Senin, 10 Desember 2012

Afrika Kecil di Timur Pulau Jawa




Matahari sedang tidak ingn berbaik hati untuk sedikit saja mengurangi sengatannya. Benar-benar panas menusuk kulit. Siang itu memang siang yang penuh petualangan menyusuri panasnya aspal dari Jember sampai ke Baluran. Baluran itu seperti Afrika. Seberapa afrika kah Baluran itu?. Sepertinya perjalanan Jember tak ada masalah yang berarti, sepanjang perjalanan hanya diisi oleh canda tawa dan cerita-cerita soal hari lalu yang belum pernah kami ceritakan, ya sebatas membunuh waktu saja. Ini memang perjalanan pertama menuju Baluran jadi aku pun tak tahun banyak soal arah dan jalannya itu hanya menuruti petunjuk jalan saja. 

Sesampainya di AsemBagus , salah satu kecamatan dari Situbondo, kami berhenti sejenak untuk sekedar meluruskan kaki dan membasahi tenggorokan dengan dinginnya Es jeruk. “permisi pak, dari sini Baluran apa masih jauh?” tanyaku dengan ramah. Sepertinya aku salah bertanya pada bapak tua itu, dia menjawab dengan bahasa Madura yang sama sekali aku tak paham. “keso’on pak”hanya itu yang kutahu dan bisa kujawab. Lalu kita melanjutkan perjalanan kearah Banyuwangi, kata orang sih memang Taman Nasional Baluran itu arah Banyuwangi. Dalam perjalanan itu aku berharap menemukan rerimbunan pohon  Beringin, Mahoni atau sesamanyalah yang membuat perjalanan kami sedikit lebih adem dan benar saja doa kami terkabul, sepanjang perjalanan sebelum memasuki Tanam Nasional Baluran jalannya begitu teduh.
Tiba-tiba saja rerimbunan pohon itu lenyap dan berganti gersang yang mengganas. Bulan itu memang sedang bulan kemarau yang menjadi dan udaranyapun jelas terasa panas.

“sepertinya kita sudah masuk Afrika, bee”katanya Anggie

Benar saja, beberapa kilometer kemudian terpasang plang besar “selama Datang di Taman Nasional Baluran”. Well, kita sudah sampai di muka depan Baluran dari arah Situbondo selanjutnya kita akan susuri jalan yang kata orang juga sepi dan banyak begalnya itu. Lagi, kami ingin membuktikan kabar yang berhembus itu.  Kanan-kiri kami hanya hamparan savanna yang meranggas, pohon-pohon  pun kering menghitam bekas terbakar. Beberapa kali kami melihat tempat latihan Marinir di Taman Nasional Baluran, pemandangan itu menambah indah Baluran meski pada saat itu cuacanya sedang panas-panasnya. 

Kurang lebih dua jam perjalanan kami melintasi jalan raya lintas utara yang melewati Baluran. Jalan yang menghubungkan antara Situbondo dan Banyuwangi. Selama dua Jam pula jalanan disana begitu sepi hanya beberapa saja yang lewat itu pun berserangan tujuan dengan kami, jelas saja kalau banyak begal ditempat ini sebab kawasan hutan Baluran memang begitu sepi apalagi kalau malam hari jelas akan gelap sekali, dari awal perjalanan sampai tengah-tengah kami sedikit sekali menemukan lampu penerangan. 

Sampailah pada tikungan  yang  misterius itu, masyarakat Banyuwangi menyebutnya Jurang Tangis, ditempat itu menurut banyak cerita rawan sekali kecelakaan dan dulu mitosnya daerah itu tempat pembuangan korban dari G30/S. Waw keren sekali tempat itu membuat adrenalin kami melonjak-lonjak.  Sepanjang perjalanan setelah jurang tangis kami memasuki wilayah hutan kering dengan mayoritas pohonnya Jati. Dalam perjalanan itu untung saja kami bertemu dengan sekelompok pecinta Vespa gembel, ya dengan sedikit jurus “yo man dan peace brother” mereka semua menerima kami dengan begitu hangat apalagi aku bercerita soal si Master (nama Vespaku), “we are brother bro” kata mereka sambil mengacungkan tanda V (peace) .  kami ikut iring-iringan mereka. Well, perjalananan tidak “sedingin’ sebelumnya, ada tawa dan teriak-teriak  urakan ala anak Vespa yang memecah sepi. Benar-benar perjalanan yang penuh petualangan. Eits ini belum seberapa, Yoman!!!
Pintu Masuk TN Baluran

