 |
| Toko Kopi Lama di Bandung |
LEBIH DARI SEKEDAR TEMAN PETUALANGAN
Kita itu adalah aku dan kamu, bukan lagi aku atau kamu. Kita adalah satu yang tidak dipisah oleh ke-aku-an. Kita adalah bagian dari kisah yang sempat diceritakan melalui hujan, dingin, gelap, lembah, kabut, lelah, damai dan kasih yang tak terpisahkan oleh alasan apapun, itu harapan terbesarku!.
 |
| Pantai Bande Alit |
Kita adalah bagian dari petualangan-petualangan yang penuh peluh, lelah, tawa, ceria dan kadang kesal. Sudah banyak cerita yang sempat kita buat untuk petualangan-petualangan itu. Petualangan yang tidak hanya sekedar memandangi keindahan saja, ada kegetiran, ada nestapa yang terlihat oleh kedua bola mata ini. Semuanya memang bercampur aduk menciptakan kisah yang lebih indah ketika diendapkan jaman lalu menceritakan kembali dikemudian hari ketika kita sudah sahih, ya bagai nikmatnya rum yang disimpan selama puluhan tahun.
Petualangan itu dimulai dari i Bande alit, dimana kita berdua terjebak hujan deras ditengah hutan Meru betiri sampai terjatuh karena licin batu-batu koral sebagai alas jalan satu-satunya yang bisa diakses menujut Bandealit. Kita pun pernah tersesat dihutan karet ketika menuju Rawa Cangak. Kau ingat? Untung saja waktu itu ada pencari rumput yang berbaik hati menunjukan arah yang benar. Pulangnya pun kita melewati jembatan bambu ala indiana Jones, melewati hutan jati dan bertemu orang tua yang bercerita soal Siwil , mahluk kerdil di hutan Meru Betiri. Tidak berhenti disitu, petualangan terus berlanjut dari mulai yang direncanakan sebelumnya sampai tidak direncanakan. Kita berpetualang karena alasan kejenuhan di kota Jember. Pada waktu kita sedang kelaparan tetapi tidak ingin makan disekitaran Jember kota. Lalu aku mengusulkan untuk ke Garahan, makan pecel. Sebelum ke Garahan tempat pecel-pecel itu berada, aku mengajakmu ke Gunung Gending tempat pemancar TVRI. Jalannya menanjak, sangat sepi. Selidik punya selidik tempat itu rawan pemalakan. Alhamdulilah kita selamat.
 |
| Baluran |
Apa kau masih ingat ketika kita berhenti di Arak-arak, memandangi lautan Jawa dari ketinggian sambil makan kripik singkong? Waktu itu kita petualangan pertama kita keluar kota, tujuan kita pasir putih Situbondo. Sebelum ke Situbondo, aku ingin mengenalkan pada mu soal sejarah. Oleh karena itu aku mengajakmu ke stasiun Bondowoso. Stasiun tua yang sudah tidak terpakai itu meninggalkan sejarah bisu tentang peristiwa Gerbong Maut. Apa kau masih ingat cerita gerbong maut yang pernah aku ceritakan, sayang?. Cerita itu berlanjut, aku pun mengajakamu ke Besuki, dimana Besuki pada masa kolonial sebagai kota yang cukup ramai dan berperan penting di keresidenan Besuki. Aku pun mengajakmu ke bangunan tua peninggalan Belanda di dekat polsek Besuki. Sesampainya di Situbondo, kita ke jalan tembus. Aku sengaja mengajakmu ketempat itu karena tempat itu begitu indah, tak berlebihan jika kau membayangakan tempat itu seperti bukit teletubies, memang tidak jauh berbeda bukan?
 |
| DPR RI |
Setelah itu kita beristirahat sejenak sambil memandangi gunung Putri tidur. Oh ya, di Situbondo, aku mengajakmu untuk mencicipi kuliner kesukaanku yaitu Nasi Goreng Kutub Utara yang kebetulan pemiliknya temanku. Enak engga mie gorengnya? Enak bukan. Beberapa minggu kemudian, kita merancanakan untuk kembali berpetualangan dengan menunggangi motor Revo merah itu. Motor itu memang motor yang akan menjadi sejarah dan saksi kebersamaan kita berdua ya!. Tujuan petualangan selanjutnya adalah Taman Nasional Baluran. Lelah sekali bukan waktu itu? Kita melewati hutan Baluran dan tikungan tajam Jurang Tangis yang terkenal banyak memakan korban. Cuaca pada waktu itu sangat panas, aku dan kamu sama-sama tidak mengenal medan di Baluran. akhirnya kita pun sampai di Bekol memandangi hutan Taman Nasional Baluran dari ketinggian. Angin benar-benar melenyapkan lelah, kita menikmati kesejukan diatas Bekol sambil menikmati ayam teriyaki yang kau masak untukku. Terima kasih sayang!.
