Sore
itu, siang itu, malam itu tak ada tawa dan tangis. Semuanya memang biasa saja
tetapi aku ingin saja berucap maaf padamu. Semua karena kesadaran diriku akan
kesalahan yang terlalu banyak kau terima dariku. Sore itu, siang itu atau malam
itu. Entah keberapa kalinya aku harus membuat tidurmu tidak nyenyak. Entah
berapa banyak umpatan terucap dari bibirku hanya untuk mensahihkan kemarahanku.
Sungguh tak seharusnya aku berkata itu. Perasaan bersalah yang tersisa. Maka
dari itu sudikah aku, aku beri maaf.
Untukmu
yang dulu yang indah bagiku. Dikala fajar telah kembali bersinar. Kita sempat
berujar soal janji yang sempat kita sepakati. Tapi apakah itu masih sangat
sesuai dengan kenyataan sekarang ketika keadaan tidak lagi menyatu dengan
setiap janji yang pernah diucap.
Maafkan
aku manisku. Kau sempat marah semarah-marahnya kau hidup menjadi manusia. Kau
pun sempat kecewa, murka atau apalah itu terkait dengan keadaan yang harus kau
terima dikala kasih ini sedang klimaks-klimaksnya? Lagi, memang aku yang
berandil besar dalam kesia-siaan itu. Jika kau memandangnya memang aku yang
bersalah karena begitu saja seolah meninggalkanku. Tapi apakah benar aku memang
benar-benar bersalah ketika memang sebelumnya kau sudah banyak tau soal kuasa untuk meminta dan kekuasaan untuk
memberi. Mungkin kau sudah paham akan semua tanya-tanya yang menanti jawabmu.
Memang yang kubutukan bukan retorika belaka. Lebih dari itu. Aku inginkan dalam
setiap mengingat dirimu adalah kebaikan. Mungkin aku terlalu egois untuk
menjadi manusia. Memaksa dirimu untuk menjadi aku.
Alasan
demi alasan yang memang terkesan klasik dan memuakan bagimu itulah yang
sebenarnya menjadi penghalang hubungan kita. Perlu kau ketahui, ketika aku
menulis semua ini, aku benar-benar berhati-hati untuk mencari setiap kata yang
tepat agar tidak menyinggung perasaanmu. Salahkah aku mel? Ketika kasih mu
“seolah’ tidak terbalas? Salah aku mel, ketika aku berusaha memilih yang
terbaik bagiku? Definsi terbaik disni tidak multak. Kau pun terbaik semuanya
terbaik dengan segala kelemahan dan kelebihan. Tetapi aku hanya ingin bertanya
padamu soal terbaik yang sejati itu seperti apa? Kalau aku dia yang terbaik itu
ketika memang tidak menjadi bagian dari
amarah dan emosi. Kadang factor-faktor eksternal pula yang mempengaruhinya.
Ketika aku merasa sedikit-maaf-gerah ketika kau tidak bisa berhubungan baik
dengan orang tuamu atau keadaan yang tidak kondisif dalam rumahmu. Maaf mel,
aku memang sangat egois memandang itu semua dari sudut pandangku. Aku memang
sangat licik pada akhirnya ketika “seolah” pula bahwa aku memandang hububungan
ini begitu dangkal?
Cobalah
untuk memahami setiap kata yang kuucap ini. Mungkin akan sangat terkesan kasar
dan menyakitkan. Tetapi sekali lagi beribu maaf jika bisa itu membuatmu senang
akan kulakukan. Perlu kau pahami mel, kenyamanan itu yang kutemukan pada
dirimu. Perlu kau ketahui oleh mu, inilah kasih sayang yang kungkapkan padamu
meski tak semua mampu kepenuhi. Kita sempat melangkah jauh soal mimpi dan
harapan.
31 Agusutus 2012. Maafkan aku!!!






0 komentar:
Posting Komentar