Selasa, 09 Desember 2014

Melahirkan Semangat dan Membunuh kesia-sia

Sudah hampir lima generasi saya berkecimpung di GmnI. Sejak tahun 2009, dari komisaris Udin dilanjutkan pada Wawan, Deni selama dua periode dan akhirnya hari ini Fatik di tahun 2014. GmnI, bagi saya dan juga bagi kebanyakan kader-kader yang berproses secara masif, bukanlah sekedar organisasi belaka, tempat diskusi, tidur, gitar-gitaran, demo atau labeling sebagai aktivis gerakan. GmnI lebih dari itu, telah menjadi identitas yang melekat sampai saya bertemu ruang gelap, liang kubur.

Selama berprosesdi GmnI, saya tidak pernah berada dalam lingkaran kepengurusan GmnI baik di tingkat komisariat ataupun cabang. Saya bertugas ditataran UKM universitas Jember, ya sebagai bagian dari bagi-bagi tugas. Begitulah para kawan-kawan pendahulu selalu bilang.
Baiklah. Waktu berlajan dan “tiada yang lebih fana daripada waktu dan kita abadi” kata Sapardi Djoko Damono. Tentunya, setelah semakin beranjak. Generasi terus berganti dan angkatan saya pun beranjak menuju proses selanjutnya. GmnI komisariat hukum telah berganti wajah, berganti kepengurusan dan berganti semangat harusnya.

Ada beberapa hal yang ingin saya share kan sebagai kawan gerakan yang baik, saya ingin melunasi janji saya pada kawan Allan, ia pengurus yang baru saja terpilih masuk dikepengurusan Fatik. Saya berjanji untuk berbagi sedikit yang saya ketahui terkait job description dari masing-masing bidang.

GmnI yang Tak Kunjung Beranjak
Selama hampir lima tahun berproses, saya selalu berkerut dahi ketika membicarakan gerakan organisasi ini, khususnya ditingkat Komisariat. Dari mulai era Udin sampai Deni, rasanya tak ada gerakan yang benar-benar mengigit dan diingat dalam keharuman. Semuanya serasa biasa saja dan cenderung mengekor pada pendahuluanya. Keadaan itu semua harus diakui secara legowo, bahwa kita, termasuk saya tidak bisa membuat inovasi dalam gerakan sehingga komisariat tetap pada titik yang sama dari generasi ke generasi. GmnI komisariat hukum tak lebih dari ruang untuk tidur kader-kadernya dan tempat untuk hahahihi dan nir edukasi. Tak ada yang lebih menarik di GmnI selain main caturnya. Di era awal-awal saya sebagai kader, saya sempat merasakan suasan gerakan di GmnI. Diskusi yang menarik meski kosong subtansi, advokasi dan kegiatan yang menjadikan cerita gerakan tak melulu itu-itu saja. Namun diera selanjutnya kosong dan tak beresensi, saya harus akui itu dan kita semua harus juga mengakuinya.

Permasalahan-permasalahan tersebut tentu bukan tanpa sebab dan tentu tidak adil jika hanya menunjuk pengurus atau komisaris sebagai biang keladinya. Ada banyak faktor yang membuat keadaan GmnI komisariat Hukum menjadi lemah syahwat tersebut. Kalau saya analisis ada beberapa faktor:  