Lalu tibalah kami diujung Taman Nasional Baluran tepatnya di daerah Bajulmati, Banyuwangi. Disanalah pintu masuk Taman Nasional Baluran, tepatnya kami masuk k kantor Taman Nasional Baluran. Dari pintu gerbang, kami harus melanjutkan perjalanan 15 Km untuk bisa merasakan suasana  sesungguhnya dari little Africa. Awalnya bayangan kami perjalanannya akan lebih mudah dan mulus karena sudah diaspal 

“15km kalau kecepatan kita 30km/jam mungkn hanya 30menitan” dengan percaya diri aku mengatakan itu pada Anggie.
“wah ga sabar pengen cepet sampai”jawabnya dengan penuh semangat











Bayangan yang muncul diawal itu memang terbukti tetapi keterbuktiannya hanya beberapa kilometer saja. Ya, kurang lebih 3km saja sisanya jalanan berbatu yang tidak mungkin laju motor sampai 30km/jam.  Jalannya  rusak parah meski batu-batunya tidak terlalu besar tetapi berbahaya jika terlalu kencang mengemudikannya karena batunya bercampur pasir.  Perlahanan tapi pasti, aku dan Anggie mencoba menikmati suasanya Savana yang bercampur dengan hawa panas yang muncul dari gersangnya tanah di sekitar jalan. Beberapa kali kami mlihat bekas-bekas semak yang terbakar.  Ternyata diantara kegersangan itu ada juga daerah hijau. Memasuki daerah itu begitu sejuk, terdengar pula ocehan burung di daerah itu, tepat sekali jika sambil mendengarkan karya-karya musisi musik klasik dari Jepang, Kitaro. Perjalan berlanjur, suasana sejuk dan hijau itu berganti, kembali gersang. Pemandangan Baluran memang cantik khas Afrika. Aku memang belum pernah ke Afrika, tetapi aku pernah membaca National Geographi edisi Afrika. Dalam majalah itu diulas soal Taman Nasional Kiliminjaro, yeah, rasanya aku tak berlebihan menyandingkan Taman Nasional Kiliminjaro dengan Taman  Nasional Baluran. Baluran pun punya gunung yang juga bernama Baluran, Baluran punya Savana bahkan Baluran punya Pantai yang bernama Bama, pantainya pasir putih pula. Baluran memang keren!!!

Evergreen Baluran
Savana kering Baluran

Sampailah kami di Bekol, tempat istirahat dan penginanapan bagi para pengunjung Baluran. Kami sampai kira-kira pukul 12.00WIB sedangkan kami berangkat dari Jember pukul 07.00WIB.  lelah dan segala adrenalin yang melonjak-lonjak menambah seru petualangan ini. Baluran memang eksotis, kami disuguhkan banyak hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Afrika kecil yang selama ini banyak dibicarakan orang memang benar-benar mewajahkan Afrika ditanah Jawa. 

Bekol

Kata petugas Taman Nasional Baluran, Baluran ini juga mempunyai hutan mangrove dan ekosistem perairan. Sedangkan penghuninya juga tak kalah ramai. Bahkan, Taman Nasional Baluran seluas 25.000 hektar itu dijuluki surga burung Indonesia. Tidak hanya burung di Baluran juga mudah ditemui Rusa dan Kerbau liar. Menurut penjelasan petugasnya selain Rusa dan Kerbau, Baluran juga merupakan habitat dari uga ada 26 jenis mamalia diantaranya banteng (Bas javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), ajag (Cuan alpi-nus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak), rusa (Cervus timorensis rus-sa), macan tutul (Panthera pardus melas), kancil (Tra-gulus javanicus pelandoc), dan kucing bakau(Prio-nailurus vivertinus) . Menurut penjelasnya juga, beberapa hari yang lalu ia menemukan seekor pyton yang sedang memangsa rusa didekat sumber air Baluran. 

Great, tidak salah memang kami berpetualang ke Baluran. Meskipun awalnya kami berdua sempat ragu apakah akan sampai atau tidak di Baluran karena memang sama-sama tidak ada yang tahun soal kondisi disana.
Gunung Baluran


Kami pun mencoba mencari tempat yang enak untuk berisitarahat, ditambah lagi aku dan Anggie belum makan. Untung saja Anggie masak nasi Goreng dan Ayam teriyaki. Well. Kami menyantapknya diatas bekol (menara pengintai satwa) sambil disuguhi pemandangan lautan dan Gunung Baluran yang eksotis itu. Dari atas terlihat dengan jelas betapa luasnya Baluran dan betapa “afrikanya” Baluran. Angin memang sepertinya sedang pengertian ditengah cuaca panas yang menyengat kulit, benar-benar sejuk dan tenang suasana pada saat itu. Kami pun tertidur beberapa saat karena kelelahan. Tiba-tiba saja seekor monyet besar (seperti babon) mendekati dan menggoda Anggie. Ia begitu saja menjerit. Wah sepertinya monyet itu suka padanya, keadaan menakutkan itu tiba-tiba sirna begitu saja ketika Anggie melempar roti dan monyet itu menyukai rotinya. Keganasan monyet itu berganti menjadi lucu.



