Jumat, 16 November 2012

Bukan Seperti Senja!




“Have I told you lately that I love you. Have I told you there's no one else among us”
Tiba-tiba saja aku ingin terbangun, padahal  aku tadi malam tidur sampai subuh. Entah kenapa aku bangun sepagi ini. padahal jam masih menunjukan pukul 09.00. kulihat HPku “aku sudah sampai Surabaya, sayang. Cepat bangun.Bee”.  Dia selalu memanggilku dengan kata BEE . Baginya aku tak ubahnya seperti tawon. Entah filosofi apa yang dia tangkap soal aku dan tawon. Mungkin ada kesamaan sikap  atau apalah entah aku tak tahu.
Siang ini sedikit beda, biasanya kau datang kekostku dengan membawakan makan lalu  ngomel-ngomel soal kamarku yang berantakan karena buku, sepatu atau celana jeans kotor  yang sudah tiga bulan tidak dicuci. Sambil ngomel kau rapihkan semuanya. Tapi aku suka cerewetmu, aku rindu cerewetmu.
Tadi malam aku antar kau pulang ke Surabaya. Perpisahan paling indah itu di stasiun menurutku. Karena nuansa romantisnya terasa betul. Ingin kukecup bibirmu, tapi tak mungkin itu ruang publik. Aku melepasmu dengan pelukan saja.
“jangan nakal ya, Bee..” katanya sambil berjalan meninggalkan peron.
Siang ini sedikit berbeda. Kau hanya mengabariku dari jarak 192KM. sudahlah, biarkan kau bertemu dengan yang mencintaimu disana. Keluargamu pun merindukanmu. Cukup banyak kau habiskan waktumu denganku, kini giliranmu bermanja-manja dengan orang tuamu yang menanti disana. Tiba-tiba saja, aku teringat banyak tentangmu. Tawamu, suaramu, manismu, rambutmu, semua tentangmu. Tiba-tiba aku terbawa pada lorong waktu yang membawa khalayanku terbang menyinggahi setiap memori yang pernah kita rekam di otak kiriku. Ah, kau sedang merongrong seluruh otakku sepertinya tidak hanya otak kiriku saja. Merongrong dengan momen-momen puitik yang tak bisa dilupakan begitu saja.
Kau atau kamu atau kusebut saja dirimu sebagai perempuan senjaku. Bukan perempuan revolusioner yang akhirnya harus mati dipadang tempur Jerusallem atau perempuan sunyi yang menabur bintang tapi lenyap dikala  fajar berbinar. Kau adalah perempuan senja yang datang dikala waktu yang pasti. senja itu tentu akan hilang tetapi meninggalkan rindu yang tak ingin diendapkan waktu.  Keremangan berubah jadi kegelapan. Bola matahari tenggelam di cakrawala, jauh, jauh diluar kota. Dan kota tinggal kekelaman yang riang dalam kegenitan cahaya listrik. Dan begitulah hari–hari berlalu. Senja itu akan berganti dengan  temaram justru disanalah kita memahami lebih dalam soal kedekatan yang kian bersemi ini.

Perempuan senjaku. Kita biasa menikmati  tenggelamnya matahari tua sambil tertawa melepas serbuk-serbuk perasaan. Dihembuskan angin terbang kesana kemari dan mungkin saja kita akan merasakannya kembali, juga terbawa angin musim yang sudah berganti. Kita selalu terbiasa mensahihkan hari dengan kebersamaan yang tidak akan pernah lapuk untuk diingat. Benarkah itu? Aku harap demikian. Terlalu banyak senja yang kita lewati bersama. Menghabiskan senja di padang rumput, melepas rindu dikala senja diatas gedung tinggi. Apalagi yang bisa kau ingat?
Sore itu, setelah hujan membahasi kota kita. Kau dan aku masih saja tidak bisa lepas dari dingin. Tetapi aku tahu sore selepas hujan adalah waktu terbaik kita untuk benar-benar menikmati senja yang indah. Langitnya menjingga, udaranya sejuk dan daun-daun berguguran. Itulah momen puitis yang selalu aku ingat. Aku ajak kamu kekampus Unej yang sengaja sepi karena memang setelah hujan banyak mahasiswa yang menghabiskan sorenya di kost. Disunyi itulah kebersamaan kita disahihkan oleh tangan yang saling berpegangan erat, langkah yang menyisakan kenangan. Kita duduk di depan patung kebanggan unej itu. Dengar-dengar patung tiga orang pendiri UNEJ yang berbahan perunggu itu berharga 900juta. Mahal sekali! Meskipun pemborosan, biarlah UNEJ ini punya ikon yang bisa dibanggakan.
Senja itu kita duduk berdua dalam sepi dan sunyi. Kita memandangi angkasa luas yang menjingga karena perpaduang antara cahaya matahari yang mulai karam dengan awan mendung yang mulai terbawa angin bergeser mencari tempat untuk menurunkan hujan. Langit sore itu benar-benar berkompromi dengan keromantisan kita. Ada kelalawar yang baru saja keluar mencari mangsa, ada pula perkutut yang kedinginan kena hujan. Kau dan aku besimpuh dalam bayangan senja yang setiap detiknya akan meninggalkan kita dalam remang. Damai sekali! Tidak ada curiga, tidak ada amarah, tidak ada cemburu semuanya memang tidak akan pernah ada jika kita sama-sama menikmati hubungan ini.
Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya? Dan aku tidak ingin kita seperti senja yang hanya sesaat lalu hilang dalam pandangan mata. Kita memang mencintai senja tetapi bukan untuk menjadi senja yang kemudian hanya bisa dirindukan untuk bisa selalu ada!
I Miss You, my Belle

0 komentar:

Posting Komentar