diri di tepi bukit, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang
bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Dalam
mata terpejamku ini, terlintas bayangmu yang semakin menjauh-menjauh dan
hilang. Obrolan siang tadi membukakan mataku yang menurutmu terlampau egois
ini. aku masih ingat semua percakapan itu. Kita sama-sama dalam kondisi yang
dilematis, sulit memilih.
Kau telah dihadirkan
laki-laki yang kau anggap pantas untukmu, “setia” itu kata kuncinya, sedangkan
aku “tidak”. Iya. Karena aku sedang tidak sendiri. Apa kau masih ingat dengan
hari dimana kita benar-benar berakhir, dimana pada waktu itupun aku tidak
memilih siapa-siapa, termasuk kamu. Tujuannku ingin mencari kedamaian yang
mencandu. Tetapi kau hadir kembali dengan usaha dan upaya yang membuatku
akhirnya melepaskan pilihanku yang terladuhulu, kita bersama kembali.
Memang waktu yang kurang
bersahabat, aku tak lagi sendiri, itu masalah utamanya. Karena alasan itulah
yang selalu kau jadikan untuk mencambuk diriku ketika aku tidak “well”
denganmu, yang sampai membuatmu merasa menderita karena pilihanku itu terlampau
sulit dipahami olehmu, amelinda.
Sekarang senja benar-benar
mencapai senjakalanya, kau dihadapkan dua pilihan. Antara aku dan dia yang aku
benci. Jika berbicara egoisme, jelas aku akan sangat tidak suka, aku tidak bisa
menerima keadaan itu. Dimana selama ini, hampir empat bulan setelah putus kita
masih saja bersama bahkan lebih erat, tiba-tiba kau menjadi ragu “maaf, aku
ragu”. Jelas terasa ditusuk uluhatiku. Sebelumnya kita punsempat mengobrol
panjang lebar, kau pun sempat mengatakan yang membuatku merasa tenang.
Setidaknya aku merasa kita akan tetap merajut mimpi dimasa yang akan datang.
Lagi-lagi, kau harus
membuatku berpikir “aku berharap tidak menyesal dengan pilihan ini.” Jelas ada
keraguan yang tampak darimu, aku tak ingin kau menyesal manisku, aku tak ingin
kau terus merasa menderita karena pilihanmu itu “ tidak memilih siapa-siapa”.
Salah satu caranya, aku harus melepaskan egoisme ku, aku harus benar-benar
mengubur dalam-dalam cerita yang selama ini sempat kita rajut.
mencintaimu,
bagiku
adalah
membentuk kesadaran
pada tubuh
dan jiwa
pada
batas-batas akali, dimana
segala mula
dimengerti
dan
meniscaya.
Aku minta puisi ini dari
seorang kawan diJogja sana, mencintaimu adalah membentuk kesadaranku pada apa
yang ada pada tatapan mata dan melupakan bayang-bayang yang kabur dihatam detik
yang terus bedetak. Mengawinkan kata dan laku menjadi satu dan menghadiahkan
padamu.
Hanya kau yang bisa merubah
semua untuk menjadi indah, aku rasa itu tidak berlebihan, tak mudah untuk bisa
mencari rasa yang telah mati, namun kamu membangkitkan asa yang ada dihati ini.
ketika dulu aku sempat kesulitan melupakan perempuan yang selalu membuatku kelu
ketika mengingatnya, tapi sekali lagi “hanya kau yang bisa merubah semua”.
Karena laku memang
menyempurnakan kata-kata, karena kata-kata menggenapkan laku “aku ingin kau
bahagia.” Pergilah dengan dia yang selama ini ingin kau temui. Kata-kataku
harus sesuai dengan laku ku dan akan kubuktikan sekarang. Memang sangat
menyakitkan. Tetapi hidup harus memilih.
Mencintai memang tak sesederhana kata-kata yang biasa diucap dua sejoli,
lalu aku hanya ingin menafirkan ke“sok tauanku” tentang mu itu. Kutafsirkan
setelah kita bercakap-cakap dengan diwarnai amarah, senyum dan air mata.
Sebelum lidahku ngilu dan kaku, karena berbatas perasaan pada rindu yang
menyiksa, ketika kularung segenap gelisahku atas pilihan untuk mu berlayar
bersama dengan dia yang kubenci.
Setelah itu, kusiksa diriku
untuk tak bilang sayang dan rindu padamu, biarkan kita sama-sama asing untuk
saling mengenal. Mendefinisikan ulang janji yang pernah kita ucap. Karena kau
sudah jelas tau setiap apa yang harus dibayar dalam setiap pilihan. Jangan
hiraukan itu manisku, jangan pedulikan semua tentangku. Toh sebentar lagi kita
akan benar-benar berjarak, tidak ada wajah-wajah dipagi hari yang biasa kau
sapa lagi.
kita saling
lupa memaafkan ketololan,
pun tetap
membingkai sekerdil apa kenangan.
kemudian
adalah hidup, masa lalu dan kini
yang melulu
kaurekam.
Sebait puisi itu
menggabarkan secarik kelembuatan yang selalu kau bingkai rapih tapi kini telah
rapuh.
Semua bergantung apa yang
inginkan dan yakini, aku tak ingin menjadi pembeban dalam langkah yang kau
pilih. Asing dan menjauh adalah kelogisan yang siap dihadapkan pada apa yang
kita takutkan.
Amel,
Aku
akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan
ke laut lepas. Bukan tidak mungkin surat
ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang
menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib
waktu. kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapa semua ini
terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah
ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu,
masih selalu begitu, seperti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.
8 Agustus ketika pertama kau bohong padaku






0 komentar:
Posting Komentar