Kita berada
dipuncak. Puncak dalam arti sesungguhnya, tetapi bukan Puncak Bogor, Puncak
Kaliurang atau daerah Puncak Batu. Puncak Rembangan, Jember. Tempat dimana aku
biasa mengendapkan keresahan ditemani kabut tipis, nyanyian malam dan semua itu
benar-benar menentramkan. Kali itu Rembangan sedikit berbeda, tidak seperti
malam-malam sebelumnya. Bukan aku yang berada disana, tetapi kita. Kita bersama
menikmati senja yang mulai karam, memandangi langit yang yang mulai
melembayung. Semua keindahan yang nyata.
Rembangan sedang
manis-mansinya. Itu mungkin kalimat yang sangat mewakili, ketika semua mata
menuju pada hiruk pikuk keramaian, makam mia ayam lah atau nongkrong diwarung
kopi, kita hanya ingin menikmati setiap detik tergelincirnya matahari tua.
Rembangan memang istimewa hari itu, selain karena kabut kesukaanku muncul.
Di Rembangan pula kita kembali bertemu
dalam tatap muka setalah sekian lama aku banyak menghabiskan diri dalam
keresahan. Begitu istimewa hadirmu disisiku. Mengobati kerinduan akan kebersamaan
yang aku perjuangkan tetapi lebih memilih dengan dia yang ada segalanya. Kau keistimewaan
yang sederhana. Tidak perlu banyak bicara untuk menjadi dirimu. Cukup bertindak
lalu berbuat dalam kelembutan yang mencandu.
Rembangan sedang
cantik-cantiknya, ada langit yang mengitam, bulan sabit yang merona,
lampu-lampu kota Jember yang dilihat dari ketinggian, tebu-tebu yang mulai
tumbuh dan ada kerudung ungumu yang membuat semua suasana itu mengkumulasi
dalam bentuk keindahan yang benar-benar
indah. Kerudungmu membuat suasananya lebih tenang, lebih syahdu dan
tentunya ada ketulusan dalam setiap ucapan yang keluar dari bibir manismu.
Kita berbicara
banyak malam itu, soal gemerlap lampu-lampu kota Jember, soal bintang yang
berkedip atau soal masa kecil kita yang berbeda-beda. Secara kasat mata, kita
seolah memang berbeda, sangat berbeda. Tetapi tak akan pernah usai jika
membicarakan perbedaan itu. Perbedaan perlu dikawinkan oleh perbedaan lagi agar
semuanya menjadi satu. Banyak hal yang kita rasakan dalam berjalannya detik
berlalu itu. Banyak hal pula yang aku endapkan malam itu. Kemarahanku,
keresahanku, kekalutanku seolah semuanya diendapkan oleh tawamu, lesung pipimu
yang semakin membuatku terdiam dan berpikir panjang. Sebab diluar sana,
keindahan yang kuyakini bermain mata denganku. Menunjukan kepura-puraan yang
sebenarnya bisa kurasakan sebagai sebuah kebaikan tapi sayangnya itu masih
palsu. Ia menjebakan diri dalam kebaharuan yang tidak pernah ia tau tujuannya
apa. Tidak ada satu setanpun tentang tujuan hidup kita.
Kau hadir
kembali dalam senja yang mulai khatam lalu seperti senja-senja sebelumnya. Selalu
saja meninggalkan rindu untuk diulang. Meninggalkan kasih yang selama ini
kunanti. Kurasa kau adalah alasan tepatku untuk menjadi lebih baik. Aku sudah
tidak ingin membuang-buang waktu dengan ketidak pastian. Membiarkan orang lain
menikmati kemegahan yang kubangun atas dasar apa? Atas dasar aku bukan orang
yang baik untuk Nya. Tidak, aku tidak ingin lagi ada yang mengganggu hidupku
denganmu tentunya.
Malam semakin
melarut, detik sengaja tak ingin mengendapkan rindu kita. Jelas, karena kau
lebih dan sangat manis jika kerudung itu tak kau lepas. Terlihat lebih anggun,
dewasa, pendiam, seoalah kau hadir denga lebih baru, lebih baik. Memang benar,
kau banyak mengajarkanku soal kebenaran dan kebaikan bukan dengan meninggalkan
cerita kita begitu saja dengan mencari orang lain, tetapi kau mengajarkanku
soal kesetian dengan kelembutan dengan kejujuran dan ketulusan. Kau hadir meski
aku tau beberapa waktu lalu kau benar-benar hancur melihat semuanya. Aku terjebak
pada makna “kasih sejati’ tetapi ternyata bukan itu. Semua sekali lagi
kepalsuan yang mencoba diyakini olehku. Kau hardik aku, tampar aku dengan
perhatianmu yang seolah aku tak layak untuk jadi yang terbaikmu.
Rembangan memang
manis dan syahdu. Kita masih melanjutkan obrolan ini. Bukan tentang kegundahan
tentunya, tetapi soal bagiamana kita kedepan. Banyak harapan yang dimunculkan,
banyak asa yang bisa kita rajut suatu hari nanti jika memang keadaan tetap
mendukung. Tetapi biarkan kali ini aku menuntaskan perasaanku dulu. Baru kita
berbicara panjang lagi.
Sepertinya waktu
memang tidak peduli dengan kebersamaan kita yang panjang ini. sepertinya waktu
memang berjalan sesuai dengan tugasnya. Kitapun mengakhiri malam itu dengan
kalimat istimewa yang sangat aku suka. tetapi biarkan aku, kamu dan Tuhan yang
tahu. Biarkan ketulusan dan kejujuran itu menjadi kunci jawaban dalam
meningkatkan kualitas hubungan kita lagi.
Mungkin kita
akan melanjutkan obrolan panjang ini bukan lagi di Rembangan, tetapi di tempat
yang jauh lebih indah dari hari-hari yang lalu.
Terimakasih manisku,
kau hadir diwaktu yang tepat ketika semua keresahan semakin menjadi, ketika
logika hanya berfungsi sebatas formalitas dan biarkan dia yang mencari
segalanya itu sadar tentang kesungguhan yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Biarkan
waktu benar-benar mengendapkan semuanya, tak terkecuali janji-janjinya dulu
yang pernah kita sepakati!






0 komentar:
Posting Komentar