Minggu, 06 Januari 2013

Cerita dari Laguna (Pulau Sempu)

I'm Supertramp




Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur,” - Soe Hok Gie


sendang biru
Seolah lelah selama perjalanan 3 jam dari Batu menuju Sedang biru terbalaskan oleh pemandangan Sendang Biru dan sensasi pulau Sempu. Aku dan Mico, temanku dari Tegalboto yang juga sebagai fotografer professional, sudah tak sabar rasanya untuk berenang di laguna pulau Sempu. Laguna itu bernama Segara anakan. Laguna merupakan sekumpulan air asin yang terpisah dari laut oleh penghalang yang berupa pasir, batu karang atau semacamnya.
Sendang Biru hanya sebagai pintu gerbang menuju surga dunia yang kami cari-cari selama ini. Tak berlebihan rasanya jika aku menyebut Sempu sebagai surga dunia yang Tuhan ciptakan dengan tersenyum, begitu indah (katanya). Kami berdua belum pernah menginjakan kaki di pulau Sempu dan hanya mendengar dari cerita dan tulisan-tulisan yang membahas soal Sempu sehingga kami masih menduga-duga. Cerita yang (katanya) indah itu harus segera kami buktikan oleh karena itu aku dan Mico segera membagi tugas, aku mencari kapal dan Mico mengurusi perijinan. Untuk masuk ke pulau sempu, terlebih dahulu meminta ijin pada BKSDA yang bertanggung jawab disana, tujuannya  untuk keamanan dan briefing-briefing kecil seputar pulau Sempu.
Sepertinya rencana kami tidak berjalan dengan baik, sebab aku terkejut ketika mendapat penjelasan calo kapal terkait harga sewa kapal. “ seratus ribu mas dan guide nya seratus juga” begitu penjelasan calo kapal “wah mahal banget pak” sergah ku. “ya sudah kalau mau lebih murah cari sepuluh orang, mas” calo itu mencoba memberikan solusi. Terus terang saja, aku sama sekali buta soal pulau Sempu dan  aku hanya bawa uang sangat pas sekitar 150rb, Mico pun sepertinya sama tak banyak membawa uang. Tak pernah kuduga sebelumnya kalau harus memakai guide dan membayar semahal itu. #aku merasa pasti calo kapal itu mencoba mempermainkanku. Brengsek!

tebing Segara Anakan
Ternyata kesialan itu tidak berlangsung lama dengan bermodalkan keramahan dan banyak tanya pada pengunjung Sendang biru untuk mencari siapa yang akan menyeberang ke Sempu akhirnya aku bertemu dengan rombongan anak SMA yang ingin menyebarang ke pulau sempu. Mereka anak-anak SMA Hang Tuah Surabaya yang ingin kepulau Sempu dengan style yang tidak tepat. “kau pikir Sempu itu Tunjungan Plaza dek” gurauku pada mereka. Jelas saja salah gaya, sebab gaya mereka tak ubahnya boyband-boyband yang biasa nyanyi lip sing. Peduli apa aku dengan gaya mereka, sekarang bagiamana aku bisa sampai di pulau Sempu.  Segera saja aku ajak mereka untuk join , mereka pun sama seperti kami yang sebelumnya belum pernah ke pulau Sempu tetapi aku bilang ke mereka kalau aku pernah ke pulau ini sebelumnya sehingga aku menjadi guide mereka. Sepertinya tawaranku cukup menarik bagi mereka sehingga tanpa berlama-lama mereka mengiyakan. Jelas kami tak perlu membayar mahal-mahal, aku dan miko hanya membayar  10.000 untuk berdua karena jumlah penumpangnya 11 orang Ok, Sempu aku datang meski datang dengan sedikit keoportunisan. hehe!
Segara Anakan




Terowongan masuknya Air laut



Pantai Segara Anakan





Laguna Segara Anakan
Setelah terkatung-katung hampir satu jam di Sendang biru, akhirnya kami berdua berangkat. Deru Suara mesin perahu meraung-raung keras ditambah bau solar yang mengudara di sekitar dek perahu menjadi kawan kami siang itu. Pulau Sempu yang katanya eksotis itu harus benar-benar disahihkan keeksotisannya dengan kami buktikan sendiri. Perjalanan menyeberang menuju pulau Sempu sekitar 15 menit. Lalu Kami harus melanjutkan perjalanan yang jaraknya kurang lebih sekitar 2 km. Medannya sangat becek, untung saja aku tadi menyewa sepatu yang khusus trek becek sehingga dengan leluasany aku berjalan bahkan berlari meski akhirnya harus terjatuh dlumpur. Sungguh menarik sekali perjalanan ini sebab kami harus melewati hutan cagar alam pulau Sempu dimana kaya akan keanekaragaman flora dan fauna. Selama perjalanan aku melihat sekelompok monyet, lutung dan beberapa burung yang aku tak tahu namanya.

