Minggu, 25 Maret 2012

Surat Cinta Untuk Para Pejuang Pemikir*


-->
Surat Cinta Untuk Para Pejuang Pemikir*
*Gulfino Che Guevarrato


Dear love, Aku tak tahu harus memulainya dari mana. Ketika semuanya akan mengarah pada ujung senja kala. Ketika semuanya harus meninggalkan keseharian yang selama ini biasa kita lalui bersama, ketika canda dan tawa kita tak lagi bersama. Maka semuanya harus mempersiapkan diri. Kita semua harus membereskan sampah-sampah sehabis kita bermain, tertawa, berdiskusi. Jangan kita seperti Adam yang mewarisi dosa pada penerusnya, jangan pula kita seperti pendaulu kita yang meninggalkan masalah tanpa ada penyelsaian. Memberikan beban pada kita yang pada waktu itu masih belajar untuk berjalan. Tertai-taih pada akhirnya, menyesot bahkan karena kita masih belum bisa untuk berlari. Jangan biarkan hal itu kita biarkan dan kita biasakan pada genarasi-generasi pejuang pemikir untuk melanjutkan perjuangan di etape selanjutnya. Biarkan generasi baru Pejuang Pemikir menulis semua kisah romantika, dialektikanya dengan cerita mereka sendiri.
Lalu, apakah kita pernah berbuat untuk member pijakan pada mereka bagimana indahnya menulis cerita mereka sendiri dalam alur gerakan GmnI yang saat ini kehilangan kelaminnya? Aku rasa kita sama seperti pendahulu kita yang telah medelagasikan kita ke medan perjuangan tanpa amunisi yang kuat. Pada akhirnya komisariat kita tanpa kita sadari tak lebih baik dari sekedar warung kopi, losmen-losmen muarahan yang gunanya sebagai tempat tidur. Bernyenyak-nyenyak ria sambil berbangga diri sebagai agen rakyat. Haha. Ironis, ketika melihat banyak rakyat diluar sana menangis mencari para pejuangnya, Ya. Pejuangnya aku sedang tidak berpuisi atau beromantis ria. Ini nyata. Kita sebagai mahasiswa adalah bagian yang tak akan terpisahkan dari penderitaan rakyat (idealnya seperti itu). Tapi kita malah menjadikan diri kita sebagai kader-kader asocial. Kader-kader yang pandai mengumpat tapi tidak pernah memahami esensi gerakan itu apa. Aih. Betapa mirisnya keadaan disenja kala ini. Kurang lebih hampir  sampai  tahun kita berproses dengan mengatas namakan rakyat sebgai OBJEK utama kita untuk berjuang. Rakyat hanya sebagai objek pada akhirnya kawan. Sadarlah.
Kini ketika hari semakin cepat berganti maka semakin cepat berganti pula nahkoda komisariat hukum. Aku tak ingin nahkodanya kali ini sebatas mereka-mereka yang hanya berlayar untuk ueforia sesaat lalu hilang ditelan omak gerakan yag kejam. Maka kita perlu membangun pola pikir, memberikan jam terbang, menempa mental. Jika di ajak ke Sumber Jambe atau ke Pakis lalu mengeluh capek apalagi merengek-rengek. Berhentilah berharap untuk jadi pemimpin tangguh. Lebih baik ambil pisau dapur lalu bunuh diri atau aku yang akan mengajarkannya. Karena sudah terlalu muak aku melihat dan mendengar “kecengengan” dalam gerakan GmnI komisariat hukum sehingga kita menjadi generasi-generasi mandul yang pada akhirmnya memperjuangkan nilai-nilai saja di kampus. Secara sebagai seorang kader GmnI dan kebetulan banyak dosen yang alumni. Tak ingin hal itu terjadi.
Selain itu pula. Sebelum kita beranjak pada loncatan batu selanjutnya maka alangkah indah dan bijaknya jika kita tidak hanya sekedar meninggalkan genarasi siap tempur saja. Perlu ada penguatan ideologi, wacana. Hal itu sangat penting. Kader GmnI dikenal sebagai aktifis TOA a.k.a Megaphone. Apabila itu dibiarkan maka kita tak jauh berbeda seperti tukang jual barang pecah belah yang berjualan keliling perumahan dengan megaphone. Itu sangat penting kawan sekali lagi sangat penting. Maka juga generasi-generasi mudanya pun harus sadar diri dan siap untuk ditempa. Perku keseriusan, meski santai jika kita ingin total di gerakan GmnI tetapi juga kita harus melangkah untuk melanjutkan fase hidup
Dengan tulisan yang absurd ini, aku berharap ada kesiapan bagi kawan-kawan baru dan kawan-kawan yang telah terlebih dahulu berproses di GmnI untuk membangun sebuah komitmen demi perubahan GmnI. GmnI sudah perlu berpikir global. Jangan hanya berkutat di komisariat saja. Menyebarkan spora-spora perjuangan disetiap kita berpijak. Jangan terlalu sulit memahaminya,cukup kita bisa membangun basis-basis masa, basis gerakan yang konkrit. Mengembangkan kader-kader yang berguna. Kader yang juga tidak kosong pemahammnya. Tidak hanya pintar main catur atau pandai menuangkan air kedamaian di tengah terik matahari atau menjadi rayap aspal sebagai pejuang rakyat yang banyak