Senin, 04 April 2016

Malam semakin lugu, kita yang menolak Bodoh



*memungut sisa ingatan diskusi antara saya dan Ikhsan




Malam semakin lingsir. Dinding kamar tampak kusam, cahaya neon 15 Watt tak mampu terlalu kuat melawan malam, kamar berukuran 3x3 tampak redup, sedikit panas namun ada harapan dari mata mulut jendela yang menganga membiarkan angin malam Jakarta masuk, mengganti udara bebal sisa-sisa lelah selepas bekerja. Malam itu, saya berkunjung ke Kost karib di Duren Tiga. Kawan karib yang berasal dari kubangan sama di Jember dulu. Iya Dulu. Seolah, waktu itu telah jauh beranjak meninggalkan semangat-semangat tulus untuk terus belajar dan berkarya. Ah sudahlah. Jakarta atau Jember hanya perkara ruang. Waktu dan semangat tetap sama, meski kadang direcoki oleh kepentingan-kepentingan untuk menjadi manusia modern, bekerja dan berdasi. Kami telah lebih dulu melepaskan embel-embel simbolik yang penuh kooptasi.

Malam itu, diawali dari obrolan kawan lama yang sudah sebulan tidak berjumpa, padahal kost saya dan ikhsan hanya selemparan batu saja, Superman yang melempar batunya. kesibukanlah yang membuat satu sama lain tidak bisa dengan serta merta berjumpa setiap saat. Di kost Ikhsan ada juga karib saya, Wishnu dan Adjie, pun keduanya berasal dari kubangan yang sama seperti Ikhsan dan saya.
Malam semakin membawa pada obrolan yang lebih serius, ketika Wishnu lebih memilih kencan dengan pacarnya sedangkan Adjie lebih memilih onani di kamarnya. Saya berada dalam obrolan sentimentil, diskusi dipinggiran kota Metropolis.

Saya bertanya pada Ikhsan soal hubungannya dengan perempuan yang selalu menantinya di Jember sana, panggil saja perempuan itu Kelincik (pakai K). Raut wajahnya nampak lebih serius, pandangannya lebih tajam memperhatikan kata-kata yang saya ucapkan. Ia sepertinya tidak ingin membicarakan hal tersebut lebih dalam. Sampailah muara diskusi ini pada yang sifatnya lebih aksiologis dan ontologis. Diskusi makin filosofis ketika, perkara perempuan coba diterjemahkan tidak bagaimana melakukan aneksasi, kolonialisasi pada kaum hawa. Tidak. Namun lebih reflektif,
“apa itu lelaki, fin? Bagaimana jika  kelamin (sebagai Pembeda) tidak ada? Lalu bagaimana kita menyebut diri sebagai lelaki? Tanyanya dengan penuh penekanan.


Tentang Kesatria yang Terlupakan
      “apa itu lelaki, fin? Bagaimana jika  kelamin (sebagai Pembeda) tidak ada? Lalu bagaimana kita menyebut diri sebagai lelaki? Tanyanya dengan penuh penekanan.
Diskusi tersebut coba membuka paradigma baru tentang kelelakian yang diyakin oleh masing-masing dari kami. 

      Pertanyaan itu yang diutarakan sebagai pemantik diskusi panjang. Kami mencoba mengurai makna lekaki itu apa? Kriteria menjadi lelaki itu adanya dititik mana dan apa?
“Kesatria, jiwa kesatria lah yang dapat menyimbolkan kami sebagai seorang lelaki” kata kunci yang coba kami urai pertama adalah kesatria. Namun bagaiaman kita menjadi kesatria? Apakah dengan menjadi sosok yang biasa ditulis di Hipwee “ 11 syarat menjadi lelaki sejati”. Hallah..
Diskusi mengalir, Ksatria seperti wujud dari capaian terbaik menjadi lelaki. Kemudian muncul pertanyaan,

 apakah seorang lelaki agar menjadi kesatria, dia harus kaya? Disukai banyak lawan jenisnya? Haibat dan segala megalomaniak lainnya?
Kami coba mengurainya kembali, lalu kestria apakah sebegitu tidak adilnya bagi orang-orang yang tidak ganteng, tidak kaya, tidak sempurna (kaum difabel)?
Apakah mereka tidak punya kesempatan menjadi kestria? 

