Senin, 08 Desember 2014

Di Djakarta itu, Malam Bisu menjadi Saksinya

“ Tak ada yang lebih damai dari Malam. Malam menggoyak Rindu yang mengendap”

Senja meninggalkan langit jingga. Tengelam menuju belahan yang lain. Ada malam yang katanya melahirkan gelap. Namun aku tak pernah percaya kalau malam yang melahirkan gelap. Malam justru melahirkan terang. Terang hanyalah kiasan yang dilalui yang menjadi pembedanya. Aku selalu percaya kalau terang tidak akan abadi menemani, gelaplah yang setia menemani setiap langkah rindu ini. Sederhana saja alasannya, aku terlahir dari gelap dan berakhir bersama gelap. Dinding rahim yang gelap atau dinding kubur yang juga gelap. Gelap adalah terang yang abadi. Meski cerita-cerita lainnya ada kehidupan yang katanya terang selalu menghadir setiap waktu. Aku sedang tidak berbicara soal itu.entahlah.

Gelap semakin merangkak rapuh, langit tetap menjingga. Entahlah, aku tak pernah menemukan hal semacam itu ditempat lainnya. Tak ada lukisan bintang yang menentramkan, cahaya kota membias sampai kelangit yang seharusnya gelap suci. Namun, langit tetap meninabobokan penghuninya. Jalanan disiang hari yang biasanya padat, memaknai setiap jengkalnya sebagai keberartian ruang kini beranjak lengang. Tak ada kemacetan yang menakutkan, tak ada deru klapot biadad. Tak ada ceracau supir angkot yang lupa pada makna kejujuran, tak terdengar ceracau liar  kaum marjinal yang terjebak pada rayu ibu kota.
Djakarta tampak lugu dimalam hari, lampu pengganti bintang yang terkotori oleh cahaya-cahaya dibawahnya menjadi pelengkap malam yang mencandu itu. Jalanan begitu lengang. Aku duduk diantara pohon-pohon yang menari ditikam angin sendu, seperti sisa-sisa rindu yang coba diingatkan kembali. Malam itu, Djakarta tampak perawanannya. Aku suka itu.

Malam itu, aku tak sendirian. Duduk dikursi disisi jalan tepat di depan meseum nasional. Didepannya dipajang patung gajah. orang lain ada pula yang mengenalnya sebagi museum Gajah. peduli setan dengan segala istilah yang memisahkan itu. Aku ingin menikmati malam itu dengan lebih damai. Lampu malam, gedung-gedung yang tinggi, jalanan yang padat, malam itu benar-benar bisu. Seolah beristirahat setelah seharian penuh riuh oleh aktifitas manusia yang berlomba mencari pundi-pundi.

Malam itu, benar-benar romantis. Aku duduk berdua bersama seseorang yang baru aku kenal dua bulan terakhir ini, daun-daun yang gugur dimainakan angin, lampu taman yang temaran, atau lelaki paruh baya yang lelah menjajakan kopi hangatnya. Aku membelinya sebagai teman yang menghangatkan obrolan, namun kepulan asap kopi itu hanya kopi yang artifisial, perantara diantara kecangungan yang segera dicairkan.
Tak perlu keperjelas ia siapa. Ia temanku malam itu. meniti setiap jengkal detik yang membawa malam pada kerapuhannya. Mengulangi siklus purba, malam lalu berganti fajar. Ia fajar yang lainnya. Fajar yang tak pernah diceritakan oleh embun atau mungkin ia memang anak dari sang Fajar. Entahlah. Pastinya ia menjadi teman yang baik menemani laki-laki yang baru saja dikenalnya. Ia tak takut, aku bisa berbuat jahat padanya. Ceroboh. Tentunya tak mungkin juga aku berbuat jahat pada perempuan sebaik dia.

Kita berdua diantara kata yang tak sempat senja ceritakan. Mengulas kisah lama yang tak pernah purna untuk diceritakan. Meski kadang mengoyak ingatan yang rasanya perih mengiris. Kita mengenal lebih jauh meski tak ada tangan yang saling menggamit, meski kepalanya tak bersandar dipundakku atau kecup kasih sebagai bunga kebersamaan. Aku tak perlu itu, aku rikuh malam itu. Terjebak dalam romantisme yang serba kikuk. Ingin kupeluk erat resahnya agar  ia terlelap dalam lamunan panjang bersamaku. Ingin kubisikan cerita-cerita Zeus dan Hera di Olympus. Aku tak bisa. Ia adalah romantisme yang lain,  romantisme yang dipisahkan perasaan yang berbeda. Aku punya yang lain dan ia pun kekeuh dengan sikapnya.

