Sabtu, 13 Oktober 2012

Kepada Gadis Revolusiku


 



Kita harus saling mencinta,
sementara yang lainnya semua kacau, laki-laki maupun perempuan,
dan bumi yang menghidupkan bunya anyelir” (Pablo Neruda)


Pagi ini tiba-tiba saja aku dihardik oleh seorang kakak yang jauh dariku. Hardikan itu seolah ingin menyelesaikan kegelisahanku yang semakin menjadi. Oh tidak, tidak "menjadi "karena aku sedang berusaha untuk menurunkan tempo kegelisahan. Seolah tak perlu kita berjalan berdua di daun gugur atau menikmanti sunset dihiruk pikuknya pantai Kuta. Tidak! seolah itu tidak akan nyaman.
Kakaku yang sangat aku hormati tidak banyak bicara Ia seolah ingin menunjukan dalam bahasa pedasnya “ Revolusimu itu belum usai, cita-citamu masih panjang, masih banyak negara yang kau ingin datangi. Masih banyak buruh-buruh yang mati kelaparan, masih banyak perempuan-perempuan yang bingung mencari kerja lalu menjadi pelacur, masih banyak kaum Marhaen yang sibuk saling bunuh sebatas untuk saluran irigasi dan kau vino, malah duduk merenungi senja yang sudah pasti khatam, merenungi perempuan yang rela jalan dengan laki-laki lain. Kau laki-laki yang kami kenal sebagai pejuang cita-cita besar. Tapi kau dilemahkan oleh kesia-sia?”. Seolah menghardik menghujam Bumi. Kakaku memang ada benarnya, tetapi ada juga yang tidak tepat. Karena Ia tidak tahu siapa perempuan itu. Ia tidak pernah tau bagaimana perjuangan perempuan itu pula, Ia tidak tahu soal kebersamaan hubungan kita  dan ia tidak tahu bahwa perempuan itu pun yang selalu mendukung cita-cita dan harapanku.
Memang revolusiku tertunda, tetapi aku sedang melakukan revolusi dalam diriku sendiri. Jika revolusi adalah perubahan yang cepat, samahalnya dengan revolusi Oktober berdarah atau Revolusi Bolsyevik di Uni Soviet yang menggantikan pemerintahan kerjaan kejam Tzar dengan kekuasaan komunis atau Revolusi itu perubahan besar yang terjadi di Inggris akibat penemuan mesin uap oleh James Watt  atau Revolusi itu ketika Che Guevara dan Fidel Castro bergerilya ingin menduduki Havana lalu menggulingkan pemeritahan rezim Batista. Itulah Revolusi fisik yang selama ini kita kenal disejarah-sejarah. Tetapi kali ini revolusiku tidak soal darah yang bergelimang atau berapa kepala yang harus dipisahkan dari lehernya yang hanya untuk mendefinisikan moral dan keadilan. Jelas tidak, jauh dari itu. Revolusiku adalah bagaimana merubah perangai kebinatanganku menjadi lebih humanis, merubah orientasi bejatku pada perempuan untuk jadi lebih setia, revolusiku ini soal bagaimana aku menjadi laki-laki yang sudah tidak ingin menjadi macan buas dihadapan kelinci lucu. Peruabahan cepat itu memang selalu bisa terjadi dan tentunya penuh dengan harapan yang tidak bisa kita patahkan hasilnya.
Soal perempuan itu. Dia bukan perempuan yang terbiasa menghabiskan diri dalam zona nyaman, dia mungkin bukan sekeras Margaret  Teacher atau tidak seayu Helen dari Yunani, dia pun tidak seberkuasa Ratu Cleoparta dari Mesir. Tentunya dia bukan Medusa yang kejam atau Aprodithe yang selalu baik. Dia adalah dia, perempuan mungil yang lebih besar maknanya dari yang kusebutkan sebelumnya. Dia kesemestaan perasaan yang pernah aku rasakan. Berani mengeja kehidupan sampai mendapatkan makna. Kita bersama tidak hanya dalam tawa tetapi juga dalam duka. Tentunya setelah melalui proses lama kita bergumul, bercumbu mesra merasakan hangatnya mentari disitulah momen kontemplatif yang tak bisa dilupakan oleh euphoria kebaharuan yang tak bisa dibuktikan hanya oleh kebaikan dan kedamaian yang tak teruji.
Dalam hal yang lain, aku selalu terbayang oleh Ikal, jika aku sedang mengikuti hati nuraniku. Ikal dalam novel Sang Pemimpi dan Edensor. Ia mampu menjejakan kaki di Eropa hanya untuk mencari sesosok kekasih yang selalu membuat kelu, tidak sampai situ Ia pernah dihempaskan oleh angin gurun yang kejam, di bekukan oleh dinginnya Siberia atau dihantam kelaparan di Eropa daratan. Ada sebuah kenikmatan sebagai laki-laki jika mampu membuat perempuan yang diperjuangkannya tertawa, tersenyum. Bagiku tidak berlaku Air mata itu keluar dari perempuan karena sakit hati yang mendalam, aku benar-benar melupakan idealismeku sebagai laki-laki untuk tidak membiarkan perempuan menangis didepanku.