 |
| Gunung Putri Tidur |
|
|
Pulangnya kita terus blusukan menuju Banyuwangi. Kali itu kita memang benar-benar berpetualangan, penuh tantangan. Ban si Revo meletus sebelum kita masuk gunung Gumitir, pada waktu itu jarum jam menunjukan angka 8. Alhmdulilah rasanya meski ada musuibah kita masih bisa menghela nafas syukur. Bagaimana jika meletusnya tepat diatas Gumitir yang gelap?. Waktu itu kau sangat lelah sekali, aku menuntuntumu terus untuk bisa berjalan. Ehm, kurang lebih kita berjalan 3km ya?. Kamu memang luar biasa untuk selalu menemani setiap petualanganku. Akhirnya titik cerah itu muncul juga, aku menemukan tambal ban. Selamatlah kita!
 |
| Trans Studio |
Kita sempat melanjutkan petualangan dengan lebih menyenangkan. Kali ini, tujuan kita lebih luas lagi yaitu 3 Provinsi. Jakarta, Bandung, Jogja. Petualangan kita lebih nyaman karena tidak menunggangi si merah tetapi naik bus AC executive bintang 3. Kebetulan pada waktu itu di kampus ada kegiatan studi lapangan di Jakarta ke MPR RI dan Mahkamah Pelayaran. Sebenarnya acaranya sungguh tidak berguna. Hanya hura-hura yang berkedok pendidikan tetapi peduli setan dengan semuanya, kami hanya ingin jalan-jalan, itu saja. Kita lebih dekat dan lebih nyaman pada waktu itu karena selama 5hari kita selalu bersama. Indah sekali bukan, nda? Apalagi ketika di Ciwalk ketika kau membelikanku sebotol Heineken, bercerita soal Bandung yang romantis. Aku berhasil membawa pasanganku ke kota yang penuh dengan cerita di masa laluku. Di Jogja pun, aku mengajakmu ketempat duduk pertamaku di Jogja ketika aku benar-benar pertama kalinya mengunjungi kota impian kita berdua untuk S2 nanti.
Setelah itu beberapa hari yang lalu, ketika semua orang sibuk meninggalkan Jember untuk menuju kampung halamannya masing-masing karena Universitas Jember sedang libur pasca UAS, kita justru masih bertahan di kota pelajar yang sepi ditinggal penguhinya ini. Oleh karena itu kita merencanakan untuk mengisi liburan ini dengan petualangan baru yang penuh dengan cerita yang baru pula. Kita bersama kawan-kawan lainnya kali ini menunjungi Ijen dan berwisata di Banyuwangi. Aku sangat bangga dengan mu yang berhasil sampai di puncak Ijen, dimana ketinggian kawah Ijen berada di 2830 mdpl. Awalnya kau terengah-engah untuk sampai di puncak, kau sangat tak kuasa untuk bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak tetapi dengan penuh semangat, selangkah demi selangkan akhirnya langkahmu itu membawamu di kawah Ijen.memandangi kabut tipis bearoma belerang. Dibawah sana pun kita melihat kawah Ijen yang berwarna biru. Sungguh sangat indah bukan?. Pulangnya pun kita berhadapan dengan ketegangan, jalan yang kita lalui bukan lewat Bondowoso tetapi melalui Banyuwangi. Dimana jalannya begitu sepi, kita melewati hutan lindung yang tak ada satu rumahpun. Waktu itu jam setengah 6 sore, hujan gerimis dan jalan licin karena jalannya masih sangat bagus. Waw, begitu menegangkan apalagi kau menemukan pengalaman mistis disana.
Keindahan apalagi yang ingin kita ceritakan? Sebenarnya masih banyak lagi, ada Papuma, ada desa-desa di Jember yang kita kunjungi ketika jam jenuh melanda. Apalagi? Tentunya ada beberapa kisah yang sangat menarik untuk kita lanjutkan ceritanya. Aku hanya bisa berharap kalau kisah petualangan ini terus berlanjut. Dimana kita akan menceritakan kisah-kisah ini pada anak cucu kita.
Terima kasih, Anggie Puspita Chris Agata, kau sudah menemani banyak petualanganku dan sudi untuk banyak berbagi dengaku. Ik Hou Van Jou,ladies Supertr
|
Ik hou ook van jou
BalasHapushahha...akhirnya punya blog jg kamu,
BalasHapusemank punya aku dr dlu .. haha
BalasHapus