Rabu, 02 Mei 2012

Arigato, sensei!


-->
Aku hanya ingin belajar. Dimulai dari cacian pun tak jadi masalah. Ah bodohnya aku ketika mas Nuran tanya link Blogku, padahal aku tidak ingin orang lain tahu. Aku memang masih minder dengan tulisan tuliasnku yang selalu identik dengan cacian tanpa ada proses untuk membangun. Hadeh, awalnya memang sangat drop  sekali ketika dia mempublish blogku, apalagi dia menaandai orang-orang yang sudah pengalaman soal menulis. Sial, malapetaka apa yang bakal menimpaku esok hari. Sudah lah aku tak banyak bicara.
Mas Nuran memang bebal dan sial. Dia memang benar-benar pembohong ulung yang aku tak ubahnya anak TK yang dengan mudah di iming-imingi lollipop. Awalnya memang aku Tanya soal bagaimana membuat tulisan romantic untuk perempuan yang disuka. Aku rasa, dia orang yang tepat untuk aku ajak soal-soal itu. Dan dimulailah dia membodohiku, jancuk.
“hasyu, pertanyaanmu gak berkembang dari dulu”
Aku tidak sadar kata-kata itu yang akhirnya membuatku untuk banyak bercerita. Mulailah dia berbagi cerita soal tulisan-tulisan yang bagus dan semuanya memang butuh proses. Jelas aku sepakat dengan gal itu, aku memang masih belajar, aku belajar menulis memang diwaktu yang telat, ketika aku bosan dengan dunia gerakan ekstra yang banyak berbicara perubahan tetapi tidak melakukan apapun, akhirnya pilihanku  lah yang membawa ke UKPKM TegalBoto.
“kudu puas dimaki2 dulu 2 tahun :))  kamu udah pernah dimaki belum?”
Lalu dia bilang seperti itu. Jelas, aku tidak takut dicaci maki, apapun itu jika memang untuk kemajuan, yang paling aku tidak suka, ketika orang mencaci maki tetapi tidak pernah ada masukan yang berarti hanya menilai tanpa memberikan solusi. Hal itulah yang membuatku malas untuk menunjukan tulisanku pada orang lain khususnya anak-anak Tegalboto, karena aku pikir sudah jauh lebih baik dari aku yang masih anak bawang ini.
“mana linknya? yeee, blog ngapain disembunyikan? dikasih tau laaah”
Masih saja aku tidak mudah memberikan wilayah otonomi menulisku yang bebas dari caci maki yang menghancurkan itu. Sekali lagi, aku memang bukan orang yang percaya diri dalam hal menulis
 “ namanya proses pembelajaran cuk gak usah minder taek2an ah kalo mau maju kalo mau stuck, ya udah simpen aja tulisanmu sampe busuk. Gak ada orang yang baca dan gak ada orang yang tau kalo kau nulis. Sekarang mana linknya?
Ok. Aku beri tahu mas,,mulai gelagat mencurigakan muncul. dia bilang jangan dulu off. Dan muncul di noticifation. Mas Nuran menandai ku, pikirku tulisannya romantisnya. Ternyata dia memang sedang memberikan malapetaka, ya awalnya malapetaka. Aku benar-benar lemes. Banyak orang ditandai di Wallnya mas Nuran. Asyem, bakal jadi bulan-bulannan sepertinya aku ini oleh mereka-mereka yang paham. Sungguh sial hari ini, setelah tidur di taman kampus karena dikerjain teman-teman, eh ketika membuka laptop untuk Online mas nuran menambah perkara.
“blogmu itu warnanya jangan norak cuuukkk. Jangan terlalu banyak maen warna”
Dia tidak tahu aku ngeedit html template itu semalaman, dari pada harus pakai yang umum lebih baik aku pakai hasil editanku sendiri, meski katanya itu norak. Tapi karena aku sedang tersihir oleh katanyanya yang sarkas namun sebenernya lembut itu. Ya sudah, mungkin aku akan mengeditnya lagi. Tapi lain waktu saja fuk.
Dia semakin menjadi sepertinya dia tidak hanya menandai anggota-anggota TegalBoto, tetapi juga alumni-alumni Tegalboto yang kalau aku lihat di group Preman TegalBoto, seolah hanya mengenal kata-kata salah dan tidak ada benarnya terkait dengan perkembangan organisasi pers mahasiswa ini, huhf serem.
“jancuk mental tahu”
Sepertinya dia sedang mengigau, padahal tahu itu makanan bergizi ya?sudahlah, dia tidak sedang memuji. Dia masih saja meracau. Aku tidak sakit hati, dia biasa mencaciku, yang aku takuykan hanya “mereka-mereka’ yang ditandai itu. Dan memang aku sepertinya saat ini sedang bermental cemen.
Sampai pada akhirnya mas Nuran, mencoba sedikit seperti Mario Teguh, memberi motivasi ditengah keterpurukan #tidak selebay itu kok
  “kamu pikir pram gak pernah dibilang tulisannya jelek? tulisan pram itu dibilang mencret pas awal2 keluar”
Aku ingat itu mas, masih sangat ingat video Pram itu.
 “kamu pernah dibilang tulisanmu kayak mencret?”
“belum pernah kan? walau tulisanmu memang nyaris kayak mencret sekarang, hahaha. Tapi yang penting prosesnya cuk”
  “ojo rewel wae koen iku. Sinau, moco, nulis. Aku yakin kamu bisa jadi penulis yang hebat. Aku percaya itu”
Entahlah apa yang dia bicarakan itu serius atau bohong. Aku tidak peduli. Yang jelas, dia mengingatkanku soal Pram yang dicaci maki ketika pertama kali bertemu dengan idolanya. Entah, aku lupa siapa namanya. Tapi memang benar, apa yang dilakukan mas Nuran memang benar. Seolah semuanya dibalikan oleh mas Nuran dengan kalimat yang membawa-bawa nama Pramoedya  Ananta Toer, salah satu tokoh dalam karyanya menjadi insiparisku untuk berbelok arus dari mahasiswa yang suka demo menjadi mahasiswa yang belajar menulis.
Ya, silahkan semua mencaciku, dengan senang hati aku mendengarnya. Dia memang senior yang bajingan, entah kenapa, aku jadi teringat kata-kata Lao Tzu “perjalanan beribu mil berawal dari satu langkah”. Dan ini langkah pertamaku, entah itu dengan caci maki atau apapun. Tak jadi soal. Menjadi lebih penting jika caci maki itu membawa perubahan untuk lebih baik.dari awal menghancurkan percaya diriku, menjadi menumbuhkan semangat menulisku. Benar, mau sampai kapan Mbak Devi terus mencaci tulisanku, mau kapan mas Arys mengacuhkan tulisanku. Sudahlah, mungkin aku terlalu banyak meniru gaya menulis orang lain yang justru tidak membuatku berkembang hanya meniru. Iya, sampai pernah aku mengambil beberapa kata milik mas Halim hanya untuk menulis romantis. Maaf mas,,hha
Sepertinya sudah jam 6 pagi, aku masih belum tidur. Dan mahasiswa sudah banyak yang datang. Dari taman kampus Fakultas hukum ini, aku akan mengingat kata-katamu, mas. Seperti apa yang dikatakan oleh Mas Romdhi, soal Butterfly effect, berharap saja hal itu memang ada. Sudah. Aku harus kuliah dulu.
Terima kasih Fuk Nuran!!!

