Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 November 2012

Ketertindasan adalah Awal Bahasa Perlawanan (Kisah Guy Fawkes)

Anonymous dengan senyum mautnnya!

Anonymous merupakan salah satu kelompok Hacker yang ‘kerjaannya’ bikin onar di jejaring internet. Biasanya yang menjadi sasasaran mereka adalah instansi-intansi besar, bahkan negara. Dalam kasus ini serangan yang dilakukan oleh kelompok Anonymous sebagai bentuk perlawanan pada Israel yang menyerang Palestina (baca Gaza). Bentuk perlawanan yang tidak menggunakan kekerasan tetapi dampaknya sangat signifikan. "Biar kami perjelas sekali lagi: Anonymous tidak memberikan dukungan terhadap aksi kekerasan. Anonymous merupakan kumpulan individu dari berbagai penjuru dunia yang memiliki tujuan untuk kepentingan hak asasi manusia, keadilan, dan persamaan universal untuk warga negara di semua negara," tulis Anonymous di situs Anonpaste.me. Terang saja meskipun tanpa kekerasan aksi mereka membuat banyak pihak yang menjadi korbannya keteteran menghadapinya. Dunia maya memang tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan nyata karena hampir semua kehidupan didunia ini digerakan secara online  sehingga jika terjadi kekacauan didunia maya berdampak pula pada kehidupan nyata.
Serangan yang dilakukan oleh kelompok Hacker itu membuatku tertarik . bukan tertarik pada aksi hackingnya tetapi soal nama kelompok dan style mereka ketika muncul didepan publik bergaya seperti mr. V dalam film V for Vandeta. Wow keren sekali!. Menggunakan topeng berwajah tersenyum dengan aksen kumis tipis melengkung dan topi hitam ala rabi  Yahudi sungguh menambah kesan dingin sosok anonymous.
Anonymous yang aku tahu ada di film V For Vandeta sebagai sosok yang pejuang yang selalu menggunakan topeng. Film itu menceritakan Inggris pada tahun 2038 yang ketika itu dipimpin oleh seorang dictator yang menyengsarakan rakyat Inggris. Rakyat Inggris dilanda kelaparan, kemiskinan dan banyak yang mati karena keadaan itu. Sampailah pada saat itu muncul seorang sosok yang misterius yang dikenal sebagai Mr.V. Mr V mencoba melepaskan keadaan buruk itu dan dalam menjalankan aksi perlawanan sistem  dengan menggunakan topeng. Topeng yang selalu digunakan Mr. V dalam menjalankan aksi perlawanan terhadap sistem menjadi simbol bahwa pelaku pemberontakan adalah masyarakat itu sendiri dan bisa dilakukan oleh siapa saja sehingga menghindari kultus individu seseorang yang biasa terjadi dalam suatu revolusi. Biasanya dalam revolusi selalu muncul sosok-sosok yang pada akhirnya identik dengan revolusi itu dan seolah-seolah menjadi individu yang dikultuskan sebut saja Bung Karno atau Lennin dalam revolusi Bolsyevik di Russia.

Kisah dari film Anonymous itu sungguh sangat menarik meskipun saya cukup pusing memahaminya karena alur ceritanya meloncat-loncat. Sekali lagi, ada hal sangat menarik perhatianku diluar alur ceritanya yaitu topengnya yang sedang tersenyum.dingin, Topeng itu membuatku penasaran soal siapa sebenarnya topeng terseyum itu?apakah memang tokoh yang benar-benar ada atau hanya sebatas topeng imajenasi yang dibuat-buat dalam film itu. Tetapi jika memang topeng itu sebatas imajenasi sungguh luar biasa karyanya sampai-sampai kelompok hacker berbahaya menggunakan topeng itu sebagai symbol perlawanan mereka.
Akhirnya saya mencoba untuk mencari dikaskus. Saya ingin membeli topeng itu dan dipakai ketika aksi turun kejalan. Sambil berorasi dan menggunakan topeng. Wow terkesan sangat misterius. Dari kaskus itu aku menemukan nama dari sesosok Guy Fawkes. Topeng itu ternyata merupakan wajah  Guy Fawkes yang melegenda itu. Lalu siapa Guy Fawkes itu?

