| I'm Supertramp |
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan
saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak
punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh
angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai
kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur,” - Soe
Hok Gie
| sendang biru |
Seolah lelah selama
perjalanan 3 jam dari Batu menuju Sedang biru terbalaskan oleh pemandangan
Sendang Biru dan sensasi pulau Sempu. Aku dan Mico, temanku dari Tegalboto yang
juga sebagai fotografer professional, sudah tak sabar rasanya untuk berenang di
laguna pulau Sempu. Laguna itu bernama Segara anakan. Laguna merupakan sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang
yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya.
Sendang Biru hanya sebagai pintu gerbang menuju surga dunia yang kami cari-cari selama ini. Tak berlebihan rasanya jika aku menyebut Sempu sebagai surga dunia yang Tuhan ciptakan dengan tersenyum, begitu indah (katanya). Kami berdua belum pernah menginjakan kaki di pulau Sempu dan hanya mendengar dari cerita dan tulisan-tulisan yang membahas soal Sempu sehingga kami masih menduga-duga. Cerita yang (katanya) indah itu harus segera kami buktikan oleh karena itu aku dan Mico segera membagi tugas, aku mencari kapal dan Mico mengurusi perijinan. Untuk masuk ke pulau sempu, terlebih dahulu meminta ijin pada BKSDA yang bertanggung jawab disana, tujuannya untuk keamanan dan briefing-briefing kecil seputar pulau Sempu.
Sendang Biru hanya sebagai pintu gerbang menuju surga dunia yang kami cari-cari selama ini. Tak berlebihan rasanya jika aku menyebut Sempu sebagai surga dunia yang Tuhan ciptakan dengan tersenyum, begitu indah (katanya). Kami berdua belum pernah menginjakan kaki di pulau Sempu dan hanya mendengar dari cerita dan tulisan-tulisan yang membahas soal Sempu sehingga kami masih menduga-duga. Cerita yang (katanya) indah itu harus segera kami buktikan oleh karena itu aku dan Mico segera membagi tugas, aku mencari kapal dan Mico mengurusi perijinan. Untuk masuk ke pulau sempu, terlebih dahulu meminta ijin pada BKSDA yang bertanggung jawab disana, tujuannya untuk keamanan dan briefing-briefing kecil seputar pulau Sempu.
Sepertinya rencana kami tidak berjalan dengan
baik, sebab aku terkejut ketika mendapat penjelasan calo kapal terkait harga
sewa kapal. “ seratus ribu mas dan guide nya seratus juga” begitu penjelasan
calo kapal “wah mahal banget pak” sergah ku. “ya sudah kalau mau lebih murah
cari sepuluh orang, mas” calo itu mencoba memberikan solusi. Terus terang saja,
aku sama sekali buta soal pulau Sempu dan
aku hanya bawa uang sangat pas sekitar 150rb, Mico pun sepertinya sama
tak banyak membawa uang. Tak pernah kuduga sebelumnya kalau harus memakai guide
dan membayar semahal itu. #aku merasa pasti calo kapal itu mencoba
mempermainkanku. Brengsek!
| tebing Segara Anakan |
Ternyata kesialan itu tidak berlangsung lama
dengan bermodalkan keramahan dan banyak tanya pada pengunjung Sendang biru
untuk mencari siapa yang akan menyeberang ke Sempu akhirnya aku bertemu dengan
rombongan anak SMA yang ingin menyebarang ke pulau sempu. Mereka anak-anak SMA
Hang Tuah Surabaya yang ingin kepulau Sempu dengan style yang tidak tepat. “kau pikir
Sempu itu Tunjungan Plaza dek” gurauku pada mereka. Jelas saja salah gaya,
sebab gaya mereka tak ubahnya boyband-boyband yang biasa nyanyi lip sing. Peduli
apa aku dengan gaya mereka, sekarang bagiamana aku bisa sampai di pulau Sempu. Segera saja aku ajak mereka untuk join ,
mereka pun sama seperti kami yang sebelumnya belum pernah ke pulau Sempu tetapi
aku bilang ke mereka kalau aku pernah ke pulau ini sebelumnya sehingga aku
menjadi guide mereka. Sepertinya tawaranku cukup menarik bagi mereka sehingga
tanpa berlama-lama mereka mengiyakan. Jelas kami tak perlu membayar
mahal-mahal, aku dan miko hanya membayar
10.000 untuk berdua karena jumlah penumpangnya 11 orang Ok, Sempu
aku datang meski datang dengan sedikit keoportunisan. hehe!
| Segara Anakan |
| Terowongan masuknya Air laut |
| Pantai Segara Anakan |
| Laguna Segara Anakan |
Setelah
terkatung-katung hampir satu jam di Sendang biru, akhirnya kami berdua berangkat.
