Jumat, 16 November 2012

Sajak dari Sang Luna yang berkabut!


“I wanna grow my hair and nails you up my life , I hope to do change your last name and be a wife” (The SIGIT-All The Time)

Aku mulai tulisanku dengan sepenggal lirik dari The SIGIT, band dari Bandung yang beberapa hari terakhir ini lagunya sering kali aku putar untukmu. Lirik itu seolah –mungkin- mewakili perasaan kita dan harapan yang ada dikemudian hari. Ya, sama saat kita putar lagu itu dengan headset yang saling berbagi kau yang kiri dan aku yang kanan. Kita berdua mendengarkan lagu itu dengan suasana yang sedikit berbeda. Ada malam, ada bintang, ada nyanyian jangkrik, ada sunyi, kabut dan bulan. Berirama dalam suasana yang sangat mendukung, ya lagunya tidak sama sekali mendayu tetapi suasanya yang mengiramakan lagu The SIGIT yang terkenal dengan alunan distorsi yang menghentak dengan suasana malam yang sedikit berkabut itu. Kita benar-benar sedang jatuh cinta untuk yang kesekian kalianya. Entah berapa kali. Munggkin ribuan atau jutaan kali?

Kita berdua menyusuri jalanan yang sepi, meski kadang hanya lewat beberapa pengedara saja.. Jalanan memang benar-benar sepi setelah hujan dan berkabut. Tetapi lampu jalanan membuat suasana tidak mencekam oleh sepi. Kita susuri setip jengkal jalanan itu dan kita sedang membuat cerita baru yang tidak pernah aku buat sebelumnya. Tidak ada amarah, curiga atau dendam. Semuanya hanya soal kebersamaan yang ingin “disahihkan”. Kita seolah melupakan kerikuhan beberapa waktu lalu. Melupakannya dengan momen sederhana tetapi sangat mampu mewakili bahwa kita memang ingin berdua. Tak perlu ada kata cinta, tak perlu pula ada kata yang mencoba menyakinkan. Kita hanya berjalan melalui semuanya bersama suara Rekti The SIGIT yang kami berdua suka.
“tak pernah aku merasakan malam seromantis ini, kamu ngebuat aku mendayu-dayu”katamu dengan nada manjamu
 “sungguh?, kita hanya berjalan diantara bulan yang ditutupi kabut saja”kataku sambil memandangi wajahnya
“ini kesederhanaan yang tidak sederhana dampaknya. Aku selalu ingin malam seperti ini datang lagi” Ia sepertinya begitu menikmati.
Entah, aku sendiri tak begitu paham dengan malam itu. Malam itu mungkin semacam akumulasi rindu yang tak juga sempat dipecahkan. Malam itu mungkin pula semacam tumpukan emosi yang tak sempat tersampaikan atau malam itu memang kita bedua sedang ingin bersama dalam keadaan yang benar-benar menyatu sehingga semuanya menjadi berkesan dan sulit untuk ditinggalkan begitu saja dalam ingatan kita. Tak perlu diranjang hotel, tak perlu pula dalam cumbu yang menjadi. Tidak, jauh dari itu semuanya. Kita benar-benar sahih!

Daun-daun yang berguguran, bau busuk dedaunan dan ranting yang jatuh tentu saja kabut. Kita hanya memandangi itu saja tetapi semua itu seolah saksi kita berdua. Lalu ku ajak dirinya duduk tanah yang cukup lapang. Kita duduk memandangi cahaya bulan yang malu-malu karena kabut. Perasaan kita memang sedang bermekaran, mengeluarkan aroma harum. Mungkin tepat jika malam itu perasaan kita dianalogikan sebagai bunga sedang malam yang menebar keharuman. Ada semilir angin malam sedang berusaha menerbangkan serbuk-serbuk perasaan yang sedang bermekaran itu. Terbang terbawa angin menyebar kemana-mana lalu ketika arah angin dan kabut itu kembali kearah kita, Perasaan-perasaan yang akan membuat kita berkata : ” Aku seperti pernah berada di sini, pada suatu masa entah kapan , dari masa lalu atau masa depan.” Memang banyak hal yang tidak harus kita mengerti Puspita, kita memang tidak sedang mengerti kenapa kebatuan kita tiba-tiba menjadi lumer. Seolah cahaya bulan lebih panas dari matahari sehingga kita yang sebelumnya sama-sama membatu tiba-tiba saja melepaskan keegoisan itu untuk menikmati keberduaan kita yang langka ini.
Ada daun-daun berguguran
Ada pula tawa yang diintip Bulan
Ini tentang kita yang mencoba menjadi sahih

Aku dan kau dalam remang sang luna

Ada jangkrik-jangkrik yang sedang bernyanyi
Ada pula kodok-kodok yang merusak suasana
Tetapi pelukmu adalah keindahan malam yang kunanti
Puspitaku, Bulan ini sedikit muram karena kabut, sedikit sendu oleh hujan
Tapi tangan kita masih sangat erat bergengaman
Menjadikan semua ingatan-ingatan ini untuk sulit melapuk karena waktu

Ini malam yang sengaja Tuhan buat untuk kita nikmati dengan tawa dan lollipop!!

Malam itu berakhir, purnama berganti. Mungkin kita akan membuat cerita lagi di lain waktu. Menceritakan keindahan yang lebih indah dari hari yang lalu. Dikenang ketika tidur dan menanti bunga tidur yang bermekaran. Itu saja, manisku!

0 komentar:

Posting Komentar