Sabtu, 24 November 2012

Gerimis dan Pasar malam ittu?


Bukankah senja tadi gerimis meruncing menghujani bumi?. Entah mengapa November disesaki oleh hujan, Sampai-sampai band Hair Metal 80', Gun n Roses pernah membuat lagu November Rain, sepertinya memang November identik dengan hujan. Tentu malam ini dingin sedang menjadi-jadi, banyak yang menginggalkan keramain untuk lebih memilih dibalik tebalnya kehangatan. Banyak yang memilih cara itu untuk menikmati hari dimana dingin menjadi tema utamanya. Tiba-tiba saja dingin mengingatkanku pada paras halusmu. Sepertinya malam menghanyutkanku  pada dirimu yang semakin hari semakin menjadi asing padaku. Jelas, ingatanku ini tak bisa ditahan begitu saja tanpa ada obat mujarabnya. Bertemu denganmu.
Malam ini malam minggu, ketika banyak dari antara kita menghabiskan waktu dengan memadu kasih. Tentu akupun ingin menjadi bagian dari mereka yang menikmati dingin dengan berpeluk erat daripada sekedar menutup diri dibalik selimut. Menghabiskan malam dalam keintiman yang tak pernah terasa sebelumnya. Ah, sepertinya itu terlalu bermuluk-muluk. Kucium saja kau selalu menolakku dengan berbagai alasan, sebatas membelai rambut panjangmu, sebatas mencium keningmu dan tangan halusmu. Sudahlah, sepertinya memang itu yang bisa kudapat.
“malam ini kita keluar, Ayu”
“Ayo, mumpung aku lagi diluar nih. Kemana?”
“Jemput aku saja dulu, setelah itu kita pikirkan tujuan kita kemana”
Seperti biasa, aku tak pernah memikirikan arah kita melangkah. Biarkan kekinian berpikir yang lebih menentukan segalanya. Benar saja, beberapa saat ketika aku menghubungimu kau datang ketempatku. Kau begitu manis malam ini, baju hitammu, rambut kemerah-merahanmu, bibir tipismu sepintas kau mirip dengan Bella Swam. Ah, jelas aku tak akan bicara itu didepanmu karena hanya menambah mu senang saja. lalu berceracau kesana kemari  Biarkan saja aku yang tahu itu.
Kita duduk diruangan yang acak-acakan oleh buku dan kertas.  Ada perbicangan dimana kau seperti biasa  tetap keras kepala, bahwan denga kau punya alasan -apapun itu alasannya-kau selalu merasa benar dan kebenaran semakin membuatmu kau semakin tidak ingin disalahkan. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu juga tidak ingin terlalu menghakimi tingkahmu.  Ceritamu soal Ayahmu yang menurutmu menyebalkan hanya membuatku menilai kalau kau memang anak ingusan yang belum mengenal arti kehidupan ini, meski sebenarnya aku pun tak tahu banyak. Ya, memang perlu belajar untuk menjadi luar biasa dengan cara yang tidak biasa tentunya.
Malam  sedikit melarut. Jelas, aku tak ingin berlama-lama ditempat itu. Aku ingin menikmati malam bersamamu tanpa yang lain meski itu sekedar bayangan.
“bagaimana kalau kita keluar kota saja, Ayu?”ajakku padamu
Kau pernah bilang ingin sesuatu hal yang tak terduga dan menantang. Mungkin saja ajakanku ini menarik untukmu meski kurang menantang. Aku ingin mengajakmu ketempat yang tak biasa kau lakukan ditempatmu sebelumnya. Aku ingin ada kenangan yang kau tinggalkan diingatamu soal aku dan  dengan tempat-tempat yang tak pantas kau lupaka begitu saja, meski itu sebatas kesederhaan. Ya, sebatas kasih saying yang kuberikan padamu meski tidak sehebat mentari pada dunia. Sebatas kesenangan yang ingin kutunjukan padamu meski tidak sehebat orang lainnya.
“ayo, kemana ya?ada yang menarik ga? Kota-kota disekitar kota ini tidak begitu menarik” ia coba menjawab
“ayo kita cari pasar malam. Mungkin disana ada keromantisan yang bisa kita ciptakan” saranku padanya
“wah ide bagus itu. Ayo” ia tidak terlalu antusias. Seperti biasa ekspresinya pun datar-datar saja. Hanya sekali aku lihat kau tertawa lepas. Tawamu itu kecantikan yang tak mudah untuk didefiniskan.
Malam itu aku sendiri tak tahu dimana ada Pasar Malam. Aku hanya asal ajak saja sebab tujuan utamaku hanya berdua bersamamu dalam gelap malam. Itu saja.
Aku menemukannya Pasar Malam itu beberapa puluh kilometer dari kotaku. Sepertinya dingin tidak menyurutkan ketertarikan sejoli-sejoli muda untuk menikmati malam ini. Malam minggu, dimana menurut bangsa Romawi minggu atau Monday dalam bahasa Inggris itu didedikasikan bagi dewa bulan.  Begitu hiruk pikuknya keramaian. Lalu lalang orang datang dan pergi. Keriuhan dan kegaduhan campur aduk disana sini. aku suka kesemrawutan ini!. Karena semakin semrawut artinya pasar malam ini semakin ramai!. Meski lapangan itu becek sisa hujan tadi  sore juga tak mampu menyurutkan antusias. Jelas sekali warga memang butuh hiburan murah.
Bunyi derit decit besi saling beradu seperti jerit kengerian yang saling bersahut. Tekanan roda besi dari mainan kereta-keretaan saling bergesek dengan rel nya yang terbuat dari besi juga. Sahut-sahutan suara serak para pedagang kaki lima berrebut menawarkan barang dagangannya. menyempurnakan pesta keriuhan ini. Sepertinya kau tidak terlalu kikuk dengan keadaan yang tidak biasa kau hadapi itu. Aku tau keramaian yang kau maksud bukan seperti ini bukan? Music-musik yang kau biasa dengan bukan Koar-koar musik sember dari speaker diselingi bunyi lip lop dari beberapa lampu-lampu penghias komidi putar menambah gaduh suasana. Tetapi music pemecah saraf yang menjadi barometer seseorang dikatakan sebagai anak kandung dari modernitas. Jauh, jauh sekali suasanya dengan keadaanmu itu yang kadang kau pulang dengan tidak sadarkan diri. Mungkin saja kau pulang kali ini tidak dengan sadarkan diri, tetapi tidak sadarkan diri kalau kau sedang jatuh cinta padaku.
Dipasar malam inilah ada kesederhanaan yang kadang tidak pernah kau lihat. Mereka berebut rupiah hanya untuk sekedar makan hari esok atau bagiamana anaknya sekolah. Pasar malam tidak lagi populer dan menarik untuk dikunjungi karena gerusan roda modernisasi.