Deru Suara mesin perahu meraung-raung keras ditambah bau solar yang mengudara
di sekitar dek perahu menjadi kawan kami siang itu. Pulau Sempu yang katanya eksotis
itu harus benar-benar disahihkan keeksotisannya dengan kami buktikan sendiri. Perjalanan
menyeberang menuju pulau Sempu sekitar 15 menit. Lalu Kami harus melanjutkan
perjalanan yang jaraknya kurang lebih sekitar 2 km. Medannya sangat becek,
untung saja aku tadi menyewa sepatu yang khusus trek becek sehingga dengan
leluasany aku berjalan bahkan berlari meski akhirnya harus terjatuh dlumpur. Sungguh
menarik sekali perjalanan ini sebab kami harus melewati hutan cagar alam pulau
Sempu dimana kaya akan keanekaragaman flora dan fauna. Selama perjalanan aku
melihat sekelompok monyet, lutung dan beberapa burung yang aku tak tahu namanya.
| Medan menuju Segara Anakan |
Sebelum kami berangkat penduduk sekitar
memberitahu kami kalau perjalanan menuju lagunanya sekitar 4jam, ternyata 4 jam itu bagi mereka yang banyak
berisitirahat. Kami melewati hutan pulau Sempu tak lebih dari 50menit dengan
medan yang becek dan licin karena memang kami tidak banyak membuang-buang waktu
dan sedikit beristirahat. Memang cukup lelah perjalanan itu tetapi rasanya semua
itu terbayarkan oleh kelembutan pasir putih Segara anakan dan segarnya air laut
membentuk laguna. Semuanya kompak membentuk keindahan yang tak terbatahkan. Segera
saja setelah melepas tas aku segera menerjang kesegaran air asin yang terpisah
dari lautan itu. Benar-benar segar!
| Cukup Becek |
Sempu
benar-benar mengingatkanku pada film The Beach produksi tahun 2000. Lokasi syuting
film itu berada di Thailand tepatnya Hat Maya, Phi Phi Leh. Jika kubayangkan
lagi, sepertinya Sempu tak jauh berbeda dengan pantai yang menjadi tempat
syuting film The Beach. Mungkin terlalu berlebihan? Buktikan saja untuk datang
ke Sempu. Sungguh indah panorama pantai Segara anakan bagai kolam renang
raksasa sebab sekelilingnya dibatasi oleh terumbu karang besar. Air laut yang
masuk ke Segara anakan melalui celah kecil serupa dengan terowongan, jika
gelombang tinggi maka air laut akan masuk ke dalam Segara Anakan itu sehingga membentuk laguna.
| Suasana Pantai Segara Anakan dari atas tebing |
| Shit! Garbage |
Memang sampah-sampah itu tidak merusak
keindahan pulau Sempu dan Segara anakannya tetapi sampah-sampah itu tidak
melengakapi keindahan yang ada. Seharusnya kita lebih menyadari kalau sampah-sampah itu justru akan membuat Sempu
menjadi tidak menjadi indah di kemudian hari. Uh semoga saja itu tidak terjadi.
| Sebut saja ini Sampah |
Setelah
2 jam kami menikmati keindahan Segara anakan, segera kami bergegas untuk kembali
ke Sendang Biru dan kembali berjalan
melewati medan yang becek dan licin seperti sebelumnya. Sempu memang benar-benar indah, deburan ombang
yang masuk melalui celah Segara anakan, dinginya air Laguna Segara anakanya dan
pasir halusnya membuat kami terhibur dan sejenak melupakan segala lelah dan
penat yang ada.
Terima
kasih Sempu. Pesanku kalau memang ingin ke Sempu tolong Sampahnya diperhatikan.
Jangan membuang sampah Sembarangan, sebab Pulau Sempu saat ini kedudukannya
bukan sebagai lokasi wisata tetapi sebagai cagar alam, dimana banyak
keaneragaman hayati yang ada disana. Apabila kita membiarkan Sempu tercemar
oleh kebodohan pengunjungnya maka resiko yang lebih besar menanti.
Selamat
mengunjungi Pulau Sempu, kawan
| Selagi kaki ini bisa melangkah, selagi tangan ini masih bisa menggengam, selagi semangat ini selalu membara. selama itu pula banyak petualangan yang akan kuceritakan |






siiippp
BalasHapusini yang saya suka
makasih bro
BalasHapus