Sabtu, 19 Oktober 2013

(Ketidak)Pedulian =Kebusukan Sekret

Bau busuk kaos kaki bercampur dengan pesing kecing cecurut, ditambah kasur sisa tidur semalam yang tidak dirapikan, koran yang berserakan tak karuan dan piring sisa makan yang digeletakan begitu saja telah menjadi pemandangan yang sulit dipisahkan dari sekret UKPKM Tegalboto, sudah dibersihkan berkali-kali namun tetap sama, selalu saja ada orang-orang yang tak bisa memahami nikmatnya bersih.  Kumuh dan tak beraturan. Belum lagi diruang redaksi, tumpukan baju busuk, entah  siapa saja yang punya pun menampah berantakan sekret ini. Selama beberapa hari ini, Tegalboto, hanya saya, Bill, Elya, kadang Ardi  yang biasanya standbye di sekret kadang tidur disana, sisanya yang lain entah kemana. Entah sedang sibuk mengerjakan tulisan majalah atau mencoba untuk menenangkan pikiran karena tekanan deadline majalah yang semakin memburu. Akhirnya, atas keadaan yang menyiksa itu saya mencoba untuk mengajak crew Tegalboto untuk bersih-bersih sekret. Namun, sayang sekali hanya ‘yang itu-itu saja” yang datang. sudah dua kali ini aku mengajaknya namun tetap sama dengan hari yang sebelumnya. Lalu dimanakah pengurus, anggota yang lainnya? entahlah, ketika diberi kabar melalu sms ada yang balas dan ada yang hilang sama sekali.

Keadaan ini membuat saya sangat jengah. Kemana saja, kawan-kawan ini? Sekret sudah kumuh seperti ini tetap saja dibiarkan kumuh tak aturan, padahal kita semua tahu kalau Tegalboto sedang menggarap majalah, dimana intensitas komunikasinya dan koordinasi di sekret perlu ditingkatkan, bagaimana akan membicarakan ide-ide segar jika mata dan hidung kita terganggu oleh keadaan yang busuk macam sekret Tegalboto sekarang ini. Sungguh, bagi mereka yang tiap hari tidur di sekret pasti akan merasakan hal yang sangat menggangu, apalagi tidur bareng dengan cecurut yang lewat diatas kepala kita, melewati bantal yang biasanya sering diperbutkan oleh kita semua. Salah-salah, bisa terkena penyakit Pes kita nanti.

Oleh karena itu, kepada kawan-kawan pengurus ataupun anggota magang UKPKM Tegalboto, dengan hormat saya menggundang semuanya untuk hadir besok, hari Minggu tanggal 20 Oktober 2013 untuk bersih-bersih Sekret UKPKM Tegalboto.  Ketika sms tidak dihiraukan, diberi kabar berkali-kali diacuhkan maka saya mencoba menulis seruan ini. Terima kasih atas perhatiannya!
 
Salam bersih-bersih

Jumat, 04 Oktober 2013

Malam membawaku pada Hari itu!

Selamat malam.
Hening, berteman dengan syahdu, sepertinya memang selalu begitu tak pernah berubah. Aku bilang “syahdu itu mencandu”. Malam ini, kutemui temaran yang main layu, tak bersemangat memberi warna yang perlahan menjadi sedikit gelap tapi tak berharap gelap menguasai segalanya. Hanya Jangkrik yang tak bosan membuat gaduh, sedangkan dari kejauhan sayup-sayup berkumandang orang mengaji, malam makin syahdu. Syahdu lagi-lagi berkawan denganku dalam suasana putik kontemplatif seperti malam ini.Malam membawaku ke hari itu.

