Langit
belum genap menghatamkan sinarnya. Langkahku masih saja terus menelusuri
ramainya hiruk pikuk manusia. Benar kata
Aristoteles, manusia memang tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain.
Mereka selalu saja ingin berkomunikasi dan menjalin ikatan dengan sesamanya.
Seolah aku memang tenggelam dalam keramaian, tidak ada yang kukenal. Terlampau
banyak wajah asing yang kupandangi dan terlalu banyak kekaguman yang kutahan.
Semua
soal kemeriahan yang kunanti. Kemeriahan yang membuatku kecanduan. Semua soal
kota yang penuh dengan semangat berbudaya. Kota ini Ngayogyakarto Hadiningrat.
Tempat raja Mataram bersinggsana yang melambangkan keagungan tradisi lokalitas
yang sampai saat ini tetap dipertahankan. Sempat beberapa saat singgah dikota
yang sudah sejak lama menjadi impian tinggalku dimasa depan itu, karena kereta
yang kutumpangi harus berganti dan menanti sekitar lima di Jogja. Waktu yang
cukup lama jika dihabiskan hanya sebatas menunggu di peron stasiun.
Kusempatkan
untuk sekedar mencari hal-hal yang menarik dipusat wisata jogja, apalagi kalau
bukan Malioboro. Disana banyak sekali ditemukan kemeriahan yang membuatku
sangat tertarik. Tidak perlulah kiranya aku sebutkan satu persatu kan?. Satu
hal yang membuatku sangat tertarik ketika berkunjung ketempat wisata itu yaitu
bagaimana aku dapat berkomunikasi dengan wisatawan dari mancanegara. Kebetulan
saja pada waktu itu memang ada dua orang pasangan dari Spanyol yang tiba-tiba
datang menghampiriku untuk bertanya tentang Jogja. Waw, ini kesempatanku untuk
melatih bahasa Inggrisku yang masih terbata-bata. Ya meski sempat beberapa
diselingi oleh bahasa tarzan atau bahasa tangan, obrolan itu berjalan cukup
lancar dan saling memahami. Bule itu berasal dari Barcelona, yang kuingat dari
mereka hanya Paula, perempuan seksi itu.
Jogja
memang tidak pernah berhenti memberikan kilaunya. Ada saja yang menyejukan mata
atau sekedar membuat pandangan mata ini berpetualang menikmatinya. Salah
satunya ketika bagaimana para pengamen Jogja yang selalu mengemas penampilannya
dengan sangat menarik. Sebenarnya aku sudah sering melihat itu semua, tetapi
bagiku ada saja yang berbeda. Entahlah, mungkin aku terlalu mencintai Jogja
sehingga yang ada dalam benakku selalu saja identik dengan keindahan.
Waktu
itu jarum jam menunjukan angka lima, berarti aku sudah hampir satu jam ada
dikota ini, tetapi tujuaan utamaku untuk membeli oleh-oleh penganan khas Jogja,
apalagi kalau bukan Gudeg tetapi belum juga tercapai. Temanku dari Garut
memintaku untuk membawakan Gudeg kendil. Tentu saja aku sulit menolak, sebab
orang tuanya yang meminta. Tujuanku adalah Wijilan. “Jika berjalan kaki dari
Lempuyangan cukup jauh ya?.” Tetapi selangkah demi selangkah memang membawa
kita pada tujuan. Aku memang terpaksa jalan kaki selain karena ingin melihat
banyak hal di Maliobro, juga karena
berhemat. Sepertinya alasan kedua yang sangat rasional. Malioboro bukan tempat yang baru aku
kunjungi, tetapi tidak sudi ketika aku harus naik becak atau dokar.
Wijilan,
seorang teman di Jogja yang menunjukanku pada tempat itu. Mereka mengatakan,
disana sebagai sentra gudeg dan Mas Nuran yang menspesifikan tujuanku di
Wijilan itu, yaitu ke kedainya Yu Djum.
Gudeg buatan Yu Djum katanya sih luar biasa, membuat lidah tidak bisa melupakan
cita rasanya. Awalnya aku sempat tidak percaya, tetapi setelah dicoba. Aku
terpaksa mempercayai itu sebagai kebenaran yang mutlak. Yu Djum memang luar
biasa. Apalagi telurnya rebusnya, yang digodok sampai kenyal sehingga mampu
menghilangkan rasa hambar dan enek dari telur itu karena memang bumbunya sudah
merasuk jauh sampai kuning telurnya. Jangan lupakan juga ayam kampungnya yang
benar-benar membuat lidah tidak bisa berbohong kalau rasanya memang mak nyus. Gudeg
Yu Djum di godok selama 24 jam
sehingga pantas jika bumbunya sangat meresap. Tak heran memang ketika banyak orang ketika
berbicara Gudeg menunjuk gudeg Yu Djum. Tidak hanya terkenal karena cita
rasanya, Gudeg Yu Djum juga sudah menjadi legenda hidup Gudeg itu sendiri
karena memang sudah berdiri cukup lama.
Setelah
selesai menghabiskan satu porsi gudeg, aku membeli dua kendil gudeg dan satu
besek. Ya memang harganya sedikit tidak umum bagi kantong mahasiswa cekak
seperti aku ini. Tetapi tidak perlu merugi merogoh kocek sedikit dalam untuk
cita rasa yang legendaris.
Dari
perjalananku yang hanya lima jam di Jogja, Gudeg Yu Djum membuatku ingin selalu
kembali lagi ke Jogja. Akhrinya aku kembali ke Stasiun Lempuyangan, sekedar
untuk melepaskan lelah dan mengambil Carrierku
yang kutitipkan di toiet stasiun. Aku pun duduk menanti detik demi detik
harumnya kabut gunung Halimun dan merasakan dinginnya udara Parahiyangan[].






0 komentar:
Posting Komentar