Kembali pada esensi diawal, Kesatrian bukan lagi tentang hal-hal yang bersifat Ontologis, namun lebih aksiologis. Kesatria dalam pemaknaan Ontologis (penampakan) lebih pada ia ada sosok yang telah selesai pada makna Ksatria dalam pengertian yang lebih aksiologis (tentang nilai), kemudian menjadi being dan existence adalah konsekuensi ketika tahapan aksiologis telah paripurna dimaknai. Artinya Kesatria adalah sikap!
Kemudian, pertanyaan selanjutnya sikap apa yang membuat lelaki menjadi Kesatria? (sekali lagi, singkirkan jenis kelamin, singkirkan pembeda lainnya)

Pertama kali, kami menemukan bahwa lelaki yang berjiwa kesatria itu dibangun dari pondasi, ia bisa memilih bukan memutuskan. Memilih ialah kondisi ada lebih dari satu hal yang bisa menjadi pembandingnya sebelum ia menentukan pilihannya. Maksud dari diskusi tersebut, kondisinya bukan serta merta dalam memusutkan tanpa pilihan terlebih dahulu.

          Sebelumnya agar lelaki mendapatkan pilihan, ia harus melakukan penaklukan atau perjuangan. Pilihan yang didapat oleh lelaki tidak alih-alih datang dari langit tanpa perjuangan. Artinya, sifat lelaki adalah berjuang adalah step menuju lelaki sebagai Ksatria
Penaklukan tidak hanya perkara bagaiaman lelaki ‘menaklukan lawan jenisnya’. Karena lekaki kesatria tidak tersekat pada bagaimana ia menjadi existance ketika sebatas menjadi penakluk perempuan. Menaklukan dalam pengertian yang universal, melawan ego, melawan power will. Minimalnya ada 3 pilihan krusial dalam hidup lelaki untuk bisa dikatakan Ksatria.
1.      Pilihan untuk menentukan jalan hidup
2.      Pilihan untuk menentukan ruang dimana meraih kejayaan (harta dan tahta)
3.      Memilih untuk menentukan pasangan hidup untuk mereplikasi diri (mencari keturunan)

  Menurut Nietzche, bahwa hakikat tedalam dari ada (being) adalah kehendak untuk berkuasa (Power Will). Singkatnya, kehendak untuk berkuasa adalah hakikat dari dunia, hidup dan ada. Kehendak untuk berkuasa adalah hakikat dari segalanya. Lelaki (manusia) tidak jauh berbeda seperti binatang, keduanya memiliki kekuatan untuk menggapai Power Will-nya. Namun, dijelaskan oleh Nietzche bahwa yang membedakan lelaki (manusia) dengan binatang, manusia mempunyai potensi untuk mengatasi diri dan mempunyai tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri. Ditahap tersebut seorang lelaki telah meningkatkan kualitas dirinya untuk menjadi sosok Ksatria. Sederhananya, mengelola ego dan hasrat agar tidak jauh menyerupai binatang.
Baiklah, Memilih saja tidak cukup karena memilih adalah lantai dasar dari beberapa lantai untuk meraih Jiwa Ksatria. Lelaki tidak selesai begitus aja dalam pemilihannya namun harus mengelola pilihannya tersebut. Kami menemukan tahap berikutnya untuk menjadi lelaki Ksatria, ada tiga hal yang menjadi modal penting. Dimana tiga hal tersebut  saling berkaitan dan tidak bisa dipilih salah satunya saja yaitu:

1.      Lelaki harus bertanggung jawab
Bertanggung jawab pada pilihan adalah sikap awal dari Ksatria. Pemaknaan bertanggung jawab tersebut bahwa lelaki sadar bahwa pilihannya memiliki konsekuensi, sehingga dalam memilih lelaki tidak seporadis. Misalnya dalam memilih pasangan hidup,  lelaki tidak hanya melihat perkara sexualitas lawan jenisnya saja namun adalah konsekuensi yang sudah tergambarkan dimasa yang akan datang. Sederhananya Lelaki diposisi yang bertanggung jawab seperti seorang sutradara membuat film, sang sutradara sudah memiliki gambaran-gambaran jalan cerita film tersebut kemudian mengelolanya dengan jenius. Konflik-konflik dalam hidup yang dilalui dikemudian hari adalah serangkaian pemanis cerita. Konsistensi dalam pilihan termasuk menjadi tanggung jawabny.

2.      Lelaki harus berani
Dalam posisi ini, Lelaki seperti Nahkoda ditengah Badai di samudera lepas. Sang Nahkoda harus berani dalam menentukan keputusan yang tepat, tidak tergesa-gesa dan tegas. Keberanian itulah yang membawa lelaki pada dua sisi yang harus siap ia hadapi, berani diluar zona nyaman atau berani dalam zona nyaman karena keduanya memiliki ruang uji yang sama-sama mengerikan. Lelaki pun memiliki keberanian dalam menentukan pilihan dan sikap, ia tidak akan menggantungkan pada sikap tanpa pilihan. Iya atau tidak. Tony Blair mantan Perdana Menteri Inggris pernah mengatakan, seni dalam kepemimpinan adalah berani memilih, memilih ‘ya atau tidak’. Tapi pemimpin harus siap dengan pilihan tidak. ‘Tidak’ dimaknai bukan hanya sebatas denial terhadap yang ia tidak suka namun juga penolakan yang ia suka. 

