Pernahkan
kau berpikir soal kebagaian yang sempat
tertunda?. Kita mencarinya, mencari dibalik lemari, bantal atau sandal mungkin.
Intinya kita akan senantiasa mencari kebahagian itu bukan? Lalu apakah kita
pernah berpikir juga kalau kebahagiaan itu didapat dengan cara yang bkolerbeda-beda.
Seseorang berbahagia dengan cara yang tidak membahagiakan bagi orang lain,
contoh mudahnya kelompok orang-orang penganut masokis yang menemukan
kebahagiaan dengan cara yang tidak lazim yaitu menyiksa diri sendiri atau
bahkan seseorang bisa pula bahagia dibawah penderitaan orang lain. Apakah kita
akan sepakat jika manusia hidup itu untuk mencari bahagia? Biasa kita dengan
dalam doa-doa “semoga engaku berbahagia di dunia dan akhirat”. Selalu saja
seperti itu, hanpir semua agama memang menawarkan kebahagiaan. Tentunya cara memperoleh bahagia itu berbagai
macam dan dengan caranya masing-masing.
Hari
ini aku bertemu dengan dua orang yang berbeda. Pertama aku bertemu dengan
seorang pengusaha yang cukup sukses di Jember. Mungkin kita sudah tahu House
Music, pemiliknya bernama pak Agus Susanto. Ia bercerita padaku soal filosofi
orang china yang terus mengejar harapan-harapan yang mereka miliki dari mulai
sejak mereka mampu sampai mereka tidak mampu untuk mewujudkan mimpinya. Etnis
tionghoa memang terkenal ulet dan gigih mengejar mimpinya, tak heran jika
dengan mudah kita menemui banyak pengusaha yang keturunan etnis tionghoa.
Kebahagian bagi mereka adalah dengan bekerja sebab bekerja adalah salah satu
bentuk realisasi dari meraih mimpi. Sampai aku sempat bertanya pada pak Agus
Susanto “lalu kapan mereka menikmati hasil dari bekerja itu pak? Kalau memang
setiap saat mereka terus bekerja dan bekerja” tanyaku padanya. “ya aku sendiri
tak pernah bingung, kita merasakan
kebahagian dengan cara bekerja. Mungkin kami menikmati kebahagian dan jerih
payah kami ya dengan bekerja. Mungkin bagi kamu, aku (ethis Tionghoa) tidak
menikmati hidup karena terus mengejar target ya memang benar.” Jawab pak Agus
Susanto “ tetapi dengan mengejar mimpi itu lalu mendapatkan mimpi itu.
Disitulah kami merasa bangga dan bahagia. Sebab yang diimpikan berhasil
didapatkan”.
Dengan
semangat yang tak pernah padam tak heran jika kawasan bisnis, hampir disetiap
daerah di Indonesia ini selalu ada etnis tionghoa. Bahkan pada masa
pemerintahan Hindia Belanda dengan
mengeluarkan aturan nomer>>>>>>> soal pemusatan etnis
tionghoa yang kemudian hari kita kenal sebagai pecinan. Kembali soal semangat
kerja etnis tionghoa tadi tidak datang begitu saja karena mereka memilik
pemahaman itu berasal dari nenek moyang . kebiasaan itu tetap dipertahankan
hingga saat ini. Semangat memang menentukan usaha kita untuk maju atau tidak.
Lain
dengan Pak Agus Susanto, lain pula dengan bapak montir vespa. Kebetulan pada
waktu itu Vespaku sedang butuh perawatan. Disela-sela ia mengotak-atik mesin
Vespaku, ia bercerita soal anak dan istrinya. Dari bengkel ini ia mampu menghidupi keluarganya, jelas ia
mengatakan itu dengan penuh rasa bangganya. Ketika aku Tanya soal berapa lama
ia membuka bengkel ini “saya dari sejak tahun 1980, mas”jawabnya. Wow itu bukan
waktu yang sebentar bukan? “apa dari dulu bapak membuka bengkel ditempat
ini?”tanyaku padanya . “iya, saya ditempat ini dari dan kondisnya memang
seperti ini”jawabnya dengan penuh bangga. Aku pun bertanya tentang waktu yang
lama itu dan kenapa it tetap mempertahankan profesi sebagai montri Vespa “soal totalitas dan kesenangan, mas. Saya melakukan ini dengan tidak sembarang.
Saya pun sempat belajar di bengkel resmi Vespa Piagio di Jakarta sana”
jawabnya. Tak lama dari obrolan itu ia
masuk kedalam rumahnya dan menunjukan sertifikan kelulusan sebagi montir Vespa
dari dealer resmi vespa di Indonesia. Bapak montir itu tidak banyak mencari
mimpi-mimpi meski sebenarnya ia mampu membuat bengkelnya menjadi lebih besar
dari keadaan sekarang tetapi sepertinya
ia menikmati kesederhanaan itu. Dari kesederhanaan itu ia mampu memperoleh kebahagiaan. Jelas ada
perbedaan yang mencolok soal bagaimana seseorang memperoleh kebahagiaan. Pak
Agus Susanto tadi dengan cara terus bekerja dan mencari mimpi-mimpinya yang
lain, sampai ia mengakui sendiri kalau kadang ia lupa menikmati hasil yang
diperoleh tetapi memperoleh kebahagiaan ketika berhasil memperoleh mimpinya.
Sedangkan bapak montir vespa berbeda
lagi ia dengan tekun dan total membangun bengkel vespanya atas dasar ia senang
dan cinta terhadap scooter Vespa sehingga dengan bekerja menjadi montir ia
sudah sangat bahagia. Dari bengkel sederhana itu pula ia mampu memberikan
kebahagian bagi keluarganya, menyekolahkan anaknya sampai lulus kuliah.
Kebahagiaan
memang absurd dan kadang tidak dapat dinalar. Aku merasa bahagia ketika aku
duduk ditengah gelap dan melihat bintang yang begitu luas di alam raya ini. Itu
kebahagiaan yang membuat batin menjadi tenang tetapi ada pula yang berbahagia
dengan cara menyakiti orang yang disayanginya. Itu pun aku pernah rasakan
ketika kebahagiaan yang ia dapat setelah berhasil membuatku resah. Ada pula
orang yang berbahagia dengan cara berbohong “aku tidak pakai Blackberry Massanger”
nyatanya ia berbahagia dengan itu meski ia telah membohongi orang lain. Aku
sangat berbahagia ketika aku berkeliling tanah Jawa dan Indonesia yang luas
meski aku harus tertidur di peron stasiun Lempuyangan, mandi di POm Bensin
Blitar atau tidur dihotel remang-remang di Jakarta. Itu sungguh kebahagian yang
tak terhingga. Aku bahagia ketika jatuh dari lereng gunung Bromo meski kakiku
kram dan tak sembuh-sembuh. Memang kebahagian tak dapat diukur meski
kebahagiaan itu membuat orang lain disekitar kita menjadi korbannya.
Ah,,,dari
soal kekesalan saja aku membicarakan kebahagian. Padahal aku sedang
sekesal-kesalnya karena aku merasa dibohongi oleh idealisme oleh orang yang
selalu berkata bahwa dirinya special. #kaya martabak aja special.
Sudah..aku
hanya bisa melawan lewat tulisan saja. kalau lewat telvon hanya buang-buang
baterai dan enegeri karena pasti akan menimbulkan amarah.






0 komentar:
Posting Komentar