savana Baluran








sumber air tempat hewan minum




Monyet ini begitu menyusahkan

Merak pun jadi objek jepretan




Sedangkan aku  turun kebawah kearah Savana untuk mencari Rusa atau Burung. Aku memang berencana untuk mengabadikannya lewat foto. Medannya  tidak mudah, selain hutannya cukup luas, jalannya dipenuhi oleh semakin berduri,sedangkan si Rusa tidak bisa didekati dengan begitu saja sehingga aku harus 'blusukan' ke dalam hutan mencari tempat yang tepat untuk memotret. beberapa kali usahaku gagal sampai pada akhrinya aku mencoba mengendap-endap, menunggu waktu yang tepat Rusa-Rusa lewat didepanku. Sepertinya tak salah lensa 70-300mm ini aku bawa, lensa itu mampu menjangkau jarak sekitar 15 meter didepanku. Yes, aku dapatkan foto kegerombolan rusa itu. Sebenarnya aku ingin memotret Banteng tetapi rasanya waktu dan iklim yang tidak tepat. Banteng tidak muncul dibulan-bulan ini (November). "memang telah terjadi penyusutan populasi Banteng di Baluran, selain karena ulah jahil manusia, juga karena kondisi Savana yang banyak mengalami perubahan. “Tahun 2001 jumlah banteng masih berkisar 219 hingga 267 ekor, setahun berikutnya tersisa 81 -15 ekor. Bahkan tahun 2006, jumlahnya tinggal 25 ekor saja. Data terakhir tahun 2007, populasi banteng 34 ekor saja” begitu menurut penjelasan kepala TN Baluran yang lupa aku tanyakan namanya. 


Rusa


Siang pun berganti, matahari mulai mengkaramkan sinarnya menuju arah timur, langit pun menguning menampakan lembayungnya, gradasi warna menciptakan bianglala dari diarah pandang menuju pantai. Wow indah sekali sore itu, Kami memandangi keindahan itu dari Bekol sambil menghabiskan perbekalan yang kami bawa. Letih dan lelah terbayarkan lunas. Sensasi Afrika jelas terasa ditempat ini. keberadaan Savana yang lengkap dengan penghuninta seperti Rusa, Kerbau, Banteng, Monyet menambah eksotis tempat ini. 
savana

Awalnya kami mau menginap Baluran, harga penginapannya tidak terlalu mahal. Ada dua kelas, kelas yang harganya Rp75000 dan harga Rp. 150.000 tetapi sayangnya kamar disana semuanya penuh. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan petualangan menuju Banyuwangi menelusuri pantai Watu dodol dan pesisir timur pulau Jawa. Pulangnya kami melewati Gumitir. Sepertinya Gumitir sedang tidak bersahabat dengan kami, ditengah perjalanan ban motor kami tiba-tiba meletus. Mungkin terlalu lelah sepertinya sepedah motor Revo ini. Tetapi namanya petualangan, sekali lagi itu justru menambah keren dan indah suasana, kami mendorong cukup jauh karena aku tak tega melihat Anggie yang kelelahan akhirnya aku titipkan dia dirumah penduduk untuk sekedar beristirahat.

Suasana malam itu begitu indah sekali. Nuansa petualangannya terasa betul, melalui perjalanannya tidak mudah dan menantang sekitar 250km kita berjalan dan menghabiskan 6liter bensin. Great moment tercipta ditanggal 2 November 2012. Baluran menjadi saksi bahwa kami telah berhasil menjejakinya. Masih banyak tempat lainnya, pulau Menjangan, pulau Sempu dan tentu saja Karimun Jawa.

Ok, nantinya petualangan kita selanjutnya!!
Soal BandeAlit dan Gunung Gending


2 komentar:

  1. Sempu sudah saya jejak mas vin,.. mantaabh jugaa di sana,.. menginap sekitar 3 hri stu malam di pulai sempu, melewati sendang biru,.. biaya penyebrangan kapal sekitar Rp 100.000 tour guide 45rb. di sarankan bawa perlengkapan camping. tenda juga boleh.

    hahahaaay,..
    salaam fighter,. tetap semangat buat adventurenya,. blognya bagus mas,.. ahahahaay

    BalasHapus
  2. hahha...thanks,,thanks,,ada tempat yang menarik ga?

    BalasHapus