3.      Bijaksana adalah salah satu kunci menjadi Lelaki
Menjadi bijak tidak semata harus tampil seperti Dalai Lama atau memilih jalan Ahimsa Mahatma Gandhi. Menjadi bijak bukan berarti harus secerdas Einstein. Kami merasa itu tidak perlu. Seorang Jenghis Khan yang membantai seluruh penduduk desa di India pun tetap memiliki hak dan kesempatan menjadi bijak. Artinya menjadi bijak tidak harus menjadi siapa dan apa. Menjadi bijak adalah pilihan dan sikap dari penerimaan-penerimaan yang terdapat dalam kehidupan ini untuk kemudian menyikapinya dengan pilihan sikap yang dapat diterima sebagai pilihan paling baik meski tidak terasa menyenangkan. Lelaki yang menuju tahapan ksatria akan menapaki tahapan menjadi bijak. Bijak tidak membiarkan perempuannya menunggu atau bijak tidak menyikapi gejolak dalam kehiduapan keseharian.
     Kebijaksanaan dibangun dari prespektif yang Imparsial. Artinya melihat segala sesuatu secara menyeluruh, tidak tersekat-sekat pada egosentris kedirian, sebatas mempertahankan eksistensialismenya. Pondasi dari kebijaksanaan adalah sikap jujur, menahan diri agar ego tidak berkuasa dan prespektif yang tidak parsial.

Tahapan Nirwana
         Menjadi ksatria seperti manusia mencari surga. Tidak ada parameter yang pasti dan sahih sampai di surga mana kita akan berada. Tidak juga dengan manusia berbuat baik akan sampai pada surga yang diharapkan. Menjadi ksatria bukanla intrepretasi dari diri sendiri, tentunya hanya kental pada nuansa subjektifitas saja. Ksatria adalah tentang penilaian, mereka yang menilai bukan saya sebagai individu. Iya bukan saya. Semua serba imaterial, tidak berwujud namun dapat dirasakan, seperti oksigen. Kami sendiri pun menyepakai tahap ksatria adalah dimana posisi ego sebagai individu dapat ditaklukan oleh si lelaki itu sendiri. Artinya bukan seberapa banyak perempuan yang dapat ia tiduri atau sebera sering berganti pekerjaan atau seberapa banyak harta yang ditumpuk. Bukan. Namun semua itu seberapa berkuasa diri lelaki sebagai manusia pada egosentrisnya.
Diskusi terus berlanjut dan semakin dalam. Ikhsan bertanya,
apa cukup lelaki menjadi ksatria?

         Tentu tidak cukup. Apalah arti ksatria jika ia hanya dirundung akan penderitaan kesendirian yang tidak berkesudahan.  Ia harus menjadi manusia dalam pengertian yang paling esensial, ditemani dan mereplikasi diri. Berkerluarga dan melanjutkan keturunan. Ksatria harus menjadi raja.
Lelaki sebagai ksatria harus menjadi raja. Raja harus mempunyai istana dan mahkota. Oleh karena itu. Pernikahan adalah wujud paling logis sebagai seremonial sang lelaki untuk menjadi raja. Lebih tepatnya dinobatkan sebagai raja. Proses pernikahan didapat dari proses yang terdahulu. Menaklukan kemudian memilih setelah itu bertanggung jawab, berani dan bijaksana dalam pilihannya.
Lelaki akan pada tahap itu setelah ia sadar akan pilihannya dan menyematkan pada satu pilihan yang paling baik. Kali ini, pilihannya bukan perkara pekerjaan atau jalan hidup namun pilihan yang akan disematkan pada sosok lawan jenis mana yang akan mendampinginya. Dalam hal ini, kami bersepakat bahwa perempuan bukan lagi tulang rusuk yang berada di titik simetris lelaki.  Namun perempuan adalah mahkota lelaki. Mahkota sebagai manifestasi paling nyata dari kehormatan, kewibawaan dan kelayakan manusia  berjenis lelaki pantas disebut sebagai lelaki ksatria yang sahih menjadi raja.

