Saya selalu percaya bahwa memilih
adalah bentuk kebebasan yang paling dasar. Apapun pilihan itu, jika memang
dilandasi oleh nurani dan logika maka pantas untuk dihargai.
Sejak kecil kami berada dalam
jarak yang berbeda. Aku anak pertama, didikan nenek yang segala sesuatu
dituruti. Kecilku menjadi anak yang egois, tidak ingin berbagi. Kemudian lahirlah
adikku pertama, Pramoedya Krishna, selisihnya hanya tiga tahun denganku. ia lebih banyak mamah dan ayah yang mendidiknya. Tentunya,
masa kecil kami berada dalam satu waktu yang tak jauh berbeda. Ketika aku
sedang asyik dengan mainan bongkar pasang, miniatur tentara, mobil-mobilan dan
lainnya, adikku pun sama. Namun aku tidak ingin berbagi dengannya. Masa kecilku
tidak adil untuknya.
Berpuluh tahun kemudian ketika
aku merefleksikan diri setiap malam, menyesal rasanya melakukan itu. Tentu kamu
masih ingat bukan, ketika kamu harus menangis karena tidak kuberi pinjam mainan?
Kemudian kita tumbuh besar. Banyak
ketidak adilan yang aku lakukan padamu. Aku bahkan sampai lupa apa saja. Kemudian
aku cukup menyadari bahwa kamu mengambil jarak padaku. Dari hal kecil, aku
Interisti, kamu lebih memilih menjadi penggemar Juventus. Entah siapa yang
mengenalkanmu. Kita pernah berseteru saling merobek poster atau aku yang
memonopoli apapun dirumah. Disaat itu, aku tak juga begitu sadar.
Hari semakin beranjak. Kita tumbuh
menjadi dewasa. Kamu tumbuh dengan karaktermu yang pendiam dan tenang sedangkan
aku tumbuh dengan karakterku yang selalu bersemangat. Masa-masa itu, kita mulai
jarang berkomunikasi namun peduli satu sama lain, peduli yang malu-malu. Apa kamu
ingat, ketika aku menantang Dinas Pendidikan Garut soal Ujian Nasional kemudian aku diancam akan
dianulir hasil ujiannya. Ketika itu, kamu masih SMP, sebelum berangkat sekolah
kamu menyempatkan demo bersama kawan-kawan GmnI di Gedung DPRD Garut. Kamu masih
bocah waktu itu namun kamu berani melempar telur ke gedung DPRD, kemudian
berdiri diatas meja pimpinan sambil orasi. Saat itu, aku merasa kamu adalah
sungguh-sungguh adikku yang tak terima kakaknya terancam. Sekecil itu. Kita memang
berbeda dalam segala hal. Namun kita selalu dipertemukan dalam satu ruang. Dari
SD sampai kuliah kita satu sekolah. Berbeda dengan Rama. Kalau soal sama-sama
GmnI, aku rasa anak Agus Sugandhi akan memilih berproses di GmnI, termasuk
Rama.
Tentang Tujuan Hidup
Soe Hok Gie pernah menuliskan
dalam puisinya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu. Ya. Kita berada
dalam lingkungan kuliah yang sama. Namun berbeda dalam ruang berproses. Aku memilih
berproses di dunia tulis menulis dan literasi. Kamu memilih belajar Teater. Masa
kuliah ada waktu dimana persaudaraan biologis kita begitu sumir. Kita sering
berjumpa dilingkungan PKM namun sudah
seperti layaknya kawan biasa. Aku tidak merasa kamu adalah adikku, kamu
kawanku.
Sampai dititik tertentu, aku
mulai khawatir padamu. Pada kuliahmu lebih tepatnya. Kekhawatiran yang
diam-diam. Meski tak jarang aku memberikan ceramah panjang padamu, tentunya
kamu menanggapinya dengan sangat dingin. Prespektif soal kuliah semakin
mempertegas kalau kita berbeda pandangan. Aku meski tidak peduli-peduli amat
masih memiliki antusias untuk berprestasi dijalur akademik, sedangkan kamu aku
merasanya terlampau santai-santai saja. Hal itu yang seringkali membuatku
gusar. Sampai kamu pun jengah dengan ‘kecerewetan yang keterlaluan’. Kamu pun
pindah kost. Keadaan tersebut semakin membuat kita jarang bertemu. Satu kampus,
satu lingkungan PKM namun bisa tiga bulan sekali bertemunya. Tentu karena
aktifitas dan kecuekan satu sama lainnya. Seringkali aku meminta Anggie untuk
mengecek keberadaanmu, mencari tau bagaiamana kuliahmu, makanmu bagaiamana. Sekali
lagi, aku peduli padamu secara diam-diam. Anggie adalah perantara kedinginan hubungan persaudaraan kita. kamu lebih banyak cerita pada Anggie daripada aku.
