Minggu, 27 Januari 2013

Biarkan kamu Cum Laude di mata Tuhan



Mungkin itulah kegetiran? Mungkin itu kegagalan? Atau mungkin juga itu kekalahan yang membuahkan penyesalan dan kekecewaan?. Semunya memang serba mungkin, hanya diri kita yang merasakan tentang semua yang terjadi. Termasuk tentang Cum Laude, ada yang bermimpi mendapatkan predikat itu, ada pula yang acuh karena itu tidak begitu penting tetapi predikat itu memang begitu membanggakan. Apalagi jika kita berhasil menunjukannya pada orang tua yang kita sayangi. Sadarlah, sekarang pun tidak sedikit diantara kita yang mendapatkan predikat sebagai cum lauder tetapi mendapatkannya dengan cara yang tidak elegan sama sekali. Menampilkan wajah memelas, sok pintar dengan kekesongan atau apapun lah. Intinya cum laude bukanlah segalanya yang bisa membuat kita menjadi lemah. Aku rasa orang tua kita akan lebih bangga ketika anaknya setelah lulus bisa bekerja dengan manfaat dan mampu menghidupi keluarganya. Jelas itu lebih ‘prestasi’ dari pada  cum laude yang sebats statistik saja.

Cum laude tak lagi istimewa!
Sengaja aku menulis ini untukmu, kawanku. Kesedihanmu memang beralasan karena  belum berhasil membahagiakan orang tuamu, melihat pancaran kebanggan orang tuamu ketika kau lulus dengan predikta cum laude, tapi ingatlah itu bukan segalanya yang membuatmu menjadi patah arang lalu meratapi keadaan ini dan tak bisa beranjak. Aku tahu betul kapasitasmu seperti apa? Tentu saja, selama kita menjadi saling mengenal kau cerdas dan terampil itu sudah menjadi modal penting hanya saja keberuntungan atau mungkin kebaikan masih melindungimu sebab tidak sedikit yang mendapat predikat cumlaude dikampus kita bermain curang dengan menjadi pelacur intelektual, ya anggap saja pelacur intelektual bagi mereka yang suka mengemis nilai, mencari muka didepan dosen dengan menutupi kebopengannya. Tak perlu risau, matahari masih terus menyinari, selama itu pula kau harus sadar bahwa semangat itu harus tetap membara. Cum laude atau tidak cum laude bukan hal yang penting lagi sebab  kau masih lebih layak mendapatkan itu semua meski tidak disahihkan dalam angka dan patung cinderamata tanda cum laude. Semua memang serba simbol saja.

Sedih bukan alasan dominan.
Sekarang bukan saatnya memikirkan cum laude atau tidak. Kebahagian orang tuamu tidak ditentukan sebatas itu saja bukan? Sebab seperti yang sudah ku bilang tadi selagi matahari masih terus bersinar selama itu pula kemungkinannya semakin besar untuk membuat keluargamu bahagia. Sedangkan cum laude hanya cangkang-cangkang kecil yang sudah harus kau lalui, percuma juga kita cum laude tetapi pada akhirnya menjadi pengangguran terdidik. Sungguh sayang bukan? Atau pecuma juga mendapat predikta cum laude  lalu berkerja di perusahaan besar tetapi tidak menjadi manfaat bagi sekitarnya.

Kawanku yang ku sayang, aku pernah bercerita soal filosofi china tidak? Ada yin dan yang, dimana dalam lingkarang terdapat warna putih dan hitam, tentu kau tau bukan kalau itu semua soal keseimbangan? . keseimbangan dalam kehidupan ini, mungkin saja kau tidak mendapatkan predikat itu pada hari ini karena Tuhan ingin menyeimbangkan kehidupanmu di masa yang akan datang. Ketika manusia hidup selalu bahagia tanpa pernah merasakan getir itu namanya bukan manusia yang sejati bukan?. Ayolah, sudah jangan  biarkan dirimu menjadi lemah karena tujuang yang tak sempat kau capai. Kebahagian itu bagai oksigen yang terbang bebas diudara, ada disekitar kita, tinggal bagiamana kita menjaringnya untuk diri kita.

Aku selalu ingat tentang cita-citamu, tujuan hidupmu setelah kita berkenalan banyak hal yang kita lakukan untuk saling mengedukasi diri. Dari proses dialektis itu, pada akhrinya menghadirkan dirimu yang tidak ‘itu-itu saja’. Semua yang kau dapat dihari ini adalah usaha murnimu, yang tak berlebihan ketika aku bilang bahwa nilai-nilai yang kau dapat suci dari proses belajarmu sebagai mahasiswa. Bukanlah hasil merendahkan idealismemu untuk sebatas simbol-simbol angkat atau huruf yang tak mempunyai bobot atau lebih sederhananya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Untuk kawanku, yang sempat menjadi pendamping revolusi hidupku. Sudah bukan saatnya ratapan itu terus kau biarkan menggoresmu dalam penyesalan. Ingat, waktu kita sudah mendekati akhir. Kebersamaan sudah mendekati batasnya. Oleh karena itu siapakan diri kita untuk masuk dalam rimba kehidupan yang  lebih kejam dari kehidupan kampus, yang intrik-intriknya paling keras soal pemilihan dekan, paling umum soal pelacuran pada nilai, yang paling mungkin sekarang adalah memperbesar kemungkinan yang ada tengah kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Dirimba kehidupan nanti, pasti kita akan bertemu dengan kebopengan-bopengan yang lebih tragis dari yang pernah kita temui di kampus. IPK mu yang kau dapatkan  sekarang ini sudah sangat membuat ku puas, minimal aku sebagai ‘teman’mu. Itu saja. Selamat malam. 

0 komentar:

Posting Komentar