Senin, 21 Januari 2013

Pak Heru: Cintailah Proses, nak!

saya dan Pak Heru

Perjumpaan pertama kami terjadi pada tahun 2004, ketika itu ia membacakan puisi W.S Rendra “sajak sebatang Lisong”. Ia adalah seorang guru bahasa Indonesia, masih muda, revolusioner dan sangat energik. Awalnya sedikit berkerut dahiku melihat gaya mengajarnya yang aneh dan sedikit asing bagiku dan teman-teman sekelas. “belum juga kenalan, guru ini sudah langsung saja teriak-teriak baca puisi” pikirku. Pada waktu itu ia baru saja sebagai guru pengganti karena guru bahasa Indonesia yang sebelumnya pindah ke Bandung, kebetulan di SMP kami - SMP DAYA SUSILA- ,hanya 2 orang guru bahasa Indonesia karena memang  jumlah kelas d SMP DAYA SUSILA sedikit. Dari kelas 1 sampai kelas 3 hanya 6 kelas, maklum saja karena SMP Swasta yang mayoritasnya entis tionghoa. Tetapi dengan jumlah murid yang sedikit itu membuat siswa-siswi di SMP Daya Susila pada waktu itu lebih terperhatikan dan terkontrol baik di bidang akademiknya maupun mentalitas belajarnya. Tak sedikit dari kami yang pada akhirnya masuk di SMA-SMA unggulan, bahkan SMA unggulan di Bandung sebut saja SMA 3, 5 Bandung, SMA Aloysius, SMA Santa Angela. Bahkan beberapa dari kawanku ada yang sekolah di Amerika, Singapura dan Australia.
Soal guru aneh itu kembali berlanjut. Setiap selesai test mingguan, kami sekelas di ajak nonton film. Untuk pertama kalinya pula kami diperkenalkan dengan film-film yang aneh pula. Pada waktu itu kami sangat asing menonton film “Novel Tanpa Huruf R”. Hem, itu film yang terasa aneh bagi kami, yang pada waktu itu masih hijau memahami sastra, novel, puisi apalagi film. Ia lambat lain menjadi pembeda, menjadi pembaharu. Mencerahkan kami yang terbiasa dijejali oleh matematika, fisika yang memuakan. SMP kami pada waktu itu lebih menekankan bidang eksak daripada Humaniora.

Guru muda itu bernama Heru Haerudin, seorang guru bahasa Indonesia yang sudah khatam membaca sastra, filsafat dan budaya.  Ia memposisikan kami bukan sebagai objek didik  tetapi subjek didik. Kami diajak untuk mengenal pelajaran dengan menyelami langsung subjek bahasan. Sebagai contoh, ketika belajar puisi maka kami dibiasakan untuk membuat puisi dan membacakannya, ketika kami belajar drama maka kami pun harus bisa membuat naksah dan mementaskannya, bahkan lebih dari itu ia bercerita tentang banyak hal. Dikelas, ia membiasakan untuk berdiskusi dan memberikan kesempatan pada siswa untuk tidak sependapat dengannya. Dari proses belajar itu membuat kami lebih leluasa dalam menyerap ilmu dan mengenal guru muda itu tidak hanya dikelas tetapi juga diluar kelas, ia lebih cocok sebagai teman kami.

Pada waktu itu aku yang lebih banyak tidak sependapat denganya. Aku sering banyak bertanya soal novel-novel yang kebetulan aku sudah membacanya karya Pramoedya Ananta Toer dan Achdiaya Katamiharja. Kami sering beredebat soal novel itu sebab pada waktu itu tema bahasanya soal karya sastra. Dari proses belajar itu aku pada akhirnya dekat dengannya. Kebetulan pak Heru sebagai pengasuh radio sekolah dan aku sebagai penanggung jawab dari OSIS. Kami banyak berdiskusi di ruang siaran di sela-sela jeda siaran. Banyak yang kami perbincangkan dari mulai film, sastra, puisi dan perempuan. Ia sangat paham dengan cerita-ceritaku, benar-benar bukan guru yang  biasa.

Pak Heru pun sering meminjamkan buku padaku. Ada satu buku yang sangat luar biasa yang pernah aku baca. Buku bersampul merah fotocopy-an itu berisi pernyataan Perdana Menteri Soebandrio tentang peristiwa G30/S. Buku itu tidak dicetak secara luas, hanya kalangan tertentu saja yang mempunyai buku itu. Selain itu buku revolusi Oktober di Russia yang membuatku semakin tertarik membaca buku Marxis pada waktu itu.

Pak Heru pun mengajari aku soal puisi dan sastra lainnya. Ia sering menyuruhku membuat puisi dan menempelnya di mading. Ingat sekali aku pada waktu itu, judul puisi pertamaku “Inter Milan”, aku pun masih menyimpan puisi pertama itu. Dengan bahasa yang sangat sederhana dan cendurung bukan seperti puisi tetapi pak Heru terus mengajariku membuat dan menghayati puisi sampai pada akhirnya aku menjadi bagian dari kelompok puisi SMP Daya Susila untuk mengikuti lomba menulis dan antologi puisi Chairil Anwar. Itulah pengalaman pertamaku mengikuti lomba baca puisi dan menulis puisi.