  •  Rendanya rasa ingin tahu kader kepada hal-hal baru.
 Rendanya rasa ingin tahu kader-kader GmnI sangatlah terasa. Banyak hal yang mereka merasa asing dengan hal-hal baru. Hal ini karena  merasa diri sudah merasa puas dengan apa yang diketahuinya. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu hal yang lainnya. tentu saya tidak hanya memberikan kritik tanpa solusi. Saya mengusulkan untuk membiasakan membaca koran, membuka website berita atau menggali informasi. Dalam sehari cukuplah sempatkan satu jam saja. 
  •   Kurangnya minat membaca;
Membaca yang kurang adalah hantu yang tidak pernah bisa diusir dari kader-kader GmnI. Kader-kader GmnI pandai berdiskusi, pandai merusak forum tetapi ketika berdialektika memble, dalam berpendapat menggunakan banyak asumsi. Kalau tidak, investasi kuping istilah lainnya mengutip omongan orang lain setelah didengarnya. Buku yang selalu dibaca hanyalah Dibawah Bendera Revolusi, buku yang lebih sering dibaca daripada Al Quran, itu pun hanya bab I, Nasionalisme, Islam dan Marxisme. Come On, carilah buku lainnya yang lebih banyak agar refrensinya tidak melulu itu-itu saja.
Kurang membaca adalah faktor yang paling dominan menciptakan kemalasan dalam berproses. Baiklah, saya tidak bisa mengeneralisir secara kesuluruhan, tapi harus diakui keadaan memang demikian. Kurangnya membaca membuat kita sok tahu dan ngotot tak jelas ketika berdiskusi lalu akhirnya menjustifikasi kalau si A terlalu marxian, terlalu liberal terlalu A terlalu B. Dulu saya pernah dicap demikian oleh para senior, sederhana saja karena mereka malas baca dan merasa sudah banyak tahu. Payah.
Solusi yang saya tawarkan, mulailah dengan membaca apa saja dulu. Bolehlah komik Hentai sekalipun. Intinya, mulaiah membiasakan membaca biasanya saya dulu 30menit sebelum tidur dan selalu membawa buku kecil. Ketika ada hal-hal baru yang tidak dimengerti dicatat lalu dicari ketika ada waktu kosong. Ini sudah jaman Internet, kawan. Membaca tak melulu buku Filsafat, buku yang tebel-tebel. Membaca dari mana saja bisa, namun dalam memahami apa dibacakan perlu diskusi satu sama lain terlebih dahulu. Dengan membiasakan mencatat apa yang kita baca secara tidak langsung akan pula membiasakan kita untuk terbiasa menulis dan menambah perbendaharaan kosakata.  
  • Banyak kader yang bermental cengeng
Progresif Revolusioner adalah klausul tambahan yang dimasukan dalam kongres GmnI yang ke-7 di Depansar. Secara harafiah progresif bermakna perbaikan, kemajuan. Sedangkan revolusioner artinya cenderung menghendaki perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Jelas kader-kader GmnI dan gerakan GmnI diharapkan mencapai tataran progresif Revolusioner. Namun sayang sekali, Heri Wardono selaku sekjen waktu itu, yang juga berasal dari Komisariat Hukumer Unej tidak memikirkan sampai kedepannya. Detik ini, jargon itu telah berubah menjadi progresif reaksioner. Banyak kader-kader yang ogah ini dan ogah itu, diajak diskusi ogah, diajak turun ke lapangan ogah, diajak aksi pun ogah, diajak berkembang ogah. Namun proses tersebut seolah menjadi seleksi natural. Kader-kader yang bertahan sampai tuntas di GmnI bisa dikatakan kader-kader yang survive, karena sudah melewati tahapan ‘cengeng’.
Solusi yang saya tawarkan, blusukan adalah solusi kongkrit khususnya bagi kader-kader baru. Saya senang ketika mendengar kabar kalau kawan Christina dan lainnya mengadakan sekolah rakyat bersama anak-anak di Desam Tempurejo. Hal tersebut apabila dilakukan secara masif akan menambah kepekaan sosial kawan-kawan kader dan membuat kita tidak hanya onani wacana saja.
  • Kepengurusan yang tidak kompak;
Pengurus tidak aktif dan komisaris yang menjadi single fighter adalah masalah klasik di tubuh kepengurusan komisariat hukum. Dari mulai era Udin, ada Mas’ud, Metha, Betha, Ariesta, Firman dan banyak lainnya. Dikepengurusan Wawan, cenderung lebih sedikit meski ada Firman dan Chiko De Morgan. Di era kepengurusan Deni yang pertama ada Elkristi, Citra, Firda, dan saya lupa lagi. lalu dipengurusan yang kedua, ada Andik, Erlangga, Febbi. Intinya, setiap kepengurusan mempunyai potensi untuk kehilangan pengurusnya, alasannya banyak, dari mulai tidak kuat dengan tanggung jawab, tidak bisa memanajemen waktu dan sudah tidak ada passion di GmnI. Pengurus yang tidak aktif memang sudah wajar namun perlu kekompakan tim dari pengurus yang aktif.
Solusi yang saya tawarkan, pilihkan pengurus yang sudah teruji waktu. Memilih pengurus tidak hanya asal dia dekat dengan komisaris atau asal dia sering ke komisariat. Semua itu tidak menjamin apa-apa. Pastinya, dengan memilah mana yang pantas menjadi pengurus dan tidak melalui uji kelayakan komisaris dan demisioner maka diharapkan dapat meminimalisir pengurus-pengurus yang tidak aktif karena sebelumnya telah terseleksi. Apabila ada yang tidak aktif beri dia peringatan. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk ketegasan saja. Lek Dadi pengurus ojok ngambulan rek..!!!!!
  • Kegiatan yang monoton;
Kegiatan yang monoton bersumber dari kita yang kurang mencari tahu hal-hal baru apa saja yang berkembang saat ini, kurangnya membuka wawasan membuat kita seperti katak dalam tempurung. Kegiatannya kalau ga ya demo atau diskusi. Tidak ada kegiatan lainnya yang lebih menarik. Contohnya, beberapa hari yang lalu tanggal 1 Desember 2014, Joshua Oppenhamier membuka kesempatan kepada siapapun diseluruh Indonesia untuk memutarkan perdana film ‘Senyap’ pada Hari HAM Internasional tanggal 10 Desember. Kesempatan tersebut tidak disambarkan? Film originalnya diberikan secara Cuma-Cuma loh.
Solusi yang saya tawarkan, mulailah gaul dan menghimpun informasi sebanyak-banyaknya. 
  • Tidak on time ketika mengadakan kegiatan;
Permasalahan kegiatan yang tidak ontime selalu dikeluhkan oleh kader-kader, khususnya kader baru yang belum mempunyai semangat berGmnI dengan tulus. Mereka akan jenggah ketika harus menunggu lama dalam ketidak pastian. Memang sulit, sangat sulit untuk harus membuat kawan-kawan GmnI untuk on time, karena kita mempunyai wilayah waktu tersendiri, Indonesia bagian GmnI. Tapi itu bisa dipikirkan oleh pengurus GmnI yang baru ini, mungkin punya inovasi untuk mengubah habit tersebut. 
  • Pengurus yang tidak memahami fungsi dan tugasnya;
Wajar sekali jika pengurus masih ada beberapa yang belum memahi fungsi dan tugasnya. Hal tersebut karena mayoritas dari mereka masih banyak yang baru berproses sudah dijadikan pengurus. Oleh karena itu, perlu kerjasama dengan demisioner untuk menuntun beberapa waktu sampai kawan-kawan pengurus yang baru bisa terbiasa dan mulai memahami fungsi dan tugasnya. Apabila dilepas begitu saja oleh demisioner maka tak heran jika ada pengurus yang lari dari kenyataan. Dan saran saya pengurus yang baru jangan malu untuk bertanya.
  •  Kurangnya gaul kader-kader GmnI.
Kurang gaul ini juga masalah klasik di tubuh GmnI komisariat Hukum. Contoh kecilnya, ketika di kampus hanya berkumpul dengan kawan-kawan se GmnI. Bukannya tidak boleh namun hal tersebut justru tidak membuat kita nemambah relasi namun berkutat di hal-hal itu saja. Tidak ada ada banyak hal baru yang dapat diserap.

