Selasa, 22 Januari 2013

Di Lereng Bromo Cerita itu dikisahkan













Sungai Lahar Bromo

Berawal dari tugas kuliah hukum Tata Guna Tanah, kami sekelas pun melakukan studi empiris di gunung Bromo. Aku sih lebih sepakat perjalananku ini sebagai hura-hura yang berbasis edukasi daripada studi lapangan karena memang kami lebih banyak bermain-mainnya daripada belajarnya. Well, semuanya memang dikemas dengan menyenangkan, penuh kekeluargaan. Proses edukasinya memang tidak terlalu dominan tetapi aku rasa itu tidak terlalu penting sebab kami semua menjadi lebih dekat dengan teman-teman sekelas. Lumayanlah untuk bisa sekedar berbagi cerita dikemudian hari bukan?
Kukenal Bromo sudah sejak lama bahkan ketika aku masih berada di Garut, waktu itu aku hanya sebatas membayangkan bisa berada dipadang pasir gunung Bromo setelah menonton film ‘pasir berbisik’. Dimana dalam film itu settingnya berada dilautan pasir gunung Bromo. Sungguh indah bayanganku pada waktu itu. Oleh karena itu aku sangat antusias ketika ada tugas lapangan di Bromo. Pasti aku ikut. Sekali lagi tujuanku bukan untuk sekedar belajar saja tetapi aku ingin banyak mengabadikan pemandangan gunung Bromo di kamera DSLR D5100 NIKON. 

Bromo

Kebetulan aku memang sangat suka memotret landscape. Aku pun sedang belajar untuk bisa menghasilkan foto yang bagus, tidak perlu banyak mengedit fotonya. Niatku itu harus aku realisasikan apapun caranya. Awalnya aku mengajak kawanku untuk ke kawah Bromo tetapi mereka banyak yang menolak. Okelah tak apa, aku sendiri menyusuri lautan pasir itu sendiri. Tujuanku hanya satu yaitu bagaimana aku bisa mengaktualisasikan minatku pada fotografi dengan memotret pemandangan semaksimak mungkin.
Perjalanan ke kawah Bromo diawali dengan menanti matahari terbit. Aku bangun dari jam 4 pagi tetapi sayang sekali awan sedang tidak bersahabat, mendung terlalu berkuasa sehingga matahari tidak juga muncul. Okelah, sekali lagi tidak menjadi masalah. Kurang lebih jam 8 pagi aku mulai turun kebawah. Menyusuri setiap jengkal pasir Bromo. Ada ketenangan yang kurasa ketika berada ditengah-tengah lautan pasir Bromo, aku pun mengunjungi tempat syutingnya pasir berbisik dengan berjalan kaki, cukup jauh memang. Lalu aku melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo dari pasir berbisik tetapi ditengah-tengah jalan menuju kawah ada sungai sisa lahar dingin dari gunung Bromo. 

Bromo
Tujuan utamaku tetap kawan Bromo tetapi sesampainya di atas ada sedikit tragedi di lereng Bromo, aku terjatuh di sisi lereng sebelah luar ketika tripod dan tas lensaku jatuh di sisi luarnyanya tetapi ditengah derita itu masih saja ada untunyanya sebab aku masih bersyukur tidak jatuh disisi dalam kawah, bisa mati tidak berguna aku kalau jatuh kebawah. Bisa dibayangkan bagiaman jatuhku itu, aku terjatuh berguling-guling menyelamatkan dua benda itu, memang tidak terlalu sakit tetapi kakiku akhirnya kram dan tidak bisa digerakan. Orang-orang diatasku hanya bersorak kagum. Sial, aku jadi tontonan banyak orang, tak sedikit yang bertepuk tangan. Apa mereka pikir aku sedang atraksi sirkus ya? Bahkan ada beberapa yang memotretku “mas, aku foto ya untuk kenang-kenangan”kata salah seorang pengunjung. Aku sama sekali tidak mempedulikan mereka semua karena memang kaki sedang sakit-sakitnya. Tidak ada juga yang menolong karena medannya cukup sulit untuk diakses. Melihat banyak yang menonton aku harus segera berdiri dan menunujukan tampang biasa saja meski sebenarnya aku sedang menahan sakit dan malu. Niatku untuk memotret malah aku yang di foto-foto bak pemain sirikus konyol yang berguling-gulin g dilereng Bromo demi tripod dan tas lensa. Semua benda itu masih baik-baik saja, tidak ada kerusakan sediki pun.
Aku pun segara beranjak naik ke jalan para pengunjung tentunya dengan wajah biasa saja. Banyak orang yang datang menanyakan keadaanku “mas tidak ada yang luka kan?”tanya seorang ibu padaku “well bu, alhamdulilah tidak ada yang luka” jawabku dengan biasa saja. Pengalamanku jatuh dilereng Bromo memang memalukan pada waktu itu tetapi menjadi kisah yang menarik setalah aku berhasil melewati itu semua.
Aku pun tidak begitu saja menyerah untuk berburu banyak gambar. Ku lanjutkan perlajananku menyusuri sungai lahar dingin itu, aku tertarik menyusuri tempat itu karena tempat itu seperti grand canyon di Amerika, ngarai purba kikisan sungai Colorado. Sepertinya perjalanku memang sedang tidak berjodoh dengan kondisi kakiku yang semakin tidak membaik lalu aku pun bergegas naik ke lauatan pasir. Sial memang tak bisa ditolak, kakiku benar-benar tidak bisa menahan tubuhku, aku pun tersungkur jatuh ditengah lautan pasir, tak ada seorang pun ada disekitarku karena aku memang tidak berada dijalur pengunjung tetapi dijalur yang aku suka, dimana jalurku itu memang jauh dari tempat biasa pengunjung biasa lalu lalang menuju kawah Bromo.
Penunggang Kuda di Bromo
 Sekitar 30menit kaki kanan dan kiriku tak bisa digerakan, aku hanya bisa berdoa saja sambil berusaha menggerakan kaki, memijat-mijat kakiku. Alhamdulilah, ada tukang ojek yang datang menghampiriku. “ayo mas, numpak ae (ayo mas, naik ojek saja)” tukan ojek itu menawariku, sungguh bagai malaikat bapak ojek itu. “ oke mas” jawabku dengan semangat. Aku akhirnya diantar oleh bapak ojek itu sampai atas, memang masih terasa sakit kaki ini tetapi masih bisa digerakan. Sekali lagi, aku masih belum juga menyerah. Kumaksimalkan tenagaku, aku menjepret beberapa view Bromo dari kejauhan. Pikirku pada waktu itu, jangan sampai terjatuhku dari lereng Bromo menjadi sia-sia tanpa menghasilkan banyak gambar-gambar di  Bromo.
Setelah selasai hunting aku kembali ke penginapan, Bromo memang memberikan pengalaman yang sungguh sangat menarik dan sulit untuk dilupakan begitu saja. Ditengah lauatan pasir itu aku merasakan ketenangan, dianatara angin gunung  yang sepoi-sepoi. Selain itu lautan Pasir memang indah dan eksotis, nuansa petualangannya benar-benar terasa. Terima kasih Bromo di lerengmu, aku sempat menuliskan cerita yang tak akan pernah begitu saja kulupakan!
Gunung Batok


Aku sangat suka pada setiap perjalananku. meski dilalui dengan berbagi cara dan berbagai kesulitan. Semuanya begitu indah karena aku Supertramp

0 komentar:

Posting Komentar