Kamis, 11 Oktober 2012

Andai saja aku Orang Utan




Siang itu, ketika aku sedang santai diatas pohon-pohon yang tak terlalu rindang. Tiba-tiba dari jauh terdengar gemuruh orang-orang yang pada awalnya aku tak tahu tujuannya apa. Lalu mereka meneriaki ku, mencoba untuk memburuku, melempariku. Jelaslah aku mencoba untuk berlari naik ketas dahan yang lebih tinggi. Aku berteriakan, mencoba minta tolong pada teman-temanku tapi teman-temanku pun sudah banyak yang ditankap, mati dan dijual. Kami dianggap sebagai hama. Lalu apakah memang benar kami hama?, ketika rumah tinggal kami yang menentramkan tiba-tiba saja di potongi satu persatu. Di alih fungsikan menjadi kebun-kebun kepala sawit yang dikuasai penghusaha-penghuasa dari Malaysia itu. Apakah kami memang benar-benar hina sehingga kami diburu dengan tanpa belas kasihan. Selama ini kami tidak pernah memangsa manusia, selama ini kami pun tak pernah membuat onar dikampung-kampung. Kami sama seperti manusia yang cinta damai. Manusia memang memandang berbeda pada kami.
Siang itu juga semuanya menjadi berubah. Tidur santaiku di pohon sengon yang mudah patah, karena pohon trambesi atau pohon ulin sudah banyak yang ditebang pun ketenanganku harus terusik. Tiba-tiba manusia menembakiku, melempariku dengan petasan asap. Salah apa aku ini?aku sudah tua, usiaku sudah 17tahun. Beberapa tahun yang lalu anakku kalian angkut ke tempat yang banyak gedungnya. Dua tahun yang lalu istriku, manusia buru dan dijadikan santapan. Kejamnya manusia itu tidak sampai disitu. Manusia-manusia yang katanya mempunyai akal dan budi itu menembakinya didepan mata kepalaku sendiri. Andai saja aku bisa melawan, andai saja ada seorang ilmuwan yang menjadikanku sebagai percobaan kimianya untuk menjadi kuat maka aku dengan senang hati menjadi percobaan itu. Siapa tahu bisa membuatku kuat lalu melawan manusia-manusia yang sering datang berbondong-bondong sambil membawa gergaji dan pistol. Tapi sayangnya, aku hanya orang utan yang renta dan tua. Tak ada teman, tak ada hutan, tak ada keluarga. Semuanya terampas oleh namanya keserakahan.
Dulu kami sangat takut denga Macan. Dia suka memangsa anak-anak kami yang lengah, tetapi Macan itu tidak kejam. Macan tidak membinasakan keluarga kami. Ia masih ada belas kasihan dan yang paling penting macan tidak mengusir kami ketika kami sedang tidur. Berbeda dengan manusia, mereka membiarkan kami sangat menderita, menjadikan kami sebagai kambing hitam keserakahan mereka dengan menyebut kami sebagai hama. Ribuan dari kami harus mati dengan sia-sia. Bahkan untuk makan saja kami harus mencarinya ditempat yang jauh kedalam hutan karena tempat tinggal kami sekarang penuh dengan ketakutan yang ditebar oleh manusia itu sendiri.
Memang tidak semua manusia itu jahat. Masih ada manusia yang peduli pada kami. Aku pernah menguping pembicaraan manusia ketika aku dipengkaran dulu. Waktu itu usiaku masih 3tahun, aku pun yatim piatu karena nenek moyangku juga sudah dihabisi oleh manusia yang serakah itu. Menurut manusia-manusia yang baik, di kalangan manusia ada aturan yang melindungi kami sebagai hewan langka yang dilindungi dan dijaga kelestariannya. Awalnya kami sangat senang, karena masih ada manusia yang begitu baik hati tidak saja memberi kami makan, tetapi juga melindungi kami dari sisi yang lainnya. “Undang-undang No 5/1990 tetang Konservasi Sumber Daya Alama Hayati dan Ekosistem pasal 40. urungkan niat itu. karena dengan memelihara orang utan (Read. satwa langka) bisa terancam kurungan maksimal 5 tahun penjara dan dendan maksimal 500 juta sesuai dengan.” Begitu manusia memberitahu kami, tapi nyatanya siang itu aku harus benar-benar merasakan diri sebagai orang utan-orang utan yang lain. Tubuhku terbakar habis, rambutku pun menjadi santapan si jago merah, tetapi manusia malah senang memandangi aku yang tak berani turun dari atas pohon. Aku benar-benar tak bisa melawan. Kenapa kami begitu lemah? Kenapa kami tidak diberi akal oleh Tuhan? Kenapa kami yang cinta damai ini dihadapkan dengan kebengisan manusia?
Puluhan tahun yang lalu kami menjadi kebanggan bangsa ini. sebab kami hanya memilih tinggal di negara ini. Tidak memilih tinggal di Eropa yang katanya maju atau di China yang begitu menyangi Panda. Kami cinta Indonesia meski disini banyak manusia yang miskin dan tidak bekerja sehingga pekerjaannya memburu kami. Tapi kehidupan tenang itu mencapai puncaknya saat ini. saat dimana aku merasakan ujung kesakitan yang sangat luar biasa dan manusia hanya memandangi. Meski ada juga yang memaki kebengisan manusia yang lainnya.
Semuanya kini tinggal menunggu waktu saja. Entah berapa lama lagi kami harus benar-benar punah dan hanya memandangi kami dari video, foto atau dibuku-buku pelajaran usang yang kertasnya diambil hari tempat tinggalku dulu.
Biarkan aku mati dengan tenang.

0 komentar:

Posting Komentar