Selain itu, menciptakan suasana yang ekslusif. Oleh karena itu, saya mengusulkan sekali, cobalah untuk mengembakan komunikasi dengan kawan-kawan yang lainnya tidak hanya se fakultas atau se organisasi namun juga berkembang, berelasi, berjejaring agar tidak seperti katak dalam tempurung.

Tentu analisis saya ini tidak begitu valid karena saya hanya menggunakan analisis berdasarkan pengamatan di organisasi saya di UKM dan beberapa Ormek di Jember. saya hanya mengusulkan analisis kecil ini untuk bisa dikembangkan oleh para pengurus yang baru. Sederhana saja tujuannya, agar tidak menjadi keledai baru yang terjerumus dilubang yang sama.

Namun pada intinya ada beberapa point yang membuat roda gerakan tidak berjalan dengan optimal. Membaca adalah kunci dari semuanya. Ketika kita mengetahui satu hal maka kita akan termotivasi pada hal yang lainnya. Sayangnya kebiasaan membaca itu tidak terlalu mencandu dikalangan aktivis gerakan termasuk GmnI komisariat Hukum.

Namun apapun, seburuk-buruknya dan sebagus-bagusnya GmnI, organisasi ini adalah ruang, rumah yang membuat saya berproses ketika menjadi mahasiswa. Diruang itu, saya atau bahkan kita semua belajar menjadi satu. Belajar menahan lapar, belajar dikuatkan mentalnya, belajar berkawan dengan baik, belajar memaki, belajar berpikir, belajar mendengar, belajar  menjadi manusia yang tidak itu-itu saja. But different the other!!!

