Sabtu, 13 Oktober 2012

Senja Terakhir untuk menjadi perempuan Anonim (Twillightend Tobe Anonymous woman)


Senja Terakhir untuk menjadi perempuan Anonim (Twillightend Tobe Anonymous woman)

(The Clouds that suspends bashful rain like the face of a girl who silently)
Ku tulis surat ini dikala perasaan ini bercampur aduk. Bagaimana aku harus memulainya.
Kutulis surat ini, yang besok atau malam ini kau membacanya keadaan sudah berganti rupa. Dan kutulis surat ini, kukirim bersama sepotong senja yang sedang cantik-cantiknya.
Seperti setiap senja di setiap bukit, tentu ada juga burung-burung, rumput yang menghijau, siluet batu koral, dan barangkali juga petani di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga domba, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Amelinda, dalam kertas-kertas yang lusuh, biarkan aku memberikan sesuatu pada lebih dari sekedar kata-kata tentang senja  terakhir yang telah kita nikmati dihari yang lalu.
Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Amelinda, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Amelinda.
Biarkan saja kata-kata itu menjadi pelengkap dan pengukuh bahwa kita sempat bersama, melewatkan senja-senja yang sebelumnya dengan belaian, peluk, cium dan cumbu.
Amelinda yang manis, Amelinda yang sendu. Amelinda yang lucu. Ingin aku jelaskan kenapa aku mengajakamu bertemu dimalam ini lalu membicarakan senja yang selalu aku rindukan itu?
Siang ini aku aku duduk seorang diri di tepi bukit, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Dalam mata terpejamku ini, terlintas bayangmu yang semakin menjauh-menjauh dan hilang. Obrolan siang tadi membukakan mataku yang menurutmu terlampau egois ini. aku masih ingat semua percakapan itu. Kita sama-sama dalam kondisi yang dilematis, sulit memilih.
Kau telah dihadirkan laki-laki yang kau anggap pantas untukmu, “setia” itu kata kuncinya, sedangkan aku “tidak”. Iya. Karena aku sedang tidak sendiri. Apa kau masih ingat dengan hari dimana kita benar-benar berakhir, dimana pada waktu itupun aku tidak memilih siapa-siapa, termasuk kamu. Tujuannku ingin mencari kedamaian yang mencandu. Tetapi kau hadir kembali dengan usaha dan upaya yang membuatku akhirnya melepaskan pilihanku yang terladuhulu, kita bersama kembali.
Memang waktu yang kurang bersahabat, aku tak lagi sendiri, itu masalah utamanya. Karena alasan itulah yang selalu kau jadikan untuk mencambuk diriku ketika aku tidak “well” denganmu, yang sampai membuatmu merasa menderita karena pilihanku itu terlampau sulit dipahami olehmu, amelinda.

Sekarang senja benar-benar mencapai senjakalanya, kau dihadapkan dua pilihan. Antara aku dan dia yang aku benci. Jika berbicara egoisme, jelas aku akan sangat tidak suka, aku tidak bisa menerima keadaan itu. Dimana selama ini, hampir empat bulan setelah putus kita masih saja bersama bahkan lebih erat, tiba-tiba kau menjadi ragu “maaf, aku ragu”. Jelas terasa ditusuk uluhatiku. Sebelumnya kita punsempat mengobrol panjang lebar, kau pun sempat mengatakan yang membuatku merasa tenang. Setidaknya aku merasa kita akan tetap merajut mimpi dimasa yang akan datang.
Lagi-lagi, kau harus membuatku berpikir “aku berharap tidak menyesal dengan pilihan ini.” Jelas ada keraguan yang tampak darimu, aku tak ingin kau menyesal manisku, aku tak ingin kau terus merasa menderita karena pilihanmu itu “ tidak memilih siapa-siapa”. Salah satu caranya, aku harus melepaskan egoisme ku, aku harus benar-benar mengubur dalam-dalam cerita yang selama ini sempat kita rajut.
mencintaimu, bagiku
adalah membentuk kesadaran
pada tubuh dan jiwa
pada batas-batas akali, dimana
segala mula dimengerti
dan meniscaya.

Aku minta puisi ini dari seorang kawan diJogja sana, mencintaimu adalah membentuk kesadaranku pada apa yang ada pada tatapan mata dan melupakan bayang-bayang yang kabur dihatam detik yang terus bedetak. Mengawinkan kata dan laku menjadi satu dan menghadiahkan padamu.
Hanya kau yang bisa merubah semua untuk menjadi indah, aku rasa itu tidak berlebihan, tak mudah untuk bisa mencari rasa yang telah mati, namun kamu membangkitkan asa yang ada dihati ini. ketika dulu aku sempat kesulitan melupakan perempuan yang selalu membuatku kelu ketika mengingatnya, tapi sekali lagi “hanya kau yang bisa merubah semua”.
Karena laku memang menyempurnakan kata-kata, karena kata-kata menggenapkan laku “aku ingin kau bahagia.” Pergilah dengan dia yang selama ini ingin kau temui. Kata-kataku harus sesuai dengan laku ku dan akan kubuktikan sekarang. Memang sangat menyakitkan. Tetapi hidup harus memilih.  Mencintai memang tak sesederhana kata-kata yang biasa diucap dua sejoli, lalu aku hanya ingin menafirkan ke“sok tauanku” tentang mu itu. Kutafsirkan setelah kita bercakap-cakap dengan diwarnai amarah, senyum dan air mata. Sebelum lidahku ngilu dan kaku, karena berbatas perasaan pada rindu yang menyiksa, ketika kularung segenap gelisahku atas pilihan untuk mu berlayar bersama dengan dia yang kubenci.
Setelah itu, kusiksa diriku untuk tak bilang sayang dan rindu padamu, biarkan kita sama-sama asing untuk saling mengenal. Mendefinisikan ulang janji yang pernah kita ucap. Karena kau sudah jelas tau setiap apa yang harus dibayar dalam setiap pilihan. Jangan hiraukan itu manisku, jangan pedulikan semua tentangku. Toh sebentar lagi kita akan benar-benar berjarak, tidak ada wajah-wajah dipagi hari yang biasa kau sapa lagi.
kita saling lupa memaafkan ketololan,
pun tetap membingkai sekerdil apa kenangan.
kemudian adalah hidup, masa lalu dan kini
yang melulu kaurekam.

Sebait puisi itu menggabarkan secarik kelembuatan yang selalu kau bingkai rapih tapi kini telah rapuh.
Semua bergantung apa yang inginkan dan yakini, aku tak ingin menjadi pembeban dalam langkah yang kau pilih. Asing dan menjauh adalah kelogisan yang siap dihadapkan pada apa yang kita takutkan.
Amel,

Aku akan mengakhiri surat ini, akan ku lipat menjadi perahu kertas, dan ku layarkan ke laut lepas.  Bukan tidak mungkin surat ini akan terbaca juga, entah bagaimana caranya, namun siapa pun yang menemukannya akan membaca kesaksianku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa nasib waktu. kupandang senja yang abadi sebelum melipat surat ini. Betapa semua ini terjadi karena cinta, dan hanya karena cinta – betapa besar bencana telah ditimbulkannya ketika kata-kata tak cukup menampungnya. Kutatap senja itu, masih selalu begitu, seperti menjanjikan suatu perpisahan yang sendu.


8 Agustus ketika pertama kau bohong padaku

0 komentar:

Posting Komentar