Saat aku pergi dari Jember, jika
kamu masih ingat kita ngopi terakhir di Cak Wang jam 3 pagi, dua jam sebelum
kereta Logawa membawaku meninggalkan Jember. Itulah moment dimana kita bicara
lagi dengan kualitas obrolan yang liyan. Aku memposisikanmu sebagai adikku yang
telah dewasa dan berhak memilih tujuan hidupnya sendiri. Harus aku akui, selama
ini aku terlihat memaksakan kebenaran dari sudut pandangku, sifat memonopoli
kebenaran itu masih ada saja. Subuh itu, kuyakinkan diriku, kuluruhkan egoisku padamu. Kita adalah lelaki dewasa.
Subuh itu, aku sungguh-sungguh
mempercayakan padamu bahwa kita bicara sebagai dua orang lelaki dewasa yang
telah menentukan jalan hidupnya masing-masing. aku meninggalkan Jember untuk
meraih passionku dan kamu bertahan di Jember untu belajar seni peran dengan
sungguh-sungguh. Benar, tak ada satu setan pun tau akan menjadi apa kelak kita.
Dasar itulah yang membuatku harus sadar diri bahwa memang sudah waktunya aku
harus percaya padamu, pada adikku yang telah tumbuh dewasa dan merdeka.
Menjadi Anti Thesis?
Aku selalu
ingin memperbaiki kesalahan masalaluku padamu-seperti yang kutulis diawal:
dengan memberikan kepercayaan yang sungguh-sungguh. Menjadi apapun adalah kebebasan. Namun aku
tidak pernah merasa kamu menjadi anti thesisku, kamu berkembang bukan karena kamu
menjadi liyan daripada aku, karena memang itu pilihanmu yang dipilih secara logis dan sesuai nuranimu. Kamu telah tumbuh
menjadi lelaki, usiamu sudah 22 tahun bukan? Sudah bukan lagi bocah SMP yang ikut demo digedung DPRD bukan? Tentu,
kamu tau apa yang seharusnya kamu lakukan untuk dirimu sendiri dan kebahagian
bersama. Keluarga kita adalah keluarga sederhana namun mengajarkan hal luar
biasa. Meski ayah bukanlah orang yang demokratis, namun Mamah adalah
penyeimbangnya. Ayah mengajarkan kita tentang ketegasan dalam memilih. Pilihan ayah
untuk berada di akar rumput gerakan sampai usia matangnya, jika dilihat secara lebih dalam adalah pilihan
yang mulia meski kita begitu gusar karena seringkali kita terbaikan. Namun banggalah
pada Ayah, ia tetap memilih berada di tengah masyarakat pedesaan, membangun
kesadaran komunal, membentuk koperasi kemudian dari desa yang awalnya sebatas
menghasilkan pengangguran dan TKI kita desanya tumbuh. Para anak muda bangga
menjadi petani, itu ayah kita yang lakukan. Begitu pula mamah, ia menjadi ibu
yang lembut. Kamu ingat Tokoh Bunda, Ibu Pramoedya dan Nyi Ontosoroh di Novel Pramoedya, nah Mamah perpaduaanya. Perempuan
Jawa yang kental dengan pesan-pesan dan nilai-nilai Jawa, sabar mendengarkan
kekalutan anaknya. Telaten memberikan kasih sayang yang tak berujung namun ia tegas bahwa anak-anaknya tidak boleh menjadi anak yang lemah, harus maju dan berkembang. Itulah orang
tua kita. Jika kamu akhirnya menjadi apapun itu, tentu ada pertanggung jawaban,
tidak hanya untuk kamu namun untuk Mamah dan Ayah. Bertanggung jawab padanya
dan yakinkan mereka.
