Jumat, 06 April 2012

Untuk Dia Yang berjarak


-->
Kudengar ringkih jangkrik diantara desir angin yang menahan rindu. Malam tetap bisu, angkuh dan dingin seolah tak peduli dengan kerinduan yang tak tertahan, membuat ku racau, kelu pada waktu yang hanya diam saja, bahkan hanya untuk mendengar kisahku yang tak kunjung berkesudahan ini. Ingatan itu silih berganti dengan wajah lelah aku terlelap. Aku benar-benar lelah karena perjalanan backpakerku menguras tenagaku, sampai pada akhirnya aku dan kamu bertemu dalam maya. Sepertinya Tuhan mempunyai andil, sejak aku tak sengaja mengingatmu di senja yang sunyi, lalu aku mencoba mengobatinya dengan mencoba berkomunikasi kembali setelah hampir dua tahun kita hilang ditelan harapan-harapan masing-masing. Dan aku yakin Tuhan mempunyai andil dengan mempertemukan kita dalam dunia virtual ini. Kita sempat membicarakan sedikit tentang malam-malam yang lalu, seolah mengungkapkan betapa bodohnya aku dulu.
Mungkin aku dulu belajar mengeja hidup, memaknai rasa yang penuh misteri lalu kita menghambur untuk saling membuka diri, menceritakan apa yang dirasakan. Ingin ku katakana padamu.  “Aku melupa pada yang mula, aku mulai mengerti bagaimana kerut kerut di dekat bibirmu mencipta sendu di antara senyum yang coba kau perlihatkan, sendu itu adalah bahasa lain yang tiba-tiba saja lebih aku sukai dari segala yang ku mengerti darimu. Dan paras lugu yang kau rangkai dalam pejam, dalam lelap, mungkin juga mimpi mimpi adalah wajah malam yang tiba-tiba saja mengajarkanku perihal rindu, lebih indah dari Papandayan saat menjemput pagi, lebih menenangkan dari kopi, juga puisi. sungguh aku tergesa untuk mengerti bagaimana segalanya telah selesai sedang aku belum memulai sepatah cerita pun. Lalu pada akhirnya aku hanya mengenal sesal jika malam membawa ingatanku padamu”

 Ketika degup jantung semakin berdetak kencang, aku sadar, kita telah lama berjarak, lama tak saling bertatap atau kau bahkan lupa dengan wajahku?dengan kekakuanku dulu yang setiap malam menanyakan “apa kamu ada PR?”. Sampai kau gusar  dengan tingkahku yang kaku dan menyebalkan itu dan aku dulu masih saja sulit untuk setia.  Aku tertawa satire membayangkan kembali hari-hari itu.  Aku tak ingin menyesali keadaan itu biarkan akupun menjadi angkuh sama seperti waktu yang tak pernah bisa mentolerir keadaan ini. Tapi aku tak bisa, Ma. Entah, mulai sejak kapan aku membiasakan diri untuk merindukanmu. Merindukan waktu bersama kita yang singkat itu, dari situ saja seolah waktu member petunjuk bahwa kita tidak punya alasan untuk saling merindu. Itu bohong, itu tidak benar.
Lagi, aku mencoba mengadu pada malam yang bisu. Menceritakan soal mimpi-mimpi atau aku bertanya pada mu, Ma. Salahkah aku mengendap-ngendap ke dalam mimpimu? mencuri ujung bibirmu yang kini senantiasa basah oleh lelaki lain. Sementara kau begitu leluasa datang sebagai ingatan kapan saja bahkan di saat yang tak kuinginkan ada-mu. Kau seringkali membuatku kacau, racau, pada waktu, pada tempat, yang bahkan antara aku dan dirimu tak pernah ada bersama-sama di dalamnya. Lalu, dengan paksa, kau bawa aku pada kenyataan rumit yang tak memberikanku pilihan lain memahaminya, kecuali dengan meninggalkan. Pergi lebih jauh, dan, mungkin tak akan pernah pulang lagi. Karena kepulanganku, bukan pada kenangan-kenangan menyakitkan. Kita memang perlu berbicara lagi di mimpi, menyelsaikan kisah kita agar tuntas.
Aku sadar, sesadar-sadarnya aku. Malam telah sedikit bercerita padaku bahwa kau sudah tak lagi sendiri. Kisahmu berlanjut dengan pilihanmu yang sama juga saling menjaga, saling membicarakan masa depan. Tidak lagi ada aku disana, karena aku hanya ada dimasa lalu mu. Aku sadar akan hal itu. Aku ingin benar-benar ingin melihatmu bahagia dengan yang terbaik mu itu. Lalu mengabarkan padaku tentang hari-hari yang bahagia itu. Aku pasti senang. Sungguh senang, karena dulu aku tak mampu buatmu senang. Meski aku sedikit menanahan air mata yang tak seharusnya kuteteskan. Huft. Aku ingin hilang ingatan tentang mu, tentang hari-hari itu. Itu saja. Aku tak ingin menjadi arsenic  yang merusak kisah indah kalian.
"PERGI"

                                                                                                            
Ada yang sengaja selalu Ku lupa
Dan Ku biarkan,
Menjadi rahasia

Selamat jalan, Sayang...
Tanpaku,
Masa depan adalah mengantar keinginan pada kenyataan(di ambil dari puisinya Mas Halim)

Selamat malam Ma, semoga kau bahagia. Waktu menuntun kita pada kebersamaan dan oleh waktu pula kita dipisahkan, sepertinya akan benar-benar dipisahkan. Biarkan detik mengendapkan rinduku, agar rindu tak lagi membebani hidupku. aku ingin kita wajar bertukar kabar, membicarakan malam-malam yang berjarak lalu memberikan sebagian malamku untuk mu.
Bersama surat ini kukirimkan padamu tentang Sepotong malam, dengan angin, ringkih Jangkrik.aku berharap kita dapat bertemu lagi dimimpi membicarakan malam-malam yang panjang, melepas rindu. Mendekapmu lebih erat lebih dekat .
If I leave here tomorrow
Would you still remember me?
For I must be traveling on now
Cause there are too many places I’ve got to see
But if I stay here with you girl
Things just couldn't feel the same
Cause I'm as free as a bird now
And this bird you cannot change...
(Lynyrd Skynyrd, Free Bird)

Selamat malam, perempuanku yang berjarak!!!!
Semoga kau Bahagia!!

0 komentar:

Posting Komentar