Seberapa penting sosok Guy Fawkes itu sehingga wajahnya dijadikan topeng dan symbol perlawanan? Ternyata kisah hidupnya tidak jauh berbeda seperti yang dikisahkan dalam film V for Vandeta. Guy Fawkes merupakan seorang ekstimis katolik di Inggris (Inggris mayoritasnya Protestan). Kisah heroik Guy Fawkes dimulai dari ekspresi kekecewaan pada kerajaan. Masyarakat Katolik yang mendapat perlakuan tidak adil dari Raja James I dan Guy Fawkes ingin meledakan gedung parlemen sebagai balas dendam terhadap petinggi-petinggi Protestan yang jahat dan keji pada saat itu. Pada masa itu, petinggi-petinggi gereja Protestan dan Raja James I membebani masyarakat katolik Inggris dengan begitu tinggi, selain itu juga mereka menangkapi para imam katolik. Aktivitas keagamaan kaum katolik juga dibatasi, kaum katolik tidak bisa mendirikan gereja begitu saja bahkan hanya sekedar untuk mengadakan misa pun dilarang. Akhirnya kaum katolik Inggris melakukan ritus keagamaannya dengan cara sembunyi-sembunyi.

Penangkapan Guy Fawkes
Guy Fawkes bersama teman-temannya yang kurang lebih berjumlah 30 orang dengan membawa 30kg mesiu pada tanggal 5 November 1605 dikota London, mereka mencoba untuk meledakan gedung parlemen Inggris untuk membunuh James I yang dianggap paling bertanggung jawab atas penderitaan kaum Katolik. Naas memang tak bisa ditolak, aksi Guy Fawkes keburu diketahui. Guy Fawkes lalu dipenjara dan dihukum mati. Sebagai penghormatan untuknya para imigran di Inggris memperingat tanggal 5 November sebagai hari bubuk mesiu. Dimana kota London dipenuhi oleh kembang api. (Pantas saja beberapa waktu yang lalu dosenku yang kuliah di London di akun Facebooknya menuliskan “sial, London berisik banget oleh Kembang api, saya tidak bisa tidur karena itu berisiknya”). 

Guy Fawkes adalah symbol perlawanan yang kecenderungannya sebagai kelompok anarki (jangan maknai anarki sebagai perusak). Mereka yang merasa ketertindasan adalah bentuk pilihan yang harus dibalas oleh perlawanan. Guy Fawkes dan kawan-kawannya tidak peduli dengan keminoritasannya. Meski mereka sedikit dibandingkan dengan kaum protestan, Guy Fawkes tidak peduli untuk segera bertindak dengan menyingkirikan ketertindasan, ya meski pada akhirnya ia harus mati itu. Setidaknya kematiannya menginspriasi banyak pihak dan menjadikannya sebagai symbol perlawanan. Itulah kenapa pada akhrinya kelompok hacker anonymous menjadikan dirinya sebagai symbol perlawanan. 

lawanlah dengan buku!!!
Ditengah krisis global dimana keadilan ditentukan oleh pihak penguasa yang memenangkan perang. Dimana pendefinisian moral adalah terpisahnya kepala dan leher dan uang menjadi Tuhan baru yang lebih disembah umat manusia. Semua adalah kekacauan dari segala lini kehidupan yang awal mulanya karena kepentingan ekonomi lalu beranjak pada kepentingan social, politik bahkan budaya. 

Tidak ada yang benar-benar tulus untuk memaslahatan. Tidak ada pula genarasi yang berusaha memaknai perdamaian sebagai wujud nyata, bukan mimpi. Semua karena kepentingan manusia yang terus menggerus nalar dan sisi kemanusiaannya. Mereka berebut senjata lalu datang dengan peluru-peluru yang siap mencabuti nyawa manusia yang tak tahu sebelumnya soal darah dan air mata. Dunia memang sedang kacau balau, Negara-negara adidaya sedang menancapkan cengkramannya di Negara dunia ketiga dan menganggap negera dunia ketiga macam Indonesia ini bisa dengan mudah dibodohi dan dipermainkan oleh kepentingan global.
Kita hanya menjadi tumbal dan objek kesenangan dari mereka si pendefinisi kebenaran. Kekacauan ini harus segera berakhir. Minoritas atau mayoritas bukan lagi jadi semacam penghalang. Perlawanan harus tetap tegak berdiri meski kita tak pernah tau batas kemampuannya. Sekali lagi, memang perlu Guy Fawkes-Guy Fawkes baru yang datang dijaman modern ini. Perlawanannya pun tidak sama dengan Guy Fawkes terdahulu dengan membakar Lord Of House. 

