“I
wanna grow my hair and nails you up my life , I hope to do change your last
name and be a wife” (The SIGIT-All The Time)
Aku mulai
tulisanku dengan sepenggal lirik dari The SIGIT, band dari Bandung yang
beberapa hari terakhir ini lagunya sering kali aku putar untukmu. Lirik itu
seolah –mungkin- mewakili perasaan kita dan harapan yang ada dikemudian hari. Ya,
sama saat kita putar lagu itu dengan headset yang saling berbagi kau yang kiri
dan aku yang kanan. Kita berdua mendengarkan lagu itu dengan suasana yang
sedikit berbeda. Ada malam, ada bintang, ada nyanyian jangkrik, ada sunyi,
kabut dan bulan. Berirama dalam suasana yang sangat mendukung, ya lagunya tidak
sama sekali mendayu tetapi suasanya yang mengiramakan lagu The SIGIT yang
terkenal dengan alunan distorsi yang menghentak dengan suasana malam yang
sedikit berkabut itu. Kita benar-benar sedang jatuh cinta untuk yang kesekian
kalianya. Entah berapa kali. Munggkin ribuan atau jutaan kali?
Kita berdua
menyusuri jalanan yang sepi, meski kadang hanya lewat beberapa pengedara saja..
Jalanan memang benar-benar sepi setelah hujan dan berkabut. Tetapi lampu
jalanan membuat suasana tidak mencekam oleh sepi. Kita susuri setip jengkal
jalanan itu dan kita sedang membuat cerita baru yang tidak pernah aku buat
sebelumnya. Tidak ada amarah, curiga atau dendam. Semuanya hanya soal
kebersamaan yang ingin “disahihkan”. Kita seolah melupakan kerikuhan beberapa
waktu lalu. Melupakannya dengan momen sederhana tetapi sangat mampu mewakili
bahwa kita memang ingin berdua. Tak perlu ada kata cinta, tak perlu pula ada
kata yang mencoba menyakinkan. Kita hanya berjalan melalui semuanya bersama
suara Rekti The SIGIT yang kami berdua suka.
“tak pernah aku
merasakan malam seromantis ini, kamu ngebuat aku mendayu-dayu”katamu dengan
nada manjamu
“sungguh?, kita hanya berjalan diantara bulan
yang ditutupi kabut saja”kataku sambil memandangi wajahnya
“ini
kesederhanaan yang tidak sederhana dampaknya. Aku selalu ingin malam seperti
ini datang lagi” Ia sepertinya begitu menikmati.
Entah, aku
sendiri tak begitu paham dengan malam itu. Malam itu mungkin semacam akumulasi
rindu yang tak juga sempat dipecahkan. Malam itu mungkin pula semacam tumpukan
emosi yang tak sempat tersampaikan atau malam itu memang kita bedua sedang
ingin bersama dalam keadaan yang benar-benar menyatu sehingga semuanya menjadi
berkesan dan sulit untuk ditinggalkan begitu saja dalam ingatan kita. Tak perlu
diranjang hotel, tak perlu pula dalam cumbu yang menjadi. Tidak, jauh dari itu
semuanya. Kita benar-benar sahih!
Daun-daun yang berguguran,
bau busuk dedaunan dan ranting yang jatuh tentu saja kabut. Kita hanya
memandangi itu saja tetapi semua itu seolah saksi kita berdua. Lalu ku ajak
dirinya duduk tanah yang cukup lapang. Kita duduk memandangi cahaya bulan yang
malu-malu karena kabut. Perasaan kita memang sedang bermekaran, mengeluarkan
aroma harum. Mungkin tepat jika malam itu perasaan kita dianalogikan sebagai
bunga sedang malam yang menebar keharuman. Ada semilir angin malam sedang
berusaha menerbangkan serbuk-serbuk perasaan yang sedang bermekaran itu.
Terbang terbawa angin menyebar kemana-mana lalu ketika arah angin dan kabut itu
kembali kearah kita, Perasaan-perasaan
yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada
suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal
yang tidak harus kita mengerti Puspita, kita memang tidak sedang mengerti
kenapa kebatuan kita tiba-tiba menjadi lumer. Seolah cahaya bulan lebih panas
dari matahari sehingga kita yang sebelumnya sama-sama membatu tiba-tiba saja melepaskan
keegoisan itu untuk menikmati keberduaan kita yang langka ini.
Ada daun-daun berguguran
Ada pula tawa yang diintip Bulan
Ini tentang kita yang mencoba menjadi sahih
Aku dan kau dalam remang sang luna
Ada jangkrik-jangkrik yang sedang bernyanyi
Ada pula kodok-kodok yang merusak suasana
Tetapi pelukmu adalah keindahan malam yang
kunanti
Puspitaku, Bulan ini sedikit muram karena
kabut, sedikit sendu oleh hujan
Tapi tangan kita masih sangat erat bergengaman
Menjadikan semua ingatan-ingatan ini untuk
sulit melapuk karena waktu
Ini malam yang sengaja Tuhan buat untuk kita
nikmati dengan tawa dan lollipop!!
Malam itu berakhir, purnama
berganti. Mungkin kita akan membuat cerita lagi di lain waktu. Menceritakan
keindahan yang lebih indah dari hari yang lalu. Dikenang ketika tidur dan
menanti bunga tidur yang bermekaran. Itu saja, manisku!






0 komentar:
Posting Komentar