“ Tak ada yang lebih damai dari Malam. Malam menggoyak Rindu yang
mengendap”
Senja meninggalkan langit jingga.
Tengelam menuju belahan yang lain. Ada malam yang katanya melahirkan gelap.
Namun aku tak pernah percaya kalau malam yang melahirkan gelap. Malam justru
melahirkan terang. Terang hanyalah kiasan yang dilalui yang menjadi pembedanya.
Aku selalu percaya kalau terang tidak akan abadi menemani, gelaplah yang setia
menemani setiap langkah rindu ini. Sederhana saja alasannya, aku terlahir dari
gelap dan berakhir bersama gelap. Dinding rahim yang gelap atau dinding kubur
yang juga gelap. Gelap adalah terang yang abadi. Meski cerita-cerita lainnya
ada kehidupan yang katanya terang selalu menghadir setiap waktu. Aku sedang
tidak berbicara soal itu.entahlah.
Gelap semakin merangkak rapuh, langit
tetap menjingga. Entahlah, aku tak pernah menemukan hal semacam itu ditempat
lainnya. Tak ada lukisan bintang yang menentramkan, cahaya kota membias sampai
kelangit yang seharusnya gelap suci. Namun, langit tetap meninabobokan
penghuninya. Jalanan disiang hari yang biasanya padat, memaknai setiap
jengkalnya sebagai keberartian ruang kini beranjak lengang. Tak ada kemacetan
yang menakutkan, tak ada deru klapot biadad. Tak ada ceracau supir angkot yang
lupa pada makna kejujuran, tak terdengar ceracau liar kaum marjinal yang terjebak pada rayu ibu
kota.
Djakarta tampak lugu dimalam hari,
lampu pengganti bintang yang terkotori oleh cahaya-cahaya dibawahnya menjadi
pelengkap malam yang mencandu itu. Jalanan begitu lengang. Aku duduk diantara
pohon-pohon yang menari ditikam angin sendu, seperti sisa-sisa rindu yang coba
diingatkan kembali. Malam itu, Djakarta tampak perawanannya. Aku suka itu.
Malam itu, aku tak sendirian. Duduk
dikursi disisi jalan tepat di depan meseum nasional. Didepannya dipajang patung
gajah. orang lain ada pula yang mengenalnya sebagi museum Gajah. peduli setan
dengan segala istilah yang memisahkan itu. Aku ingin menikmati malam itu dengan
lebih damai. Lampu malam, gedung-gedung yang tinggi, jalanan yang padat, malam
itu benar-benar bisu. Seolah beristirahat setelah seharian penuh riuh oleh
aktifitas manusia yang berlomba mencari pundi-pundi.
Malam itu, benar-benar romantis. Aku
duduk berdua bersama seseorang yang baru aku kenal dua bulan terakhir ini,
daun-daun yang gugur dimainakan angin, lampu taman yang temaran, atau lelaki
paruh baya yang lelah menjajakan kopi hangatnya. Aku membelinya sebagai teman
yang menghangatkan obrolan, namun kepulan asap kopi itu hanya kopi yang
artifisial, perantara diantara kecangungan yang segera dicairkan.
Tak perlu keperjelas ia siapa. Ia
temanku malam itu. meniti setiap jengkal detik yang membawa malam pada
kerapuhannya. Mengulangi siklus purba, malam lalu berganti fajar. Ia fajar yang
lainnya. Fajar yang tak pernah diceritakan oleh embun atau mungkin ia memang
anak dari sang Fajar. Entahlah. Pastinya ia menjadi teman yang baik menemani
laki-laki yang baru saja dikenalnya. Ia tak takut, aku bisa berbuat jahat
padanya. Ceroboh. Tentunya tak mungkin juga aku berbuat jahat pada perempuan
sebaik dia.
Kita berdua diantara kata yang tak
sempat senja ceritakan. Mengulas kisah lama yang tak pernah purna untuk
diceritakan. Meski kadang mengoyak ingatan yang rasanya perih mengiris. Kita
mengenal lebih jauh meski tak ada tangan yang saling menggamit, meski kepalanya
tak bersandar dipundakku atau kecup kasih sebagai bunga kebersamaan. Aku tak
perlu itu, aku rikuh malam itu. Terjebak dalam romantisme yang serba kikuk.
Ingin kupeluk erat resahnya agar ia
terlelap dalam lamunan panjang bersamaku. Ingin kubisikan cerita-cerita Zeus
dan Hera di Olympus. Aku tak bisa. Ia adalah romantisme yang lain, romantisme yang dipisahkan perasaan yang
berbeda. Aku punya yang lain dan ia pun kekeuh dengan sikapnya.