2004 Arko Datta, India, Reuters




2003 Jean-Marc Bouju, France, The Associated Press


Negara hanyalah korporasi penjagal. Menindasi rakyatnya atas nama kesejahtraan. Nyatanya, rakyat hanya sapi perah kekuasaan. Guy Fawkes sudah ratusan tahun yang lalu mati, mungkin saja tulang belulangnya sudah habis dimakan jaman tetapi nafas perlawanannya masih tetap hidup menembuh lorong waktu di masa yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

1989 Charlie Cole, USA, Newsweek
Sebagai penutup, kita sedang duduk, diam, makan, tidur, beraktifitas dijaman dimana moral dan keadilan didefinisikan oleh pemenang. Selamanya kita akan menjadi kalah dan terlahir menjadi kalah digerus arus liberalisme dan kapitalisme yang sulit memaknai arti kebersamaan dengan sunggu-sungguh. Oleh karena itu lahirlah. Lahirlah genarasi baru pemberontak-pemberontak, diluaran sana para keparat sedang asik menikmati roti kekuasan. Diluaran sana mereka sedang bercinta dibalik kursi empu kekuasaan dan kita yang menikmati kesengsaraan.
Guy Fawkes hanya bagian kecil dari perlawanan yang tak pernah mati sampai dunia ini berakhir

Merdeka!

