Rabu, 05 Oktober 2016

Untuk Timur Jauh




Kalian curi kebenaran yang kami akui
Menjadikannya senjata untuk membunuhi
Merobohkan gubuk-gubuk tua
Tempat  Tuhan berdiam diri

Kalian merebut kebebasan
Teriakan kami dibungkam atas nama ketertiban
Menyuruh kami berbaris rapi
Taat perintah untuk NKRI
Namun otak kalian tak pernah jernih

Saudara kami kalian injaki
Ludahi
Kalian curi tanah kami
Kemudian meracau jika ada yang peduli

Kata-kata kami bukan puisi[1]
Namun sebilah pedang yang menagih janji
Karena kami tak bisa berdiam diri


*2016


[1] Puisiku bukan puisi (Fajar Merah)

Tidak Perlu Judul



Menulis adalah rileksasi. Menulis adalah kontemplasi. Menulis adalah penyembuhan rohani. Seperti itu kiranya. Rutinitas padat, ala ibu kota, dengan segala lalu lalang yang serba cepat namun menanggalkan kepedulian. Tentu, tidak akan baik jika berkutat dengan kekakuan maka menulis adalah penggendapan rasa. Saya menulis apapun. Namun ada tanya ketika saya menulis puisi. Apakah saya menulis puisi? Apakah yang saya tulis itu puisi? Apa itu puisi? Jika memang puisi itu karya sastra, lalu apakah saya menulis sastra?
Pemahaman saya tidak mendalam terkait pertanyaan-pertanyaan tersebut. Literatur tidak memuaskan pertanyaan saya. Apa yang saya baca berdasarkan pengalaman spiritual si pendefinisinya. Saya ingin mencari sendiri spiritualitas dalam puisi itu, tentu dengan pemahaman dari mereka yang bisa dikatakan ahli.
Kemudian, apa karya sastra itu? Semacam kata-kata yang tidak biasa yang diberikan pakem-pakem  tertentu sehingga sahih dikatakan sastra?
Di titik pertemuan yang liyan, pertanyaan itu sepertinya tak perlu dijadikan terang. Biarkan terus bertanya. Sampai saat ini, pemahaman karya sastra bagi saya adalah taburan bahasa yang didalamnya membentuk keindahan, seperti bintang di malam hari, jika satu bintang tentu tak akan indah. Namun jika bertaburan, akan lain definisinya.

Selasa, 04 Oktober 2016

Kosong



Berlayarlah sampan yang nampak ragu
Membawa harapan yang dipaksakan sebagai kenyataan
Sedangakan, orang disana berdandan agar tampak suci
Berselimut masalalu, penuh penindasan. berceracau tentang puja puji Kuasa
Mereka Bergelang tameng dan berselendang pedang
Bergaya ala heroik-heroik pemenang perang
Puan lupa, sampan hampir tenggelam
Kepedulian telah punah dalam busa-busa retorik
Sementara, puan hanyalah omongkosong yang tak paham kebenaran
Sebentar lagi, kematian datang tanpa makna
Akhir berkunjung lebih cepat
Tanpa diduga