Mengapa saya
kuliah di Jember? Pertanyaan itu semacam penolakan diri saya ketika menyadari
bahwa Universitas Jember (UNEJ) menerima lamaran pendidikan yang saya ajukan
melalui program PMDK. Sebelumnya saya ingin masuk UGM atau paling tidak UNDIP. Semuanya
sama, memilih fakultas Hukum sebagai pilihan pertama dan Hubungan Internasional
sebagai pilihan kedua.
Suatu pagi di
tahun 2009, saya menerima kabar dari Guru BK bahwa berkas saya lolos PMDK di
Unej. Unej bukanlah tempat yang asing bagi saya, apalagi fakultas Hukumnya. Saya
lahir di Jember, tepatnya di klinik Margirahayu, dekat TK Bayangkara. Ayah pernah kuliah disana periode tahun
1981-1988an. Sampai saat ini ijasahanya tidak juga diambil. Hem,lupakan. saya tidak
sedang membicarakan ayah dalam tulisan kali ini.
Saya memikirkan,
kenapa saya harus kuliah di Unej? Sempat ada penolakan yang cukup lama, karena
setelah tahu saya mendapat PMDK di Jember, pintu menuju UGM di tutup oleh Ayah.
Saya tidak mendapat ijin untuk ikut UM UGM, Universitas harapan, sampai detik
saya menulis. Hubungan saya dan ayah pun tidak baik. Sangat tidak baik, karena
saya menyimpan bara amarah.
Saya pun berangkat ke Jember untuk daftar
ulang. Sekedar mengingatkan, bahwa PMDK jalur tanpa test hanya mengandalkan
prestasi dan nilai rapot. PMDK pun tidak menyahihkan bahwa saya berprestasi,
saya lebih suka menyebutnya sebagai keberuntungan karena saya tidak perlu sibuk
ikut SMPTN dan keribetan ujian lainnya. Keberuntungan itu baru saya sadari
beberapa tahun setelah hari penuh kemurungan.
Jember bukanlah kota pilihan. Sepi, aneh, dan agak norak. Apalah kota itu, pikir seorang bocah waktu itu. Tak ada daya tarik yang membuat saya memilih Jember sebagai alasan yang mutlak, kalau bukan karena saya yang tidak diberi kesempatan bertarung di UGM. Tidak ada alasan lain selain itu. Hem, 2009 telah melampaui batas waktu yang liyan.
Jember bukanlah kota pilihan. Sepi, aneh, dan agak norak. Apalah kota itu, pikir seorang bocah waktu itu. Tak ada daya tarik yang membuat saya memilih Jember sebagai alasan yang mutlak, kalau bukan karena saya yang tidak diberi kesempatan bertarung di UGM. Tidak ada alasan lain selain itu. Hem, 2009 telah melampaui batas waktu yang liyan.
Tentang Jember dan rindu yang tak bisa dibagi
Tahun 2009 dan
segala penolakan pada Jember telah lingsir, menjauh sampai dititik saat ini
saya menulis diruang kosong, hanya meja, kursi dan pendingin ruangan, tidak
lagi di Jember namun di Jakarta. Dulu,
hampir tiga bulan sekali saya pulang ke Garut dan merasa bahwa Jember bukanlah
tempat saya berada. Saya ingin ke UGM. Itu pikiran keruh yang akhirnya
berdampak pada hasil ujian saya sangat buruk. Disemester pertama, dua mata
kuliah tidak bisa ikut ujian. Mata kuliah Bahasa Belanda dan Pengantar Sosiologi
Hukum. IPK 2,14 menjadi konsekuensi paling logis. Enam bulan saya berkutat
dengan rasa amarah pada ayah. Kenapa saya tidak diberi ijin untuk mencoba ke
UGM, urusan tidak lolos, tak jadi soal. Lebih penting saya bisa merasakan
pertarungan untuk memperebutkan satu kursi di Fakultas Hukum UGM, pikir saya
waktu itu. Kalaupun berangkat sendiri, saya tak punya cukup logistik. Uang jajan
saya terlalu pas-pasan sebagai bekal nekad saya ke Jogjakarta. Alasan lainnya,
mamah selalu menahan amarah saya dan memberikan wejangan bijak. Periode 2009
sampai 2010 saya masih belum menyadari bahwa Jember adalah satu keberuntungan
bagi saya.
Tahun 2016, dimana banyak proses
telah saya lewatkan dari kota itu. Penolakan saya pada Jember telah kalis
begitu saja dimakan aktifitas. Lebih tepatnya aktifitas di Organisasi, GmnI dan
UKPKM Tegalboto adalah rumah saya waktu itu. Saya berproses menemukan natalitas
untuk kedua kalinya dan dibaptis di sungai Bedadung, sampai penolakan pada
Jember menjadi cecar rindu yang entah sampai kapan harus ditahan. Saya benar-benar
menyukai Jember, sesederhana saya mencintai kebebasan.
Jember bukan
perkara kota di hampir ujuang timur pulau Jawa. Jember bagi saya bukan sebatas
geospasial. Sekali lagi, Jember adalah penemukan ‘aku’ yang tak sempat saya
temukan di kota tempat saya tinggal, Garut. Saya bertemu dengan perebutan
nalar, kuasa sampai pemaknaan. Sederhananya, saya belajar banyak dari kota
Jember. Belajar tidak hanya bunyi Pasal-pasal da azas di fakultas Hukum, saya
menemukan makna di Jember.
Tak heran,
hampir tiga bulan sekali saya berkunjung ke Jember, meski saat ini tempat saya
berproses ada di Jakarta. Jakarta-Jember hanya batasan ruang saja namun harapan
saya kelak, saya ingin kembali ke kota itu. Entah kapan, entah berapa banyak
rambut putih yang menghiasai kepala, entah seberapa lantang saya berteriak,
entah seberapa lemah saya berjalan. Pusara saya ingin damai di Jember.
Jember adalah
batas tipis saya dan rindu, dimana saya menemukan rindu pada hal yang absurd. Akan
jelas ketika saya rindu Anggie, ia pasangan saya. Namun rindu saya pada Jember
seperti ke-absurd-an yang mencandu. Saya rindu jalanan berlubang di Jalan
menuju Antirogo, mayang, Tanggul, Panti, Puger, Jenggawah, Kencong dll, saya
rindu suasana sehabis hujan di Jember, saya rindu harum udara Jember, saya
rindu celetukan dan logat unik dari penduduk Jember, saya rindu pada yang tak
terdefinisi oleh inderawi. Sekali lagi, karena saya rindu pada Jember
sebisa-bisanya dan sehormat-hormatnya karena “Jember adalah makna bukan kata”. Mungkin saya bukanlah yang pertama
atau satu-satunya . banyak kawan yang seperti saya.
Oleh karena
itu, biarkan aku merindukan Jember dengan sederhana, sederhana aku menulis
rindu pada Jember.
Titip rindu untuk langit Jember.






0 komentar:
Posting Komentar