Jumat, 06 April 2012

Gerakan OMEK yang Mulai Lemah Syahwat





-->
Gerakan OMEK yang Mulai Lemah Syahwat
*Gulfino Guevarrato

Ideologi adalah satu dari sekian banyak konsep yang paling meragukan dan sukar di tangkap, yang terdapat dalam ilmu-ilmu sosial, tidak hanya karena beragamnya pendekatan teoritis yang menunjuk arti dan fungsi yang berbeda-beda. Akan tetapi karena ideologi adalah konsep yang sarat dengan konotasi politik dan digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai makna yang baragam. Ketika aku membaca buku “Matinya ideologi karya Daniel Bell. Aku sediki terkejut. Tapi setelah tuntas aku baca memang benar adanya dan itu akibat dari si penganut ideologi itu sendiri.
Sebelum melangkah lebih lanjut kita sepakati ideologi yang dimaksud adalah ideologi hasil pemikiran manusia. Pada awalnya saya tidak percaya. Apa mungkin ideologi yang  telah menjadi agama baru dalam perkembangan sejarah umat manusia bisa “mati”. Melihat manusia yang sangat yakin dan menjunjung nilai-nilai ideologi apa mungkin bisa berakhir. Kematian juga perlu disepakati, karena istilah kematian itu ada yang berarti binasa, berpindah dari kondisi yang awal ke kondisi yang lain, atau mengalami perubahan bentuk. Kematian yang dimaksud tentunya berpindahnya kondisi ideologi itu dari kondisi yang sangat diyakini akhirnya salah menyakini dan menjadi sampah karena menjadi berhala baru.
Kembali dalam ideologi.  Isme-isme modern tentang ideologi membawa manusia pada jurang pemisah yang akhirnya tidak segan untuk menghalakan segala cara hanya untuk memaknai kumpulan ide yang rata-rata utopis itu. Konflik-konflik yang berlatar balakang isme-isme itu tidak hanya dalam tataran intelektual, politik, tetapi juga massa yang menjadi pengikut isme-isme itu. Selama ini konflik ideologi tidak jarang merambah ke tataran fisik, sampai membinasakan lawan yang di anggap menghalangi ide-ide yang diyakini dalam ideologi itu untuk membangun masyarakat  yang pada akhirnya Negara. Bentrokan fisik bahkan harus terjawab dengan fakta jutaan umat manusia harus merelakan nyawanya untuk sebuah ideologi yang dianggapnya bagi firman, titah Tuhan. Manusia yang menjunjung rasionalitas akhirnya justru terkungkung dalam pemikirannya sendiri. Manusia tidak sadar akan hal itu karena fanatisme(euphoria) pada ideologi justru membuat ideologi itu statis dan pada akhirnya manusia jenuh lalu meninggalkan ide-ide itu.
Mencoba untuk memperkecil ruang lingkup pembahasanku. Aku melihatnya di lingkungan kampus ku sendiri, ketika di kampusku ada tiga OMEK(organisasi mahasiswa ekstra) yang “menguasai” kampus. Ada GmnI, PMII, dan HMI. Dimana GmnI berideologi Marhaenisme, PMII dan HMI berhaluan Islam. Ketiganya mencoba bersaing menancapkan eksistensinya  di kampus. Salah satunya menghimpun anggota(kader) sebanyak-banyaknya lalu entah kelanjutannya seperti apa. Karena orientasi pertama ketika berbicara eksistensi hanyalah kuantitas.  Sangat disayangkan sekali dari sekian banyak mahasiswa yang masih bergairah menjadi bagian dari OMEK harus dikalahkan oleh seleksi alam. Memang kita tidak bisa menafikan itu, tetapi juga bukan berarti menjadi alasan ketika seleksi alam membiarakan kader-kader tidak mampu optimal dalam berproses.Seleksi alam yang kumaksud yaitu bagaimana OMEK membiarkan bakat-bakat yang ada dalam individu kader-kader dibiarkan begitu saja menguap karena kepentingan-kepentingan OMEKR yang tidak tegas dalam proses pengembangan kader, maaf sebelumnya OMEK memang bukan seperti Lembaga Pengembangan Masyarakat. Penekanan OMEK lebih pada agen of change (sebenarnya aku malas menyebut kata puitis satu itu).