Sejak saat itu aku sangat senang menulis puisi meski aku sendiri yakin bahwa puisiku masih sangat sederhana tetapi setidaknya aku jujur dengan puisiku, ada keterwakilan jiwaku dalam puisi yang kutulis.Keterwakilan itulah yang sering pak Heru katakan padaku ketika kami berdiskusi di ruang siaran.

Ketika aku kelas 3 SMP, pak Heru tidak mengajar dikelas kami lagi, digantikan oleh bu Lilis. Jelas, kami tidak terima dan meminta pak Heru sebagai guru bahasa Indonesianya, kelas 3B tidak menerima bu Lilis sebagai guru bahasa Indonesia kami karena gaya mengajarnya yang seperti guru-guru SMP negeri yang sangat apatis dan tidak menarik. Tidak ada proses diskusi, tidak ada nonton film, tidak ada perdebatan. Kemuakan itu semakin memuncak sehingga kami pun melakukan mogok belajar dan menolak bu Lilis masuk kelas. Singkatnya, kami menolak diajar oleh bu Lilis dan menutut tetap oleh Pak Heru.

 Diakhir masa studiku di SMP, aku bercerita pada pak Heru soal terpilihnya aku sebagai ketua GSNI cabang Garut. Pak Heru hanya berpesan “ketika kamu tidak suka dan merasa tidak srek, maka berhentilah” pesannya, ia pun menambahkan “cintailah proses fin, kamu akan mendapatkan hasil yang indah ketika kamu mencintai proses itu”. Pesan itu selalu aku ingat sampai saat ini, ketika waktu itu sudah beranjak menuju tahun yang sudah berganti.Dan benar, aku melalui banyak proses, menemui banyak cerita yang mematangkanku sebagai seorang laki-laki dewasa yang siap untuk meraih segala harapan yang dulu sempat aku ceritakan padamu, bapak guru.

 Pak Heru guru muda itu kini tidak lagi muda, ia sudah mempunyai anak perempuan yang lucu. Beberapa bulan lalu ketika aku pulang ke Garut aku menyempatkan berkunjung kerumahnya, tentu saja ia tidak berubah sedikit pun meski usianya semakin matang. Ia tetap pak Heru sebagai seorang guru yang kukenal, berjiwa muda, energik dan tetap revolusioner. Sebelum pulang ia pun memberiku buku “kaladhita karya Seno Gumira Adjidarma”. Pak Heru pun sangat senang ketika ia tahu kalau aku sekarang menjadi PU di persma di Universitas Jember. Lalu ia berpesan

“ fin, dulu bapak pernah bilang, cintailah proses. Apa kamu ingat itu?”. tanyanya
“Tentu saja pak”jawabku
“bapak akan sangat senang sekali ketika kamu pun bisa terlibat untuk mengajak generasi-generasimu untuk lebih menyukai budaya tulis daripada budaya lisan. Kenapa Eropa, Mesir atau kebudayaan lainnya terlihat lebih hebat dari kebudayaan di Indonesia.kamu tahu? Suaranya masih sangat berkarkter
“aku tahu pak, salah satunya karena kebudayaan kita tidak banyak meninggalkan peninggalan-peninggalan tulisan yang bisa dibaca digenerasi berikutnya”jawabku padanya
“benar sekali. Mari, Ayo kita bersama-sama membudayakan budaya tulisan daripada budaya lisan”
Itulah pesan pak Heru sebelum aku pulang.

Itulah sekelumit romantika kami dengan Pak Heru, seringkali aku merindukan hari-hari berada dalam ruang kelas bersama Pak Heru, membicarakan soal puisi, sastra. Ia selalu mengingatkanku pada Gie, tentu aku yakin ia tidak seperti Gie yang lebih memilih mati muda atau terasing daripada tunduk kemunafikan. Ia adalah kesederhanaan seorang guru yang mengajari muridnya dengan semangat, dengan ide-ide gilanya. Ketika Andrea Hirata sangat mengagumi Bu Muslimah, gurunya di SD Muhamadiyah Gantong, aku punya seorang Guru yang memberikan kesan mendalam yang tak mungkin akan aku lupakan. Ia pernah menjadi spirit bagiku.
Hem, terlalu kelu aku menceritakannya. Aku terlalu melankolik ketika berbicara tentang orang-orang yang berarti dalam perjalanan hidupku. Sekali lagi, ia telah mengajariku banyak hal, mengeja kehidupan dengan posisinya sebagai seorang guru bahasa Indonesia yang progresif dan revolusioner, minimal pada waktu itu. Sampai hari ini, ia telah meninggalkan banyak kenangan dan pelajaran bagiku, termasuk pesannya " cintailah proses, fin"

Terima kasih, Pak Heru. Aku baru mengenal guru sebagai pahlawan tanda jasa semenjak bertemu denganmu dan itu ada dalam sosok mu. Kau tidak hanya sekedar guru dalam ruang kelas, namun juga kawan tempat berbagai cerita banyak hal dan mendengarkan ide-ide labilku
 Merdeka!!!. 

0 komentar:

Posting Komentar