sementara yang lainnya semua kacau, laki-laki maupun perempuan,
dan bumi yang menghidupkan bunya anyelir” (Pablo Neruda)
Pagi ini
tiba-tiba saja aku dihardik oleh seorang kakak yang jauh dariku. Hardikan itu
seolah ingin menyelesaikan kegelisahanku yang semakin menjadi. Oh tidak, tidak
"menjadi "karena aku sedang berusaha untuk menurunkan tempo kegelisahan. Seolah
tak perlu kita berjalan berdua di daun gugur atau menikmanti sunset dihiruk
pikuknya pantai Kuta. Tidak! seolah itu tidak akan nyaman.
Kakaku yang
sangat aku hormati tidak banyak bicara Ia seolah ingin menunjukan dalam bahasa
pedasnya “ Revolusimu itu belum usai, cita-citamu masih panjang, masih banyak
negara yang kau ingin datangi. Masih banyak buruh-buruh yang mati kelaparan,
masih banyak perempuan-perempuan yang bingung mencari kerja lalu menjadi
pelacur, masih banyak kaum Marhaen yang sibuk saling bunuh sebatas untuk
saluran irigasi dan kau vino, malah duduk merenungi senja yang sudah pasti
khatam, merenungi perempuan yang rela jalan dengan laki-laki lain. Kau laki-laki
yang kami kenal sebagai pejuang cita-cita besar. Tapi kau dilemahkan oleh
kesia-sia?”. Seolah menghardik menghujam Bumi. Kakaku memang ada benarnya,
tetapi ada juga yang tidak tepat. Karena Ia tidak tahu siapa perempuan itu. Ia
tidak pernah tau bagaimana perjuangan perempuan itu pula, Ia tidak tahu soal
kebersamaan hubungan kita dan ia tidak
tahu bahwa perempuan itu pun yang selalu mendukung cita-cita dan harapanku.
Memang revolusiku
tertunda, tetapi aku sedang melakukan revolusi dalam diriku sendiri. Jika revolusi
adalah perubahan yang cepat, samahalnya dengan revolusi Oktober berdarah atau
Revolusi Bolsyevik di Uni Soviet yang menggantikan pemerintahan kerjaan kejam
Tzar dengan kekuasaan komunis atau Revolusi itu perubahan besar yang terjadi di
Inggris akibat penemuan mesin uap oleh James Watt atau Revolusi itu ketika Che Guevara dan
Fidel Castro bergerilya ingin menduduki Havana lalu menggulingkan pemeritahan
rezim Batista. Itulah Revolusi fisik yang selama ini kita kenal
disejarah-sejarah. Tetapi kali ini revolusiku tidak soal darah yang bergelimang
atau berapa kepala yang harus dipisahkan dari lehernya yang hanya untuk
mendefinisikan moral dan keadilan. Jelas tidak, jauh dari itu. Revolusiku adalah
bagaimana merubah perangai kebinatanganku menjadi lebih humanis, merubah
orientasi bejatku pada perempuan untuk jadi lebih setia, revolusiku ini soal
bagaimana aku menjadi laki-laki yang sudah tidak ingin menjadi macan buas
dihadapan kelinci lucu. Peruabahan cepat itu memang selalu bisa terjadi dan
tentunya penuh dengan harapan yang tidak bisa kita patahkan hasilnya.
Soal perempuan
itu. Dia bukan perempuan yang terbiasa menghabiskan diri dalam zona nyaman, dia
mungkin bukan sekeras Margaret Teacher
atau tidak seayu Helen dari Yunani, dia pun tidak seberkuasa Ratu Cleoparta
dari Mesir. Tentunya dia bukan Medusa yang kejam atau Aprodithe yang selalu
baik. Dia adalah dia, perempuan mungil yang lebih besar maknanya dari yang
kusebutkan sebelumnya. Dia kesemestaan perasaan yang pernah aku rasakan. Berani
mengeja kehidupan sampai mendapatkan makna. Kita bersama tidak hanya dalam tawa
tetapi juga dalam duka. Tentunya setelah melalui proses lama kita bergumul,
bercumbu mesra merasakan hangatnya mentari disitulah momen kontemplatif yang
tak bisa dilupakan oleh euphoria kebaharuan yang tak bisa dibuktikan hanya oleh
kebaikan dan kedamaian yang tak teruji.
Dalam hal yang lain, aku selalu
terbayang oleh Ikal, jika aku sedang mengikuti hati nuraniku. Ikal dalam novel
Sang Pemimpi dan Edensor. Ia mampu menjejakan kaki di Eropa hanya untuk mencari
sesosok kekasih yang selalu membuat kelu, tidak sampai situ Ia pernah
dihempaskan oleh angin gurun yang kejam, di bekukan oleh dinginnya Siberia atau
dihantam kelaparan di Eropa daratan. Ada sebuah kenikmatan sebagai laki-laki
jika mampu membuat perempuan yang diperjuangkannya tertawa, tersenyum. Bagiku
tidak berlaku Air mata itu keluar dari perempuan karena sakit hati yang
mendalam, aku benar-benar melupakan idealismeku sebagai laki-laki untuk tidak
membiarkan perempuan menangis didepanku.
