Subuh tekah kembali menyapa. Meski aku jarang sholat tetapi
aku suka dengan suasana subuh begitu tenang dan syahdu. Tetapi yang pasti aku
belum juga tidur. Belakang ini terlalu suka kau begadang. Entah apa saja yang
aku kerjakan dari mulai main game, kadang membaca, kadang menulis kadang
berdiskusi di sekertariat-sekertariatku, kadang pula ngopi dengan kawan-kawan
di Bulek. Banyak hak yang ini kunikamti disetiap malam-malam yang larut.
Mungkin karena aku suka dengan ketenangan. Aku bisa membayangkan masa-masa yang
telah berlalu.
Pukul 03.37 WIB dengan lagu Tamasya menemani malam yang
telah larut. Kadang aku rindu dengan Mamah dan Ayahku. Bagaimana keadaannya
dirumah? Bagiaman Kopinya apakah sudah memberikan harapan-harapan? Tapi
belakang aku kecewa dengan Ayahku yang tak mengingat kelahiranku. Entah apa
alasannya karena itu pula aku mempunyai alasan untuk sementara waktu tidak
berkomunikasi dengan keluargaku di Garut. Sebentar lagi adikku Krishna akan
melanjutkan fase kehidupannya, dia bentar lagi akan kuliah, entah kemana,
tetapi aku harapakan ke Jogja, lebih
baik di Jember saja. Itu jauhlebih baik karena di Jember pun baik kualitasnya. Entahlah,
biarkan dia mandiri dan menentukan pilihan hidupnya, sudah waktunya adikku menginjakan
kakinya dengan kesadarannya sendiri tanpa orang lain yang mengaturnya.
Malam telah semakin pekat bentar
lagi langit membiru. Sudah tidak terasa aku hampir empat tahun di Jember. Di
kota yang dulu telah menjadi saksi kelahiranku. Semakin suka aku dengan Jember. Di Jember aku dilahirkan. Jember dengan sejuta
sejarahnya. Kalimat itulah yang pas aku sematkan pada Jember, karena di kota
yang banyak orang tidak mengenalnya, aku memulai awal sejarahku. Dari mulai aku
yang tidak mengenal banyak hal soal bagaimana sulitnya hidup diluar rumah itu
sampai saat ini aku sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kota Pandalungan ini.
Sudah banyak yang kukenal dari kota ini, banyak daerah yang sudah aku jelajahi. Kampus fakultas hukum telah
menjadi saksi bisu bagaimana aku berkemang dari "anak manusia" menjadi "manusia" yang seutuhnya. Meski sampai saat ini aku masih belum bisa mandiri soal uang
dan tetap menjadi beban orang tua. Sungguh hal itu sangat tidak menyenangkan
dan menjadi beban pikiran. Pastilah, aku anak laki-laki yang pertama, aku punya
adik-adik yang juga perlu dibiayai. Jika Ayahku membiayaiku terus sungguh aku
tidak kuasa membayangkannya. Dia sudah cukup tua untuk bekerja keras. Sedang
aku di usai yang sudah cukup matang masih saja meminta uang dari orang tua.
Memang solusinya jelas, yaitu bekerja untuk menghasilkan uang, tetapi
pertanyaan pertama yang harus dijawab kerja apa?
Saat ini saja kau masih sibuk
dengan proses penempaan yang sangat luar biasa untuk bekalku menghadapi
kehidupan yang katanya kejam itu. Di gelap yang mendekati terang ini. Aku hanya
ingin berdoa pada TUHAN.”ya Allah, tolonglah berikan kesehatan pada Ayah dan
Mamahku. Berikan kemudahan bagi adik-adikku untuk menggapai mimpi-mimpinya,
lindungilah mereka dengan kasih MU, dengan kuasaMU yang tiada tara. Ya Allah,
maafkan aku selama ini jika aku tidak berada dalam ridha mu. Maafkan atas semua
khilafku pada Mu ya Allah. Memang Engkau selalu ada untuk umat manusia. Kadang
aku melupkakan itu, entah aku tak punya alasan yang jelas pula YA ALLAH. Ya
Allah berikan hambamu ini kelancaran dalam membahagiakan orang tua hamba. Orang
tua hamba telah memberikan pengorbanan yang tiada tara bagi anaknya ini, meski
anaknya sendiri sering membuatnya sakit hati. “ya Allah tunjukan rahmat MU
untuk kedua orang tuaku”amien







0 komentar:
Posting Komentar