-->
Surat Cinta Untuk Para Pejuang Pemikir*
*Gulfino
Che Guevarrato
Dear love,
Aku tak tahu harus memulainya dari mana. Ketika semuanya akan mengarah pada
ujung senja kala. Ketika semuanya harus meninggalkan keseharian yang selama ini
biasa kita lalui bersama, ketika canda dan tawa kita tak lagi bersama. Maka
semuanya harus mempersiapkan diri. Kita semua harus membereskan sampah-sampah
sehabis kita bermain, tertawa, berdiskusi. Jangan kita seperti Adam yang
mewarisi dosa pada penerusnya, jangan pula kita seperti pendaulu kita yang
meninggalkan masalah tanpa ada penyelsaian. Memberikan beban pada kita yang
pada waktu itu masih belajar untuk berjalan. Tertai-taih pada akhirnya,
menyesot bahkan karena kita masih belum bisa untuk berlari. Jangan biarkan hal
itu kita biarkan dan kita biasakan pada genarasi-generasi pejuang pemikir untuk
melanjutkan perjuangan di etape selanjutnya. Biarkan generasi baru Pejuang
Pemikir menulis semua kisah romantika, dialektikanya dengan cerita mereka
sendiri.
Lalu,
apakah kita pernah berbuat untuk member pijakan pada mereka bagimana indahnya
menulis cerita mereka sendiri dalam alur gerakan GmnI yang saat ini kehilangan
kelaminnya? Aku rasa kita sama seperti pendahulu kita yang telah medelagasikan
kita ke medan perjuangan tanpa amunisi yang kuat. Pada akhirnya komisariat kita
tanpa kita sadari tak lebih baik dari sekedar warung kopi, losmen-losmen
muarahan yang gunanya sebagai tempat tidur. Bernyenyak-nyenyak ria sambil
berbangga diri sebagai agen rakyat. Haha. Ironis, ketika melihat banyak rakyat
diluar sana menangis mencari para pejuangnya, Ya. Pejuangnya aku sedang tidak
berpuisi atau beromantis ria. Ini nyata. Kita sebagai mahasiswa adalah bagian
yang tak akan terpisahkan dari penderitaan rakyat (idealnya seperti itu). Tapi
kita malah menjadikan diri kita sebagai kader-kader asocial. Kader-kader yang
pandai mengumpat tapi tidak pernah memahami esensi gerakan itu apa. Aih. Betapa
mirisnya keadaan disenja kala ini. Kurang lebih hampir sampai
tahun kita berproses dengan mengatas namakan rakyat sebgai OBJEK utama
kita untuk berjuang. Rakyat hanya sebagai objek pada akhirnya kawan. Sadarlah.
Kini
ketika hari semakin cepat berganti maka semakin cepat berganti pula nahkoda
komisariat hukum. Aku tak ingin nahkodanya kali ini sebatas mereka-mereka yang
hanya berlayar untuk ueforia sesaat lalu hilang ditelan omak gerakan yag kejam. Maka kita perlu
membangun pola pikir, memberikan jam terbang, menempa mental. Jika di ajak ke
Sumber Jambe atau ke Pakis lalu mengeluh capek apalagi merengek-rengek.
Berhentilah berharap untuk jadi pemimpin tangguh. Lebih baik ambil pisau dapur
lalu bunuh diri atau aku yang akan mengajarkannya. Karena sudah terlalu muak
aku melihat dan mendengar “kecengengan” dalam gerakan GmnI komisariat hukum
sehingga kita menjadi generasi-generasi mandul yang pada akhirmnya
memperjuangkan nilai-nilai saja di kampus. Secara sebagai seorang kader GmnI
dan kebetulan banyak dosen yang alumni. Tak ingin hal itu terjadi.
Selain
itu pula. Sebelum kita beranjak pada loncatan batu selanjutnya maka alangkah indah
dan bijaknya jika kita tidak hanya sekedar meninggalkan genarasi siap tempur
saja. Perlu ada penguatan ideologi, wacana. Hal itu sangat penting. Kader GmnI
dikenal sebagai aktifis TOA a.k.a Megaphone. Apabila itu dibiarkan maka kita
tak jauh berbeda seperti tukang jual barang pecah belah yang berjualan keliling
perumahan dengan megaphone. Itu sangat penting kawan sekali lagi sangat
penting. Maka juga generasi-generasi mudanya pun harus sadar diri dan siap
untuk ditempa. Perku keseriusan, meski santai jika kita ingin total di gerakan
GmnI tetapi juga kita harus melangkah untuk melanjutkan fase hidup
Dengan
tulisan yang absurd ini, aku berharap ada kesiapan bagi kawan-kawan baru dan
kawan-kawan yang telah terlebih dahulu berproses di GmnI untuk membangun sebuah
komitmen demi perubahan GmnI. GmnI sudah perlu berpikir global. Jangan hanya
berkutat di komisariat saja. Menyebarkan spora-spora perjuangan disetiap kita
berpijak. Jangan terlalu sulit memahaminya,cukup kita bisa membangun
basis-basis masa, basis gerakan yang konkrit. Mengembangkan kader-kader yang
berguna. Kader yang juga tidak kosong pemahammnya. Tidak hanya pintar main
catur atau pandai menuangkan air kedamaian di tengah terik matahari atau
menjadi rayap aspal sebagai pejuang rakyat yang banyak mikir. Kita perlu
berpindah kawan. Ketika perubahan masih dirasa sulit maka kita perlu berpindah
dari posisi yang tak berguna menjadi lebih berguna. Mari kita renungkan, jika
memang istilah gerakan sebagai adigium kita. Maka gerakan yang seperti apa yang
pernah kita lakukan yang menghasilkan perubahan? Turun ke jalan lalu membuat
macet? Membagi-bagikan bunga kertas yang pada akhirnya jadi sampah? Diskusi
tanpa wacana yang kuat? Menulis di bulletin TIRTA yang tidak terbit-terbit?