Akhirnya.
Saya selalu nyinyir seperti ini, maafkan. Karena memang tugas saya dari dulu memang suka nyiniyir dan usil. Tujuannya agar janganlah kita berpuas diri tapi belajar dan belajar sampai liang lahat.
Selamat untuk Fatik dan para pengurusnya. Saya rasa demisioner akan menjelaskan secara terperinci tugas dan fungsi dari masing-masing sekbid. Jika ada yang ingin berdiskusi silahkan, saya akan sangat senang meski waktu saya tak begitu banyak seperti dulu waktu kuliah. Selamat berproses dan berjuang, kawan-kawan.



Senin, 08 Desember 2014

Cileungsi yang masih asing

Entah

Dalam batu yang membelai ingatan samar
Ada tawa yang kadang tak terdengar nyaman
Terlelap dalam ruang yang teramat dalam
Dalam keterasingan kata
Tak pernah terpahami sebagai kepedihan yang terpendam



Rindu
Kita pernah berjanji menantang kemalangan
Kita pun pernah menertawakan kesialan
Namun kita dibuat bisu oleh rindu
Rindu tema lapuk yang kita sukai
Menjadi irama dalam setiap hembusan nafas
Berkelanan dalam ketengikan jarak
Berpura-pura paripurna dalam suara gadget
Setelah diakhiri, melayang-layang dalam lamunan sunyi
Dimanakah rindu itu mengendap?
Keruh oleh  laku dan ceracau yang tak berjumpa
Lalu, menahan sesak.
Begitulah kiranya.
Ada saja berhala yg mencandu
Tak bisa kiranya
Dikehingan yang tak terungkap rupa dan mimiknya
kita mengudara mencari rindunya masing-masing
lalu bercerita sambil menyenggama kerinduan
kita lemas.
Cileungsi, 5 September 2014 Che

Di Djakarta itu, Malam Bisu menjadi Saksinya

“ Tak ada yang lebih damai dari Malam. Malam menggoyak Rindu yang mengendap”

Senja meninggalkan langit jingga. Tengelam menuju belahan yang lain. Ada malam yang katanya melahirkan gelap. Namun aku tak pernah percaya kalau malam yang melahirkan gelap. Malam justru melahirkan terang. Terang hanyalah kiasan yang dilalui yang menjadi pembedanya. Aku selalu percaya kalau terang tidak akan abadi menemani, gelaplah yang setia menemani setiap langkah rindu ini. Sederhana saja alasannya, aku terlahir dari gelap dan berakhir bersama gelap. Dinding rahim yang gelap atau dinding kubur yang juga gelap. Gelap adalah terang yang abadi. Meski cerita-cerita lainnya ada kehidupan yang katanya terang selalu menghadir setiap waktu. Aku sedang tidak berbicara soal itu.entahlah.

Gelap semakin merangkak rapuh, langit tetap menjingga. Entahlah, aku tak pernah menemukan hal semacam itu ditempat lainnya. Tak ada lukisan bintang yang menentramkan, cahaya kota membias sampai kelangit yang seharusnya gelap suci. Namun, langit tetap meninabobokan penghuninya. Jalanan disiang hari yang biasanya padat, memaknai setiap jengkalnya sebagai keberartian ruang kini beranjak lengang. Tak ada kemacetan yang menakutkan, tak ada deru klapot biadad. Tak ada ceracau supir angkot yang lupa pada makna kejujuran, tak terdengar ceracau liar  kaum marjinal yang terjebak pada rayu ibu kota.
Djakarta tampak lugu dimalam hari, lampu pengganti bintang yang terkotori oleh cahaya-cahaya dibawahnya menjadi pelengkap malam yang mencandu itu. Jalanan begitu lengang. Aku duduk diantara pohon-pohon yang menari ditikam angin sendu, seperti sisa-sisa rindu yang coba diingatkan kembali. Malam itu, Djakarta tampak perawanannya. Aku suka itu.

Malam itu, aku tak sendirian. Duduk dikursi disisi jalan tepat di depan meseum nasional. Didepannya dipajang patung gajah. orang lain ada pula yang mengenalnya sebagi museum Gajah. peduli setan dengan segala istilah yang memisahkan itu. Aku ingin menikmati malam itu dengan lebih damai. Lampu malam, gedung-gedung yang tinggi, jalanan yang padat, malam itu benar-benar bisu. Seolah beristirahat setelah seharian penuh riuh oleh aktifitas manusia yang berlomba mencari pundi-pundi.

