Siang itu, ketika aku
sedang santai diatas pohon-pohon yang tak terlalu rindang. Tiba-tiba dari jauh
terdengar gemuruh orang-orang yang pada awalnya aku tak tahu tujuannya apa.
Lalu mereka meneriaki ku, mencoba untuk memburuku, melempariku. Jelaslah aku
mencoba untuk berlari naik ketas dahan yang lebih tinggi. Aku berteriakan,
mencoba minta tolong pada teman-temanku tapi teman-temanku pun sudah banyak
yang ditankap, mati dan dijual. Kami dianggap sebagai hama. Lalu apakah memang
benar kami hama?, ketika rumah tinggal kami yang menentramkan tiba-tiba saja di
potongi satu persatu. Di alih fungsikan menjadi kebun-kebun kepala sawit yang
dikuasai penghusaha-penghuasa dari Malaysia itu. Apakah kami memang benar-benar
hina sehingga kami diburu dengan tanpa belas kasihan. Selama ini kami tidak
pernah memangsa manusia, selama ini kami pun tak pernah membuat onar
dikampung-kampung. Kami sama seperti manusia yang cinta damai. Manusia memang
memandang berbeda pada kami.
Siang itu juga semuanya
menjadi berubah. Tidur santaiku di pohon sengon yang mudah patah, karena pohon
trambesi atau pohon ulin sudah banyak yang ditebang pun ketenanganku harus
terusik. Tiba-tiba manusia menembakiku, melempariku dengan petasan asap. Salah
apa aku ini?aku sudah tua, usiaku sudah 17tahun. Beberapa tahun yang lalu
anakku kalian angkut ke tempat yang banyak gedungnya. Dua tahun yang lalu
istriku, manusia buru dan dijadikan santapan. Kejamnya manusia itu tidak sampai
disitu. Manusia-manusia yang katanya mempunyai akal dan budi itu menembakinya
didepan mata kepalaku sendiri. Andai saja aku bisa melawan, andai saja ada
seorang ilmuwan yang menjadikanku sebagai percobaan kimianya untuk menjadi kuat
maka aku dengan senang hati menjadi percobaan itu. Siapa tahu bisa membuatku
kuat lalu melawan manusia-manusia yang sering datang berbondong-bondong sambil
membawa gergaji dan pistol. Tapi sayangnya, aku hanya orang utan yang renta dan
tua. Tak ada teman, tak ada hutan, tak ada keluarga. Semuanya terampas oleh
namanya keserakahan.
Dulu kami sangat takut
denga Macan. Dia suka memangsa anak-anak kami yang lengah, tetapi Macan itu
tidak kejam. Macan tidak membinasakan keluarga kami. Ia masih ada belas kasihan
dan yang paling penting macan tidak mengusir kami ketika kami sedang tidur.
Berbeda dengan manusia, mereka membiarkan kami sangat menderita, menjadikan
kami sebagai kambing hitam keserakahan mereka dengan menyebut kami sebagai
hama. Ribuan dari kami harus mati dengan sia-sia. Bahkan untuk makan saja kami
harus mencarinya ditempat yang jauh kedalam hutan karena tempat tinggal kami
sekarang penuh dengan ketakutan yang ditebar oleh manusia itu sendiri.
Memang tidak semua
manusia itu jahat. Masih ada manusia yang peduli pada kami. Aku pernah
menguping pembicaraan manusia ketika aku dipengkaran dulu. Waktu itu usiaku
masih 3tahun, aku pun yatim piatu karena nenek moyangku juga sudah dihabisi
oleh manusia yang serakah itu. Menurut manusia-manusia yang baik, di kalangan
manusia ada aturan yang melindungi kami sebagai hewan langka yang dilindungi
dan dijaga kelestariannya. Awalnya kami sangat senang, karena masih ada manusia
yang begitu baik hati tidak saja memberi kami makan, tetapi juga melindungi
kami dari sisi yang lainnya. “Undang-undang No
5/1990 tetang Konservasi Sumber Daya Alama Hayati dan Ekosistem pasal 40. urungkan niat itu. karena dengan
memelihara orang utan (Read. satwa langka) bisa terancam kurungan maksimal 5
tahun penjara dan dendan maksimal 500 juta sesuai dengan.” Begitu manusia
memberitahu kami, tapi nyatanya siang itu aku harus benar-benar merasakan diri
sebagai orang utan-orang utan yang lain. Tubuhku terbakar habis, rambutku pun
menjadi santapan si jago merah, tetapi manusia malah senang memandangi aku yang
tak berani turun dari atas pohon. Aku benar-benar tak bisa melawan. Kenapa kami
begitu lemah? Kenapa kami tidak diberi akal oleh Tuhan? Kenapa kami yang cinta
damai ini dihadapkan dengan kebengisan manusia?
Puluhan tahun yang lalu
kami menjadi kebanggan bangsa ini. sebab kami hanya memilih tinggal di negara
ini. Tidak memilih tinggal di Eropa yang katanya maju atau di China yang begitu
menyangi Panda. Kami cinta Indonesia meski disini banyak manusia yang miskin
dan tidak bekerja sehingga pekerjaannya memburu kami. Tapi kehidupan tenang itu
mencapai puncaknya saat ini. saat dimana aku merasakan ujung kesakitan yang
sangat luar biasa dan manusia hanya memandangi. Meski ada juga yang memaki
kebengisan manusia yang lainnya.
Semuanya kini tinggal
menunggu waktu saja. Entah berapa lama lagi kami harus benar-benar punah dan
hanya memandangi kami dari video, foto atau dibuku-buku pelajaran usang yang
kertasnya diambil hari tempat tinggalku dulu.
Biarkan aku mati dengan
tenang.







0 komentar:
Posting Komentar