Baru saja aku tinggalkan kemeriahan malam, berkelekar tentang lelucon-lelucon, sambil kadang  menertawakan hidup yang terlalu itu-itu saja. Malam, selalu saja menjadi tempat sampah, apalagi jika hening memeluk ingatan-ingatan yang lama diendapkan waktu, yang kini mulai melapuk.
Sementara, kemeriahan yang kutinggalkan itu masih menyisakan tawa meski keceriaan itu hanya sementara. Ketika langit makin menua, waktu  menghadirkan kantuk yang tak kuasa ditahan maka semua akan kembali dalam kehangatannya masing-masing. Dikala itulah, dikala hening datang, damai datang, ada ingatan yang yang mengendap-endap merasuk. Sama seperti malam ini yang kurasakan.

Malam membawaku pada hari yang lalu, ketika aku masih mengeja kepastian. Belajar berdiri sambil tertatih-tatih untuk tetap bisa tegap ditanah perantauan. Tak terasa, hari itu sudah beranjak  4 tahun lebih. Dimana kini aku sedang menghadapi tugas akhir meski masih aku biarkan tak tergarap, karena ketika terlalu cepat lulus aku tak ingin dipermainkan oleh keresahan “akan kerja dimana aku?”. Pertanyaan yang akan sulit terpecahkan oleh generasi-generasi limbung macam aku ini. Hari itu sudah semakin berlalu, meyisakan tawa-tawa yang ditertawakan dalam suasana seperti malam ini. Kenangan itu hadir.

Hari itu, aku tak ingat pasti. Dimana langkah kakiku berjalan setapak demi setapak meninggalkan rumah, menyisakan tetesan air mata dari Mamah dan adik-adik. Kala itu, aku masih hijau, berbebekal semangat akan kebaharuan yang cukup lama aku idam-idamkan, mencari hal baru ditempat yang baru. Semangat itu meruntuhkan kesedihan akan perpisahan. Kereta menuju timur membawaku pergi ke tempat yang penuh asa, Jember. Begitu bersemangat menyambutnya, sedangkan yang ditinggalkan menahan sesak, salah satu keluarganya, anaknya harus meninggalkan rumah untuk pertama kalinya dan tak akan kembali hidup bersama dalam kerjaan kecil keluarga Sugandhi.

Berlalulah hari itu, kemudian setelah seragam putih dan abu-abu aku tanggalkan berganti ke perguruan tinggi. Dimana aku bergumul dengan suasana pendidikan yang baru, di fakultas Hukum Universitas Jember. Bertemu dengan kawan baru, budaya baru, suasana baru dan semangat yang lebih baru. Meski awalnya aku menginginkan UGM sebagai tujuanku. “Tak apalah, dimanapun aku berada” pikirku waktu itu, karena aku sudah terlalu bosan dan muak dengan suasana di rumah, lingkungan di Garut. Bagiku, hari-hari yang kulalui begitu monton, tak ada yang menarik.

Sudah  tahun 4 tahun berganti. Banyak cerita yang tertulis, banyak kisah yang diceritakan oleh siang, senja, malam, kemarau, hujan. Banyak hari yang kulalui dengan pengalaman –pengalaman yang tak bisa dilupakan begitu saja. Meninggalkan kesan yang mendalam, meyimpan kenangan yang tak terlupkan. Kisah itu manis, syahdu, satir berpadu dalam buku besar yang kuberi nama “keberanjakan waktu”. Kutemui impian yang selama ini hanya angan-angan, kutemui idola-idola yang selama ini kucari dan kudapatkan kehangatan yang selama ini kubayangkan. Jember, telah memberi kesan yang mendalam. Ketika diawal aku hadir disini, ketidak betahan selalu menghantuiku, kini aku cinta kota ini. Kota yang sebelumnya telah menjadi saksi aku dilaharikan dimuka bumi ini dan kini kota ini pun menjadi saksi awal langkahku menuju keberanjakan pada dunia yang lebih baru dan menarik untuk aku lalui.