Malam itu, benar-benar romantis. Aku duduk berdua bersama seseorang yang baru aku kenal dua bulan terakhir ini, daun-daun yang gugur dimainakan angin, lampu taman yang temaran, atau lelaki paruh baya yang lelah menjajakan kopi hangatnya. Aku membelinya sebagai teman yang menghangatkan obrolan, namun kepulan asap kopi itu hanya kopi yang artifisial, perantara diantara kecangungan yang segera dicairkan.
Tak perlu keperjelas ia siapa. Ia temanku malam itu. meniti setiap jengkal detik yang membawa malam pada kerapuhannya. Mengulangi siklus purba, malam lalu berganti fajar. Ia fajar yang lainnya. Fajar yang tak pernah diceritakan oleh embun atau mungkin ia memang anak dari sang Fajar. Entahlah. Pastinya ia menjadi teman yang baik menemani laki-laki yang baru saja dikenalnya. Ia tak takut, aku bisa berbuat jahat padanya. Ceroboh. Tentunya tak mungkin juga aku berbuat jahat pada perempuan sebaik dia.

Kita berdua diantara kata yang tak sempat senja ceritakan. Mengulas kisah lama yang tak pernah purna untuk diceritakan. Meski kadang mengoyak ingatan yang rasanya perih mengiris. Kita mengenal lebih jauh meski tak ada tangan yang saling menggamit, meski kepalanya tak bersandar dipundakku atau kecup kasih sebagai bunga kebersamaan. Aku tak perlu itu, aku rikuh malam itu. Terjebak dalam romantisme yang serba kikuk. Ingin kupeluk erat resahnya agar  ia terlelap dalam lamunan panjang bersamaku. Ingin kubisikan cerita-cerita Zeus dan Hera di Olympus. Aku tak bisa. Ia adalah romantisme yang lain,  romantisme yang dipisahkan perasaan yang berbeda. Aku punya yang lain dan ia pun kekeuh dengan sikapnya.

Aku bercerita tentang Batavia yang dibangun dari puing-puing Jayakarta. Jean Peter Coen, si Gubenur VOC pertama membumi hanguskannya lalu dirubahnya Jayakarta menjadi Batavia. Kota yang diproyeksikan hanya untuk 800ribu penduduk itu, kini sudah diisi sesak oleh 12 juta manusia. Aku seperti pemandu tour wisata anak SD, menceritakan setiap sudut Jakarta yang tak lagi menjadi Amsterdamnya Asia. Sisa-sisa kanal di Harmonie masih ada namun hanya menyiskan kumuhnya ibu kota negara ini. Lapangan Banteng yang kini berubah menjadi Monas pun menjadi semakin megah. Aku bercerita banyak tentang bagaimana Jakarta ini penuh dengan genangan sejarah. Ia hanya manggut-manggut dan mencoba memahami obrolanku, meski aku sangat yakin kalau ia tak tertarik atau memahami obrolanku. Aku tetap tak peduli. Aku sedang terjebak pada euforia sejarah. Aku bisa merasakan bagaimana para gubenur Jenderal itu membangun Djakarta. Djakarta tetap indah dan seperti di Amsterdam meski hanya dalam khayalanku saja.

Perjalanan menyusuri sisa cita-cita VOC itu dipenggal dibangku taman yang bisu namun pernah menjadi saksi romantisme aku dan dia, aku masih belum bisa mengatakan ‘kita’. kita membicarakan banyak hal, tentang kejadian yang memuakan disiang hari, tentang mantan kekasihnya yang  bermain-main diperasaanya, tentang jawaban-jawabannya yang selalu dipenuhi oleh jawaban singkat, khas perempuan urban. Huft.
“ kamu itu kok formal banget ya, Fin?” kata-katanya menghujam malam yang semakin ringkih. Aku formal? Lalu mencoba memahami maksud dari apa yang diucapkannya. Tentu terkejut, karena hanya ada dua orang yang pernah bilang seperti itu, orang pertama Anggie yang kemudian menjadi perempuan yang ada disampingku dan ia, perempuan yang lainnya. Tentu heran, pernyataan tersebut seolah memaksaku untuk mereflesksikan diriku sendiri. Ia menambahkan, kalau bahasaku sok sastrwi, terlalu filosofis. Alamak. Apa yang dia ucapkan persis sama dengan yang Anggie ketika ia pertama kali bertemu denganku. Tepat di gelap yang sudah semakin beranjak, subuh itu masih aku ingat betul kala Fajar pertama hadir menghangatkan bumi. Sedangkan, ia mengatakan itu dikala malam sedang beranjak pada kerapuhan yang lain.

