Selasa, 27 Januari 2015

Nalar Kuasa Seks

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Senin, 26 Januari 2015

Jakarta Pagi dan Segala Perlawanannya

Pagi di Jakarta, sangat sulit menemukan damai di paginya. Belum juga matahari genap beranjak dari malam, manusia-manusia Jakarta telah hidup dalam hiruk pikuk yang menegangkan. Mengantri tiket kereta, menanti kereta datang, menanti angkutan kota datang, berdesakan dibusway, berebut masuk ke kereta, kemacetan yang mencengkram urat syaraf, apalagi? Tentu banyak hal yang segalanya berujung pada ketengan. Segalanya diidentikan dengan kecepatan, waktu terlalu berarti untuk disia-siakan, bahkan untuk sepagi yang belum genap itu.

Segalanya, tentang hiruk kehidupan kota mendadak hilang ketika Jakarta memasuki hari Minggu. Jakarta terlihat cantiknya, terlihat wajah amsterdam lama yang dicita-cita Jeans Pieterz Coen. Kota ini seperti membuai penghuninya dengan pesonanya. Masyarakat berbondong-bondong memadati jalanan, sekedar olahraga, bercanda ria, berwisata kuliner, jalan-jalan bersama keluarga tanpa peduli kemacetan, atau  Car Freeday, hanya sekedera melakukan kampanye sosial telah menjadi sedikit nafas kebebasan bagi masyarakat yang lelah dengan ketegangan. Jakarta perlu kebebasan, meski hanya satu hari.
Pagi itu, saya mencoba menjadi bagian kemeriahan masyarakat ibu Kota menyambut hari paginya, berjalan santai menyisiri jengkal trotoar sambil awas  memperhatikan setiap peristiwa istimewa, diabadikan dalam frame-frame tak bernyawa.
Pagi itu, saya mau belajar membuat Photostory tentang Hari Minggu pagi di Jakarta, dengan tema “perlawanan”.

Memilih tema Perlawanan tentu bukan tanpa sebab, saya memperhatikan setiap sudut ibukota selalu identik dengan segala kepentannya, ketengangan, kesemerawutan, atau apalagi yang kita-kita bisa mewakili maksud saya, namun dihari Minggu pagi ketika acara Car Freeday, segalanya mendadak luluh. Mereka mencoba melampiaskan kepentatan itu dalam satu pagi yang tak biasa. Berikut ini saya mencoba mengabadikan beberapa moment yang saya masukan dalam bagian dari tema perlawanan masyarkat ibukota dipagi hari.

Pagi di Rimba Beton



Jakarta terlihat cerah pagi itu, Gedung Pencakar langit terlampau kuasa menandingi sejumput hehijuan. kesan kontras dapat terlihat kalau Jakarta ingin tetap hijau meski beton terlalu menyesaki. Selamat Datang, di Jakarta, Belantara Beton




Diam Ku Melangkah



Hari Minggu yang cerah, banyak masyarakat yang datang berbondong-bondong untuk menikmati Car Freeday. Tujuan mereka tidak hanya berolahraga saja namun juga melakukan aktifitas lainnya, seperti bermain, wisata kuliner, aksi kampanye damai, atau sekedar mencari jodoh.




Harap Tenang





 Semangat Pagi! Pagi yang penuh semangat terbebas dari kemacetan, mencoba memuntahkan kemuakan dalam pagi yang tak seperti biasanya.  Sejak pertama kali digulirkan pada tahun 2008, program ini mampu menghadirkan perbedaan yang luar biasa. Pertama tentunya jalanan yang lebih lengang dan nyaman (karena tak ada kemacetan). Capaian yang paling membahagiakan adalah kondisi kualitas udara yang berangsur membaik. Salahsatu indikator yang dapat dilihat dari membaiknya kualitas udara adalah menurunnya parameter debu (PM-10), parameter carbon monoksida (CO), dan nitrogen monoksida (NO).




Ondel-Ondel, Menolak Punah


Ondel-Ondel merupakan Kesenian asli Jakarta,  namun seiring Jakarta semakin maju dan semakin banyak pula kebudayaan yang dibawa oleh pendatangnya, Ondel-Ondel seperti tamu dirumah sendiri. Namun, ditengah ketidak peduliannya, ada segelintir semangat yang coba untuk melawan kepunahan Ondel-Ondel dengan tetap memeliharnya. Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, dan hari Minggu lalu Ondel-Ondel sedang ngamen..Baiklah, saya paham!


Melawan dalam Bungkam


 Bertepatan dengan hari Primata Nasional, sekelompok aktivis perlindungan satwa yang menamakan diri PROFAUNA menggelar aksi peduli kepada masyarakat yang hadir diacara Car Freeday. Pro Fauna merupakan organisasi lingkungan yang peduli tidak hanya pada satwa namun juga pada Ilegal Lodging, perdagangan satwa dan pencemaran lingkungan. ProFauna sendiri merupakan akronim dari Protection Forest and Fauna, sedangkan kantor pusatnya terletak di Malang.