Dengan kata lain-tanpa mencoba mendahului yang lebih paham-aku menyimpulkan bahwa telah terjadi kesalahan dalam orientasi berorganisiasi ekstra, karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya ketika yang ditonjolkan hanya sebatas kuantitas, bukan kualitas berideologi maka semua itu akan menjadi proses menunuju kehancuran dari ideologi itu sendiri. OMEK yang membawa misi dari masing-masing ideologi itu seharusnya mampu memberikan pemahaman berideologi untuk bangsa dan negara. Karena hampir setiap OMEK adalah organisasi Kader bukan organisasi Massa-seperti partai politik. Sehingga tidak perlu terjebak dengan banyak sedikitnya anggota, tetapi bagaimana anggota yang ada di optimalkan dalam proses kaderisasinya sehingga menciptkan kader-kader yang paham dengan ideologi yang diyakininya. Hal ini banyak dilupakan oleh kawan-kawan OMEK sehingga wajar saja ketika banyak anggotanya yang akhirnya berguguran satu persatu, kalau menurutku bukan karena OMEK sudah tidak laku lagi di mata mahasiswa, tetapi tidak ada yang menarik dengan apa yang ditawarkan oleh OMEk, selain beasiswa, mengerjakan tugas anggota barunya, dekat dengan dosen, atau ikut lomba debat,lomba  KTI, cepat lulus lalu bekerja melalui jaringan alumni. Bahkan ada OMEK yang memperkenalkan profil organisasinya dengan membawa-bawa alumninya  yang terkenal itu. Sungguh semua itu jauh dari nilai-nilai ideologis yang selama ini menjadi cita-cita dari masing-masing OMEK. Ketika “kampus” membiarkan pragmatisme merajalela dengan mengungkung mahasiswa pada tugas-tugas kuliah, IPK 5.00(mungkin), pada nyatanya OMEK pun tidak mampu menahan arus pragmatisme yang ada, malah menjadi bagiannya. Sungguh tidak ada yang bisa di andalkan sepertinya.
Dibalik itu semua, ada kegalauan yang mendalam yang ku alami, ketika pragmatisme sudah menular ke OMEK, maka jangan salahkan ketika suatu saat nanti generasi-generasi yang menurut Bung Karno progresif revolusioner sangat sulit ditemukan dikampus. Maka secara tidak langsung jangan heran melihat banyak generasi-generasi muda yang tidaki ‘ideologis’[1], ambilah contoh sekarang, menjadi sangat wajar ketika mahasiswa yang seharusnya sebagai agen perubahan dan yang mampu melakukan control sosial, dalam melihat fenomena yang terjadi dimasyarakat seperti kemiskinan, diam saja dan asik dengan dunianya sendiri yang sangat menunjung tinggi individualisme. Proses kematian ideologi hanya menunggu waktu saja, ketika semakin banyak disorientasi dari OMEK itu sendiri.
Cuap-cuapku mengarah pada akhir. Muncul harapan dalam benakku, bahwa inti dari gerakan OMEK seharusnya diluruskan oleh masing-masing pihak. Mengarahkan pada proses kaderisasi yang terarah pada tujuan mulia dari masing-masing OMEK. Tidak perlu lagi harus melakukan pembusukan-pembusukan antar OMEK untuk mendapatkan anggota, karena itu akan sia-sia belaka. Kita harus sadar, bahwa tujuan kuliah kita bukan hanya sebatas mendengarkan dosen, atau ikut lomba kesana kemari lalu pulang membawa piala berlapis berlian. Bukan aku bermaskud mendikotomikan antara yang intelek atau tidak, tetapi mahasiswa identik dengan intelektualitasnya, sehingga apa salahnya ketika kita mampu memberikan manfaat pada mereka yang membutuhkan dengan ilmu yang kita miliki dengan ideoligi yang kita yakini. Ketika itu sudah terjadi maka banyak manfaat yang akan didapat, tidak saja pada masing-masing individu, tetapi jua eksistensi dari masing-masing OMEK pun akan diakui secara nyata dan tentunya membentuk generasi-generasi muda yang berkualitas, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi sekitarnya.
Kesalahan dalam pemahaman berorganisasi pada saat sekarang ini justru mempertegas bahwa ideologi tidak lagi penting dan hanya sebatas ‘kesukaan’ orang-orang tertentu yang masih berpihak dengan cita-cita itu, selebihnya hanya sebatas omong kosong yang selalu terpampang dalam madding-mading kampus[].

