hahhaha. kadang aku merasa lucu dengan apa yang aku lakukan sekarang. Lucu sekali, tak terbiasa rasanya dalam kurun waktu 3tahun terakhir ini aku benar-benar banyak mengorbankan perasaanku pada perempuan yang kalau dipikir pakai akal sehat biasa saja. Namun selalu saja ada cerita yang berbeda. Mencintai itu tak perlu alasan yang logis dan bertele-tele. mencintai itu alasan yang sangat sederhana. "aku suka ama kamu, mau kamu jadi pacarku". Sesederhana itu bukan? tetapi pada akhirnya jiika sudah merajuk dapat membuat kelu semuanya. kesederhanaan itu seolah tidak ada bekasnya. Mungkin cinta itu serumit rumus E=mc2 milik om Eisntein. terlalu rumit jika dijabarkan dengan perasaan dan logika. perlu ada kesemestaan perasaan. Aku jadi teringat kata-kata tokoh terkenal yang aku lupa namanya. "ketika anda berhubungan dengan wanita, anda disarankan untuk tidak menggunkan terlalu banyak logika". Benar sekali, perempuna memang kadang mengesampingkan rasionya hanya untk keyakinan yang Ia sendiri tidak tahu kebenarannya itu. Hegel sepertinya gagal berbicara kebenaran yang absolut pada perempuan.
Ada saja yang membuat perempuan ragu dari hal-hal yang tak kasat. tetapi Perempuan lah yang kadang banyak memberikan pelajaran berharga pada laki-laki, salah satunya aku ini. Perempuan tidak banyak bicara pada akhrinya ketika sisi halusnya diterkam oleh ke macanan laki-laki. Ditinggalkan ditengah perasaan ini sedang berbunga-bunga lalu entah kemana rimbanya.
Aku tidak berharap itu terjadi padaku, tetapi aku ingin menikmati proses sakit hati yang mendalam ini. Dari situ ada semacam usaha yang mensahihkan ucapan.
aah,,kau memang pandai pada akhirnya. Tak salah kiranya kau belajar banyak dalam hubungan kita yang banyak diterpa kegelisahan.
satu hal lagi, dari sakit hati yang mendalam ini, aku merasakan proses menuju penulis yang menjadikan sakti hatinya sebagai modal untuk berkarya.
Ada saja yang membuat perempuan ragu dari hal-hal yang tak kasat. tetapi Perempuan lah yang kadang banyak memberikan pelajaran berharga pada laki-laki, salah satunya aku ini. Perempuan tidak banyak bicara pada akhrinya ketika sisi halusnya diterkam oleh ke macanan laki-laki. Ditinggalkan ditengah perasaan ini sedang berbunga-bunga lalu entah kemana rimbanya.
Aku tidak berharap itu terjadi padaku, tetapi aku ingin menikmati proses sakit hati yang mendalam ini. Dari situ ada semacam usaha yang mensahihkan ucapan.
aah,,kau memang pandai pada akhirnya. Tak salah kiranya kau belajar banyak dalam hubungan kita yang banyak diterpa kegelisahan.
satu hal lagi, dari sakit hati yang mendalam ini, aku merasakan proses menuju penulis yang menjadikan sakti hatinya sebagai modal untuk berkarya.






0 komentar:
Posting Komentar