Membangun jaringan ke alumni yang ujung-ujungnya duit? Membuat sekolah rakyat
yang pada akhirnya “masuk angin”. Bedah buku. Bedah film? Semua yang kita
lakukan tidak ada gunanya kawan (maaf jika kata-kata ku sedikit satir). Itulah
fakta yang menampar kita? Tidak ada kader yang benar-benar sebagai pejuang
pemikir atau setidaknya mendekatilah kecuali kader-kader malas yang sukanya
tidur. Atau kader-kader yang suka berpolitik tapi gagap dalam berstrategi,
bukan maksudku untuk lebih pintar, sok hebat ditengah kawan-kawan seidelogiku.
Tapi aku memandang dari sudut orang lain yang melihat.
Kita
semua telah terjebak pada fatamorgana gerakan. Kadang seorang komisaris perlu
bersikap dan bertindak otoriter. Jangan dijadikan alasan ketakutan kehilangan
kader. Justru kita akan lihat seberapa banyak kader-kader yang serius berproses
itu dengan kondisi GmnI pada fitrahnya itu. Ingat, kita adalah generasi yang
meninggalkan bekas maka kita sebaiknya meninggalkan kebaikan. Bukan
meninggalkan ketakutan-ketakutan yang memperlemah posisi GmnI. Memang, kita
punya pengalaman pahit, ketika kawan-kawan seperjuangan kita gugur dengan tidak
hormat. Owob, Chandra, Rizky harus mati rasa terlebih dahulu pada GmnI. Tetapi
sudahlah jangan biarkan mimpi buruk itu memberati gerakan kita. Pada bagian
ini, aku ingin menyampaikannya pada kawan baikku Wawan. “sudahlah wan, jangan
kamu terlihat seperti Tabies yang akhirnya memilik dualisme kelamin shingga
tidak jelas. Jika kita tidak pernah tegas, maka untuk selanjutnya kita juga
tidak akan membiaskan diri untuk tegas pada kader-kader GmnI. Biarkan proses
seleksi alam itu berjalan jika kita memang kita telah menjalankan prosesur
dalam bergerakan di GmnI. Tak perlu takut, dibalik sejuta kebencia masih ada
satu cinta yang itu tak akan pernah hilang selagi darh kader-kader GmnI merah.
Kita semua telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi seorang kader GmnI, kader
Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang. Tuhan telah mempertegas hal itu dengan
membuktikannya lewat darah kita yang merah, bukan biru, bukam kuning apalagi
hijau”.
Demikian
surat cintaku pada GmnI aku tulis. Hari sudah berganti saat ini Jumat. Tepatnya
pukul 03.01 WIB. Disubuh yang dingin ini aku menulis dengan semangat yang
membakar dingin berharap semangatku ini menular pada kawan-kawan yang pada jam
yang sama sedang tertidur pula. Berharap ketika aku, Wawan, Isna, etis, Indra,
Reza, anti, Sandy (meski anak itu tidak pernah berbuat apa-apa untuk GmnI, Ainul
(meski dia adalah penghkianat yang paling keji, tetapi kawan terbaikku), Bryan
(meski otak yang digunakan untuk berpikir sedikit dari pada tingkahnya yang
menyebalkan, tetapi dia adalah kawan yang tahan banting ditengah gempuran yang
dulu dialami) ketika nanti meninggalkan GmnI dengan menyerahkan etape
organisasi pada Haykal, Andik, Hisyam, Ocha, Firda, Budi, Denny, Yanuar, Atris, Puji, Icha, Citra, Noki dan
banyak lagi untuk melanjutkan GmnI dengan lebih baik dan lebih PROGRESIF
REVOLUTIONER. Ada beberapa waktu yang cukup untuk kita, belajar bersama dengan
kawan-kawan baru, bukan mengajarkan, tetapi berbagi pengalaman-pengalaman baru
yang sudah kita dapat sebelumnya. Berharap jika sudah waktunya datang
kawan-kawan baru tidak gagap, tidak mudah “masuk angin” dan yang lebih penting
tidak banyak mikir daripada bergeraknya. Ada pengalaman yang sangat memilukan
kawan. Sungguh tidak enak dan menjadi beban pikiran ketika kawan-kawan
ditangisi oleh rakyat di depan mata kepala kita sendiri sedangkan banyak
diantara kita yang enak-enakan tidur nyenyak. Ketika suratku itu menyinggung
kawan-kawan semua, aku berterima kasih dan senang.[]
Salam
cinta dan pelukku untuk kalian semua
Merdeka
GmnI
Jaya
Marhaen
Menang*
(*Semua itu hanya Yel-yel saja kok)
Panasnya Aspal
membuat Penaku meleleh, lebih baik aku menulis. Karena dengan menulis, aku
tidak bisa dibungkam. Tulisan tidak bisa dibungkam karena tak punya mulut!!!






0 komentar:
Posting Komentar