Jumat, 16 November 2012

Kapal Segera Berlayar (untuk Ainul, sahabat revoluisonerku)


***
Beberapa hari yang lalu ketika aku dan dia bertemu dikampus. Ia bercerita “ayahku masuk rumah sakit, fin” Ia coba memberi kabar dengan suara yang berat
“Ayahku kena stroke fin, setelah makan daging kambing. Ak menyesali itu, kenapa aku tidak larang. Tapi gimana lagi hari itu aku ga lagi dirumah” Ainul coba menambahkan
Pagi itu. Ainul sahabatku benar-benar tidak dalam keceriaannya seperti biasanya. Ia tampak sedikit  murung. Mungkin pikirannya sedang berada dirumah sakit memikirikan Ayahnya yang ia sayangi.
Aku pun pernah merasakan ayahku terkena stroke dan perasaanku pun tidak jauh berbeda seperti Ainul mungkin. Siapa yang perasaannya tidak tenang ketika orang yang disayangnya sedang berada dalam kondisi yang tidak baik?.
****

Siang itu, entah kenapa aku ingin menghubungimu, kawan.
“nul, Ayahmu dirawat dimana?” aku coba bertanya lewat sms
Lalu ia menjawab dengan singkat. Sore atau malam rencanya aku jenguk Ayahmu .kawan
Beberapa jam kemudia. Kurang lebih jam 5an ada kabar yang membuatku lemas begitu saja. “Ayah tercintaku meninggal kawan” begitu kurang lebih kabar tidak enak itu
Ainul yang beberapa hari lalu masih bisa tersenyum meski senyumnya tidak genap karena ayahnya sedang berada dirumah sakit. Kini semakin menjadi tidak bisa tersenyum.
Segera setelah aku mendapat kabar itu menuju kerumahnya Ainul dengan beberapa kawan dekat kita. Malam itu aku berjumpa dengan mu kawan. Kau benar-benar pucat, wajah ceriamu tertutup oleh takdir Tuhan. 

“suwon yo rek wes teko” ia hanya berkata itu sambil memeluk semua dari kita.
Sepertiny kita bisa merasakan kehilangan itu. Meski aku tak kenal secara tatap muka dengan ayahmu tetapi kau pernah bercerita soal ayahmu. Biasanya anak laki-laki seusia kita memang sering tidak menemukan titik tengahnya dengan ayah. Mungkin saja, kau juga sama sepertiku. Sama-sama merasakan bahwa perbedaan dan perdebatan adalah hal yang wajar. Seolah kita dan ayah kita itu berbeda dan tidak akur. Tetapi tetap saja jika kita ditinggalkan perasaan haru itu tidak bisa ditinggalakan.
Aku jadi teringat kata-kata Pramoedya Ananta Toer  Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang…seperti dunia dalam pasar malam. Seorang –seorang mereka datang….dan pergi, dan yang belum pergi dengan cemas menunggu saat nyawa terbang entah kemana”

Begitulah kehidupan ini nul. Kadang kita bertemu dan pasti kita berpisah, ini dunia yang tak kekal. Kalau aku baca dikita suci, dunia yang kekal hanya setelah kita meninggal saja. Jika kau sayang pada ayahmu. Kau pasti akan bertemu lagi dikehidupan yang lebih kekal dari kehidupan sekarang.
Aku yakin sangat yakin. Kau tidak terlarut dalam kesedihan karena masih banyak yang bisa dan harus kau kerjakan. Ada ibumu, adik-adikmu yang harus kau buat bangga mengakui dirimu sebagai bagian dari mereka. 

Kau masih punya harapan dan cita-cita yang justru membuatmu Ayahmu bahagia ditempat barunya.
Semoga semua yang kau hadapi ini mampu membuatmu lebih tegar kawan. Menjadikan dirimu bukan sebagia manusia yang mudah roboh diterpa angin kehidupan ini yang beranama takdir Tuhan.

***
Semua akan menemukan alur ceritanya. Ayahandamu sudah menemukan keindahan hidupnya.  Giliranmu untuk membuat cerita.
Aku turut berduka cita yang mendalam, sahabatku. Sahabatku ketika aku sedang galau. Sahabatku yang meminjamkan motor saat aku kencan dan sahabatku berdiskusi soal agama, hukum, cinta dan seks!!!
“Ayo kapal kita akan segara berangkat, sauh sudah diangkat. Cepat bergegas” kata-kata itu yang kau ucapkan padaku ketika aku sedang terpuruk, kini kau harus mendengarnya dari aku.



0 komentar:

Posting Komentar