Selfie Maka Abadi


Kita adalah Selfie dan Selfie adalah Kita



Click, Hiduplah aku!
Hal yang paling mencolok diacara CarFreeday adalah Selfie. Hampir setiap sudut saya menemukan orang selfie. tidak hanya anak-anak, segala umur melakukan kegiatan itu. Descartes pernah mengatakan Cogito Ergo Sum, Aku berpikir maka aku ada, hari ini adigium itu telah dirubah Aku Selfie maka aku abadi. Semenjak era gadget canggih dan sosial media layaknya dunia nyata, kegiatan selfie merupakan keharusan yang tak boleh dilewatkan dalam menikamati setiap moment. Selfie adalah perlawanan pada eksistensi yang tak tau harus bagaimana didapatnya, selain Selfie. Dimanapun itu, namun hanya satu tempat yang sepertinya saya belum pernah lihat orang sedang selfie, yaitu dikamar mandi ketika sedang PUP, bagaimana tarik nafas dalam-dalamnya, ngedennya belum terbadikan. Hem, bukan tidak mungkin suatu saat nanti pasti terjadi. Selamat Datang, "Lo ga Selfie maka Lo bukan anak modern", Siap, saya paham.



Laki-laki dan Dua Balon yang tak pernah Tuntas

Saya sedikit usil ketika ada sepasang muda-mudi bermesraan didepan saya. Saya sengaja dibelakangnya, menanti moment yang paling tepat untuk mengusilnnya. Benar saja, tiba-tiba tali sepatunya terlepas, lalu sang lelaki dengan gagahnya membenarkan tali sang perempuannya.Saya berpikir, laki-laki telah dijajah wanita hari ini. karena  awalnya saya tidak mengetahui wajah kedua sejoli itu, namun saya setelah saya melihat dan mengarahkan lensa ke mereka, akhirnya saya mengerti kenapa si lekaki yang mengalah membenarkan tali sepatu perempuan itu, sepertinya perempuan itu tidak bisa menunduk, hemm, tau sendirinya ada dua benda yang mengganjalnya.

Menanti setelah Lelah


 Shelter Busway dari mulai Semanggi, Sarinah, Sampai Monumen Nasional dipenuhi oleh para penikmat Car Freeday yang lelah setelah melalui pagi yang menyenangkan tersebut. Sepertinya lelahnya tertahan diistirahatkan karena kembali berdesakan, mengantri untuk masuk Busway. Huft, kesenangan yang artifsial.


Kapitalisme

Sarinah Tak Lagi Sederhana


Mbok Sarinah, tentu bagi penggemar Seokarno atau setidaknya pernah membaca litertur sejarah Bung Karno akan dengan mudah mengenal sosok Sarinah. Ia adalah pembantu Bung Karno yang mengajarkan cinta kasih, kesederhanaan, dan bebudi luhur. Sosok Mbok Sarina begitu memiliki kesan yang mendalam dalam Bung Karno, oleh karena itu ia memberi nama sebuah Plaza dengan nama Sarinah. Namun Sarinah yang ini tidaklah sederhana, tidaklah berpihak pada masyarakat kecil karena Sarinah yang ini telah dirimbuni oleh kuasa pemodal. Persetan dengan kesederhanaan, yang penting untung dan untung.


Save KPK, Save Indonesia


Nyanyian Perlawanan



Korupsi dan Perlawanan Tanpa Kenal Lelah


Kemana Langkahku?



Dooorrrrr, Matilah Kau KPK!!!!Tangkap!!!


Orasi Perlawanan



 Beberapa akhir ini, negara ini seedang mengalami pembelajaran penting, pendewasaan menjadi sebuah bangsa yang patut dihargai. Kisruh antara KPK vs Polri bukanlah kisah baru, namun kisah lama yang diulang kembali. Hari Minggu lalu tanggal 25 Januari 2015 bertepatan dengan acara Car Freeday, beberapa simpatisan KPK coba mengadakan panggung rakyat yang menyuarakan perlawanan kepada institusi atau pihak-pihak yang mencoba melemahkan KPK, dari mulai kriminalisasi Komisioner KPK, Bambang Widjajanto, Pandu Praja dan yang terakhir coba melemahkan fungsi ketua KPK, Abraham Samad. 

Hari itu, saya berada ditengah-tengah kegiatan tersebut dan mencoba untuk menangkap beberapa moment menarik yang kirannya bisa mengabadi dalam frame-frame bisu. Saya coba satukan dengan kegiatan Car Freeday lainnya. mencoba mengambil benang merahnya, Perlawanan!!!!


Foto Dibawah Selebihnya tanpa Story, namun lebih pada moment-moment yang saya coba abadikan!!!




Hinomaru dalam Cengkraman Kawat berduri



Undang-Undang Pilkada Langsung Harusnya masuk Tong Sampah


Segenggam Receh Untuk Jakarta yang Lapar


Melawan dimanapun Bisa!