Malam selalu melarutkan ceritanya dalam nuansa yang berbeda. Aku sempat terbawa diri untuk menjadikan ia sebagai tenang yang lain. Malam jadi saksinya, ada yang tak sempat diceritakan oleh kata  ketika kita berdua, hanya aku yang sempat bertanya akankah kau tau maksudnya. Seharusnya malam membawaku pada keberanian yang lainnya untuk sekedar menikmati malam yang pendek itu bersama jawaban yang sederhana untuk mencari kesempatan untuk bisa dirindukan kembali dihari yang lain. Kita menjadi sepasang yang bisa saling menenangkan, meski sesaat. setelah itu melupakannya dikala Fajar lainnya hadir memengggal kisah yang sunyi itu.

Jam berdetak dalam hening. Membawanya pada ujung pagi, sedikit sakit kepala. Kita mengenyah mencari lelap. Merebahkan lelah dan kembali tersadar dalam lamunan yang singkat. 
Terima kasih, engkau adalah romantisme yang lain. Menemamiku ketika gelap jatuh diujung malam yang dingin. Dimalam itu, ada kisah yang banyak rindunya. Untuk malam itu, untuk perempuanku yang jauh dari sana. Untuk lelakimu yang cemas mencarimu.

postscript: ada cerita yang diabadikan lewat klise-klise yang kemudian dicetak menjadi foto, tapi aku tak bisa menjadi fotografer handal. Ada pula kisah yang diabadikan dalam kanvas, tak coretanku sungguh buruk sekali, ada nada-nada yang merangkum kisah kemudian menjadi bait-bait lirik lagu, aku hanya bisa memaikan grip gitar dasar. Aku lebih mengabadi dalam tulisan-tulisan bisu yang membawaku pada semesta lainnya. kali ini, aku menuliskannya untukmu,

Untuk Perempuan diujung Pelukan
12-10-2014

Minggu, 31 Agustus 2014

Kepergian Pertama

Tentangmu, Jude. Aku ingin memelukmu lebih erat, melepaskan tawa yang tertahan oleh jarak. Hari-hari terakhir kita selalu diisi oleh perdebatan soal jarak, rindu dan keresahan yang sulit diendapkan. Kita dalam rimba kesendirian, mencari pijar dan pijakan setelah semuanya terpaksa dipisahkan oleh pilihan yang katanya sebagai bagian dari modernisasi manusia, bekerja lalu mendapat uang. 

Akhirnya, kita yang menjadi bagian konsekuensinya. Rasanya aku pun sampai samar bagaimana merasakan pelukmu, lupa harum tubuhmu atau suara renyahmu dipagi hari. Sekali lagi, jarak tidak sedang berdamai dengan hubungan kita. 

Jarak dan Rindu adalah resah yang baru

Tepat pukul 05.00 WIB, kereta mengantarkanku pada belahan yang lain. Katanya, membawa mimpiku ditempat terbaik. Aku tidak terlalu percaya, hanya sekedar mengikuti arus saja. Subuh itu, kau mengantarku dengan nafas yang tertahan didada, mata yang mulai menggelinang dan tangan yang menggamit keras. Aku tahu, kau tak rela melepaskan kebersamaan yang dibangun selama dua tahun terakhir ini. Selama waktu itu, rasanya hampir setiap saat kita bersama. Melawati banyak cerita, semuanya terangkum dalam album kebersamaan yang pada subuh itu akan bersambung. Tak ada jalan-jalan blusukan ketempat-tempat yang asing, tidak ada makan malam bersama, tidak ada memasak bersama. Detik itu, segalanya terhenti, meminta untuk diputar kebelakang beberapa tahun yang lalu, saat hari hangat pertemuan pertama kita. Dimana, kau dan aku masih malu-malu untuk menyapa apalagi berpelukan. Hari itu, kita serasa lugu untuk mengatakan cinta satu sama lain. Sayangnya, yang paling angkuh dan keras dari segalanya adalah waktu. Waktu terus beranjak detik demi detik meninggalkan segala rindu. Tak peduli rindu besarnya se Himalaya, tak peduli resah menghujam perasaan, tak peduli aku ditikam rindu. Waktu yang lambat itu benar-benar meninggalkan keriangan dan melahirkan kesedihan yang baru. Meski satu sama lain sadar, kepergian ini bukanlah kepergian tanpa kepulanganga. Meski kita pun sadar, tangis ini akan diganti oleh tawa yang tak bisa dilupakan oleh apapun. Tetap saja, kita terlanjur ringkih oleh jarak. Jarak terlampu sadis, sesadis waktu yang kaku dan angkuh.