Kini, ketika semuanya sudah dijalani sampailah pada senjakala. Senja yang biasa aku nikmati di Gumuk kerang itu akan berganti senja yang aku nikmati dilain tempat, lain suasana. Siklus itu berulang dan berganti waktu, sama mencari kemeriahannya. Namun, kini aku tak pergi dengan sendiri. Seorang perempuan telah menjadi alasanku untuk tetap kembali meski telah berlayar jauh. Ia ibarat pulau idaman bagi seoerang bajak laut, meski berkelana dalam samudra luas, tersesat senyap kabut samudera, dihantam badai laut selatan atau karam di luatan artic, sang bajak laut itu akan kembali ke pulau impiannya. Menikmati kebersamaan  yang mentramkan, berbicara tentang kucing dan anjing yang hidup rukun, memandangi anak-anak hasil buah cinta yang  bertingkah lucu. Ya aku selalu berharap Tuhan memeluk mimpi kita.

Sampailah pada hari yang kunanti sekaligus kubenci karena aku benci perpisahan, dengan apapun. Dimana hari ini, aku tak lagi sehijau dulu. Setelah mengalami banyak cerita dan pengalaman  yang membawa aku pada hari-hari yang mulai mempakan lembayung, terjadi gradasi antara kebosanan dan kemeriahan yang masih tersisa menciptakan keindahan tentunya akan berbeda di hari dan tempat yang lain.

Kini, waktu ku banyak dinikmati di ruang-ruang diskusi, bukan lagi sebagai pendengar  atau penonton  seperti dulu. Kini aku yang banyak bercuap-cuap sambil didengarkan oleh mereka yang hijau. Kini pun, waktuku banyak dihabiskan di warung kopi sambil menuntaskan keresahan dengan bercerita dengan sejawat yang sama-sama melahirkan kreativitas untuk mensahihkan kalau aku itu manusia yang tak sekedar hidup lalu hanya makan dan minum, tidak, aku pun ingin berkarya dengan caraku.

Begitulah hari itu semakin hari terus beranjak. Seperti yang pernah kukatakan dulu, waktu itu sungguh arogan tak ingin berhenti barang sejenak, menikmati keceriaan sejenak. Waktu terus berganti meski perlahan namun menghipnotis, tiba-tiba sudah jauh keberanjakan itu. Dari sini, aku bisa ingin menyimpan hari-hari yang membuat kelu ketika diingat dikemudian hari itu, tentunya melalui tulisan ini. Ada kesan yang tak rela dari aku jika membiarkan  meninggalkan kenyamanan yang selama ini bersama ku. Namun, hidup ini terus berputar. Aku seorang supertramp yang terus akan mencari tempat baru sambil merasakan sensasi petualangannya sampai kebosanan terlalu berkuasa, baru aku akan menikmati kebersamaan yang hangat itu bersama keheningan yang cintai.

Semakin melapuknya malam mendekati pergantian hari dari tengah malam menuju dini hari, aku hanya ingin ketika catatan ini kubaca dikemudian hari oleh siapapun bahwa hidup ini adalah siklus yang terus berulang. Meninggalkan kisah yang lucu dan indah jika dikenang dikemudian hari. Bersama kisah itu aku lebih beranjak dari hari yang lalu begitu seterusnya sampai akhirnya harus berkalang tanah. Namun biarkan kisah itu tetap hidup meski raga ini tak bisa lagi berkata-kata, tak bisa lagi menjauhkan langkah atau tak bisa lagi menjelajahi eksotisme hari-hari baru.

Orang-orang sepertiku tak pantas menikamti hidup melulu dari balik meja sambil menghabiskan susu kaleng. Orang-orang sepertiku harus merasakan kenikmatan indahnya kebebesan, agar lebih menghargai kalau hidup sekali dan kita hidup bukan untuk dinikmati secara monoton.

Seperti malam sebelumnya, ada ceracau yang kacau tapi aku hanya ingin menitipkan kisah ini. Selamat malam. Setidaknya malam kembali lagi membawaku pada hari ITU, hari yang membawaku pada keresahan 4 tahun yang lalu.