-->
Gerakan
OMEK yang Mulai Lemah Syahwat
*Gulfino
Guevarrato
Ideologi adalah
satu dari sekian banyak konsep yang paling meragukan dan sukar di tangkap, yang
terdapat dalam ilmu-ilmu sosial, tidak hanya karena beragamnya pendekatan
teoritis yang menunjuk arti dan fungsi yang berbeda-beda. Akan tetapi karena
ideologi adalah konsep yang sarat dengan konotasi politik dan digunakan secara
luas dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai makna yang baragam. Ketika aku
membaca buku “Matinya ideologi karya Daniel Bell. Aku sediki terkejut. Tapi
setelah tuntas aku baca memang benar adanya dan itu akibat dari si penganut
ideologi itu sendiri.
Sebelum
melangkah lebih lanjut kita sepakati ideologi yang dimaksud adalah ideologi
hasil pemikiran manusia. Pada awalnya saya tidak percaya. Apa mungkin ideologi
yang telah menjadi agama baru dalam
perkembangan sejarah umat manusia bisa “mati”. Melihat manusia yang sangat
yakin dan menjunjung nilai-nilai ideologi apa mungkin bisa berakhir. Kematian
juga perlu disepakati, karena istilah kematian itu ada yang berarti binasa,
berpindah dari kondisi yang awal ke kondisi yang lain, atau mengalami perubahan
bentuk. Kematian yang dimaksud tentunya berpindahnya kondisi ideologi itu dari
kondisi yang sangat diyakini akhirnya salah menyakini dan menjadi sampah karena
menjadi berhala baru.
Kembali dalam
ideologi. Isme-isme modern tentang
ideologi membawa manusia pada jurang pemisah yang akhirnya tidak segan untuk
menghalakan segala cara hanya untuk memaknai kumpulan ide yang rata-rata utopis
itu. Konflik-konflik yang berlatar balakang isme-isme itu tidak hanya dalam
tataran intelektual, politik, tetapi juga massa yang menjadi pengikut isme-isme
itu. Selama ini konflik ideologi tidak jarang merambah ke tataran fisik, sampai
membinasakan lawan yang di anggap menghalangi ide-ide yang diyakini dalam
ideologi itu untuk membangun masyarakat
yang pada akhirnya Negara. Bentrokan fisik bahkan harus terjawab dengan
fakta jutaan umat manusia harus merelakan nyawanya untuk sebuah ideologi yang
dianggapnya bagi firman, titah Tuhan. Manusia yang menjunjung rasionalitas
akhirnya justru terkungkung dalam pemikirannya sendiri. Manusia tidak sadar
akan hal itu karena fanatisme(euphoria) pada ideologi justru membuat ideologi
itu statis dan pada akhirnya manusia jenuh lalu meninggalkan ide-ide itu.
Mencoba untuk
memperkecil ruang lingkup pembahasanku. Aku melihatnya di lingkungan kampus ku
sendiri, ketika di kampusku ada tiga OMEK(organisasi mahasiswa ekstra) yang
“menguasai” kampus. Ada GmnI, PMII, dan HMI. Dimana GmnI berideologi
Marhaenisme, PMII dan HMI berhaluan Islam. Ketiganya mencoba bersaing
menancapkan eksistensinya di kampus.
Salah satunya menghimpun anggota(kader) sebanyak-banyaknya lalu entah
kelanjutannya seperti apa. Karena orientasi pertama ketika berbicara eksistensi
hanyalah kuantitas. Sangat disayangkan
sekali dari sekian banyak mahasiswa yang masih bergairah menjadi bagian dari
OMEK harus dikalahkan oleh seleksi alam. Memang kita tidak bisa menafikan itu,
tetapi juga bukan berarti menjadi alasan ketika seleksi alam membiarakan
kader-kader tidak mampu optimal dalam berproses.Seleksi alam yang kumaksud yaitu bagaimana OMEK membiarkan bakat-bakat yang ada dalam individu kader-kader dibiarkan begitu saja menguap karena kepentingan-kepentingan OMEKR yang tidak tegas dalam proses pengembangan kader, maaf sebelumnya OMEK memang bukan seperti Lembaga Pengembangan Masyarakat. Penekanan OMEK lebih pada agen of change (sebenarnya aku malas menyebut kata puitis satu itu).
