Sabtu, 13 Oktober 2012

Dan aku hanya bisa berucap maaf


Sore itu, siang itu, malam itu tak ada tawa dan tangis. Semuanya memang biasa saja tetapi aku ingin saja berucap maaf padamu. Semua karena kesadaran diriku akan kesalahan yang terlalu banyak kau terima dariku. Sore itu, siang itu atau malam itu. Entah keberapa kalinya aku harus membuat tidurmu tidak nyenyak. Entah berapa banyak umpatan terucap dari bibirku hanya untuk mensahihkan kemarahanku. Sungguh tak seharusnya aku berkata itu. Perasaan bersalah yang tersisa. Maka dari itu sudikah aku, aku beri maaf.
Untukmu yang dulu yang indah bagiku. Dikala fajar telah kembali bersinar. Kita sempat berujar soal janji yang sempat kita sepakati. Tapi apakah itu masih sangat sesuai dengan kenyataan sekarang ketika keadaan tidak lagi menyatu dengan setiap janji yang pernah diucap.
Maafkan aku manisku. Kau sempat marah semarah-marahnya kau hidup menjadi manusia. Kau pun sempat kecewa, murka atau apalah itu terkait dengan keadaan yang harus kau terima dikala kasih ini sedang klimaks-klimaksnya? Lagi, memang aku yang berandil besar dalam kesia-siaan itu. Jika kau memandangnya memang aku yang bersalah karena begitu saja seolah meninggalkanku. Tapi apakah benar aku memang benar-benar bersalah ketika memang sebelumnya kau sudah banyak tau soal  kuasa untuk meminta dan kekuasaan untuk memberi. Mungkin kau sudah paham akan semua tanya-tanya yang menanti jawabmu. Memang yang kubutukan bukan retorika belaka. Lebih dari itu. Aku inginkan dalam setiap mengingat dirimu adalah kebaikan. Mungkin aku terlalu egois untuk menjadi manusia. Memaksa dirimu untuk menjadi aku.
Alasan demi alasan yang memang terkesan klasik dan memuakan bagimu itulah yang sebenarnya menjadi penghalang hubungan kita. Perlu kau ketahui, ketika aku menulis semua ini, aku benar-benar berhati-hati untuk mencari setiap kata yang tepat agar tidak menyinggung perasaanmu. Salahkah aku mel? Ketika kasih mu “seolah’ tidak terbalas? Salah aku mel, ketika aku berusaha memilih yang terbaik bagiku? Definsi terbaik disni tidak multak. Kau pun terbaik semuanya terbaik dengan segala kelemahan dan kelebihan. Tetapi aku hanya ingin bertanya padamu soal terbaik yang sejati itu seperti apa? Kalau aku dia yang terbaik itu ketika memang  tidak menjadi bagian dari amarah dan emosi. Kadang factor-faktor eksternal pula yang mempengaruhinya. Ketika aku merasa sedikit-maaf-gerah ketika kau tidak bisa berhubungan baik dengan orang tuamu atau keadaan yang tidak kondisif dalam rumahmu. Maaf mel, aku memang sangat egois memandang itu semua dari sudut pandangku. Aku memang sangat licik pada akhirnya ketika “seolah” pula bahwa aku memandang hububungan ini  begitu dangkal?
Cobalah untuk memahami setiap kata yang kuucap ini. Mungkin akan sangat terkesan kasar dan menyakitkan. Tetapi sekali lagi beribu maaf jika bisa itu membuatmu senang akan kulakukan. Perlu kau pahami mel, kenyamanan itu yang kutemukan pada dirimu. Perlu kau ketahui oleh mu, inilah kasih sayang yang kungkapkan padamu meski tak semua mampu kepenuhi. Kita sempat melangkah jauh soal mimpi dan harapan.
31 Agusutus 2012. Maafkan aku!!!

0 komentar:

Posting Komentar