Semoga tulisan saya ini masih relevan dengan perkembangan kawan Pergerakan..
Merdeka (teriak "Merdeka" Belum tentu GmnI kan?).
 



[1] Ideologi yang ku maksud tentunya yang berkaitan dengan kebaikan. Kebersamaan. Dari semua OMEK yang ada tujuan utamanya adalah menjunjung pancasila meski terdapat perbedaan cara pandang untuk menuju ke arah sana.

Minggu, 25 Maret 2012

Surat Cinta Untuk Para Pejuang Pemikir*


-->
Surat Cinta Untuk Para Pejuang Pemikir*
*Gulfino Che Guevarrato


Dear love, Aku tak tahu harus memulainya dari mana. Ketika semuanya akan mengarah pada ujung senja kala. Ketika semuanya harus meninggalkan keseharian yang selama ini biasa kita lalui bersama, ketika canda dan tawa kita tak lagi bersama. Maka semuanya harus mempersiapkan diri. Kita semua harus membereskan sampah-sampah sehabis kita bermain, tertawa, berdiskusi. Jangan kita seperti Adam yang mewarisi dosa pada penerusnya, jangan pula kita seperti pendaulu kita yang meninggalkan masalah tanpa ada penyelsaian. Memberikan beban pada kita yang pada waktu itu masih belajar untuk berjalan. Tertai-taih pada akhirnya, menyesot bahkan karena kita masih belum bisa untuk berlari. Jangan biarkan hal itu kita biarkan dan kita biasakan pada genarasi-generasi pejuang pemikir untuk melanjutkan perjuangan di etape selanjutnya. Biarkan generasi baru Pejuang Pemikir menulis semua kisah romantika, dialektikanya dengan cerita mereka sendiri.
Lalu, apakah kita pernah berbuat untuk member pijakan pada mereka bagimana indahnya menulis cerita mereka sendiri dalam alur gerakan GmnI yang saat ini kehilangan kelaminnya? Aku rasa kita sama seperti pendahulu kita yang telah medelagasikan kita ke medan perjuangan tanpa amunisi yang kuat. Pada akhirnya komisariat kita tanpa kita sadari tak lebih baik dari sekedar warung kopi, losmen-losmen muarahan yang gunanya sebagai tempat tidur. Bernyenyak-nyenyak ria sambil berbangga diri sebagai agen rakyat. Haha. Ironis, ketika melihat banyak rakyat diluar sana menangis mencari para pejuangnya, Ya. Pejuangnya aku sedang tidak berpuisi atau beromantis ria. Ini nyata. Kita sebagai mahasiswa adalah bagian yang tak akan terpisahkan dari penderitaan rakyat (idealnya seperti itu). Tapi kita malah menjadikan diri kita sebagai kader-kader asocial. Kader-kader yang pandai mengumpat tapi tidak pernah memahami esensi gerakan itu apa. Aih. Betapa mirisnya keadaan disenja kala ini. Kurang lebih hampir  sampai  tahun kita berproses dengan mengatas namakan rakyat sebgai OBJEK utama kita untuk berjuang. Rakyat hanya sebagai objek pada akhirnya kawan. Sadarlah.
Kini ketika hari semakin cepat berganti maka semakin cepat berganti pula nahkoda komisariat hukum. Aku tak ingin nahkodanya kali ini sebatas mereka-mereka yang hanya berlayar untuk ueforia sesaat lalu hilang ditelan omak gerakan yag kejam. Maka kita perlu membangun pola pikir, memberikan jam terbang, menempa mental. Jika di ajak ke Sumber Jambe atau ke Pakis lalu mengeluh capek apalagi merengek-rengek. Berhentilah berharap untuk jadi pemimpin tangguh. Lebih baik ambil pisau dapur lalu bunuh diri atau aku yang akan mengajarkannya. Karena sudah terlalu muak aku melihat dan mendengar “kecengengan” dalam gerakan GmnI komisariat hukum sehingga kita menjadi generasi-generasi mandul yang pada akhirmnya memperjuangkan nilai-nilai saja di kampus. Secara sebagai seorang kader GmnI dan kebetulan banyak dosen yang alumni. Tak ingin hal itu terjadi.
Selain itu pula. Sebelum kita beranjak pada loncatan batu selanjutnya maka alangkah indah dan bijaknya jika kita tidak hanya sekedar meninggalkan genarasi siap tempur saja. Perlu ada penguatan ideologi, wacana. Hal itu sangat penting. Kader GmnI dikenal sebagai aktifis TOA a.k.a Megaphone. Apabila itu dibiarkan maka kita tak jauh berbeda seperti tukang jual barang pecah belah yang berjualan keliling perumahan dengan megaphone. Itu sangat penting kawan sekali lagi sangat penting. Maka juga generasi-generasi mudanya pun harus sadar diri dan siap untuk ditempa. Perku keseriusan, meski santai jika kita ingin total di gerakan GmnI tetapi juga kita harus melangkah untuk melanjutkan fase hidup
