Minggu, 25 Maret 2012

Dulu hari kita bersama, tapi kini kita punya hari-harinya masing-masing


-->
Benar kata banyak orang. Masa SMA masa yang paling indah. Penyanyi legendaries Crisye dalam lagunya pernah menulis “Tiada masa paling indah... Masa-masa disekolah
Tiada kisah paling indah... Kisah-kasih disekolah”.
Kita masih bisa seenaknya untuk bermain-main. Mempermainkan guru. Masih ingatkah kita dengan pak guru bahasa Indonesia itu? Yang mukanya mirip comedian Doyok atau Pak Iyus yang mengejar-ngejar kita sewaktu dipergoki merokok dibelakang ruang MMC? Atau membuat rancau bu Ida Sejara sampai-sampai tas kita dibawa ke Kantor hanya gara-gara kita tidak masuk kelas Sejarah pada waktu itu. Atau ketika kita menghabiskan waktu tidak ada guru di tangga depan kelas, entah membicarakan film yang terbaru, lawan jenis yang sedang ditaksir atau absurd dengan kegiatannya sendiri. Semua benar-benar terekam dalam pikiranku. Aku ingat dengan apa yang dikatakan Jimmy Multazam, laki-laki eksentrik lulusan IKJ yang juga vokalisnya The Upstair  yang tuangkan dalam judul lagu “Terekam Tak Akan Pernah Mati”.
 Kapan terakhir kali kita berkumpul? Bersama dalam suasana yang akrab. Tentunya denga pakaian putih abu-abu yang lusuh dibasahi keringat-keringat riang. Kita terlalu banyak mengahabiskan waktu untuk bersua dalam suasana yang hangat. Duduk ditangga dekat pintu kelas, disana kita biasa berbagi cerita. Banyak kisah yang terucap dihari-hari yang saat ini pada akhirnya akan kita kenang. Bercerita dalam hembusan angin-angin genit, sungguh indah siang-siang yang kita lalui dalam keriangan itu. Meski para guru geram melihat tingkah kita pada waktu itu. “kalian sudah kelas 3 sekarang. Dimohon untuk keseriusannya untuk belajar” “bentar lagi akan menhadapai Ujian Nasional” begitulah Bu Len, wali kelas kita selalu tidak bosan-bosannya mengingatkan kita. Hem, apakabarnya Bu Len sekarang ya? Beberapa waktu lalu, ketika aku pulang ke Garut, aku dan Reza bersilaturahmi ke rumahnya dan tetap saja ibu guru itu tetap baik dan tidak bosan-bosanya memberikan wejangan pada kami berdua. Aku akan mengingat jasa-jasa Mu. Bu.
Aku baru menyadari. Hari-hari itu sudah terlalu lama. 3 tahun kita telah meninggalkan jejak-jajak lama itu. Pergi mencari mimpi-mimpi yang bertebaran di Perguruan Tinggi kita melanjutkan jenjang pendidikan.  aku merasakan perpiasahan itu sejak bulan Januari 2009 setelah itu bulan-bulan selanjutnya kita dibisukan oleh ujian-ujian yang menurutku hanya sebatas sandiwara yang biasa kita lihat di TV. Bulan-bulan yang pada akhirnya menuntun kita pada senjakala kebersamaan.

Aku sempat bersajak pada waktu itu.

Apa kita masih ingat hari-hari itu, mengingat kita yang menghabiskan waktu belajar untuk bermain sepak bola atau mencari-cari alasan untuk tidur di UKS. Tidak hanya itu, apa kita masih ingat dengan wali kelas kita yang begitu sabar? Sampai-sampai bosan, tak banyak bicara ketika harus menghadapi anak-anak IPS 3 yang nakal-nakal itu. Setiap jam pelajaran berkeliaran entah kemana rimbanya. Ketika masuk kelas badan basah oleh keringat. Sungguh indah hari itu kawan. Kita semua masih begitu polos, tak ada beban seperti sekarang ini. Mungkin bagi mereka yang kerja, beban perkerjaan yang menyita pikirannya. Bagi mereka yang menempuh D3 sedang sibuk-sibuknya bercumbu dengan tugas-tugas akhir. Sedangkan aku terlalu sibuk dengan duniaku yang tentu kawan-kawan semua tau apa yang kulakukan karena sejak SMA kalian sudah menduganya. Semua telah berubah. Berubah dan berubah karena itu hukum alam yang pastia akan terjadi. Kita manusia yang dinamis, tetapi sejarah telah mencatat itu semua.
Apakaha Okim masih seceria dahulu? Memberikan umpatan sarkasnya yang khas? Bekoy yang diam tapi berbahaya? Renghek yang sukanya tebar pesona?atau teman-temanku lainnya?apakah kalian masih seperti dulu? Memahami arti kebersamaan dengan begitu tulus tanpa tendensi yang memisahkan arti perkawanan. Meski kita saling mengumpat dan menghina, kini semua hal itu menjadi bunga-bunga masa lalu yang indah untuk dilihat-lihat kembali.
Kita terbiasanya untuk bercanda dalam kesatiran dan tentunya sedikit sarkas tapi sekali lagi itu indah. Sungguh indah dihari itu. Bernyanyi dikelas yang penuh dengan wajah Bengal, tidak laki tidak jg perempuannya semua begitu kompak dalam kebengalannya. Atau menemukan cinta yang pada akhirnya membuat kelu sampai malam-malam sudah banyak berganti, ya seperti aku ini :D. (aku tidak ingin membahas itu ditulisanku yang ini)
Malam ini, langit begitu cerah dan bulan sabit terlihat begitu manis mengintip dibalik jendela kamarku. Sepertinya malam bersekongkol dengan suasana yang semakin hening ditambah-tambah suara syahdu dari Paul McCartney vokalis sekaligus basit The Beatles dalam lagu “And I lover” semakin menambah kelu kata untuk ditulis.  Tiga tahun telah berlalu, meja kelas, papan, lantai dan semuanya yang dulu menjadi saksi bisu kisah kita tentunya telah berganti dengan yang baru. Kini tak ada canda tawa yang khas dari penghuni kelas IPS 3. Aku dengar dari bapak ibu guru, jaman kita memang yang lebih istimewa. Istimewa nakalnya.  Biarlah waktu mengendap dan biarkan rindu itu lepas tanpa membebani hari-hari kita. Dalam setiap jejak langkah yang kita pijak, aku berharap kebersamaan itu tidak akan pernah luntur.  
Malam semakin melarut, aku besok ada ujian Praktik Pidana. Aku sudahi dulu tulisan pelepas rindu untuk kawan-kawanku di IPS 3 dan seorang yang tak lagi ingin ku kenal dan mengenalku. Selamat malam. Semoga kasih Tuhan bersama dalams setiap hembusan nafas kita
 ketika jarum jam semakin bergerak cepat maka semakin besar pula makna yang kita dapat dalam setiap perjumpaan yang pantas untuk dikenang. Meksi kadang itu menyakitkan jika kita melewatinya dengan tidak tuntas untuk dibicarakan dan dikisahkan

0 komentar:

Posting Komentar