-->
Aku hanya ingin
belajar. Dimulai dari cacian pun tak jadi masalah. Ah bodohnya aku ketika mas
Nuran tanya link Blogku, padahal aku tidak ingin orang lain tahu. Aku memang
masih minder dengan tulisan tuliasnku yang selalu identik dengan cacian tanpa
ada proses untuk membangun. Hadeh, awalnya memang sangat drop sekali ketika dia mempublish blogku, apalagi dia menaandai
orang-orang yang sudah pengalaman soal menulis. Sial, malapetaka apa yang bakal
menimpaku esok hari. Sudah lah aku tak banyak bicara.
Mas Nuran memang
bebal dan sial. Dia memang benar-benar pembohong ulung yang aku tak ubahnya anak
TK yang dengan mudah di iming-imingi lollipop. Awalnya memang aku Tanya soal
bagaimana membuat tulisan romantic untuk perempuan yang disuka. Aku rasa, dia
orang yang tepat untuk aku ajak soal-soal itu. Dan dimulailah dia membodohiku,
jancuk.
“hasyu, pertanyaanmu gak berkembang dari dulu”
Aku tidak sadar
kata-kata itu yang akhirnya membuatku untuk banyak bercerita. Mulailah dia
berbagi cerita soal tulisan-tulisan yang bagus dan semuanya memang butuh
proses. Jelas aku sepakat dengan gal itu, aku memang masih belajar, aku belajar
menulis memang diwaktu yang telat, ketika aku bosan dengan dunia gerakan ekstra
yang banyak berbicara perubahan tetapi tidak melakukan apapun, akhirnya
pilihanku lah yang membawa ke UKPKM
TegalBoto.
“kudu puas dimaki2 dulu 2 tahun :)) kamu udah pernah dimaki belum?”
Lalu dia bilang seperti itu. Jelas,
aku tidak takut dicaci maki, apapun itu jika memang untuk kemajuan, yang paling
aku tidak suka, ketika orang mencaci maki tetapi tidak pernah ada masukan yang
berarti hanya menilai tanpa memberikan solusi. Hal itulah yang membuatku malas
untuk menunjukan tulisanku pada orang lain khususnya anak-anak Tegalboto,
karena aku pikir sudah jauh lebih baik dari aku yang masih anak bawang ini.
“mana linknya? yeee, blog ngapain disembunyikan? dikasih tau
laaah”
Masih saja aku tidak mudah
memberikan wilayah otonomi menulisku yang bebas dari caci maki yang
menghancurkan itu. Sekali lagi, aku memang bukan orang yang percaya diri dalam
hal menulis
“ namanya proses pembelajaran cuk gak usah
minder taek2an ah kalo mau maju kalo mau stuck, ya udah simpen aja tulisanmu
sampe busuk. Gak ada orang yang baca dan gak ada orang yang tau kalo kau nulis.
Sekarang mana linknya?
Ok. Aku beri tahu mas,,mulai gelagat mencurigakan muncul. dia bilang
jangan dulu off. Dan muncul di noticifation.
Mas Nuran menandai ku, pikirku tulisannya romantisnya. Ternyata dia memang
sedang memberikan malapetaka, ya awalnya malapetaka. Aku benar-benar lemes. Banyak
orang ditandai di Wallnya mas Nuran.
Asyem, bakal jadi bulan-bulannan sepertinya aku ini oleh mereka-mereka yang
paham. Sungguh sial hari ini, setelah tidur di taman kampus karena dikerjain
teman-teman, eh ketika membuka laptop untuk Online mas nuran menambah perkara.
“blogmu itu warnanya jangan
norak cuuukkk. Jangan terlalu banyak maen warna”
Dia tidak tahu aku ngeedit html
template itu semalaman, dari pada harus pakai yang umum lebih baik aku pakai
hasil editanku sendiri, meski katanya itu norak. Tapi karena aku sedang
tersihir oleh katanyanya yang sarkas namun sebenernya lembut itu. Ya sudah,
mungkin aku akan mengeditnya lagi. Tapi lain waktu saja fuk.
Dia semakin menjadi sepertinya
dia tidak hanya menandai anggota-anggota TegalBoto, tetapi juga alumni-alumni
Tegalboto yang kalau aku lihat di group Preman TegalBoto, seolah hanya mengenal
kata-kata salah dan tidak ada benarnya terkait dengan perkembangan organisasi
pers mahasiswa ini, huhf serem.
“jancuk mental tahu”
Sepertinya dia sedang mengigau,
padahal tahu itu makanan bergizi ya?sudahlah, dia tidak sedang memuji. Dia masih
saja meracau. Aku tidak sakit hati, dia biasa mencaciku, yang aku takuykan
hanya “mereka-mereka’ yang ditandai itu. Dan memang aku sepertinya saat ini
sedang bermental cemen.
Sampai pada akhirnya mas Nuran,
mencoba sedikit seperti Mario Teguh, memberi motivasi ditengah keterpurukan #tidak
selebay itu kok
“kamu pikir pram gak pernah dibilang tulisannya jelek? tulisan pram itu
dibilang mencret pas awal2 keluar”
Aku ingat itu mas, masih sangat
ingat video Pram itu.
“kamu pernah dibilang
tulisanmu kayak mencret?”
“belum pernah kan? walau tulisanmu memang nyaris kayak mencret
sekarang, hahaha. Tapi yang penting prosesnya cuk”
“ojo rewel wae koen iku.
Sinau, moco, nulis. Aku yakin kamu bisa jadi penulis yang hebat. Aku percaya
itu”
Entahlah apa yang dia bicarakan
itu serius atau bohong. Aku tidak peduli. Yang jelas, dia mengingatkanku soal
Pram yang dicaci maki ketika pertama kali bertemu dengan idolanya. Entah, aku
lupa siapa namanya. Tapi memang benar, apa yang dilakukan mas Nuran memang
benar. Seolah semuanya dibalikan oleh mas Nuran dengan kalimat yang
membawa-bawa nama Pramoedya Ananta Toer,
salah satu tokoh dalam karyanya menjadi insiparisku untuk berbelok arus dari
mahasiswa yang suka demo menjadi mahasiswa yang belajar menulis.
Ya, silahkan semua mencaciku,
dengan senang hati aku mendengarnya. Dia memang senior yang bajingan, entah
kenapa, aku jadi teringat kata-kata Lao Tzu “perjalanan beribu mil berawal dari
satu langkah”. Dan ini langkah pertamaku, entah itu dengan caci maki atau
apapun. Tak jadi soal. Menjadi lebih penting jika caci maki itu membawa
perubahan untuk lebih baik.dari awal menghancurkan percaya diriku, menjadi
menumbuhkan semangat menulisku. Benar, mau sampai kapan Mbak Devi terus mencaci
tulisanku, mau kapan mas Arys mengacuhkan tulisanku. Sudahlah, mungkin aku
terlalu banyak meniru gaya menulis orang lain yang justru tidak membuatku
berkembang hanya meniru. Iya, sampai pernah aku mengambil beberapa kata milik
mas Halim hanya untuk menulis romantis. Maaf mas,,hha
Sepertinya sudah jam 6 pagi, aku
masih belum tidur. Dan mahasiswa sudah banyak yang datang. Dari taman kampus
Fakultas hukum ini, aku akan mengingat kata-katamu, mas. Seperti apa yang
dikatakan oleh Mas Romdhi, soal Butterfly effect, berharap saja hal itu memang
ada. Sudah. Aku harus kuliah dulu.
Terima kasih Fuk Nuran!!!
03/04/2012





