Rabu, 06 April 2016

Jember adalah makna bukan kata



         
      Mengapa saya kuliah di Jember? Pertanyaan itu semacam penolakan diri saya ketika menyadari bahwa Universitas Jember (UNEJ) menerima lamaran pendidikan yang saya ajukan melalui program PMDK. Sebelumnya saya ingin masuk UGM atau paling tidak UNDIP. Semuanya sama, memilih fakultas Hukum sebagai pilihan pertama dan Hubungan Internasional sebagai pilihan kedua.

Suatu pagi di tahun 2009, saya menerima kabar dari Guru BK bahwa berkas saya lolos PMDK di Unej. Unej bukanlah tempat yang asing bagi saya, apalagi fakultas Hukumnya. Saya lahir di Jember, tepatnya di klinik Margirahayu, dekat TK Bayangkara.  Ayah pernah kuliah disana periode tahun 1981-1988an. Sampai saat ini ijasahanya tidak juga diambil. Hem,lupakan. saya tidak sedang membicarakan ayah dalam tulisan kali ini.

Saya memikirkan, kenapa saya harus kuliah di Unej? Sempat ada penolakan yang cukup lama, karena setelah tahu saya mendapat PMDK di Jember, pintu menuju UGM di tutup oleh Ayah. Saya tidak mendapat ijin untuk ikut UM UGM, Universitas harapan, sampai detik saya menulis. Hubungan saya dan ayah pun tidak baik. Sangat tidak baik, karena saya menyimpan bara amarah.

 Saya pun berangkat ke Jember untuk daftar ulang. Sekedar mengingatkan, bahwa PMDK jalur tanpa test hanya mengandalkan prestasi dan nilai rapot. PMDK pun tidak menyahihkan bahwa saya berprestasi, saya lebih suka menyebutnya sebagai keberuntungan karena saya tidak perlu sibuk ikut SMPTN dan keribetan ujian lainnya. Keberuntungan itu baru saya sadari beberapa tahun setelah hari penuh kemurungan. 

Jember bukanlah kota pilihan. Sepi, aneh, dan agak norak. Apalah kota itu, pikir seorang bocah waktu itu. Tak ada daya tarik yang membuat saya memilih Jember sebagai alasan yang mutlak, kalau bukan karena saya yang  tidak diberi kesempatan bertarung di UGM. Tidak ada alasan lain selain itu. Hem, 2009 telah melampaui batas waktu yang liyan.

Tentang Jember dan rindu yang tak bisa dibagi

Tahun 2009 dan segala penolakan pada Jember telah lingsir, menjauh sampai dititik saat ini saya menulis diruang kosong, hanya meja, kursi dan pendingin ruangan, tidak lagi di Jember namun di Jakarta.  Dulu, hampir tiga bulan sekali saya pulang ke Garut dan merasa bahwa Jember bukanlah tempat saya berada. Saya ingin ke UGM. Itu pikiran keruh yang akhirnya berdampak pada hasil ujian saya sangat buruk. Disemester pertama, dua mata kuliah tidak bisa ikut ujian. Mata kuliah Bahasa Belanda dan Pengantar Sosiologi Hukum. IPK 2,14 menjadi konsekuensi paling logis. Enam bulan saya berkutat dengan rasa amarah pada ayah. Kenapa saya tidak diberi ijin untuk mencoba ke UGM, urusan tidak lolos, tak jadi soal. Lebih penting saya bisa merasakan pertarungan untuk memperebutkan satu kursi di Fakultas Hukum UGM, pikir saya waktu itu. Kalaupun berangkat sendiri, saya tak punya cukup logistik. Uang jajan saya terlalu pas-pasan sebagai bekal nekad saya ke Jogjakarta. Alasan lainnya, mamah selalu menahan amarah saya dan memberikan wejangan bijak. Periode 2009 sampai 2010 saya masih belum menyadari bahwa Jember adalah satu keberuntungan bagi saya. 

         Tahun 2016, dimana banyak proses telah saya lewatkan dari kota itu. Penolakan saya pada Jember telah kalis begitu saja dimakan aktifitas. Lebih tepatnya aktifitas di Organisasi, GmnI dan UKPKM Tegalboto adalah rumah saya waktu itu. Saya berproses menemukan natalitas untuk kedua kalinya dan dibaptis di sungai Bedadung, sampai penolakan pada Jember menjadi cecar rindu yang entah sampai kapan harus ditahan. Saya benar-benar menyukai Jember, sesederhana saya mencintai kebebasan. 

Jember bukan perkara kota di hampir ujuang timur pulau Jawa. Jember bagi saya bukan sebatas geospasial. Sekali lagi, Jember adalah penemukan ‘aku’ yang tak sempat saya temukan di kota tempat saya tinggal, Garut. Saya bertemu dengan perebutan nalar, kuasa sampai pemaknaan. Sederhananya, saya belajar banyak dari kota Jember. Belajar tidak hanya bunyi Pasal-pasal da azas di fakultas Hukum, saya menemukan makna di Jember.

Tak heran, hampir tiga bulan sekali saya berkunjung ke Jember, meski saat ini tempat saya berproses ada di Jakarta. Jakarta-Jember hanya batasan ruang saja namun harapan saya kelak, saya ingin kembali ke kota itu. Entah kapan, entah berapa banyak rambut putih yang menghiasai kepala, entah seberapa lantang saya berteriak, entah seberapa lemah saya berjalan. Pusara saya ingin damai di Jember. 

Jember adalah batas tipis saya dan rindu, dimana saya menemukan rindu pada hal yang absurd. Akan jelas ketika saya rindu Anggie, ia pasangan saya. Namun rindu saya pada Jember seperti ke-absurd-an yang mencandu. Saya rindu jalanan berlubang di Jalan menuju Antirogo, mayang, Tanggul, Panti, Puger, Jenggawah, Kencong dll, saya rindu suasana sehabis hujan di Jember, saya rindu harum udara Jember, saya rindu celetukan dan logat unik dari penduduk Jember, saya rindu pada yang tak terdefinisi oleh inderawi. Sekali lagi, karena saya rindu pada Jember sebisa-bisanya dan sehormat-hormatnya karena “Jember adalah makna bukan kata”. Mungkin saya bukanlah yang pertama atau satu-satunya . banyak kawan yang seperti saya.

Oleh karena itu, biarkan aku merindukan Jember dengan sederhana, sederhana aku menulis rindu pada Jember.
Titip rindu untuk langit Jember.
 

0 komentar:

Posting Komentar