“siapa kamu? Saya adalah Pejuang Rakyat”
Tentang
Sempolan dan “Siapa kamu”
Sempolan
selalu terasa basah beberapa Minggu terakhir, hujan lembut membasahi Sempolan. Tentu, Sempolan bagi kader GmnI memiliki kesan
tersendiri, setidaknya ada air yang sempat diminum dari sendang Biskit
Sempolan, ada ingatan yang menolak lapuk
tentang sisa suara yang akan habis, ada ingatan tentang kantuk yang tak
tertahan atau ada kebersamaan dalam proses menjadi kader GmnI. Sempolan tak
sekedar nama, Sempolan telah menjadi rahim bagi kelahiran anak bangsa yang berpihak pada kaum Marhaen, bagitu kata Korlap yang mengkader kami semua. Sempolan ada ruang yang penuh
renungan tentang ‘siapa kamu? Saya adalah Pejuang Rakyat’.
Pertanyaan ‘ siapa kamu’ merupakan bagian dari prosesi Kaderisasi. Pelaksanaannya Senin dini hari ditengah hutan Pinus, nama prosesi tersebut adalah “Malam Seribu Korlap” karena Seluruh Kader GmnI Jember yang hadir diberi kesempatan menjadi korlap yang terbagi dalam lima pos. Setelah Kader-Kader baru di sumpah, kemudian satu per satu dari mereka berjalan sendiri melewati semak-semak ditengah senyap hutan Pinus menuju ‘arena seribu korlap’. Pos pertama yang dilalui adalah Pos Pertanyaan Siapa kamu. Pertanyaan filosofis yang mendekonstruksi ulang identitas diri tentang pemaknaan terhadap diri sendiri dan keberpihkannya kepada Rakyat. Entah sejak kapan malam Seribu Korlap itu diadakan, tapi bagi kebanyakan kader 2000an tentu pernah merasakan kehabisan suara karena berteriak-teriak sepanjang lima pos tersebut.
Pertanyaan ‘ siapa kamu’ merupakan bagian dari prosesi Kaderisasi. Pelaksanaannya Senin dini hari ditengah hutan Pinus, nama prosesi tersebut adalah “Malam Seribu Korlap” karena Seluruh Kader GmnI Jember yang hadir diberi kesempatan menjadi korlap yang terbagi dalam lima pos. Setelah Kader-Kader baru di sumpah, kemudian satu per satu dari mereka berjalan sendiri melewati semak-semak ditengah senyap hutan Pinus menuju ‘arena seribu korlap’. Pos pertama yang dilalui adalah Pos Pertanyaan Siapa kamu. Pertanyaan filosofis yang mendekonstruksi ulang identitas diri tentang pemaknaan terhadap diri sendiri dan keberpihkannya kepada Rakyat. Entah sejak kapan malam Seribu Korlap itu diadakan, tapi bagi kebanyakan kader 2000an tentu pernah merasakan kehabisan suara karena berteriak-teriak sepanjang lima pos tersebut.
Pertanyaan
“Siapa kamu? Saya adalah Pejuang rakyat” tidak sebatas pertanyaan biasa. Saya menemukan
pertanyaan yang sama dalam novel Filsafat dari Norwegia, Sohpie World karya
Justin Gaardner. Seorang Sophie Amundsen menerima surat misterius, surat itu
hanya berisi tulisan pertanyaan, ‘Siapa kamu’. Pertanyaan itu membuat ia
berpikir dalam tentang siapa sesungguhnya dia. Sejak saat itu hari-hari Sophie
tak pernah terlewatkan tanpa berpikir, surat misterius yang selalu datang
mengajarkan Sophie tentang kehidupan filosofis.
Pertanyaan
‘siapa kamu?’ tidak serumit pemikiran Sophie. Siapa kamu merupakan bagian dari
pemaknaan ulang akan identitas diri, artinya sebelum menjadi kader ‘saya adalah
siapa’ dan setelah setelah menjadi kader GmnI, ‘saya adalah Pejuang rakyat’. Bagi
saya pemaknaan tersebut terlihat sangat romantis, pada saaa itu. Menjadi GmnI
dan pemaknaan keberpihakan.
Si
Empunya Sempolan
Ingatan
tentang Sempolan tentu tak akan lepas dari sosok –saat ini- semakin ringkih
dimakan waktu, Mbah Tien. Menurut Alm. Mas Jenggik, bagi angkatan *80, Mbah
Tien dulu dikenal dengan nama Tante Rina.
Namun
Ingatannya tak seringkih tubuhnya, ia
tak pernah lupa dengan nama-nama yang dulu akrab menyambanginya. Di sela-sela
obrolan nostalgia, tak jarang Mbah Tien menyebut nama kader-kader lama GmnI
Jember. Di tahun 80an, ia masih ingat dengan nama Bismo, Gandhi, Bachrul,
Jenggik, Andang, Nur Suhud, Arif Unyil dan lain-lain. Di angkatan 90 awal ia
masih ingat betul dengan nama-nama Donny, Sony dan banyak nama lagi yang Mbah
Tien ingat dari nama Kader-Kader GmnI
yang saat ini telah melanglang buana.