Aku bercerita tentang Batavia yang
dibangun dari puing-puing Jayakarta. Jean Peter Coen, si Gubenur VOC pertama
membumi hanguskannya lalu dirubahnya Jayakarta menjadi Batavia. Kota yang
diproyeksikan hanya untuk 800ribu penduduk itu, kini sudah diisi sesak oleh 12
juta manusia. Aku seperti pemandu tour
wisata anak SD, menceritakan setiap sudut Jakarta yang tak lagi menjadi
Amsterdamnya Asia. Sisa-sisa kanal di Harmonie masih ada namun hanya menyiskan
kumuhnya ibu kota negara ini. Lapangan Banteng yang kini berubah menjadi Monas
pun menjadi semakin megah. Aku bercerita banyak tentang bagaimana Jakarta ini
penuh dengan genangan sejarah. Ia hanya manggut-manggut dan mencoba memahami
obrolanku, meski aku sangat yakin kalau ia tak tertarik atau memahami
obrolanku. Aku tetap tak peduli. Aku sedang terjebak pada euforia sejarah. Aku
bisa merasakan bagaimana para gubenur Jenderal itu membangun Djakarta. Djakarta
tetap indah dan seperti di Amsterdam meski hanya dalam khayalanku saja.
Perjalanan menyusuri sisa cita-cita
VOC itu dipenggal dibangku taman yang bisu namun pernah menjadi saksi
romantisme aku dan dia, aku masih belum bisa mengatakan ‘kita’. kita
membicarakan banyak hal, tentang kejadian yang memuakan disiang hari, tentang
mantan kekasihnya yang bermain-main
diperasaanya, tentang jawaban-jawabannya yang selalu dipenuhi oleh jawaban
singkat, khas perempuan urban. Huft.
“ kamu itu kok formal banget ya,
Fin?” kata-katanya menghujam malam yang semakin ringkih. Aku formal? Lalu
mencoba memahami maksud dari apa yang diucapkannya. Tentu terkejut, karena
hanya ada dua orang yang pernah bilang seperti itu, orang pertama Anggie yang
kemudian menjadi perempuan yang ada disampingku dan ia, perempuan yang lainnya.
Tentu heran, pernyataan tersebut seolah memaksaku untuk mereflesksikan diriku
sendiri. Ia menambahkan, kalau bahasaku sok sastrwi, terlalu filosofis. Alamak.
Apa yang dia ucapkan persis sama dengan yang Anggie ketika ia pertama kali
bertemu denganku. Tepat di gelap yang sudah semakin beranjak, subuh itu masih
aku ingat betul kala Fajar pertama hadir menghangatkan bumi. Sedangkan, ia
mengatakan itu dikala malam sedang beranjak pada kerapuhan yang lain.
Malam selalu melarutkan ceritanya
dalam nuansa yang berbeda. Aku sempat terbawa diri untuk menjadikan ia sebagai
tenang yang lain. Malam jadi saksinya, ada yang tak sempat diceritakan oleh
kata ketika kita berdua, hanya aku yang
sempat bertanya akankah kau tau maksudnya. Seharusnya malam membawaku pada
keberanian yang lainnya untuk sekedar menikmati malam yang pendek itu bersama
jawaban yang sederhana untuk mencari kesempatan untuk bisa dirindukan kembali
dihari yang lain. Kita menjadi sepasang yang bisa saling menenangkan, meski
sesaat. setelah itu melupakannya dikala Fajar lainnya hadir memengggal kisah
yang sunyi itu.
Jam berdetak dalam hening. Membawanya
pada ujung pagi, sedikit sakit kepala. Kita mengenyah mencari lelap. Merebahkan
lelah dan kembali tersadar dalam lamunan yang singkat.
Terima kasih, engkau adalah romantisme
yang lain. Menemamiku ketika gelap jatuh diujung malam yang dingin. Dimalam
itu, ada kisah yang banyak rindunya. Untuk malam itu, untuk perempuanku yang
jauh dari sana. Untuk lelakimu yang cemas mencarimu.
postscript: ada cerita yang diabadikan lewat
klise-klise yang kemudian dicetak menjadi foto, tapi aku tak bisa menjadi
fotografer handal. Ada pula kisah yang diabadikan dalam kanvas, tak coretanku
sungguh buruk sekali, ada nada-nada yang merangkum kisah kemudian menjadi
bait-bait lirik lagu, aku hanya bisa memaikan grip gitar dasar. Aku lebih
mengabadi dalam tulisan-tulisan bisu yang membawaku pada semesta lainnya. kali
ini, aku menuliskannya untukmu,
Untuk Perempuan diujung Pelukan
12-10-2014






0 komentar:
Posting Komentar