Belajar Berjarak

Entah hari keberapa, tak ada yang peduli. Kita terlanjur melacurkan diri pada rindu. Rindu semakin congkak menikam disetiap hembusan nafas. Tak peduli dunia semaju apapun, tak peduli Whatsaap, tak peduli Line, Skype, atau apaun itu. Rindu tetaplah rindu, apalagi rinduku terlalu manja, banyak mintanya. Hanya pertemuan yang mampu mengeliminasinya. 

Dalam keteraniayaan tersebut, kita belajar tentang menjadi manusia yang tak selamanya indah. Kita belajar menghargai pertemuan yang tak selalu bertatap muka. Belajar mengeja jarak agar tidak terlalu dibodohi sehingga terjerembab pada kemelankolisan yang tak kunjung usai. Kadang, aku menikmatinya namun aku masih banyak kalahnya, apalagi kalau bukan oleh.... ah tentu kau tau bukan?

Seperti pagi ini, ketika ada waktu yang tak banyak aku menyepatkan diri untuk menuliskan keresahanku ini, yang tertulis maka abadi. Begitulah. aku ingin mengabadikannya.





Selasa, 12 Agustus 2014

Cak Wang dan Ingatan yang Menolak Lapuk



Rasanya tidak pernah merasa bosan untuk menceritakan Jember, lebih dalam dan lebih lengkap. Jember tak hanya sekedar kata yang dirangkai dalam dua huruf vokal atau sekedar kota yang berada hampir diujung pulau Jawa. Bukan. Jember lebih dari sekedar bahasa, Jember adalah untaian cerita yang layak diceritakan sebagai pengantar tidur. Jember adalah kesemestaan cerita!





***

 Jember semakin dingin. Kemarau menghembuskan udara dinginnya. Jember semakin sepi ditinggalkan penghuninya, banyak diantaranya yang berebut untuk menikmati ritus suci Idul Fitri. Namun, Jember tetap tidak kehilangan ceritanya. Disudut yang tak terlalu ramai, beberapa penghuni yang tersisa di kota Jember menikmati kemeriahan malam bersama canda tawa, perjumpaaan hangat setelah terpisah, cerita penuh semangat atau sekedar suara lamat-lamat karena bercerita sedikit pribadi. Diantara semua kehangatan itu, ada kepulan asap rokok, asbak yang penuh dengan puntung-puntung rokok dan tentunya sahabat setia dari setiap kehangatan tersebut, Kopi. Yap, kopi adalah bagian dari identitas yang berkembang bak jamur. Hampir setiap sudut kota Jember berdiri warung-warung kopi. Dari mulai yang kelas kaki lima sampai hotel bintang lima. Semua tempat berlomba memberikan sajian kopi terbaiknya. 

Warung kopi telah menjadi rumah kedua bagi pecinta ‘ngopi’. Dari segala golongan, bersatu dalam kebersamaan yang sederhana, menikmati kopi dan ngobrol ngalor-ngidul. Warung kopi telah menjadi identitas baru di Jember. Ruang publik yang menceritakan banyak hal. Tidak ada si Kaya atau si Miskin. Semuanya sama, merujuk pada pemikiran dari Habermas tentang konsep ruang publik yang menekankan bahwa Ruang publik yang bebas dari campur tangan pemerintah dan pasar—di mana semua warga terlibat secara adil dalam perdebatan rasional mengenai kebaikan bersama dalam rangka mencapai konsesus dan tindakan yang demokratis.  

Dalam konsep ruang publik, masyarakat datang ke warung kopi awalnya untuk sekedar menikmati kopi disempurnakan melalui obrolan. Berawal dari obrolan tentang musik, seni lalu beranjak pada obrolan sengit tentang politik atau ekonomi. Semua  terjadi kesetaraan rasional tanpa hierarki. Obrolan-obrolan tersebut tersedia melalui pengamatan, penglihatan pada kondisi lingkungan yang tersebar memalui banyak sarana, media massa, sosial media dan banyak lainnya. Perdebatan, obrolan tersebut melahirkan pemahaman baru, menciptakan kesadaran baru. Warung kopi pada akhirnya bisa menjadi media untuk mengomunikasikan informasi dan juga pandangan. Dalam keadaan masyarakat bertemu dan berdebat akan sesuatu secara kritis maka akan terbentuk apa yang disebut dengan masyarakat madani. Secara sederhana masyarakat madani bisa dipahami sebagai masyarakat yang berbagi minat, tujuan, dan nilai tanpa paksaan—yang dalam teori dipertentangkan dengan konsep negara yang bersifat memaksa.

