Sudah
hampir lima generasi saya berkecimpung di GmnI. Sejak tahun 2009, dari
komisaris Udin dilanjutkan pada Wawan, Deni selama dua periode dan akhirnya
hari ini Fatik di tahun 2014. GmnI, bagi saya dan juga bagi kebanyakan
kader-kader yang berproses secara masif, bukanlah sekedar organisasi belaka,
tempat diskusi, tidur, gitar-gitaran, demo atau labeling sebagai aktivis
gerakan. GmnI lebih dari itu, telah menjadi identitas yang melekat sampai saya
bertemu ruang gelap, liang kubur.
Selama berprosesdi GmnI, saya tidak pernah
berada dalam lingkaran kepengurusan GmnI baik di tingkat komisariat ataupun
cabang. Saya bertugas ditataran UKM universitas Jember, ya sebagai bagian dari
bagi-bagi tugas. Begitulah para kawan-kawan pendahulu selalu bilang.
Baiklah.
Waktu berlajan dan “tiada yang lebih fana daripada waktu dan kita abadi” kata
Sapardi Djoko Damono. Tentunya, setelah semakin beranjak. Generasi terus
berganti dan angkatan saya pun beranjak menuju proses selanjutnya. GmnI
komisariat hukum telah berganti wajah, berganti kepengurusan dan berganti
semangat harusnya.
Ada
beberapa hal yang ingin saya share kan sebagai kawan gerakan yang baik, saya ingin
melunasi janji saya pada kawan Allan, ia pengurus yang baru saja terpilih masuk
dikepengurusan Fatik. Saya berjanji untuk berbagi sedikit yang saya ketahui
terkait job description dari
masing-masing bidang.
GmnI yang Tak Kunjung Beranjak
Selama hampir lima tahun berproses, saya
selalu berkerut dahi ketika membicarakan gerakan organisasi ini, khususnya
ditingkat Komisariat. Dari mulai era Udin sampai Deni, rasanya tak ada gerakan
yang benar-benar mengigit dan diingat dalam keharuman. Semuanya serasa biasa
saja dan cenderung mengekor pada pendahuluanya. Keadaan itu semua harus diakui
secara legowo, bahwa kita, termasuk saya tidak bisa membuat inovasi dalam gerakan
sehingga komisariat tetap pada titik yang sama dari generasi ke generasi. GmnI
komisariat hukum tak lebih dari ruang untuk tidur kader-kadernya dan tempat
untuk hahahihi dan nir edukasi. Tak ada yang lebih menarik di GmnI selain main
caturnya. Di era awal-awal saya sebagai kader, saya sempat merasakan suasan
gerakan di GmnI. Diskusi yang menarik meski kosong subtansi, advokasi dan
kegiatan yang menjadikan cerita gerakan tak melulu itu-itu saja. Namun diera
selanjutnya kosong dan tak beresensi, saya harus akui itu dan kita semua harus
juga mengakuinya.
Permasalahan-permasalahan
tersebut tentu bukan tanpa sebab dan tentu tidak adil jika hanya menunjuk
pengurus atau komisaris sebagai biang keladinya. Ada banyak faktor yang membuat
keadaan GmnI komisariat Hukum menjadi lemah syahwat tersebut. Kalau saya
analisis ada beberapa faktor:
- Rendanya rasa ingin tahu kader kepada hal-hal baru.
Rendanya
rasa ingin tahu kader-kader GmnI sangatlah terasa. Banyak hal yang mereka
merasa asing dengan hal-hal baru. Hal ini karena merasa diri sudah merasa puas dengan apa yang
diketahuinya. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu hal yang lainnya. tentu
saya tidak hanya memberikan kritik tanpa solusi. Saya mengusulkan untuk
membiasakan membaca koran, membuka website berita atau menggali informasi. Dalam
sehari cukuplah sempatkan satu jam saja.
- Kurangnya minat membaca;
Membaca
yang kurang adalah hantu yang tidak pernah bisa diusir dari kader-kader GmnI. Kader-kader
GmnI pandai berdiskusi, pandai merusak forum tetapi ketika berdialektika
memble, dalam berpendapat menggunakan banyak asumsi. Kalau tidak, investasi
kuping istilah lainnya mengutip omongan orang lain setelah didengarnya. Buku yang
selalu dibaca hanyalah Dibawah Bendera Revolusi, buku yang lebih sering dibaca
daripada Al Quran, itu pun hanya bab I, Nasionalisme, Islam dan Marxisme. Come On, carilah buku lainnya yang lebih
banyak agar refrensinya tidak melulu itu-itu saja.