Dengan tulisan yang absurd ini, aku berharap ada kesiapan bagi kawan-kawan baru dan kawan-kawan yang telah terlebih dahulu berproses di GmnI untuk membangun sebuah komitmen demi perubahan GmnI. GmnI sudah perlu berpikir global. Jangan hanya berkutat di komisariat saja. Menyebarkan spora-spora perjuangan disetiap kita berpijak. Jangan terlalu sulit memahaminya,cukup kita bisa membangun basis-basis masa, basis gerakan yang konkrit. Mengembangkan kader-kader yang berguna. Kader yang juga tidak kosong pemahammnya. Tidak hanya pintar main catur atau pandai menuangkan air kedamaian di tengah terik matahari atau menjadi rayap aspal sebagai pejuang rakyat yang banyak mikir. Kita perlu berpindah kawan. Ketika perubahan masih dirasa sulit maka kita perlu berpindah dari posisi yang tak berguna menjadi lebih berguna. Mari kita renungkan, jika memang istilah gerakan sebagai adigium kita. Maka gerakan yang seperti apa yang pernah kita lakukan yang menghasilkan perubahan? Turun ke jalan lalu membuat macet? Membagi-bagikan bunga kertas yang pada akhirnya jadi sampah? Diskusi tanpa wacana yang kuat? Menulis di bulletin TIRTA yang tidak terbit-terbit? Membangun jaringan ke alumni yang ujung-ujungnya duit? Membuat sekolah rakyat yang pada akhirnya “masuk angin”. Bedah buku. Bedah film? Semua yang kita lakukan tidak ada gunanya kawan (maaf jika kata-kata ku sedikit satir). Itulah fakta yang menampar kita? Tidak ada kader yang benar-benar sebagai pejuang pemikir atau setidaknya mendekatilah kecuali kader-kader malas yang sukanya tidur. Atau kader-kader yang suka berpolitik tapi gagap dalam berstrategi, bukan maksudku untuk lebih pintar, sok hebat ditengah kawan-kawan seidelogiku. Tapi aku memandang dari sudut orang lain yang melihat.
Kita semua telah terjebak pada fatamorgana gerakan. Kadang seorang komisaris perlu bersikap dan bertindak otoriter. Jangan dijadikan alasan ketakutan kehilangan kader. Justru kita akan lihat seberapa banyak kader-kader yang serius berproses itu dengan kondisi GmnI pada fitrahnya itu. Ingat, kita adalah generasi yang meninggalkan bekas maka kita sebaiknya meninggalkan kebaikan. Bukan meninggalkan ketakutan-ketakutan yang memperlemah posisi GmnI. Memang, kita punya pengalaman pahit, ketika kawan-kawan seperjuangan kita gugur dengan tidak hormat. Owob, Chandra, Rizky harus mati rasa terlebih dahulu pada GmnI. Tetapi sudahlah jangan biarkan mimpi buruk itu memberati gerakan kita. Pada bagian ini, aku ingin menyampaikannya pada kawan baikku Wawan. “sudahlah wan, jangan kamu terlihat seperti Tabies yang akhirnya memilik dualisme kelamin shingga tidak jelas. Jika kita tidak pernah tegas, maka untuk selanjutnya kita juga tidak akan membiaskan diri untuk tegas pada kader-kader GmnI. Biarkan proses seleksi alam itu berjalan jika kita memang kita telah menjalankan prosesur dalam bergerakan di GmnI. Tak perlu takut, dibalik sejuta kebencia masih ada satu cinta yang itu tak akan pernah hilang selagi darh kader-kader GmnI merah. Kita semua telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi seorang kader GmnI, kader Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang. Tuhan telah mempertegas hal itu dengan membuktikannya lewat darah kita yang merah, bukan biru, bukam kuning apalagi hijau”.
Demikian surat cintaku pada GmnI aku tulis. Hari sudah berganti saat ini Jumat. Tepatnya pukul 03.01 WIB. Disubuh yang dingin ini aku menulis dengan semangat yang membakar dingin berharap semangatku ini menular pada kawan-kawan yang pada jam yang sama sedang tertidur pula. Berharap ketika aku, Wawan, Isna, etis, Indra, Reza, anti, Sandy (meski anak itu tidak pernah berbuat apa-apa untuk GmnI, Ainul (meski dia adalah penghkianat yang paling keji, tetapi kawan terbaikku), Bryan (meski otak yang digunakan untuk berpikir sedikit dari pada tingkahnya yang menyebalkan, tetapi dia adalah kawan yang tahan banting ditengah gempuran yang dulu dialami) ketika nanti meninggalkan GmnI dengan menyerahkan etape organisasi pada Haykal, Andik, Hisyam, Ocha, Firda, Budi, Denny, Yanuar, Atris, Puji, Icha, Citra, Noki dan banyak lagi untuk melanjutkan GmnI dengan lebih baik dan lebih PROGRESIF REVOLUTIONER. Ada beberapa waktu yang cukup untuk kita, belajar bersama dengan kawan-kawan baru, bukan mengajarkan, tetapi berbagi pengalaman-pengalaman baru yang sudah kita dapat sebelumnya. Berharap jika sudah waktunya datang kawan-kawan baru tidak gagap, tidak mudah “masuk angin” dan yang lebih penting tidak banyak mikir daripada bergeraknya. Ada pengalaman yang sangat memilukan kawan. Sungguh tidak enak dan menjadi beban pikiran ketika kawan-kawan ditangisi oleh rakyat di depan mata kepala kita sendiri sedangkan banyak diantara kita yang enak-enakan tidur nyenyak. Ketika suratku itu menyinggung kawan-kawan semua, aku berterima kasih dan senang.[]
Salam cinta dan pelukku untuk kalian semua
Merdeka
GmnI Jaya
Marhaen Menang*
(*Semua itu hanya Yel-yel saja kok)
Panasnya Aspal membuat Penaku meleleh, lebih baik aku menulis. Karena dengan menulis, aku tidak bisa dibungkam. Tulisan tidak bisa dibungkam karena tak punya mulut!!!