Minggu, 25 Maret 2012

Di Subuh, aku bercerita

-->
Subuh tekah kembali menyapa. Meski aku jarang sholat tetapi aku suka dengan suasana subuh begitu tenang dan syahdu. Tetapi yang pasti aku belum juga tidur. Belakang ini terlalu suka kau begadang. Entah apa saja yang aku kerjakan dari mulai main game, kadang membaca, kadang menulis kadang berdiskusi di sekertariat-sekertariatku, kadang pula ngopi dengan kawan-kawan di Bulek. Banyak hak yang ini kunikamti disetiap malam-malam yang larut. Mungkin karena aku suka dengan ketenangan. Aku bisa membayangkan masa-masa yang telah berlalu.
Pukul 03.37 WIB dengan lagu Tamasya menemani malam yang telah larut. Kadang aku rindu dengan Mamah dan Ayahku. Bagaimana keadaannya dirumah? Bagiaman Kopinya apakah sudah memberikan harapan-harapan? Tapi belakang aku kecewa dengan Ayahku yang tak mengingat kelahiranku. Entah apa alasannya karena itu pula aku mempunyai alasan untuk sementara waktu tidak berkomunikasi dengan keluargaku di Garut. Sebentar lagi adikku Krishna akan melanjutkan fase kehidupannya, dia bentar lagi akan kuliah, entah kemana, tetapi aku harapakan ke Jogja, lebih baik di Jember saja. Itu jauhlebih baik karena di Jember pun baik kualitasnya. Entahlah, biarkan dia mandiri dan menentukan pilihan hidupnya, sudah waktunya adikku menginjakan kakinya dengan kesadarannya sendiri tanpa orang lain yang mengaturnya.
Malam telah semakin pekat bentar lagi langit membiru. Sudah tidak terasa aku hampir empat tahun di Jember. Di kota yang dulu telah menjadi saksi kelahiranku. Semakin suka aku dengan Jember. Di  Jember aku dilahirkan. Jember dengan sejuta sejarahnya. Kalimat itulah yang pas aku sematkan pada Jember, karena di kota yang banyak orang tidak mengenalnya, aku memulai awal sejarahku. Dari mulai aku yang tidak mengenal banyak hal soal bagaimana sulitnya hidup diluar rumah itu sampai saat ini aku sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kota Pandalungan ini.
Sudah banyak yang kukenal dari kota ini, banyak daerah yang sudah aku jelajahi. Kampus fakultas hukum telah menjadi saksi bisu bagaimana aku berkemang dari "anak manusia" menjadi "manusia" yang seutuhnya. Meski sampai saat ini aku masih belum bisa mandiri soal uang dan tetap menjadi beban orang tua. Sungguh hal itu sangat tidak menyenangkan dan menjadi beban pikiran. Pastilah, aku anak laki-laki yang pertama, aku punya adik-adik yang juga perlu dibiayai. Jika Ayahku membiayaiku terus sungguh aku tidak kuasa membayangkannya. Dia sudah cukup tua untuk bekerja keras. Sedang aku di usai yang sudah cukup matang masih saja meminta uang dari orang tua. Memang solusinya jelas, yaitu bekerja untuk menghasilkan uang, tetapi pertanyaan pertama yang harus dijawab kerja apa?
Saat ini saja kau masih sibuk dengan proses penempaan yang sangat luar biasa untuk bekalku menghadapi kehidupan yang katanya kejam itu. Di gelap yang mendekati terang ini. Aku hanya ingin berdoa pada TUHAN.”ya Allah, tolonglah berikan kesehatan pada Ayah dan Mamahku. Berikan kemudahan bagi adik-adikku untuk menggapai mimpi-mimpinya, lindungilah mereka dengan kasih MU, dengan kuasaMU yang tiada tara. Ya Allah, maafkan aku selama ini jika aku tidak berada dalam ridha mu. Maafkan atas semua khilafku pada Mu ya Allah. Memang Engkau selalu ada untuk umat manusia. Kadang aku melupkakan itu, entah aku tak punya alasan yang jelas pula YA ALLAH. Ya Allah berikan hambamu ini kelancaran dalam membahagiakan orang tua hamba. Orang tua hamba telah memberikan pengorbanan yang tiada tara bagi anaknya ini, meski anaknya sendiri sering membuatnya sakit hati. “ya Allah tunjukan rahmat MU untuk kedua orang tuaku”amien

0 komentar:

Posting Komentar