Kurang membaca adalah faktor yang paling
dominan menciptakan kemalasan dalam berproses. Baiklah, saya tidak bisa mengeneralisir
secara kesuluruhan, tapi harus diakui keadaan memang demikian. Kurangnya membaca
membuat kita sok tahu dan ngotot tak jelas ketika berdiskusi lalu akhirnya
menjustifikasi kalau si A terlalu marxian, terlalu liberal terlalu A terlalu B.
Dulu saya pernah dicap demikian oleh para senior, sederhana saja karena mereka
malas baca dan merasa sudah banyak tahu. Payah.
Solusi
yang saya tawarkan, mulailah dengan membaca apa saja dulu. Bolehlah komik Hentai
sekalipun. Intinya, mulaiah membiasakan membaca biasanya saya dulu 30menit
sebelum tidur dan selalu membawa buku kecil. Ketika ada hal-hal baru yang tidak
dimengerti dicatat lalu dicari ketika ada waktu kosong. Ini sudah jaman
Internet, kawan. Membaca tak melulu buku Filsafat, buku yang tebel-tebel. Membaca
dari mana saja bisa, namun dalam memahami apa dibacakan perlu diskusi satu sama
lain terlebih dahulu. Dengan membiasakan mencatat apa yang kita baca secara
tidak langsung akan pula membiasakan kita untuk terbiasa menulis dan menambah
perbendaharaan kosakata.
- Banyak kader yang bermental cengeng
Progresif
Revolusioner adalah klausul tambahan yang dimasukan dalam kongres GmnI yang
ke-7 di Depansar. Secara harafiah progresif bermakna perbaikan, kemajuan. Sedangkan
revolusioner artinya cenderung menghendaki perubahan secara menyeluruh dan
mendasar. Jelas kader-kader GmnI dan gerakan GmnI diharapkan mencapai tataran
progresif Revolusioner. Namun sayang sekali, Heri Wardono selaku sekjen waktu
itu, yang juga berasal dari Komisariat Hukumer Unej tidak memikirkan sampai
kedepannya. Detik ini, jargon itu telah berubah menjadi progresif reaksioner. Banyak
kader-kader yang ogah ini dan ogah itu,
diajak diskusi ogah, diajak turun ke lapangan ogah, diajak aksi pun ogah,
diajak berkembang ogah. Namun proses tersebut seolah menjadi seleksi natural. Kader-kader
yang bertahan sampai tuntas di GmnI bisa dikatakan kader-kader yang survive,
karena sudah melewati tahapan ‘cengeng’.
Solusi
yang saya tawarkan, blusukan adalah solusi kongkrit khususnya bagi kader-kader
baru. Saya senang ketika mendengar kabar kalau kawan Christina dan lainnya
mengadakan sekolah rakyat bersama anak-anak di Desam Tempurejo. Hal tersebut
apabila dilakukan secara masif akan menambah kepekaan sosial kawan-kawan kader
dan membuat kita tidak hanya onani wacana saja.
- Kepengurusan yang tidak kompak;
Pengurus
tidak aktif dan komisaris yang menjadi single fighter adalah masalah klasik di
tubuh kepengurusan komisariat hukum. Dari mulai era Udin, ada Mas’ud, Metha,
Betha, Ariesta, Firman dan banyak lainnya. Dikepengurusan Wawan, cenderung
lebih sedikit meski ada Firman dan Chiko De Morgan. Di era kepengurusan Deni yang
pertama ada Elkristi, Citra, Firda, dan saya lupa lagi. lalu dipengurusan yang
kedua, ada Andik, Erlangga, Febbi. Intinya, setiap kepengurusan mempunyai potensi
untuk kehilangan pengurusnya, alasannya banyak, dari mulai tidak kuat dengan
tanggung jawab, tidak bisa memanajemen waktu dan sudah tidak ada passion di
GmnI. Pengurus yang tidak aktif memang sudah wajar namun perlu kekompakan tim
dari pengurus yang aktif.
Solusi
yang saya tawarkan, pilihkan pengurus yang sudah teruji waktu. Memilih pengurus
tidak hanya asal dia dekat dengan komisaris atau asal dia sering ke komisariat.
Semua itu tidak menjamin apa-apa. Pastinya, dengan memilah mana yang pantas
menjadi pengurus dan tidak melalui uji kelayakan komisaris dan demisioner maka
diharapkan dapat meminimalisir pengurus-pengurus yang tidak aktif karena
sebelumnya telah terseleksi. Apabila ada yang tidak aktif beri dia peringatan. Hal
tersebut dilakukan sebagai bentuk ketegasan saja. Lek Dadi pengurus ojok ngambulan rek..!!!!!
