Menuju pagi yang banyak menahan rindunya. Semalam, malam
sedikit berbeda dari malam-malam yang lalu, sedikit berbaur dengan harum
rambutmu, sedikit tercampur oleh tingkahmu yang lucu. Aih. Anak siapa sih ini? Kok
lucu sekali.
Sampai sampai selarut
ini mataku tidak ingin beranjak dari kegelapan. Aku masih ingin membayangkan
tangaku mengelus pipi lembutmu. Malam sudah sampai pada ujungnya membawa pada
keceriaan pagi. Dan aku masih saja ingin mengabadikan kebersamaan denganmu tadi
malam.
Senja
yang baru saja khatam beranjak pada malam. Kita berdua sempat bersama menyambut malam, meski hanya
sekitar satu jam bersama. Tapi ada yang tidak bisa diungkapkan oleh kata,
kebersamaan itu. ketika kita berdua hanya aku yg bisa bertanya mungkinkah “kau
tahu jawabnya”
Malam jadi saksinya kita berdua di antara kata yang tak terucap berharap waktu
membawa keberanian untuk datang membawa jawaban atau mencoba mata yang bisa
mengartikan sandi-sandi dalam setiap tatapannya “masihkan kau tidak paham?”. Sudahlah,
jangan terlalu dalam memahami karena tentu kau tak ingin tersibukan dengan itu.
Kita
berbicara apa malam itu? Banyak sekali sepertinya, dari mulai berbicara soal
senyummu yang manis sampai puisimu yang indah. Yang jelas aku masih ingat bagaimana dada terasa terhantam
godam. Berdebar keras sekali Dan mata mencoba memandangi mu tiada hentinya
sampai kadang kau bertanya “kenapa sih mas lihatin aku seperti itu?” aku hanya
menjawab ala kadarnya saja. Tetapi jika kau tau, aku sedang menahan kelu, cantikku.
Kau begitu manis sekali. Apalagi senyummu dengan lesung pipinya yang renyah
bagai biscuit legit.
Malam
semakin redup Aku benci sekali dengan jarum jam yang terus berdetak. Waktu seolah tak pernah paham bahwa aku menikmati
setiap detiknya bersama perempuan berlesung pipi ini. Tangaku sepertinya sedang
lancang untuk menyubit pipinya dan kau hanya tersipu. Benar-benar cantik sekali
kau malam itu dan aku yakin jelitamu tidak habis sebatas malam.
0 komentar:
Posting Komentar