Sempolan
dan Mbah Tien merupakan dua hal yang tak bisa terpisahkan. Dalam setiap ritus
Kaderisasi GmnI, KTD, rumah Mbah Tien tidak pernah lepas dari kunjungan kawan-kawan
yang hadir dalam KTD tersebut. Tentu Mbah Tien punya ritual tersendiri untuk
para kader-kader GmnI, yaitu mencium kening-pipi dan mendoakan kami semua. Selalu
seperti itu.
Mbah
Tien yang dulu ceria dan sering berbagi cerita pada kawan-kawan yang datang
menyambanginya. Di tahun 2009, saat saya KTD, Mbah Tien masih sering membantu
kawan-kawan untuk memasak atau sekedar tenguk-tenguk
melihat suasana KTD. Namun, kini lebih banyak diam. Beberapa tahun belakang
ini, ia sering sakit-sakitan. Sakit karena usia dan sakit karena jarang
diobati. Kendala ekonomi memang menjadi persoalan, praktis hanya mas Djito yang
menjadi tumpuan.
Dulu
rumah Mbah Tien digunakan sebagai tempat memasak dan tempat tidur kader dan
tamu yang hadir dalam kegiatan KTD. Namun saat ini, tempat masak dan istirahat
kader-kader lebih banyak di rumah mas Djito. Rumah mbah Tien tidak sekokoh
dulu, rumahnya kini sudah hampir ambruk, tinggal menunggu beberapa purnama saja
mungkin akan berlatar tanah.
Ambruknya
Rumah Nenek Ideologis Kami
Beberapa waktu lalu,
saya dan beberapa kawan bersama Ketua Terpilih GmnI Cabang Jember, Hykal coba
menuntaskan rindu pada Sempolan. Tentu sowan ke rumah Mbah Tien dan makan jangan (Read:sayur) Pakis buatan Mbak
Seh, istri Mas Djito. Kami melihat suasana rumah Mbah Tien yang memorable. “dulu saya sering tidur
ditempat ini”gumam saya. Namun kami menjadi prihatin melihat kondisi rumah Mbah
Tien, rumah hampir roboh yang ditinggali nenek Ideologis kami semua, Kader GmnI
Jember. Mbah Tien sudah tidak mampu berjalan dengan baik sehingga ia lebih
banyak duduk di Amben ruang tamu. Ia tak
memiliki kamar lagi, karena kamarnya sudah hampir roboh. Tidak hanya kamar,
Dapurnya sudah roboh, praktis hanya ruang tamu saja yang lebih baik, meski jauh
dari kata layak untuk nenek ringkih yang hanya sekedar berjalan saja sudah
tertatih-tatih. Rumah Mbah Tien sudah tidak layak untuk ditinggali, kotor, lembab sehingga semakin membuatnya mudah sakit-sakitan.
Keprihatinan hanyalah
sebatas rasa yang tak ada gunanya jika tak berbuat sesuatu, kami, angkatan 2009 meminta ijin
dulu pada Ketua Cabang Jember untuk menggalang bantuan kepada alumni-alumni untuk
urun rembuk, menyisihkan hasil keringatnya untuk berbagi bahagia dengan
keluarga yang berada dalam sunyi hutan, Sempolan. Beberapa kader sudah
melakukan iuran namun dananya sepertinya masih jauh dari kata cukup. Tujuannya
penggalangan dana ini untuk merenovasi rumah Mbah Tien, agar lebih layak dan
lebih aman ditinggali oleh Nenek yang tinggal sendiri dirumah lapuk tersebut. Lebih
jauhnya agar memelihara ingatan RoDinDa akan Sempolan dan Kaderisasi GmnI.
Bukan tentang berapa banyak yang diberikan namun tentang semangat kolektif lah yang lebih meneduhkan: bahwa kader GmnI Jember masih berpihak dan tak pernah lupa pada Kawah Candradimuka nya GmnI Jember.[]
Merdeka!!!
GmnI Jaya !!!
GmnI Jaya !!!
Post Script:Jika kawan-kawan dan Alumni GmnI Jember, yang ingin berbagi
semangat dan Rejeki bisa disalurkan kepada Pengurus Cabang GmnI Jember yang
baru terpilih atau pada No Rekening saya untuk kemudian saya transfer
pada kawan-kawan pengurus. Selebihnya, Dana Gerakan bisa
disalurkan pada:
No Rekening: Bank BRI 002101021700532 An Nando
Yuselle Mardika (CP:085746766076)
Bank BCA 740-118-778-6 An Gulfino Guevarrato (08997722689)
Bank Mandiri 143 00 13241425 An Gulfino Guevarrato (08997722689)
Bank BNI 0370269594 An Hykal Shokat Ali (081333713833)
FOTO RUMAH MBAH TIEN:
![]() |
| BANGUNAN TAMPAK DARI SAMPING |
| ||
| DAPUR YANG HAMPIR ROBOH |
![]() |
| KAMAR YANG SUDAH ROBOH |
![]() |
| TAMPAK DARI DEPAN |
![]() |
| RUANG TAMU, DAPUR DAN TEMPAT TIDUR MBAH TIEN JADI SATU |
![]() |
| KAMAR YANG SUDAH ROBOH |
![]() |
| ATAP YANG BOCOR KETIKA HUJAN DERAS |
![]() | |||||||||||||||
| Add caption |













0 komentar:
Posting Komentar