Selasa, 02 Februari 2016

Memelihara Ingatan tentang Sempolan


“siapa kamu? Saya adalah Pejuang Rakyat”

Tentang Sempolan dan “Siapa kamu”
Sempolan selalu terasa basah beberapa Minggu terakhir, hujan lembut membasahi Sempolan.  Tentu, Sempolan bagi kader GmnI memiliki kesan tersendiri, setidaknya ada air yang sempat diminum dari sendang Biskit Sempolan, ada  ingatan yang menolak lapuk tentang sisa suara yang akan habis, ada ingatan tentang kantuk yang tak tertahan atau ada kebersamaan dalam proses menjadi kader GmnI. Sempolan tak sekedar  nama, Sempolan telah menjadi rahim bagi kelahiran anak bangsa yang berpihak pada kaum Marhaen, bagitu kata Korlap yang mengkader kami semua. Sempolan ada ruang yang penuh renungan tentang ‘siapa kamu? Saya adalah Pejuang Rakyat’. 
Pertanyaan ‘ siapa kamu’ merupakan bagian dari prosesi Kaderisasi. Pelaksanaannya Senin dini hari ditengah hutan Pinus, nama prosesi tersebut adalah “Malam Seribu Korlap” karena Seluruh Kader GmnI Jember yang hadir diberi kesempatan menjadi korlap yang terbagi dalam  lima pos. Setelah Kader-Kader baru di sumpah,  kemudian satu per satu dari mereka berjalan sendiri melewati semak-semak ditengah senyap hutan Pinus menuju ‘arena seribu korlap’. Pos pertama yang dilalui adalah Pos Pertanyaan Siapa kamu. Pertanyaan filosofis yang mendekonstruksi ulang identitas diri tentang pemaknaan terhadap diri sendiri dan keberpihkannya kepada Rakyat. Entah sejak kapan malam Seribu Korlap itu diadakan, tapi bagi kebanyakan kader 2000an tentu pernah merasakan kehabisan suara karena berteriak-teriak sepanjang lima pos tersebut.
Pertanyaan “Siapa kamu? Saya adalah Pejuang rakyat” tidak sebatas pertanyaan biasa. Saya menemukan pertanyaan yang sama dalam novel Filsafat dari Norwegia, Sohpie World karya Justin Gaardner. Seorang Sophie Amundsen menerima surat misterius, surat itu hanya berisi tulisan pertanyaan, ‘Siapa kamu’. Pertanyaan itu membuat ia berpikir dalam tentang siapa sesungguhnya dia. Sejak saat itu hari-hari Sophie tak pernah terlewatkan tanpa berpikir, surat misterius yang selalu datang mengajarkan Sophie tentang kehidupan filosofis.
Pertanyaan ‘siapa kamu?’ tidak serumit pemikiran Sophie. Siapa kamu merupakan bagian dari pemaknaan ulang akan identitas diri, artinya sebelum menjadi kader ‘saya adalah siapa’ dan setelah setelah menjadi kader GmnI, ‘saya adalah Pejuang rakyat’. Bagi saya pemaknaan tersebut terlihat sangat romantis, pada saaa itu. Menjadi GmnI dan pemaknaan keberpihakan.

Si Empunya Sempolan
Ingatan tentang Sempolan tentu tak akan lepas dari sosok –saat ini- semakin ringkih dimakan waktu, Mbah Tien. Menurut Alm. Mas Jenggik, bagi angkatan *80, Mbah Tien dulu dikenal dengan nama Tante Rina.
Namun  Ingatannya tak seringkih tubuhnya, ia tak pernah lupa dengan nama-nama yang dulu akrab menyambanginya. Di sela-sela obrolan nostalgia, tak jarang Mbah Tien menyebut nama kader-kader lama GmnI Jember. Di tahun 80an, ia masih ingat dengan nama Bismo, Gandhi, Bachrul, Jenggik, Andang, Nur Suhud, Arif Unyil dan lain-lain. Di angkatan 90 awal ia masih ingat betul dengan nama-nama Donny, Sony dan banyak nama lagi yang Mbah Tien ingat  dari nama Kader-Kader GmnI yang saat ini telah melanglang buana.
Sempolan dan Mbah Tien merupakan dua hal yang tak bisa terpisahkan. Dalam setiap ritus Kaderisasi GmnI, KTD, rumah Mbah Tien tidak pernah lepas dari kunjungan kawan-kawan yang hadir dalam KTD tersebut. Tentu Mbah Tien punya ritual tersendiri untuk para kader-kader GmnI, yaitu mencium kening-pipi dan mendoakan kami semua. Selalu seperti itu.
Mbah Tien yang dulu ceria dan sering berbagi cerita pada kawan-kawan yang datang menyambanginya. Di tahun 2009, saat saya KTD, Mbah Tien masih sering membantu kawan-kawan untuk memasak atau sekedar tenguk-tenguk melihat suasana KTD. Namun, kini lebih banyak diam. Beberapa tahun belakang ini, ia sering sakit-sakitan. Sakit karena usia dan sakit karena jarang diobati. Kendala ekonomi memang menjadi persoalan, praktis hanya mas Djito yang menjadi tumpuan.
Dulu rumah Mbah Tien digunakan sebagai tempat memasak dan tempat tidur kader dan tamu yang hadir dalam kegiatan KTD. Namun saat ini, tempat masak dan istirahat kader-kader lebih banyak di rumah mas Djito. Rumah mbah Tien tidak sekokoh dulu, rumahnya kini sudah hampir ambruk, tinggal menunggu beberapa purnama saja mungkin akan berlatar tanah.  