 Dia adalah dia, perempuan yang memulai dirinya dari kesederhaan kata lalu kesederhanaan tindakan. Dia adalah Amelinda yang pada awalnya, kita  membicarakan hal-hal yang "ketawa ketiwi" penuh basa basi lalu di akhir ini kita sudah membicarakan seberapa penting kita berfilsafat, seberapa banyak uang negara yang dikorupsi oleh pejabat negara atau seberapa dalam puisi itu menghanyutkan bawah sadarnya dan tentunya seberapa hebat dia menjadi perempuan. Semua beranjak, melaju dalam alur perunbahan yang positif karena satu alasan yaitu cinta.
Jika senja itu bisa aku potong, aku lukis, aku foto, aku gambar atau aku lakukan demi menggambarkan kecantikan senja yang seolah sebanding dengannya aku akan lakukan itu, tetapi sayangnya aku tak bisa melakukan itu. Aku hanya bisa merangkai kata-kata yang tak seberapa indah, tak seberapa halus untuk menggambarkan kalau senja itu sama indah dan sederhana dengan dirinya. Tentu aku tak berlebihan, tentu tidak ada nafas yang menjadi sia-sia bukan meski nafas itu tersenggal-senggal. Semua hanya demi memvisualisakan dirimu tidak hanya dalam sebatas banyang.
Aku ingin menyebut namamu kembali, Amelinda Nur Rahmah. Seorang gadis manja yang kukenal dari perjumpaan tak seberapa penting lalu kita melalui banyak cerita dari mulai air mata sampai tawa atau rasa yang melayang semua pernah kita lalui bersama. Tetapi kebersamaan itu tidak akan menarik jika selalu datar-datar saja, kini kita sedang diuji Tuhan bagaimana kita mempertahankan hubungan yang sudah menjadi garis yang kuasa.
Tentunya keadaan ini sudah berubah dari sejak beberapa bulan yang lalu. Kini kau mencoba asing padaku, membiarkanku pada gelimang keresahan dan aku malah menikamati senja dengan laki-laki lain. Padahal dulu aku mengajarkanmu soal senja itu hanya untuk dinimati oleh ku tidak dengan yang lain. Tetapi kau semakin menjauh oleh perasaan dan ketakutanmu untuk memulai kembali denganku. Seoah aku adalah manusia yang selalu ada dititik nol yang membicarakan segalanya dengan amarah, tentu tidak manisku. Inilah klimaks yang menamparku dalam ketiadaan yang sesungguhnya.
Tentunya, aku masih berharap kau berada disisiku, bercumbu dalam orasi-orasi tentang pembebasan,
berkasih-kasihdalam debat panjang revolusi, berpeluk mesra dalam kejaran tirani, aku sebenarnya berharap kau ada disisiku, berjalan bergandengan dengan kaum tertindas
bernyanyi mesra dalam tarian penantian atau hanya sekedar diam dan saling memandang
sambil berpikir berdua adakah ruang untuk kita, berucap mesra dalam tangisan kehilangan
Aku amat menyayangimu, hanya saja aku tak tahu bagaimana menyatakan cinta kasihku ini. Aku sangat kaku dalam tindakanku, dan aku berpikir bahwa kadang-kadang kau tidak akan memahamiku. Adalah tidak mudah untuk memahamiku. Meski begitu. kumohon saat ini percayalah padaku. kita mencoba menjadi yang terbaik dalam setiap pengertian. Memaafkan laku yang tak pantas lalu melanjutkan angan-angan yang tidak sebatas mimpi. Ingat, kita bukan sedang bermimpi, memimpikan perubahan yang sebenarnya sudah sangat pasti meski keragu-raguanmu itu yang menghalangi langkah pasti kita.
Aku memberimu peluk erat seerat-eratnya hingga akhir kita terpisahan ?aku harap tidak. Kegilaan itu memiliki porsi dan dalam konteks yang ada diluar nalar. Dan kini aku sedang menikmati kegilaan yang ada dalam luar konteks biasaku karena dengan itu aku bisa tahu seberapa sakit jika kita terhianati dan seberapa bahagia jika kita saling mencintai.
Aku sedang tidak ingin berjanji banyak padamu, karena aku tak mungkin berjanji ditengah badai ini lalu melupakan janji itu setelah badai itu berlalu. Jelas tidak, aku hanya optimis seoptimis ketika aku melihat mawar tidak dari durinya tetapi dari bunganya yang indah. Karena hanya itu yang bisa aku katakana dan kuperbuat padamu, manisku.
“aku hanya ingin ikatan perasaan yang sempurna bukan mencari sesosok kekasih yang sempurna secara fisik”

Dari Gulfino Che Guevarrato yang mencitai revolusi sebagai sajak, rindu, cinta dan kehangatan!!!!


0 komentar:

Posting Komentar