        Kenapa perempuan adalah mahkota. Karena perempuan ‘didapat’ dari proses penaklukan eksternal dan internal si lelaki. Bagi perempuan feminis mungkin tidak sepakat, tidak apa. Sekali lagi ini hanya diskusi dari dua lelaki maskulin pemegang teguh sistem Patriarki. Perempuan adalah kerhomatan merupakan esensi paling dasar bahwa lelaki harus bisa bertanggung jawab pada pilihanya, pilihannya mempersunting perempuan tersebut menjadi mahkotanya, termasuk mengelola kerajaannya untuk bisa menjadi kerajaan yang berkembang dan maju. 
Survival dan Replikasi

        Dalam tahapan dari awal yaitu penaklukan sampai menjadi raja adal tool untuk ‘bertarung merebut nilai dari Ksatria. Menurut Freud, dua hal yang dialami manusia adalah replikasi yaitu melanjutkan keturunan dan survival bertahan hidup. Dua hal tersebut dibangun dari pondasi-pondasi yang kuat.
        Pemahaman replikasi bahwa manusia dihadapkan  pada pilihan  berpasangan agar memiliki kemampuan mempertahankan keturunan. Penyatuan lendir akan menghasilkan keturunan, begitu sederhananya. Namun tidak serta merta naluri kebinatangan tetap dipertahankan, seperti yang diterangkan oleh Nietzche diawal bahwa yang membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuan mengelola  keinginan. Ora ngasal lidig-lidig, enak! Begitu kalau kata kawan-kawan Lidig Mania

       Dalam replikasi harus memperhatikan bibit bobot dan bebet. Terdengar klasik namun itu parameter yang paling sederhana dari petuah tetua dulu. Baiklah. Si lelaki akan melirik perempuan yang secara seksualitas menarik, naluri kebinatangan manusia yang digunakan. Perempuan yang mencolok. Berdada besar, cantik, berbokong besar atau apalah itu sesuai kriteria masing-masing. salah, lepaskan salah dan benar. Namun yang pasti itu pilihan yang mendasar.

        Kemudian manusia akan pada tahapan survival. Beranak pinak saa tidak cukup namun juga perlu bertahan hidup untuk meraih kejayaan atau alasan-alasan lainnya. Oleh karena itu, mengapa kita perlu sehat, perlu cerdik dan perlu bekerja. Semua agar kita sebagai manusia bisa bertahan, kalau kata Makoto Shihio (tokoh dalam anime Samurai X) “ yang kuat akan bertahan, yang lemah akan musnah”. Terdengar agak fasis dan tidak humanis namun lihatlah lebih realistis. Bahwa hukum alam akan menyeleksi pihak-pihak yang lemah. Hukum evolusi pun demikian. Artinya yang bertahan dari kehidupan saat ini adalah hal-hal yang memenangkan pertarungan. Kita hidup dari sperma yang menang dari miliaran sperma yang kalah. Bahkan dari tahapan paling dasar sendiri kita sebagai manusia adalah penakluk.

          Kembali pada persoalan bahwa manusia harus bertahan. Tentu dalam bertahan harus dibarengi dengan tool, yang dimaknai sebagai bekal menjalani hidup.  Contoh yang paling sederhana, kenapa kita harus berpendidikan tinggi? Tidak serta merta pendidikan sampai S3 atau Profesor hanya untuk menambah nama kita yang terpahat di pusara kelak. Bukan. Namun pendidikan mempengaruhi prespektif. Tujuan dari pendidikan adalah mencerdaskan, kecerdasan merupakan poin dasar dari prespektif yang dimiliki manusia. Pendidikan membawa manusia pada memahami dan pemahaman. Mengerti dan memaknai. Bukan sekedar ‘hafal tanpa esensi’. Bangku kuliah mengajarkan manusia untuk melihat sesuatu tidak tersekat pada ketidak tahuan. Karena bekal dasar untuk bertahan hidup adalah melihat persoalan secara menyeluruh bukan tersekat-sekat.  Itulah kenapa lelaki yang akan menjadi ksatria harus berpendidikan, tidak terkecuali pasangannya.

            Begitu pula kenapa perlu menjadi sehat dan perlu memiliki kelayakan dalam hal materi semua menuju pada alat, sarana untuk mencapai tujuan hidup yang makmur, bahagia dan bla.bla..
Lebih penting dari itu, sebagai lelaki adalah untuk meraih makna jiwa ksatria.
Lain daripada itu, perempuan yang akan (kelak) menjadi mahkota lelaki adalah perempuan yang terseleksi dari proses perjuangan sang lelaki, artinya perempuan-perempuan yang layak diperjuangkan.

        Baiklah. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggurui atau menyamakan pandangan kawan-kawan pembaca terkait definisi lelaki. Makna lelaki yang terdifini sebagai ksatria merupakan kesimpulan dari diskusi kami malam itu. Bukan pula untuk merasa paling tahu, hanya sebatas merasionalisasikan  bagaiamana, tahapan seperti apa yang harus dilalui oleh sesorang lelaki untuk mendapatkan nirwananya. Kami rasa para feminis akan berkerut dahi. Anggap saja, kami sedang menjadi ideal dengan definisi pemaknaan tersebut.


huftt, tak terasa pagi terlampau cepat mengkhianati...
Tabik!!!





0 komentar:

Posting Komentar