Dengan kata
lain-tanpa mencoba mendahului yang lebih paham-aku menyimpulkan bahwa telah
terjadi kesalahan dalam orientasi berorganisiasi ekstra, karena seperti yang
sudah dijelaskan sebelumnya ketika yang ditonjolkan hanya sebatas kuantitas,
bukan kualitas berideologi maka semua itu akan menjadi proses menunuju
kehancuran dari ideologi itu sendiri. OMEK yang membawa misi dari masing-masing
ideologi itu seharusnya mampu memberikan pemahaman berideologi untuk bangsa dan negara. Karena hampir
setiap OMEK adalah organisasi Kader
bukan organisasi Massa-seperti partai politik. Sehingga tidak perlu terjebak
dengan banyak sedikitnya anggota, tetapi bagaimana anggota yang ada di
optimalkan dalam proses kaderisasinya sehingga menciptkan kader-kader yang
paham dengan ideologi yang diyakininya. Hal ini banyak dilupakan oleh
kawan-kawan OMEK sehingga wajar saja ketika banyak anggotanya yang akhirnya
berguguran satu persatu, kalau menurutku bukan karena OMEK sudah tidak laku
lagi di mata mahasiswa, tetapi tidak ada yang menarik dengan apa yang
ditawarkan oleh OMEk, selain beasiswa, mengerjakan tugas anggota barunya, dekat
dengan dosen, atau ikut lomba debat,lomba
KTI, cepat lulus lalu bekerja melalui jaringan alumni. Bahkan ada OMEK
yang memperkenalkan profil organisasinya dengan membawa-bawa alumninya yang terkenal itu. Sungguh semua itu jauh
dari nilai-nilai ideologis yang selama ini menjadi cita-cita dari masing-masing
OMEK. Ketika “kampus” membiarkan pragmatisme merajalela dengan mengungkung
mahasiswa pada tugas-tugas kuliah, IPK 5.00(mungkin), pada nyatanya OMEK pun
tidak mampu menahan arus pragmatisme yang ada, malah menjadi bagiannya. Sungguh
tidak ada yang bisa di andalkan sepertinya.
Dibalik itu
semua, ada kegalauan yang mendalam yang ku alami, ketika pragmatisme sudah
menular ke OMEK, maka jangan salahkan ketika suatu saat nanti generasi-generasi
yang menurut Bung Karno progresif revolusioner sangat sulit ditemukan dikampus.
Maka secara tidak langsung jangan heran melihat banyak generasi-generasi muda
yang tidaki ‘ideologis’[1],
ambilah contoh sekarang, menjadi sangat wajar ketika mahasiswa yang seharusnya
sebagai agen perubahan dan yang mampu melakukan control sosial, dalam melihat
fenomena yang terjadi dimasyarakat seperti kemiskinan, diam saja dan asik
dengan dunianya sendiri yang sangat menunjung tinggi individualisme. Proses
kematian ideologi hanya menunggu waktu saja, ketika semakin banyak disorientasi
dari OMEK itu sendiri.
Cuap-cuapku
mengarah pada akhir. Muncul harapan dalam benakku, bahwa inti dari gerakan OMEK
seharusnya diluruskan oleh masing-masing pihak. Mengarahkan pada proses
kaderisasi yang terarah pada tujuan mulia dari masing-masing OMEK. Tidak perlu
lagi harus melakukan pembusukan-pembusukan antar OMEK untuk mendapatkan
anggota, karena itu akan sia-sia belaka. Kita harus sadar, bahwa tujuan kuliah
kita bukan hanya sebatas mendengarkan dosen, atau ikut lomba kesana kemari lalu
pulang membawa piala berlapis berlian. Bukan aku bermaskud mendikotomikan
antara yang intelek atau tidak, tetapi mahasiswa identik dengan
intelektualitasnya, sehingga apa salahnya ketika kita mampu memberikan manfaat
pada mereka yang membutuhkan dengan ilmu yang kita miliki dengan ideoligi yang
kita yakini. Ketika itu sudah terjadi maka banyak manfaat yang akan didapat,
tidak saja pada masing-masing individu, tetapi jua eksistensi dari
masing-masing OMEK pun akan diakui secara nyata dan tentunya membentuk
generasi-generasi muda yang berkualitas, tidak hanya bagi dirinya sendiri
tetapi juga bagi sekitarnya.
Kesalahan dalam
pemahaman berorganisasi pada saat sekarang ini justru mempertegas bahwa
ideologi tidak lagi penting dan hanya sebatas ‘kesukaan’ orang-orang tertentu
yang masih berpihak dengan cita-cita itu, selebihnya hanya sebatas omong kosong
yang selalu terpampang dalam madding-mading kampus[].
Semoga tulisan saya ini masih relevan dengan perkembangan kawan Pergerakan..
Merdeka (teriak "Merdeka" Belum tentu GmnI kan?).
Semoga tulisan saya ini masih relevan dengan perkembangan kawan Pergerakan..
Merdeka (teriak "Merdeka" Belum tentu GmnI kan?).
[1]
Ideologi yang ku maksud tentunya yang berkaitan dengan kebaikan. Kebersamaan.
Dari semua OMEK yang ada tujuan utamanya adalah menjunjung pancasila meski
terdapat perbedaan cara pandang untuk menuju ke arah sana.










betul banget vin, tapi, hanya sebagian orang bodoh saja yang tidak bisa berkembang dan mengandalkan jaringan yang belum tentu adanya,, maka berjuang sendiri itu lebih indah untuk membuka jaringan dan wawasan baru..
BalasHapussebenarnya ilmu yang di dapat dalam sebuah organisasi itu penting sekali, terlebih lagi bila mampu memanfaatkan ilmu yang telah di dapat untuk bertarung di dunia luar yang keras persaingan dari berbagai unsur,,
semangat kawan,,
teruslah berjuang,,