- Kegiatan yang monoton;
Kegiatan
yang monoton bersumber dari kita yang kurang mencari tahu hal-hal baru apa saja
yang berkembang saat ini, kurangnya membuka wawasan membuat kita seperti katak
dalam tempurung. Kegiatannya kalau ga ya demo atau diskusi. Tidak ada kegiatan
lainnya yang lebih menarik. Contohnya, beberapa hari yang lalu tanggal 1 Desember
2014, Joshua Oppenhamier membuka kesempatan kepada siapapun diseluruh Indonesia
untuk memutarkan perdana film ‘Senyap’ pada Hari HAM Internasional tanggal 10
Desember. Kesempatan tersebut tidak disambarkan? Film originalnya diberikan secara
Cuma-Cuma loh.
Solusi
yang saya tawarkan, mulailah gaul dan menghimpun informasi sebanyak-banyaknya.
- Tidak on time ketika mengadakan kegiatan;
Permasalahan
kegiatan yang tidak ontime selalu dikeluhkan oleh kader-kader, khususnya kader
baru yang belum mempunyai semangat berGmnI dengan tulus. Mereka akan jenggah
ketika harus menunggu lama dalam ketidak pastian. Memang sulit, sangat sulit
untuk harus membuat kawan-kawan GmnI untuk on time, karena kita mempunyai
wilayah waktu tersendiri, Indonesia bagian GmnI. Tapi itu bisa dipikirkan oleh
pengurus GmnI yang baru ini, mungkin punya inovasi untuk mengubah habit tersebut.
- Pengurus yang tidak memahami fungsi dan tugasnya;
Wajar
sekali jika pengurus masih ada beberapa yang belum memahi fungsi dan tugasnya. Hal
tersebut karena mayoritas dari mereka masih banyak yang baru berproses sudah
dijadikan pengurus. Oleh karena itu, perlu kerjasama dengan demisioner untuk
menuntun beberapa waktu sampai kawan-kawan pengurus yang baru bisa terbiasa dan
mulai memahami fungsi dan tugasnya. Apabila dilepas begitu saja oleh demisioner
maka tak heran jika ada pengurus yang lari dari kenyataan. Dan saran saya
pengurus yang baru jangan malu untuk bertanya.
- Kurangnya gaul kader-kader GmnI.
Kurang
gaul ini juga masalah klasik di tubuh GmnI komisariat Hukum. Contoh kecilnya,
ketika di kampus hanya berkumpul dengan kawan-kawan se GmnI. Bukannya tidak
boleh namun hal tersebut justru tidak membuat kita nemambah relasi namun
berkutat di hal-hal itu saja. Tidak ada ada banyak hal baru yang dapat diserap.
Selain
itu, menciptakan suasana yang ekslusif. Oleh karena itu, saya mengusulkan
sekali, cobalah untuk mengembakan komunikasi dengan kawan-kawan yang lainnya
tidak hanya se fakultas atau se organisasi namun juga berkembang, berelasi,
berjejaring agar tidak seperti katak dalam tempurung.
Tentu
analisis saya ini tidak begitu valid karena saya hanya menggunakan analisis
berdasarkan pengamatan di organisasi saya di UKM dan beberapa Ormek di Jember.
saya hanya mengusulkan analisis kecil ini untuk bisa dikembangkan oleh para
pengurus yang baru. Sederhana saja tujuannya, agar tidak menjadi keledai baru
yang terjerumus dilubang yang sama.
Namun
pada intinya ada beberapa point yang membuat roda gerakan tidak berjalan dengan
optimal. Membaca adalah kunci dari semuanya. Ketika kita mengetahui satu hal
maka kita akan termotivasi pada hal yang lainnya. Sayangnya kebiasaan membaca
itu tidak terlalu mencandu dikalangan aktivis gerakan termasuk GmnI komisariat
Hukum.
Namun
apapun, seburuk-buruknya dan sebagus-bagusnya GmnI, organisasi ini adalah
ruang, rumah yang membuat saya berproses ketika menjadi mahasiswa. Diruang itu,
saya atau bahkan kita semua belajar menjadi satu. Belajar menahan lapar,
belajar dikuatkan mentalnya, belajar berkawan dengan baik, belajar memaki,
belajar berpikir, belajar mendengar, belajar menjadi manusia yang tidak itu-itu saja. But different the other!!!
Akhirnya.
Saya
selalu nyinyir seperti ini, maafkan. Karena memang tugas saya dari dulu memang
suka nyiniyir dan usil. Tujuannya agar janganlah kita berpuas diri tapi belajar
dan belajar sampai liang lahat.
Selamat
untuk Fatik dan para pengurusnya. Saya rasa demisioner akan menjelaskan secara
terperinci tugas dan fungsi dari masing-masing sekbid. Jika ada yang ingin
berdiskusi silahkan, saya akan sangat senang meski waktu saya tak begitu banyak
seperti dulu waktu kuliah. Selamat berproses dan berjuang, kawan-kawan.






0 komentar:
Posting Komentar