-->
Kukenal kau diwaktu
yang cuman 15 menit
Awalnya tak ada
yang kukenal darinya, hanya memandanginya dari kejauhan. “Siapa perempuan itu? hadir
di acara seminar yang biasanya diisi oleh orang-orang pergerakan?” gumamku
dalam hati. Kuberanikan diriku untuk mendekati kursi disebelahnya. aku jelas
masih mengingat bagaimana dada terasa terhantam godam. Berdebar keras sekali. Seperti
menanti saat yang tepat untuk mengangkat tanganku lalu berkenalan. Kau seperti
tak tahu debar itu. Kau terus saja mengulum senyum, sambil sesekali menebar
tawa yang renyah. Ah, tanganku sampai dingin ketika menjabat erat tangannya. Dengan
ragu-ragu dan kikuk aku menatap matanya,
takutnya dia mengira orang iseng dari mana ini? Tapi Ku pandangi wajahnya yang penuh
tanya melihat orang asing yang berambut gondrong, acak-acakan pula. Benar-benar
kontras dengan pipimu yang tirus itu, meningkahi rambutmu yang panjang berombak
tergerai mungkin ini keindahan yang nyata itu. Tapi Tuhan memang adil, setiap
usaha dibalas dengan hasil yang mengembirakan.
Siang itu kami
habiskan untuk berbicara. Sekedar memindahkan waktu, dimana sang pintu takdir
terbuka, tapi kami enggan untuk memasukinya.
Dimana aku seakan segan menjabat tanganmu, apalagi menatap matamu.Tak banyak
yang aku bicarakan pada waktu itu hanya sebatas hal-hal biasa, karena memang
tak pantas rasanya jika baru berkenalan sudah bertanya macam-macam, ah dikira
sedang introgasi saja nanti. Aku benci sekali dengan jarum jam yang terus
berdetak. Sementara aku juga terus memaki pembicara didepan yang terus saja meraungkan suara di speaker aktif
mereka. Sangat mengganggu. Aku sedang mengembalikan ketenanganku yang tadi
hilang setelah jabat tangan itu. Lalu detak jam benar-benar memisahkan
pertemuan singakt itu, kerahmahannya itu sungguh membuatku menyesali waktu yang kaku, tidak bisa mentolenransi keadaan. Setelah itu, aku kelu untuk berkata-kata. Wajahnya perlahan
tapi pasti masuk pada sel-sel otak. Ah efek apa ini!
Tak perlu
kusebut namanya sapa, tak perlu juga dia berasal dari mana. biarkan dia menjadi misteri dari siang itu. Pertemuan yang
begitu singkat itu mengubah hari yang pada awalnya biasa menjadi luar biasa. Sejak saat itu
pula aku mencoba mencari tahu siapa perempuan kesayangan mentari itu. Maka
akhirnya aku berusaha keras untuk menelusuri tiap jengkal rumah reyot bernama
ingatan. Berusaha mengingat lagi apa yang harus aku perbuat untuk kenal lebih
jauh dengan nya.mencari cara yang tepat. Sampai pada akhirnya seorang sahabatku ternyata kenal dengannya. Aih, sekali lagi Tuhan berperan dalam kemudahan ini.
Lantas sesuatu
bernama kimia kapan mempertemukan kami kembali. Bukan, aku tidak berbicara
mengenai pelajaran kimia, dimana sang mantan guruku adalah seorang perempuan
dewasa yang matang, yang bisa membuat aku pergi ke WC hanya untuk sekedar
menghabiskan isi lotion. Kimia itu adalah sesuatu yang dinamakan hubungan
kimia. Orang barat menyebutnya chemistry.
Setidaknya membicarakan
yang jauh lebih panjang dari pertemuan pertama. Tapi asa ku tidak terlalu besar
pada pertemuan itu. Jelas, diminta nomer HP
nya saja dia menolak dengan begitu anggunnya. Sepertinya memang caraku yang
terlihat sangat bodoh sehingga pantas untuk tidak diberi nomer itu.
Tak ada maksud
apa-apa?, bohong rasanya jika naluriku sebagai anak Adam yang bertemu Hawa
tidak bergejolak. Tapi Aku sepertinya
harus menahan diri, karena dia sudah berpunya. Ah, tak apalah segala yang
bersungguh-sungguh memang akan berwujud. Tuhan punya cerita yang berbeda, biarkan takdir saja yang menuntunku.
Sial, sepertinya
lagu “When You Love Somenone” dari Endah N Rhesa sedang mengejekku berkompromi
dengan malam yang bertebaran bintang. Tidak, tidak. Aku hanya ingin berbicara
banyak dengannya dengan tendensi yang lebih nyaman tidak terjebak rasa-rasa
yang bikin aku meracau. Biarkan malam yang memberi kabar baik itu. Mengajariku untuk
besabar.
Ketika aku
menulis catatan ini mungkin kau sedang
tidur terlelap menjejaki setiap mimpi. Jika memang tulisan ini bisa terhubung
dengan mimpimu aku hanya ingin mengatakan “siang tak pernah seindah siang itu”
“When You someone just be brave to say”, suara
Endah benar-benar sedang mengejekku tapi aku tidak bergeminng menghiraukan
syair-syair syahdu itu. Aku tidak ingin menyebut rasa itu dengan nama cinta, aku hanya ingin mengatakan
tentang keindahan yang nyata itu, tentang perempuan yang aku yakin kesayangan
dari mentari. Selamat pagi semoga kau suka
baca tulisan yangku ini. Jika kau suka, kirim message difacebooku.:D






0 komentar:
Posting Komentar