Memang dalam perkembangannya konsep ruang publik tidak hanya sebatas ruang fisik, namun juga ruang-ruang lainnya sebagai tempat diamana arus informasi berada. Sosial media bisa menjadi salah satu contohnya. Konsep ruang publik dalam bentuk virtual tersebut justru melahirkan esensi yang berbeda dalam konteks komunikasi komunal. Satu sama lain tidak bisa bertemu, tak bisa bertatap muka. Hal inilah yang menurut John Horgan, The End of Science sebagai salah satu bentuk kematian, kematian sosial. Warung kopi sebagai nadi baru yang menghidupakan lagi proses-proses yang kultural cum mengaksikan ini.

****
Kenyataan itu disadari oleh banyak masyarakat khususnya di Jember. Banyak diantara saya dan penggemar warung kopi lainnya akhirnya lebih memilih untuk hahahihi bersama diwarung kopi, bersama kopi dan obrolan-obrolan hangat lainnya. Saya biasa menghabiskan waktu hangat tersebut diwarung Kopi Cak Wang. Warung kopi yang menurut saya lebih epic dari tempat lainnya yang biasa menjadi tempat nongkrong saya. Di Cak wang saya mengenal lebih akrab kawan-kawan, sebut saja Whisnu, Arik, Rizal, Adjie, Ikhsan. Kawan se warung kopi. Dari tempat ini pula, karena obrolan yang begitu bebas akhirnya melahirkan ide-ide liar  yang justru mencipta kreativitas.

Bicara soal warung kopi  Cak wang, ada hal yang istimewa ditempat ini yaitu di Cakwang warung kopi yang buka selama 24 jam dan tujuh hari non stop. Ditempat ini, benar-benar menghadirkan suasana yang bebas, saya bisa berjam-jam disini dengan tanpa tahu malu hanya memesan segelas kopi hanya untuk sekedar membunuh waktu dengan menulis, Wifi-an. Seperti saat saya menulis tulisan ini, saya menulisnya di  Cakwang sejak pagi tadi.

Sungguh, ditempat ini dengan suasana kekeluargaan pegawainya membuat saya benar-benar betah meski menunya pun hanya itu-itu saja. Tidak penting. Saya sangat membutuhkan suasana yang menciptakan kenyamanan. Itu poin pentingnya dari hal lainnya.

Di Cak Wang pula tempatnya luas dan menyediakan jaringan wifi yang cukup bersaing diantara warung kopi atau cafe yang ada di Jember. Alasan-alasan tersebutlah yang membuat saya begitu jatuh hati pada ruang publik yang bernama warung kopi Cak wang. Saya menjadi penggemar warung kopi Cak wang semenjak warung kopi ini berada dilingkungan kampus, tepatnya didalam kampus FISIP. Setahun yang lalu, saya dan tentu para penggemar Warung Kopi Cakwang yang biasa diseput Cak Wang Ranger sempat bersedih karena warung kopi ini terpaksa ditutup karena kontraknya yang sudah habis. Kesedihan itu hanya bertahan selama dua bulan saja sebab tak lama setelah itu Warung Kopi Cak Wang dibuka kembali. Bahkan dibuka di tiga tempat yang berbeda. Namun saya terlanjur jatuh hati pada warung kopi Cak Wang yang berada di jalan Mastrip.  


Namun, romantisme saya bersama Cak Wang  beberapa waktu yang akan datang akan terganggu. Saya tidak bisa lagi ngopi dan berproses kreatif disini karena saya harus beranjak mencari hal yang baru di tempat yang lain. Saya akan bekerja di Jakarta secara otomatis saya pun berpisah dengan Jember, cak wang dan segala ceritanya yang sempat tertulis dengan indah dalam ingatan saya. Huft...

Apa boleh buat. Cerita tentang Cak wang dan warung kopi yang lainnya adalah cerita yang tidak bisa dilenyapkan dari Jember. Warung kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pecinta Jember. Warung kopi telah menjadi nadi baru dalam metamorfosis silaturahmi masyarakat Jember dan warung kopi adalah ruang kelas yang lebih nyaman dari kelas pada waktu kuliah. Warung kopi pun telah menjadi basecamp bagi perubahan-perubahan yang terjadi di Jember. Cerita indah saya tentang warung kopi lahir dari Cakwang.