Kamis, 03 Januari 2013

Bahagia itu apa? (absurd)


Pernahkan kau berpikir  soal kebagaian yang sempat tertunda?. Kita mencarinya, mencari dibalik lemari, bantal atau sandal mungkin. Intinya kita akan senantiasa mencari kebahagian itu bukan? Lalu apakah kita pernah berpikir juga kalau kebahagiaan itu didapat dengan cara yang bkolerbeda-beda. Seseorang berbahagia dengan cara yang tidak membahagiakan bagi orang lain, contoh mudahnya kelompok orang-orang penganut masokis yang menemukan kebahagiaan dengan cara yang tidak lazim yaitu menyiksa diri sendiri atau bahkan seseorang bisa pula bahagia dibawah penderitaan orang lain. Apakah kita akan sepakat jika manusia hidup itu untuk mencari bahagia? Biasa kita dengan dalam doa-doa “semoga engaku berbahagia di dunia dan akhirat”. Selalu saja seperti itu, hanpir semua agama memang menawarkan kebahagiaan.  Tentunya cara memperoleh bahagia itu berbagai macam dan dengan caranya masing-masing.

Hari ini aku bertemu dengan dua orang yang berbeda. Pertama aku bertemu dengan seorang pengusaha yang cukup sukses di Jember. Mungkin kita sudah tahu House Music, pemiliknya bernama pak Agus Susanto. Ia bercerita padaku soal filosofi orang china yang terus mengejar harapan-harapan yang mereka miliki dari mulai sejak mereka mampu sampai mereka tidak mampu untuk mewujudkan mimpinya. Etnis tionghoa memang terkenal ulet dan gigih mengejar mimpinya, tak heran jika dengan mudah kita menemui banyak pengusaha yang keturunan etnis tionghoa. Kebahagian bagi mereka adalah dengan bekerja sebab bekerja adalah salah satu bentuk realisasi dari meraih mimpi. Sampai aku sempat bertanya pada pak Agus Susanto “lalu kapan mereka menikmati hasil dari bekerja itu pak? Kalau memang setiap saat mereka terus bekerja dan bekerja” tanyaku padanya. “ya aku sendiri tak pernah  bingung, kita merasakan kebahagian dengan cara bekerja. Mungkin kami menikmati kebahagian dan jerih payah kami ya dengan bekerja. Mungkin bagi kamu, aku (ethis Tionghoa) tidak menikmati hidup karena terus mengejar target ya memang benar.” Jawab pak Agus Susanto “ tetapi dengan mengejar mimpi itu lalu mendapatkan mimpi itu. Disitulah kami merasa bangga dan bahagia. Sebab yang diimpikan berhasil didapatkan”.
Dengan semangat yang tak pernah padam tak heran jika kawasan bisnis, hampir disetiap daerah di Indonesia ini selalu ada etnis tionghoa. Bahkan pada masa pemerintahan  Hindia Belanda dengan mengeluarkan aturan nomer>>>>>>> soal pemusatan etnis tionghoa yang kemudian hari kita kenal sebagai pecinan. Kembali soal semangat kerja etnis tionghoa tadi tidak datang begitu saja karena mereka memilik pemahaman itu berasal dari nenek moyang . kebiasaan itu tetap dipertahankan hingga saat ini. Semangat memang menentukan usaha kita untuk  maju atau tidak.

Lain dengan Pak Agus Susanto, lain pula dengan bapak montir vespa. Kebetulan pada waktu itu Vespaku sedang butuh perawatan. Disela-sela ia mengotak-atik mesin Vespaku, ia bercerita soal anak dan istrinya. Dari bengkel  ini ia mampu menghidupi keluarganya, jelas ia mengatakan itu dengan penuh rasa bangganya. Ketika aku Tanya soal berapa lama ia membuka bengkel ini “saya dari sejak tahun 1980, mas”jawabnya. Wow itu bukan waktu yang sebentar bukan? “apa dari dulu bapak membuka bengkel ditempat ini?”tanyaku padanya . “iya, saya ditempat ini dari dan kondisnya memang seperti ini”jawabnya dengan penuh bangga. Aku pun bertanya tentang waktu yang lama itu dan kenapa it tetap mempertahankan profesi sebagai montri Vespa  “soal totalitas dan kesenangan, mas.  Saya melakukan ini dengan tidak sembarang. Saya pun sempat belajar di bengkel resmi Vespa Piagio di Jakarta sana” jawabnya.  Tak lama dari obrolan itu ia masuk kedalam rumahnya dan menunjukan sertifikan kelulusan sebagi montir Vespa dari dealer resmi vespa di Indonesia. Bapak montir itu tidak banyak mencari mimpi-mimpi meski sebenarnya ia mampu membuat bengkelnya menjadi lebih besar dari keadaan sekarang  tetapi sepertinya ia menikmati kesederhanaan itu. Dari kesederhanaan itu ia  mampu memperoleh kebahagiaan. Jelas ada perbedaan yang mencolok soal bagaimana seseorang memperoleh kebahagiaan. Pak Agus Susanto tadi dengan cara terus bekerja dan mencari mimpi-mimpinya yang lain, sampai ia mengakui sendiri kalau kadang ia lupa menikmati hasil yang diperoleh tetapi memperoleh kebahagiaan ketika berhasil memperoleh mimpinya. Sedangkan bapak montir vespa  berbeda lagi ia dengan tekun dan total membangun bengkel vespanya atas dasar ia senang dan cinta terhadap scooter Vespa sehingga dengan bekerja menjadi montir ia sudah sangat bahagia. Dari bengkel sederhana itu pula ia mampu memberikan kebahagian bagi keluarganya, menyekolahkan anaknya sampai lulus kuliah.

Kebahagiaan memang absurd dan kadang tidak dapat dinalar. Aku merasa bahagia ketika aku duduk ditengah gelap dan melihat bintang yang begitu luas di alam raya ini. Itu kebahagiaan yang membuat batin menjadi tenang tetapi ada pula yang berbahagia dengan cara menyakiti orang yang disayanginya. Itu pun aku pernah rasakan ketika kebahagiaan yang ia dapat setelah berhasil membuatku resah. Ada pula orang yang berbahagia dengan cara berbohong “aku tidak pakai Blackberry Massanger” nyatanya ia berbahagia dengan itu meski ia telah membohongi orang lain. Aku sangat berbahagia ketika aku berkeliling tanah Jawa dan Indonesia yang luas meski aku harus tertidur di peron stasiun Lempuyangan, mandi di POm Bensin Blitar atau tidur dihotel remang-remang di Jakarta. Itu sungguh kebahagian yang tak terhingga. Aku bahagia ketika jatuh dari lereng gunung Bromo meski kakiku kram dan tak sembuh-sembuh. Memang kebahagian tak dapat diukur meski kebahagiaan itu membuat orang lain disekitar kita menjadi korbannya.

Ah,,,dari soal kekesalan saja aku membicarakan kebahagian. Padahal aku sedang sekesal-kesalnya karena aku merasa dibohongi oleh idealisme oleh orang yang selalu berkata bahwa dirinya special. #kaya martabak aja special.
Sudah..aku hanya bisa melawan lewat tulisan saja. kalau lewat telvon hanya buang-buang baterai dan enegeri karena pasti akan menimbulkan amarah. 

0 komentar:

Posting Komentar