Ambruknya Rumah Nenek Ideologis Kami
        Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa kawan bersama Ketua Terpilih GmnI Cabang Jember, Hykal coba menuntaskan rindu pada Sempolan. Tentu sowan ke rumah Mbah Tien dan makan jangan (Read:sayur) Pakis buatan Mbak Seh, istri Mas Djito. Kami melihat suasana rumah Mbah Tien yang memorable. “dulu saya sering tidur ditempat ini”gumam saya. Namun kami menjadi prihatin melihat kondisi rumah Mbah Tien, rumah hampir roboh yang ditinggali nenek Ideologis kami semua, Kader GmnI Jember. Mbah Tien sudah tidak mampu berjalan dengan baik sehingga ia lebih banyak duduk di Amben ruang tamu. Ia tak memiliki kamar lagi, karena kamarnya sudah hampir roboh. Tidak hanya kamar, Dapurnya sudah roboh, praktis hanya ruang tamu saja yang lebih baik, meski jauh dari kata layak untuk nenek ringkih yang hanya sekedar berjalan saja sudah tertatih-tatih. Rumah Mbah Tien sudah tidak layak untuk ditinggali, kotor, lembab sehingga semakin membuatnya mudah sakit-sakitan.
       Keprihatinan hanyalah sebatas rasa yang tak ada gunanya jika tak berbuat sesuatu, kami, angkatan 2009 meminta ijin dulu pada Ketua Cabang Jember untuk  menggalang bantuan kepada alumni-alumni untuk urun rembuk, menyisihkan hasil keringatnya untuk berbagi bahagia dengan keluarga yang berada dalam sunyi hutan, Sempolan. Beberapa kader sudah melakukan iuran namun dananya sepertinya masih jauh dari kata cukup. Tujuannya penggalangan dana ini untuk merenovasi rumah Mbah Tien, agar lebih layak dan lebih aman ditinggali oleh Nenek yang tinggal sendiri dirumah lapuk tersebut. Lebih jauhnya agar memelihara ingatan RoDinDa akan Sempolan dan Kaderisasi GmnI.

Bukan tentang berapa banyak yang diberikan namun tentang semangat kolektif lah yang lebih meneduhkan: bahwa kader GmnI Jember masih berpihak dan tak pernah lupa pada Kawah Candradimuka nya GmnI Jember.[]



Merdeka!!!
GmnI Jaya !!!


Post Script:Jika kawan-kawan  dan Alumni GmnI Jember, yang ingin berbagi semangat dan Rejeki bisa disalurkan kepada Pengurus Cabang GmnI Jember yang baru  terpilih atau pada No Rekening saya untuk kemudian saya transfer pada kawan-kawan pengurus. Selebihnya, Dana Gerakan bisa disalurkan pada:

No Rekening: Bank BRI 002101021700532 An Nando Yuselle Mardika   (CP:085746766076)
                       Bank BCA 740-118-778-6 An Gulfino Guevarrato                (08997722689)
                       Bank Mandiri  143 00 13241425 An Gulfino Guevarrato       (08997722689)
                       Bank BNI 0370269594   An Hykal  Shokat Ali                      (081333713833)




FOTO RUMAH MBAH TIEN:

BANGUNAN TAMPAK DARI SAMPING



 
DAPUR YANG HAMPIR ROBOH


KAMAR YANG SUDAH ROBOH


TAMPAK DARI DEPAN


RUANG TAMU, DAPUR DAN TEMPAT TIDUR MBAH TIEN JADI SATU


KAMAR YANG SUDAH ROBOH


ATAP YANG BOCOR KETIKA HUJAN DERAS


Add caption

0 komentar:

Posting Komentar