Dia adalah dia, perempuan yang memulai dirinya
dari kesederhaan kata lalu kesederhanaan tindakan. Dia adalah Amelinda yang
pada awalnya, kita membicarakan hal-hal yang "ketawa ketiwi" penuh basa basi lalu di
akhir ini kita sudah membicarakan seberapa penting kita berfilsafat, seberapa
banyak uang negara yang dikorupsi oleh pejabat negara atau seberapa dalam puisi
itu menghanyutkan bawah sadarnya dan tentunya seberapa hebat dia menjadi
perempuan. Semua beranjak, melaju dalam alur perunbahan yang positif karena satu alasan yaitu cinta.
Jika senja itu
bisa aku potong, aku lukis, aku foto, aku gambar atau aku lakukan demi
menggambarkan kecantikan senja yang seolah sebanding dengannya aku akan lakukan
itu, tetapi sayangnya aku tak bisa melakukan itu. Aku hanya bisa merangkai
kata-kata yang tak seberapa indah, tak seberapa halus untuk menggambarkan kalau
senja itu sama indah dan sederhana dengan dirinya. Tentu aku tak berlebihan,
tentu tidak ada nafas yang menjadi sia-sia bukan meski nafas itu
tersenggal-senggal. Semua hanya demi memvisualisakan dirimu tidak hanya dalam
sebatas banyang.
Aku ingin
menyebut namamu kembali, Amelinda Nur Rahmah. Seorang gadis manja yang kukenal
dari perjumpaan tak seberapa penting lalu kita melalui banyak cerita dari mulai
air mata sampai tawa atau rasa yang melayang semua pernah kita lalui bersama. Tetapi
kebersamaan itu tidak akan menarik jika selalu datar-datar saja, kini kita
sedang diuji Tuhan bagaimana kita mempertahankan hubungan yang sudah menjadi
garis yang kuasa.
Tentunya keadaan
ini sudah berubah dari sejak beberapa bulan yang lalu. Kini kau mencoba asing
padaku, membiarkanku pada gelimang keresahan dan aku malah menikamati senja
dengan laki-laki lain. Padahal dulu aku mengajarkanmu soal senja itu hanya
untuk dinimati oleh ku tidak dengan yang lain. Tetapi kau semakin menjauh oleh
perasaan dan ketakutanmu untuk memulai kembali denganku. Seoah aku adalah
manusia yang selalu ada dititik nol yang membicarakan segalanya dengan amarah,
tentu tidak manisku. Inilah klimaks yang menamparku dalam ketiadaan yang
sesungguhnya.
Tentunya, aku
masih berharap kau berada disisiku, bercumbu
dalam orasi-orasi tentang pembebasan,
berkasih-kasihdalam debat panjang revolusi, berpeluk mesra dalam kejaran tirani, aku sebenarnya berharap kau ada disisiku, berjalan bergandengan dengan kaum tertindas
bernyanyi mesra dalam tarian penantian atau hanya sekedar diam dan saling memandang
sambil berpikir berdua adakah ruang untuk kita, berucap mesra dalam tangisan kehilangan
berkasih-kasihdalam debat panjang revolusi, berpeluk mesra dalam kejaran tirani, aku sebenarnya berharap kau ada disisiku, berjalan bergandengan dengan kaum tertindas
bernyanyi mesra dalam tarian penantian atau hanya sekedar diam dan saling memandang
sambil berpikir berdua adakah ruang untuk kita, berucap mesra dalam tangisan kehilangan
Aku amat menyayangimu, hanya saja aku tak
tahu bagaimana menyatakan cinta kasihku ini. Aku sangat kaku dalam tindakanku,
dan aku berpikir bahwa kadang-kadang kau tidak akan memahamiku. Adalah tidak
mudah untuk memahamiku. Meski begitu. kumohon saat ini percayalah padaku. kita mencoba menjadi yang terbaik
dalam setiap pengertian. Memaafkan laku yang tak pantas lalu melanjutkan
angan-angan yang tidak sebatas mimpi. Ingat, kita bukan sedang bermimpi,
memimpikan perubahan yang sebenarnya sudah sangat pasti meski keragu-raguanmu
itu yang menghalangi langkah pasti kita.
Aku memberimu peluk erat
seerat-eratnya hingga akhir kita terpisahan ?aku harap tidak. Kegilaan itu
memiliki porsi dan dalam konteks yang ada diluar nalar. Dan kini aku sedang
menikmati kegilaan yang ada dalam luar konteks biasaku karena dengan itu aku
bisa tahu seberapa sakit jika kita terhianati dan seberapa bahagia jika kita
saling mencintai.
Aku sedang tidak ingin berjanji
banyak padamu, karena aku tak mungkin berjanji ditengah badai ini lalu
melupakan janji itu setelah badai itu berlalu. Jelas tidak, aku hanya optimis
seoptimis ketika aku melihat mawar tidak dari durinya tetapi dari bunganya yang
indah. Karena hanya itu yang bisa aku katakana dan kuperbuat padamu, manisku.
“aku hanya ingin ikatan perasaan yang sempurna bukan mencari sesosok
kekasih yang sempurna secara fisik”
Dari Gulfino Che Guevarrato yang mencitai
revolusi sebagai sajak, rindu, cinta dan kehangatan!!!!






0 komentar:
Posting Komentar