Medan menuju Segara Anakan
 Sebelum kami berangkat penduduk sekitar memberitahu kami kalau perjalanan menuju lagunanya sekitar 4jam,  ternyata  4 jam itu bagi mereka yang banyak berisitirahat. Kami melewati hutan pulau Sempu tak lebih dari 50menit dengan medan yang becek dan licin karena memang kami tidak banyak membuang-buang waktu dan sedikit beristirahat. Memang cukup lelah perjalanan itu tetapi rasanya semua itu terbayarkan oleh kelembutan pasir putih Segara anakan dan segarnya air laut membentuk laguna. Semuanya kompak membentuk keindahan yang tak terbatahkan. Segera saja setelah melepas tas aku segera menerjang kesegaran air asin yang terpisah dari lautan itu. Benar-benar segar!
Cukup Becek

Sempu benar-benar mengingatkanku pada film The Beach produksi tahun 2000. Lokasi syuting film itu berada di Thailand tepatnya Hat Maya, Phi Phi Leh. Jika kubayangkan lagi, sepertinya Sempu tak jauh berbeda dengan pantai yang menjadi tempat syuting film The Beach. Mungkin terlalu berlebihan? Buktikan saja untuk datang ke Sempu. Sungguh indah panorama pantai Segara anakan bagai kolam renang raksasa sebab sekelilingnya dibatasi oleh terumbu karang besar. Air laut yang masuk ke Segara anakan melalui celah kecil serupa dengan terowongan, jika gelombang tinggi maka air laut akan masuk ke dalam Segara Anakan itu  sehingga membentuk laguna.

Suasana Pantai Segara Anakan dari atas tebing
Pada hari itu kebetulan sekali Segara anakan sedang ramai dan banyak tenda-tenda yang didirikan. Jikaku hitung-hitung ada sekitar 20 tenda-an. Suasana pulau Sempu benar-benar meriah pada hari itu tetapi sayiang sekali kemeriahan itu tidak dibarengi dengan kesadaran untuk menjaga kebersihan di Segara anakan atau pulau Sempu secara umum. Banyak pengunjung yang kemah disana dengan sengaja meninggalakan kotoran sisa-sisa keperluan mereka sehingga disisi yang lain Segara anakan terlihat kumuh dan tak teratur. Aku sangat prihatin melihat itu semua, aku pun mencoba mengajak Mico untuk membersihkannya dengan semampu kami tetapi memang sampah terlalu banyak seolah usaha kami dan beberapa teman-teman pecinta alam yang peduli dengan kebersihan pulau Sempu tidak banyak berguna karena di tempat yang tak jauh dari kami memunguti sampah, aku melihat orang-orang membuang bungkus makanannya begitu saja. Bajinganlah!


Shit! Garbage
 Memang sampah-sampah itu tidak merusak keindahan pulau Sempu dan Segara anakannya tetapi sampah-sampah itu tidak melengakapi keindahan yang ada. Seharusnya kita lebih menyadari kalau  sampah-sampah itu justru akan membuat Sempu menjadi tidak menjadi indah di kemudian hari. Uh semoga saja itu tidak terjadi. 

Sebut saja ini Sampah
Setelah 2 jam kami menikmati keindahan Segara anakan, segera kami bergegas untuk kembali ke  Sendang Biru dan kembali berjalan melewati medan yang becek dan licin seperti sebelumnya.  Sempu memang benar-benar indah, deburan ombang yang masuk melalui celah Segara anakan, dinginya air Laguna Segara anakanya dan pasir halusnya membuat kami terhibur dan sejenak melupakan segala lelah dan penat yang ada. 


Terima kasih Sempu. Pesanku kalau memang ingin ke Sempu tolong Sampahnya diperhatikan. Jangan membuang sampah Sembarangan, sebab Pulau Sempu saat ini kedudukannya bukan sebagai lokasi wisata tetapi sebagai cagar alam, dimana banyak keaneragaman hayati yang ada disana. Apabila kita membiarkan Sempu tercemar oleh kebodohan pengunjungnya maka resiko yang lebih besar menanti.
Selamat mengunjungi Pulau Sempu, kawan

Selagi kaki ini bisa melangkah, selagi tangan ini masih bisa menggengam, selagi semangat ini selalu membara. selama itu pula banyak petualangan yang akan kuceritakan

2 komentar: