Kamis, 29 Maret 2012

Kukenal kau diwaktu yang cuman 15 menit


-->
Kukenal kau diwaktu yang cuman 15 menit

Awalnya tak ada yang kukenal darinya, hanya memandanginya dari kejauhan. “Siapa perempuan itu? hadir di acara seminar yang biasanya diisi oleh orang-orang pergerakan?” gumamku dalam hati. Kuberanikan diriku untuk mendekati kursi disebelahnya. aku jelas masih mengingat bagaimana dada terasa terhantam godam. Berdebar keras sekali. Seperti menanti saat yang tepat untuk mengangkat tanganku lalu berkenalan. Kau seperti tak tahu debar itu. Kau terus saja mengulum senyum, sambil sesekali menebar tawa yang renyah. Ah, tanganku sampai dingin ketika menjabat erat tangannya. Dengan ragu-ragu dan kikuk  aku menatap matanya, takutnya dia mengira orang iseng dari mana ini? Tapi Ku pandangi wajahnya yang penuh tanya melihat orang asing yang berambut gondrong, acak-acakan pula. Benar-benar kontras dengan pipimu yang tirus itu, meningkahi rambutmu yang panjang berombak tergerai mungkin ini keindahan yang nyata itu. Tapi Tuhan memang adil, setiap usaha dibalas dengan hasil yang mengembirakan.
Siang itu kami habiskan untuk berbicara. Sekedar memindahkan waktu, dimana sang pintu takdir terbuka, tapi kami enggan untuk memasukinya. Dimana aku seakan segan menjabat tanganmu, apalagi menatap matamu.Tak banyak yang aku bicarakan pada waktu itu hanya sebatas hal-hal biasa, karena memang tak pantas rasanya jika baru berkenalan sudah bertanya macam-macam, ah dikira sedang introgasi saja nanti. Aku benci sekali dengan jarum jam yang terus berdetak. Sementara aku juga terus memaki pembicara didepan yang terus  saja meraungkan suara di speaker aktif mereka. Sangat mengganggu. Aku sedang mengembalikan ketenanganku yang tadi hilang setelah jabat tangan itu. Lalu detak jam benar-benar memisahkan pertemuan singakt itu, kerahmahannya itu sungguh membuatku menyesali waktu yang kaku, tidak bisa mentolenransi keadaan. Setelah itu, aku kelu untuk berkata-kata. Wajahnya perlahan tapi pasti masuk pada sel-sel otak. Ah efek apa ini!
Tak perlu kusebut namanya sapa, tak perlu juga dia berasal dari mana. biarkan dia menjadi misteri dari siang itu. Pertemuan yang begitu singkat itu mengubah hari yang pada awalnya biasa menjadi luar biasa. Sejak saat itu pula aku mencoba mencari tahu siapa perempuan kesayangan mentari itu. Maka akhirnya aku berusaha keras untuk menelusuri tiap jengkal rumah reyot bernama ingatan. Berusaha mengingat lagi apa yang harus aku perbuat untuk kenal lebih jauh dengan nya.mencari cara yang tepat. Sampai pada akhirnya seorang sahabatku ternyata kenal dengannya. Aih, sekali lagi Tuhan berperan dalam kemudahan ini.
Lantas sesuatu bernama kimia kapan mempertemukan kami kembali. Bukan, aku tidak berbicara mengenai pelajaran kimia, dimana sang mantan guruku adalah seorang perempuan dewasa yang matang, yang bisa membuat aku pergi ke WC hanya untuk sekedar menghabiskan isi lotion. Kimia itu adalah sesuatu yang dinamakan hubungan kimia. Orang barat menyebutnya chemistry. 
Setidaknya membicarakan yang jauh lebih panjang dari pertemuan pertama. Tapi asa ku tidak terlalu besar pada pertemuan itu. Jelas, diminta nomer HP nya saja dia menolak dengan begitu anggunnya. Sepertinya memang caraku yang terlihat sangat bodoh sehingga pantas untuk tidak diberi nomer itu.
Tak ada maksud apa-apa?, bohong rasanya jika naluriku sebagai anak Adam yang bertemu Hawa tidak bergejolak. Tapi  Aku sepertinya harus menahan diri, karena dia sudah berpunya. Ah, tak apalah segala yang bersungguh-sungguh memang akan berwujud. Tuhan punya cerita yang berbeda, biarkan takdir saja yang menuntunku.
Sial, sepertinya lagu “When You Love Somenone” dari Endah N Rhesa sedang mengejekku berkompromi dengan malam yang bertebaran bintang. Tidak, tidak. Aku hanya ingin berbicara banyak dengannya dengan tendensi yang lebih nyaman tidak terjebak rasa-rasa yang bikin aku meracau. Biarkan malam yang memberi kabar baik itu. Mengajariku untuk besabar.
Ketika aku menulis catatan  ini mungkin kau sedang tidur terlelap menjejaki setiap mimpi. Jika memang tulisan ini bisa terhubung dengan mimpimu aku hanya ingin mengatakan “siang tak pernah seindah siang itu”
“When You someone just be brave to say”, suara Endah benar-benar sedang mengejekku tapi aku tidak bergeminng menghiraukan syair-syair syahdu itu. Aku tidak ingin menyebut rasa itu dengan nama cinta, aku hanya ingin mengatakan tentang keindahan yang nyata itu, tentang perempuan yang aku yakin kesayangan dari mentari.  Selamat pagi semoga kau suka baca tulisan yangku ini. Jika kau suka, kirim message difacebooku.:D

0 komentar:

Posting Komentar