mikir. Kita perlu berpindah kawan. Ketika perubahan masih dirasa sulit maka kita perlu berpindah dari posisi yang tak berguna menjadi lebih berguna. Mari kita renungkan, jika memang istilah gerakan sebagai adigium kita. Maka gerakan yang seperti apa yang pernah kita lakukan yang menghasilkan perubahan? Turun ke jalan lalu membuat macet? Membagi-bagikan bunga kertas yang pada akhirnya jadi sampah? Diskusi tanpa wacana yang kuat? Menulis di bulletin TIRTA yang tidak terbit-terbit? Membangun jaringan ke alumni yang ujung-ujungnya duit? Membuat sekolah rakyat yang pada akhirnya “masuk angin”. Bedah buku. Bedah film? Semua yang kita lakukan tidak ada gunanya kawan (maaf jika kata-kata ku sedikit satir). Itulah fakta yang menampar kita? Tidak ada kader yang benar-benar sebagai pejuang pemikir atau setidaknya mendekatilah kecuali kader-kader malas yang sukanya tidur. Atau kader-kader yang suka berpolitik tapi gagap dalam berstrategi, bukan maksudku untuk lebih pintar, sok hebat ditengah kawan-kawan seidelogiku. Tapi aku memandang dari sudut orang lain yang melihat.
Kita semua telah terjebak pada fatamorgana gerakan. Kadang seorang komisaris perlu bersikap dan bertindak otoriter. Jangan dijadikan alasan ketakutan kehilangan kader. Justru kita akan lihat seberapa banyak kader-kader yang serius berproses itu dengan kondisi GmnI pada fitrahnya itu. Ingat, kita adalah generasi yang meninggalkan bekas maka kita sebaiknya meninggalkan kebaikan. Bukan meninggalkan ketakutan-ketakutan yang memperlemah posisi GmnI. Memang, kita punya pengalaman pahit, ketika kawan-kawan seperjuangan kita gugur dengan tidak hormat. Owob, Chandra, Rizky harus mati rasa terlebih dahulu pada GmnI. Tetapi sudahlah jangan biarkan mimpi buruk itu memberati gerakan kita. Pada bagian ini, aku ingin menyampaikannya pada kawan baikku Wawan. “sudahlah wan, jangan kamu terlihat seperti Tabies yang akhirnya memilik dualisme kelamin shingga tidak jelas. Jika kita tidak pernah tegas, maka untuk selanjutnya kita juga tidak akan membiaskan diri untuk tegas pada kader-kader GmnI. Biarkan proses seleksi alam itu berjalan jika kita memang kita telah menjalankan prosesur dalam bergerakan di GmnI. Tak perlu takut, dibalik sejuta kebencia masih ada satu cinta yang itu tak akan pernah hilang selagi darh kader-kader GmnI merah. Kita semua telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi seorang kader GmnI, kader Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang. Tuhan telah mempertegas hal itu dengan membuktikannya lewat darah kita yang merah, bukan biru, bukam kuning apalagi hijau”.
Demikian surat cintaku pada GmnI aku tulis. Hari sudah berganti saat ini Jumat. Tepatnya pukul 03.01 WIB. Disubuh yang dingin ini aku menulis dengan semangat yang membakar dingin berharap semangatku ini menular pada kawan-kawan yang pada jam yang sama sedang tertidur pula. Berharap ketika aku, Wawan, Isna, etis, Indra, Reza, anti, Sandy (meski anak itu tidak pernah berbuat apa-apa untuk GmnI, Ainul (meski dia adalah penghkianat yang paling keji, tetapi kawan terbaikku), Bryan (meski otak yang digunakan untuk berpikir sedikit dari pada tingkahnya yang menyebalkan, tetapi dia adalah kawan yang tahan banting ditengah gempuran yang dulu dialami) ketika nanti meninggalkan GmnI dengan menyerahkan etape organisasi pada Haykal, Andik, Hisyam, Ocha, Firda, Budi, Denny, Yanuar, Atris, Puji, Icha, Citra, Noki dan banyak lagi untuk melanjutkan GmnI dengan lebih baik dan lebih PROGRESIF REVOLUTIONER. Ada beberapa waktu yang cukup untuk kita, belajar bersama dengan kawan-kawan baru, bukan mengajarkan, tetapi berbagi pengalaman-pengalaman baru yang sudah kita dapat sebelumnya. Berharap jika sudah waktunya datang kawan-kawan baru tidak gagap, tidak mudah “masuk angin” dan yang lebih penting tidak banyak mikir daripada bergeraknya. Ada pengalaman yang sangat memilukan kawan. Sungguh tidak enak dan menjadi beban pikiran ketika kawan-kawan ditangisi oleh rakyat di depan mata kepala kita sendiri sedangkan banyak diantara kita yang enak-enakan tidur nyenyak. Ketika suratku itu menyinggung kawan-kawan semua, aku berterima kasih dan senang.[]
Salam cinta dan pelukku untuk kalian semua
Merdeka
GmnI Jaya
Marhaen Menang*
(*Semua itu hanya Yel-yel saja kok)
Panasnya Aspal membuat Penaku meleleh, lebih baik aku menulis. Karena dengan menulis, aku tidak bisa dibungkam. Tulisan tidak bisa dibungkam karena tak punya mulut!!!






0 komentar:

Posting Komentar