Mamah Mencarimu
Mamah selalu khawatir padamu,
tentu soal kuliah dan pilihan-pilihan yang kamu pilih. Aku selalu meyakinkan
pada mamah, bahwa kamu telah menjadi anak yang dewasa yang berani dan
bertanggung jawab atas pilihannya. Kemarin mamah khawatir karena beberapa waktu
yang cukup lama kamu sulit dihubungi. Sampai aku harus meminta tolong Anggie
lagi untuk mencari tau keberadaanmu dimana. Dalam obrolan keresahan seorang ibu
yang sayang pada anaknya, ia bertanya padaku “ apakah adikkmu sudah tepat
pilihan (hidupnya)?” “apakah dia ingin lulus kuliah?” “apakah Krishna hidup
teratur di Jember? Ketika mamah masak, mamah suka sedih jika inget Krishna. Apa
Krihsna sudah makan atau belum. Badannya kurus, rambutnya gondrong. Mamah minta
untuk potong rambut, mamah ga berani takut membuat Krishan tidak nyaman, takut
merasa diatur-atur ” dan pertanyaan-pertanyaan yang bernuansa peduli yang
mendalam. Aku coba mengurai keresahannya,
“Mah, tentu mamah melihat Krishna dari sudut pandang pembanding Aku dan
Rama. Itu kesalahannya. Mamah melihat aku sekarang yang sudah bekerja yang mana
tentu hidupku jauh lebih teratur daripada ketika kuliah dulu. Sedangkan Rama,
tentu karena ia memang punya keinginan kuat yang mana mamah setiap hari
melihatnya, sehingga ia pantas masuk UGM dengan tanpa test. Mamah tidak tahu
bahwa bagaimaan proses yang dilakukan Krishana di Jember seperti apa, dia akseleratif,
menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Persoalan baju yang lusuh, rambut
gondrong adalah soal waktu. Aku pun dulu kaya gitu, ga keurus. Kucel ga jelas,
terbantu karena aku punya pacar ada yang mengingatkan. Lah Krishna memilih
untuk tidak pacaran. Ya sudah. Persoalannya sama aja bukan?
Dia sudah dewasa dan sudah paham
akan pilihannya. Setiap orang punya definisi bahagia yang berbeda-beda. Krishna
tentu tidak akan nyaman jika bekerja seperti aku kelak. Karena memang dunianya
berbeda begitu pula sebaliknya, aku tidak nyaman jika mengerjakan apa yang
Krishna biasa lakukan. Karena apa? Karena sedari awal mamah memberikan kami
kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan hidup. Konsekuensinya adalah kita harus
percaya dan mengkontrolnya saja. Yang paling penting adalah ia bahagia, ia
menjadi diri sendiri dan ia merdeka tanpa melepaskan tanggung jawabnya pada
diri sendiri dan pada orang-orang yang ia sayang. Kalau soal Kuliah, tentu
Krishna ingin kuliah S2, ingin menjadi dosen yang artinya kewajibannya sebagai
mahasiswa S1 harus selesai dulu. Persoalannya mengapa mamah khawatir karena mamah tidak tau dengan detail
perkembangannya, karena ia anak yang pendiam. Sedangkan aku tanpa mamah minta
cerita aku akan cerita dengan sendirinya. Maka dari itu mah, Berlaku adil sejak
dalam pikiran itu sungguh teramat penting. Percayalah ia akan meraih kehebatan
yang dia inginkan. Tinggal soal waktu dan keseriusan mernggapainya”
“Mamah lebih tenang. Kalau kamu bilang seperti itu”katanya lebih
bersemangat.
Begitulah Mamah, Krish. Seorang ibu
yang sangat wajar jika khawatir. Ia selalu khawatir pada semua anaknya. Tidak saja
padamu, padaku pun demikian. Mamah Khawatir ketika aku dua hari tidak
mengabarinya. Tidak hanya Mamah, Rama pun menghubungi aku, “mas, Mas Krish
kemana ya kok susah sekali dihubungi?” aku bilang hpmu rusak (mungkin) tentu
kamu hidup bukan di era perundagian dan berburu bukan? Hubungilah orang dirumah
agar lebih teduh. Jika memang bisa sempatkanlah pulang kerumah untuk lebaran
atau setelah lebaran. Sebentar lagi rumah akan terasa sepi, hanya ada Mamah dan
Ayah. Rama akan pindah ke Jogja pada bulan Juli ini. Tentu, rumah yang dulu
riuh, gaduh. Meributkan hal paling konyol seperti berebut bantal, remote Tv, berebut
kamar mandi hanya menjadi kenangan kelu Mamah dan Ayah dirumah. Orang tua kita
sudah tidak muda lagi, selagi sempat buatlah mereka bahagia. Menceritakan capaian-capaianmu
di Jember adalah kebahagiaan yang teramat besar bagi mamah dan ayah.
Sebelum aku mengakhiri surat
terbuka ini, aku ingin meminta maaf padamu atas masa lalu yang tak baik itu. Sungguh
aku menyesal. Mamah selalu bilang, harta terbesarnya adalah anak-anaknya.
Gulfino Guevarrato, Pramoedya Ardhi Krishna Murti, dan Parasurama Ardhi Tri
Pamungkas. Ketiganya telah memilih jalannya masing-masing namun menjadi guyub
adalah keharusan karena kewajiban kita membuat mamah dan ayah selalu tersenyum
bahagia.
Selamat berproses dan berjuang,
adikku. Merdeka!!!






0 komentar:
Posting Komentar