Kularutkan
namamu dalam bayang senja.
Untukmu, gadisku
yang memberi arti dalam setiap tawanya.
Tentu tidak
bermaksud untuk berbasa-basi tanpa sedikit pun tanya yang ingin mengungkapkan
misteri. Manisku yang datang dari kabut
pagi sampai mengakhiri kebersamaan dengan hilangnya sinar matahari yang
berpendar pada permukaan air di malam hari.
Kau terlahir atas
nama cinta yang menyatu dengan rasa yang penuh misteri.
Apalagi kalau bukan “aku sayang pada mu”. Kata
klasik dan sederhana.
Sesederhana aku
memahamimu dengan banyak tawa dan senyum manis dikala setiap jawaban yang kau
berikan adalah kepastian yang kutunggu.
Untukmu manisku
yang selalu bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang setiap setan ingin tahu.
Tapi aku ingin kau pahami betapa manis dirimu dalam kesederhanaan paras, tanpa
banyak kata yang bisa membagi keindahan itu diantara buaian-buaian kalimat
yang sebenarnya kaku dan tak bermakna.
Untukmu manisku
yang dulu kita membagi senja dan malam bersama sambil melewati langkah-langkah
impian tentu saja ketika itu daun-daun maple masih menghijau, bersemian. Tidak
untuk kali ini ketika semuanya berguguran menakhiri maknanya.
Sudah itu saja
yang kukenang lewat semua kata yang kau ucap, tinggal kerdip lilin yang mencari
kegelapan. Bukan itu saja, kadang aku berhalusinasi soal rindu yang tak pernah
tuntas. Mengharapkan detik mengendapkan semua rindu yang sempat tertanam. Lalu
biarkan rindu itu membuai terbakar waktu yang tak bisa berbohong. Sekali lagi,
karena aku tak ingin terbebani rindu.






0 komentar:
Posting Komentar