Jumat, 19 Oktober 2012

Rembangan yang Puitis




Kita berada dipuncak. Puncak dalam arti sesungguhnya, tetapi bukan Puncak Bogor, Puncak Kaliurang atau daerah Puncak Batu. Puncak Rembangan, Jember. Tempat dimana aku biasa mengendapkan keresahan ditemani kabut tipis, nyanyian malam dan semua itu benar-benar menentramkan. Kali itu Rembangan sedikit berbeda, tidak seperti malam-malam sebelumnya. Bukan aku yang berada disana, tetapi kita. Kita bersama menikmati senja yang mulai karam, memandangi langit yang yang mulai melembayung.  Semua keindahan yang nyata.
Rembangan sedang manis-mansinya. Itu mungkin kalimat yang sangat mewakili, ketika semua mata menuju pada hiruk pikuk keramaian, makam mia ayam lah atau nongkrong diwarung kopi, kita hanya ingin menikmati setiap detik tergelincirnya matahari tua. Rembangan memang istimewa hari itu, selain karena kabut kesukaanku muncul. Di  Rembangan pula kita kembali bertemu dalam tatap muka setalah sekian lama aku banyak menghabiskan diri dalam keresahan. Begitu istimewa hadirmu disisiku. Mengobati kerinduan akan kebersamaan yang aku perjuangkan tetapi lebih memilih dengan dia yang ada segalanya. Kau keistimewaan yang sederhana. Tidak perlu banyak bicara untuk menjadi dirimu. Cukup bertindak lalu berbuat dalam kelembutan yang mencandu.
Rembangan sedang cantik-cantiknya, ada langit yang mengitam, bulan sabit yang merona, lampu-lampu kota Jember yang dilihat dari ketinggian, tebu-tebu yang mulai tumbuh dan ada kerudung ungumu yang membuat semua suasana itu mengkumulasi dalam bentuk keindahan yang benar-benar  indah. Kerudungmu membuat suasananya lebih tenang, lebih syahdu dan tentunya ada ketulusan dalam setiap ucapan yang keluar dari bibir manismu.
Kita berbicara banyak malam itu, soal gemerlap lampu-lampu kota Jember, soal bintang yang berkedip atau soal masa kecil kita yang berbeda-beda. Secara kasat mata, kita seolah memang berbeda, sangat berbeda. Tetapi tak akan pernah usai jika membicarakan perbedaan itu. Perbedaan perlu dikawinkan oleh perbedaan lagi agar semuanya menjadi satu. Banyak hal yang kita rasakan dalam berjalannya detik berlalu itu. Banyak hal pula yang aku endapkan malam itu. Kemarahanku, keresahanku, kekalutanku seolah semuanya diendapkan oleh tawamu, lesung pipimu yang semakin membuatku terdiam dan berpikir panjang. Sebab diluar sana, keindahan yang kuyakini bermain mata denganku. Menunjukan kepura-puraan yang sebenarnya bisa kurasakan sebagai sebuah kebaikan tapi sayangnya itu masih palsu. Ia menjebakan diri dalam kebaharuan yang tidak pernah ia tau tujuannya apa. Tidak ada satu setanpun tentang tujuan hidup kita.
Kau hadir kembali dalam senja yang mulai khatam lalu seperti senja-senja sebelumnya. Selalu saja meninggalkan rindu untuk diulang. Meninggalkan kasih yang selama ini kunanti. Kurasa kau adalah alasan tepatku untuk menjadi lebih baik. Aku sudah tidak ingin membuang-buang waktu dengan ketidak pastian. Membiarkan orang lain menikmati kemegahan yang kubangun atas dasar apa? Atas dasar aku bukan orang yang baik untuk Nya. Tidak, aku tidak ingin lagi ada yang mengganggu hidupku denganmu tentunya.
Malam semakin melarut, detik sengaja tak ingin mengendapkan rindu kita. Jelas, karena kau lebih dan sangat manis jika kerudung itu tak kau lepas. Terlihat lebih anggun, dewasa, pendiam, seoalah kau hadir denga lebih baru, lebih baik. Memang benar, kau banyak mengajarkanku soal kebenaran dan kebaikan bukan dengan meninggalkan cerita kita begitu saja dengan mencari orang lain, tetapi kau mengajarkanku soal kesetian dengan kelembutan dengan kejujuran dan ketulusan. Kau hadir meski aku tau beberapa waktu lalu kau benar-benar hancur melihat semuanya. Aku terjebak pada makna “kasih sejati’ tetapi ternyata bukan itu. Semua sekali lagi kepalsuan yang mencoba diyakini olehku. Kau hardik aku, tampar aku dengan perhatianmu yang seolah aku tak layak untuk jadi yang terbaikmu.
Rembangan memang manis dan syahdu. Kita masih melanjutkan obrolan ini. Bukan tentang kegundahan tentunya, tetapi soal bagiamana kita kedepan. Banyak harapan yang dimunculkan, banyak asa yang bisa kita rajut suatu hari nanti jika memang keadaan tetap mendukung. Tetapi biarkan kali ini aku menuntaskan perasaanku dulu. Baru kita berbicara panjang lagi.
Sepertinya waktu memang tidak peduli dengan kebersamaan kita yang panjang ini. sepertinya waktu memang berjalan sesuai dengan tugasnya. Kitapun mengakhiri malam itu dengan kalimat istimewa yang sangat aku suka. tetapi biarkan aku, kamu dan Tuhan yang tahu. Biarkan ketulusan dan kejujuran itu menjadi kunci jawaban dalam meningkatkan kualitas hubungan kita lagi.
Mungkin kita akan melanjutkan obrolan panjang ini bukan lagi di Rembangan, tetapi di tempat yang jauh lebih indah dari hari-hari yang lalu.
Terimakasih manisku, kau hadir diwaktu yang tepat ketika semua keresahan semakin menjadi, ketika logika hanya berfungsi sebatas formalitas dan biarkan dia yang mencari segalanya itu sadar tentang kesungguhan yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Biarkan waktu benar-benar mengendapkan semuanya, tak terkecuali janji-janjinya dulu yang pernah kita sepakati!

0 komentar:

Posting Komentar