Kamis, 11 Oktober 2012

Sekitar Lima Jam saja untuk kota impian





Langit belum genap menghatamkan sinarnya. Langkahku masih saja terus menelusuri ramainya hiruk pikuk manusia. Benar kata  Aristoteles, manusia memang tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Mereka selalu saja ingin berkomunikasi dan menjalin ikatan dengan sesamanya. Seolah aku memang tenggelam dalam keramaian, tidak ada yang kukenal. Terlampau banyak wajah asing yang kupandangi dan terlalu banyak kekaguman yang kutahan.
Semua soal kemeriahan yang kunanti. Kemeriahan yang membuatku kecanduan. Semua soal kota yang penuh dengan semangat berbudaya. Kota ini Ngayogyakarto Hadiningrat. Tempat raja Mataram bersinggsana yang melambangkan keagungan tradisi lokalitas yang sampai saat ini tetap dipertahankan. Sempat beberapa saat singgah dikota yang sudah sejak lama menjadi impian tinggalku dimasa depan itu, karena kereta yang kutumpangi harus berganti dan menanti sekitar lima di Jogja. Waktu yang cukup lama jika dihabiskan hanya sebatas menunggu di peron stasiun.
Kusempatkan untuk sekedar mencari hal-hal yang menarik dipusat wisata jogja, apalagi kalau bukan Malioboro. Disana banyak sekali ditemukan kemeriahan yang membuatku sangat tertarik. Tidak perlulah kiranya aku sebutkan satu persatu kan?. Satu hal yang membuatku sangat tertarik ketika berkunjung ketempat wisata itu yaitu bagaimana aku dapat berkomunikasi dengan wisatawan dari mancanegara. Kebetulan saja pada waktu itu memang ada dua orang pasangan dari Spanyol yang tiba-tiba datang menghampiriku untuk bertanya tentang Jogja. Waw, ini kesempatanku untuk melatih bahasa Inggrisku yang masih terbata-bata. Ya meski sempat beberapa diselingi oleh bahasa tarzan atau bahasa tangan, obrolan itu berjalan cukup lancar dan saling memahami. Bule itu berasal dari Barcelona, yang kuingat dari mereka hanya Paula, perempuan seksi itu.
Jogja memang tidak pernah berhenti memberikan kilaunya. Ada saja yang menyejukan mata atau sekedar membuat pandangan mata ini berpetualang menikmatinya. Salah satunya ketika bagaimana para pengamen Jogja yang selalu mengemas penampilannya dengan sangat menarik. Sebenarnya aku sudah sering melihat itu semua, tetapi bagiku ada saja yang berbeda. Entahlah, mungkin aku terlalu mencintai Jogja sehingga yang ada dalam benakku selalu saja identik dengan keindahan.
Waktu itu jarum jam menunjukan angka lima, berarti aku sudah hampir satu jam ada dikota ini, tetapi tujuaan utamaku untuk membeli oleh-oleh penganan khas Jogja, apalagi kalau bukan Gudeg tetapi belum juga tercapai. Temanku dari Garut memintaku untuk membawakan Gudeg kendil. Tentu saja aku sulit menolak, sebab orang tuanya yang meminta. Tujuanku adalah Wijilan. “Jika berjalan kaki dari Lempuyangan cukup jauh ya?.” Tetapi selangkah demi selangkah memang membawa kita pada tujuan. Aku memang terpaksa jalan kaki selain karena ingin melihat banyak hal di Maliobro, juga  karena berhemat. Sepertinya alasan kedua yang sangat rasional.  Malioboro bukan tempat yang baru aku kunjungi, tetapi tidak sudi ketika aku harus naik becak atau dokar.
Wijilan, seorang teman di Jogja yang menunjukanku pada tempat itu. Mereka mengatakan, disana sebagai sentra gudeg dan Mas Nuran yang menspesifikan tujuanku di Wijilan itu, yaitu ke kedainya  Yu Djum. Gudeg buatan Yu Djum katanya sih luar biasa, membuat lidah tidak bisa melupakan cita rasanya. Awalnya aku sempat tidak percaya, tetapi setelah dicoba. Aku terpaksa mempercayai itu sebagai kebenaran yang mutlak. Yu Djum memang luar biasa. Apalagi telurnya  rebusnya, yang digodok sampai kenyal sehingga mampu menghilangkan rasa hambar dan enek dari telur itu karena memang bumbunya sudah merasuk jauh sampai kuning telurnya. Jangan lupakan juga ayam kampungnya yang benar-benar membuat lidah tidak bisa berbohong kalau rasanya memang mak nyus.  Gudeg  Yu Djum di godok selama 24 jam sehingga pantas jika bumbunya sangat meresap. Tak  heran memang ketika banyak orang ketika berbicara Gudeg menunjuk gudeg Yu Djum. Tidak hanya terkenal karena cita rasanya, Gudeg Yu Djum juga sudah menjadi legenda hidup Gudeg itu sendiri karena memang sudah berdiri cukup lama.
Setelah selesai menghabiskan satu porsi gudeg, aku membeli dua kendil gudeg dan satu besek. Ya memang harganya sedikit tidak umum bagi kantong mahasiswa cekak seperti aku ini. Tetapi tidak perlu merugi merogoh kocek sedikit dalam untuk cita rasa yang legendaris.  
Dari perjalananku yang hanya lima jam di Jogja, Gudeg Yu Djum membuatku ingin selalu kembali lagi ke Jogja. Akhrinya aku kembali ke Stasiun Lempuyangan, sekedar untuk melepaskan lelah dan mengambil Carrierku yang kutitipkan di toiet stasiun. Aku pun duduk menanti detik demi detik harumnya kabut gunung Halimun dan merasakan dinginnya udara Parahiyangan[].

0 komentar:

Posting Komentar