Malam ini sedikit beda, pasar malam kedatangan iblis yang mengaku bidadari. Aku mengajakmu untuk menaiki komidi putar. Aku selalu teringat suasana romantis pasar malam yang digambarkan di film Serigala Terakhir. Tentu kau sudah menontonnya bukan?. Itu indah sekali. Komedi putas sepertinya pilihan yang tepat. Naik komedi putar merupakan pengalaman pertamaku dengan mu. Entah kau menikmati atau tidak aku tak sempat memperhatikanmu karena kita terlalu sibuk bercerita soal hal-hal intim yang semakin membuat kita saling mengenal satu sama lain. Tidak ada kata cinta malam itu.  Entah berapa putaran, rasanya waktu berjalan begitu cepat sampai operatornya mempersilahkan kita berdua turun. Malam itu memang tidak ada ungkapan perasaan yang harus disahihkan kita hanya memalui kenikmatan bercengkaram tanpa tendensi yang berlebihan. Rinduku pun kau mampu obati dengan hadirmu yang mau kuajak kemanapu kita berjalan. Dalam langkah pun tak ada tangan yang berjabat erat saling memegang. Hanya sesekali aku meciumi rambut merahmu yang wangi itu. Aih malam sepertinya semakin membuatku meminta lain-lain padamu. ah
malam semakin larut.angin malam menusuk semua tulang belulangku, sepintas kau masih tampak ayu.
“ayo kita pulang saja. Malam sudah larut”
“ayo”
Malam ini kau menolakku untuk kucium tetapi kau membiarkanku aku memelukmu, melepaskan rindu dan keluku jika mengingatmu. Kau hanya sering mengingatkanku kalau kita bukan siapa-siapa, tetepi kau tak pernah menolak untuk menjadi arti dan membuat arti dalam hubungan ini. Kau menikmatinya? Atau kau hanya terbiasa dalam ketidak berarturan. Mungkin aku harus kembali mengingat kalau kau masih anak kecil yang sedang belajar memaknai kesungguh-sungguhan. Biarkan saja aku bertindak untukmu dan kau hanya memberikan kesempatan untuk membuatmu lebih indah dari sekedar teman.
Malam ini tetap indah, kau membiarkan tangan dan keningmu ku kecup. Aku suka malam, kaos hitammu membuat cerah malam yang sedang sendu karena hujan tak juga berkompromi dengan  mentari.
Pasti dalam hati kau tertawa. Meski kau coba untuk diam dan pura kalau malam itu biasa saja. Setidaknya ada suatu hal yang kita perbuat menumbuhkan bulu-bulu ingatan untuk dapat membawa kita terbang menjadi lebih bebas.


#untuk malam yang banyak ceritanya!

0 komentar:

Posting Komentar