-->
Kudengar ringkih
jangkrik diantara desir angin yang menahan rindu. Malam tetap bisu, angkuh dan
dingin seolah tak peduli dengan kerinduan yang tak tertahan, membuat ku racau,
kelu pada waktu yang hanya diam saja, bahkan hanya untuk mendengar kisahku yang
tak kunjung berkesudahan ini. Ingatan itu silih berganti dengan wajah lelah aku
terlelap. Aku benar-benar lelah karena perjalanan backpakerku menguras
tenagaku, sampai pada akhirnya aku dan kamu bertemu dalam maya. Sepertinya
Tuhan mempunyai andil, sejak aku tak sengaja mengingatmu di senja yang sunyi,
lalu aku mencoba mengobatinya dengan mencoba berkomunikasi kembali setelah
hampir dua tahun kita hilang ditelan harapan-harapan masing-masing. Dan aku
yakin Tuhan mempunyai andil dengan mempertemukan kita dalam dunia virtual ini.
Kita sempat membicarakan sedikit tentang malam-malam yang lalu, seolah
mengungkapkan betapa bodohnya aku dulu.
Mungkin aku dulu
belajar mengeja hidup, memaknai rasa yang penuh misteri lalu kita menghambur
untuk saling membuka diri, menceritakan apa yang dirasakan. Ingin ku katakana
padamu. “Aku melupa pada yang
mula, aku mulai mengerti bagaimana kerut kerut di dekat bibirmu mencipta sendu
di antara senyum yang coba kau perlihatkan, sendu itu adalah bahasa lain yang
tiba-tiba saja lebih aku sukai dari segala yang ku mengerti darimu. Dan paras
lugu yang kau rangkai dalam pejam, dalam lelap, mungkin juga mimpi mimpi adalah
wajah malam yang tiba-tiba saja mengajarkanku perihal rindu, lebih indah dari
Papandayan saat menjemput pagi, lebih menenangkan dari kopi, juga puisi. sungguh
aku tergesa untuk mengerti bagaimana segalanya telah selesai sedang aku belum
memulai sepatah cerita pun. Lalu pada akhirnya aku hanya mengenal sesal jika
malam membawa ingatanku padamu”
Ketika degup jantung semakin berdetak kencang,
aku sadar, kita telah lama berjarak, lama tak saling bertatap atau kau bahkan lupa
dengan wajahku?dengan kekakuanku dulu yang setiap malam menanyakan “apa kamu
ada PR?”. Sampai kau gusar dengan
tingkahku yang kaku dan menyebalkan itu dan aku dulu masih saja sulit untuk
setia. Aku tertawa satire membayangkan
kembali hari-hari itu. Aku tak ingin
menyesali keadaan itu biarkan akupun menjadi angkuh sama seperti waktu yang tak
pernah bisa mentolerir keadaan ini. Tapi aku tak bisa, Ma. Entah, mulai sejak
kapan aku membiasakan diri untuk merindukanmu. Merindukan waktu bersama kita
yang singkat itu, dari situ saja seolah waktu member petunjuk bahwa kita tidak
punya alasan untuk saling merindu. Itu bohong, itu tidak benar.
Lagi, aku mencoba mengadu
pada malam yang bisu. Menceritakan soal mimpi-mimpi atau aku bertanya pada mu,
Ma. Salahkah aku mengendap-ngendap ke dalam mimpimu? mencuri ujung bibirmu yang
kini senantiasa basah oleh lelaki lain. Sementara kau begitu leluasa datang
sebagai ingatan kapan saja bahkan di saat yang tak kuinginkan ada-mu. Kau
seringkali membuatku kacau, racau, pada waktu, pada tempat, yang bahkan antara
aku dan dirimu tak pernah ada bersama-sama di dalamnya. Lalu, dengan paksa, kau
bawa aku pada kenyataan rumit yang tak memberikanku pilihan lain memahaminya,
kecuali dengan meninggalkan. Pergi lebih jauh, dan, mungkin tak akan pernah
pulang lagi. Karena kepulanganku, bukan pada kenangan-kenangan menyakitkan.
Kita memang perlu berbicara lagi di mimpi, menyelsaikan kisah kita agar tuntas.
Aku sadar,
sesadar-sadarnya aku. Malam telah sedikit bercerita padaku bahwa kau sudah tak
lagi sendiri. Kisahmu berlanjut dengan pilihanmu yang sama juga saling menjaga,
saling membicarakan masa depan. Tidak lagi ada aku disana, karena aku hanya ada
dimasa lalu mu. Aku sadar akan hal itu. Aku ingin benar-benar ingin melihatmu
bahagia dengan yang terbaik mu itu. Lalu mengabarkan padaku tentang hari-hari
yang bahagia itu. Aku pasti senang. Sungguh senang, karena dulu aku tak mampu
buatmu senang. Meski aku sedikit menanahan air mata yang tak seharusnya
kuteteskan. Huft. Aku ingin hilang ingatan tentang mu, tentang hari-hari itu.
Itu saja. Aku tak ingin menjadi arsenic yang merusak kisah indah kalian.
"PERGI"
Ada yang sengaja selalu Ku lupa
Dan Ku biarkan,
Menjadi rahasia
Selamat jalan, Sayang...
Tanpaku,
Masa depan adalah mengantar keinginan pada
kenyataan(di ambil dari puisinya Mas Halim)
Selamat malam Ma,
semoga kau bahagia. Waktu menuntun kita pada kebersamaan dan oleh waktu pula
kita dipisahkan, sepertinya akan benar-benar dipisahkan. Biarkan detik
mengendapkan rinduku, agar rindu tak lagi membebani hidupku. aku ingin kita
wajar bertukar kabar, membicarakan malam-malam yang berjarak lalu memberikan
sebagian malamku untuk mu.
Bersama surat ini kukirimkan padamu tentang Sepotong malam, dengan angin,
ringkih Jangkrik.aku berharap kita dapat bertemu lagi dimimpi membicarakan
malam-malam yang panjang, melepas rindu. Mendekapmu lebih erat lebih dekat .
If I leave here tomorrow
Would you still remember me?
For I must be traveling on now
Cause there are too many places
I’ve got to see
But if I stay here with you girl
Things just couldn't feel the
same
Cause I'm as free as a bird now
And this bird you cannot
change...
(Lynyrd Skynyrd, Free Bird)
Selamat malam, perempuanku yang
berjarak!!!!
Semoga kau Bahagia!!






0 komentar:
Posting Komentar