“Have I told you lately that I love
you. Have I told you there's no one else among us”
Tiba-tiba
saja aku ingin terbangun, padahal aku
tadi malam tidur sampai subuh. Entah kenapa aku bangun sepagi ini. padahal jam
masih menunjukan pukul 09.00. kulihat HPku “aku sudah sampai Surabaya, sayang.
Cepat bangun.Bee”. Dia selalu memanggilku dengan kata BEE . Baginya aku tak ubahnya seperti
tawon. Entah filosofi apa yang dia tangkap soal aku dan tawon. Mungkin ada
kesamaan sikap atau apalah entah aku tak
tahu.
Siang
ini sedikit beda, biasanya kau datang kekostku dengan membawakan makan
lalu ngomel-ngomel
soal kamarku yang berantakan karena buku, sepatu atau celana jeans kotor yang sudah tiga bulan tidak dicuci. Sambil ngomel kau rapihkan semuanya. Tapi aku
suka cerewetmu, aku rindu cerewetmu.
Tadi
malam aku antar kau pulang ke Surabaya. Perpisahan paling indah itu di stasiun
menurutku. Karena nuansa romantisnya terasa betul. Ingin kukecup bibirmu, tapi
tak mungkin itu ruang publik. Aku melepasmu dengan pelukan saja.
“jangan
nakal ya, Bee..” katanya sambil berjalan meninggalkan peron.
Siang
ini sedikit berbeda. Kau hanya mengabariku dari jarak 192KM. sudahlah, biarkan
kau bertemu dengan yang mencintaimu disana. Keluargamu pun merindukanmu. Cukup
banyak kau habiskan waktumu denganku, kini giliranmu bermanja-manja dengan
orang tuamu yang menanti disana. Tiba-tiba saja, aku teringat banyak tentangmu.
Tawamu, suaramu, manismu, rambutmu, semua tentangmu. Tiba-tiba aku terbawa pada
lorong waktu yang membawa khalayanku terbang menyinggahi setiap memori yang
pernah kita rekam di otak kiriku. Ah, kau sedang merongrong seluruh otakku
sepertinya tidak hanya otak kiriku saja. Merongrong dengan momen-momen puitik
yang tak bisa dilupakan begitu saja.
Kau atau kamu atau kusebut
saja dirimu sebagai perempuan senjaku. Bukan perempuan revolusioner yang
akhirnya harus mati dipadang tempur Jerusallem atau perempuan sunyi yang
menabur bintang tapi lenyap dikala fajar
berbinar. Kau adalah perempuan senja yang datang dikala waktu yang pasti. senja
itu tentu akan hilang tetapi meninggalkan rindu yang tak ingin diendapkan
waktu. Keremangan berubah jadi
kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan
kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah
hari–hari berlalu. Senja itu akan berganti dengan temaram justru disanalah kita memahami lebih
dalam soal kedekatan yang kian bersemi ini.
Perempuan
senjaku. Kita biasa menikmati
tenggelamnya matahari tua sambil tertawa melepas serbuk-serbuk perasaan.
Dihembuskan angin terbang kesana kemari dan mungkin saja kita akan merasakannya
kembali, juga terbawa angin musim yang sudah berganti. Kita selalu terbiasa
mensahihkan hari dengan kebersamaan yang tidak akan pernah lapuk untuk diingat.
Benarkah itu? Aku harap demikian. Terlalu banyak senja yang kita lewati
bersama. Menghabiskan senja di padang rumput, melepas rindu dikala senja diatas
gedung tinggi. Apalagi yang bisa kau ingat?
Sore
itu, setelah hujan membahasi kota kita. Kau dan aku masih saja tidak bisa lepas
dari dingin. Tetapi aku tahu sore selepas hujan adalah waktu terbaik kita untuk
benar-benar menikmati senja yang indah. Langitnya menjingga, udaranya sejuk dan
daun-daun berguguran. Itulah momen puitis yang selalu aku ingat. Aku ajak kamu
kekampus Unej yang sengaja sepi karena memang setelah hujan banyak mahasiswa
yang menghabiskan sorenya di kost. Disunyi itulah kebersamaan kita disahihkan
oleh tangan yang saling berpegangan erat, langkah yang menyisakan kenangan. Kita
duduk di depan patung kebanggan unej itu. Dengar-dengar patung tiga orang
pendiri UNEJ yang berbahan perunggu itu berharga 900juta. Mahal sekali!
Meskipun pemborosan, biarlah UNEJ ini punya ikon yang bisa dibanggakan.
Senja
itu kita duduk berdua dalam sepi dan sunyi. Kita memandangi angkasa luas yang
menjingga karena perpaduang antara cahaya matahari yang mulai karam dengan awan
mendung yang mulai terbawa angin bergeser mencari tempat untuk menurunkan
hujan. Langit sore itu benar-benar berkompromi dengan keromantisan kita. Ada
kelalawar yang baru saja keluar mencari mangsa, ada pula perkutut yang
kedinginan kena hujan. Kau dan aku besimpuh dalam bayangan senja yang setiap
detiknya akan meninggalkan kita dalam remang. Damai sekali! Tidak ada curiga,
tidak ada amarah, tidak ada cemburu semuanya memang tidak akan pernah ada jika
kita sama-sama menikmati hubungan ini.
Aku
ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang
sebenarnya? Dan aku tidak ingin kita seperti senja yang hanya sesaat lalu
hilang dalam pandangan mata. Kita memang mencintai senja tetapi bukan untuk
menjadi senja yang kemudian hanya bisa dirindukan untuk bisa selalu ada!
I
Miss You, my Belle






0 komentar:
Posting Komentar