03/04/2012







Lesung Pipi itu yang membuatku tidak bisa tidur

-->
Menuju pagi yang banyak menahan rindunya. Semalam, malam sedikit berbeda dari malam-malam yang lalu, sedikit berbaur dengan harum rambutmu, sedikit tercampur oleh tingkahmu yang lucu. Aih. Anak siapa sih ini? Kok lucu sekali.
 Sampai sampai selarut ini mataku tidak ingin beranjak dari kegelapan. Aku masih ingin membayangkan tangaku mengelus pipi lembutmu. Malam sudah sampai pada ujungnya membawa pada keceriaan pagi. Dan aku masih saja ingin mengabadikan kebersamaan denganmu tadi malam.
Senja yang baru saja khatam beranjak pada malam. Kita berdua  sempat bersama menyambut malam, meski hanya sekitar satu jam bersama. Tapi ada yang tidak bisa diungkapkan oleh kata, kebersamaan itu. ketika kita berdua hanya aku yg bisa bertanya mungkinkah “kau tahu jawabnya”

Malam jadi saksinya kita berdua di antara kata yang tak terucap berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban atau mencoba mata yang bisa mengartikan sandi-sandi dalam setiap tatapannya “masihkan kau tidak paham?”. Sudahlah, jangan terlalu dalam memahami karena tentu kau tak ingin tersibukan dengan itu.
Kita berbicara apa malam itu? Banyak sekali sepertinya, dari mulai berbicara soal senyummu yang manis sampai puisimu yang indah. Yang jelas aku  masih ingat bagaimana dada terasa terhantam godam. Berdebar keras sekali Dan mata mencoba memandangi mu tiada hentinya sampai kadang kau bertanya “kenapa sih mas lihatin aku seperti itu?” aku hanya menjawab ala kadarnya saja. Tetapi jika kau tau, aku sedang menahan kelu, cantikku. Kau begitu manis sekali. Apalagi senyummu dengan lesung pipinya yang renyah bagai biscuit legit.
Malam semakin redup Aku benci sekali dengan jarum jam yang terus berdetak. Waktu  seolah tak pernah paham bahwa aku menikmati setiap detiknya bersama perempuan berlesung pipi ini. Tangaku sepertinya sedang lancang untuk menyubit pipinya dan kau hanya tersipu. Benar-benar cantik sekali kau malam itu dan aku yakin jelitamu tidak habis sebatas malam.
Sepertinya kita harus pulang,,
Besok kita bertemu lagi, Jelitaku!