Aku bercerita tentang Batavia yang dibangun dari puing-puing Jayakarta. Jean Peter Coen, si Gubenur VOC pertama membumi hanguskannya lalu dirubahnya Jayakarta menjadi Batavia. Kota yang diproyeksikan hanya untuk 800ribu penduduk itu, kini sudah diisi sesak oleh 12 juta manusia. Aku seperti pemandu tour wisata anak SD, menceritakan setiap sudut Jakarta yang tak lagi menjadi Amsterdamnya Asia. Sisa-sisa kanal di Harmonie masih ada namun hanya menyiskan kumuhnya ibu kota negara ini. Lapangan Banteng yang kini berubah menjadi Monas pun menjadi semakin megah. Aku bercerita banyak tentang bagaimana Jakarta ini penuh dengan genangan sejarah. Ia hanya manggut-manggut dan mencoba memahami obrolanku, meski aku sangat yakin kalau ia tak tertarik atau memahami obrolanku. Aku tetap tak peduli. Aku sedang terjebak pada euforia sejarah. Aku bisa merasakan bagaimana para gubenur Jenderal itu membangun Djakarta. Djakarta tetap indah dan seperti di Amsterdam meski hanya dalam khayalanku saja.

Perjalanan menyusuri sisa cita-cita VOC itu dipenggal dibangku taman yang bisu namun pernah menjadi saksi romantisme aku dan dia, aku masih belum bisa mengatakan ‘kita’. kita membicarakan banyak hal, tentang kejadian yang memuakan disiang hari, tentang mantan kekasihnya yang  bermain-main diperasaanya, tentang jawaban-jawabannya yang selalu dipenuhi oleh jawaban singkat, khas perempuan urban. Huft.
“ kamu itu kok formal banget ya, Fin?” kata-katanya menghujam malam yang semakin ringkih. Aku formal? Lalu mencoba memahami maksud dari apa yang diucapkannya. Tentu terkejut, karena hanya ada dua orang yang pernah bilang seperti itu, orang pertama Anggie yang kemudian menjadi perempuan yang ada disampingku dan ia, perempuan yang lainnya. Tentu heran, pernyataan tersebut seolah memaksaku untuk mereflesksikan diriku sendiri. Ia menambahkan, kalau bahasaku sok sastrwi, terlalu filosofis. Alamak. Apa yang dia ucapkan persis sama dengan yang Anggie ketika ia pertama kali bertemu denganku. Tepat di gelap yang sudah semakin beranjak, subuh itu masih aku ingat betul kala Fajar pertama hadir menghangatkan bumi. Sedangkan, ia mengatakan itu dikala malam sedang beranjak pada kerapuhan yang lain.

Malam selalu melarutkan ceritanya dalam nuansa yang berbeda. Aku sempat terbawa diri untuk menjadikan ia sebagai tenang yang lain. Malam jadi saksinya, ada yang tak sempat diceritakan oleh kata  ketika kita berdua, hanya aku yang sempat bertanya akankah kau tau maksudnya. Seharusnya malam membawaku pada keberanian yang lainnya untuk sekedar menikmati malam yang pendek itu bersama jawaban yang sederhana untuk mencari kesempatan untuk bisa dirindukan kembali dihari yang lain. Kita menjadi sepasang yang bisa saling menenangkan, meski sesaat. setelah itu melupakannya dikala Fajar lainnya hadir memengggal kisah yang sunyi itu.

Jam berdetak dalam hening. Membawanya pada ujung pagi, sedikit sakit kepala. Kita mengenyah mencari lelap. Merebahkan lelah dan kembali tersadar dalam lamunan yang singkat. 
Terima kasih, engkau adalah romantisme yang lain. Menemamiku ketika gelap jatuh diujung malam yang dingin. Dimalam itu, ada kisah yang banyak rindunya. Untuk malam itu, untuk perempuanku yang jauh dari sana. Untuk lelakimu yang cemas mencarimu.

postscript: ada cerita yang diabadikan lewat klise-klise yang kemudian dicetak menjadi foto, tapi aku tak bisa menjadi fotografer handal. Ada pula kisah yang diabadikan dalam kanvas, tak coretanku sungguh buruk sekali, ada nada-nada yang merangkum kisah kemudian menjadi bait-bait lirik lagu, aku hanya bisa memaikan grip gitar dasar. Aku lebih mengabadi dalam tulisan-tulisan bisu yang membawaku pada semesta lainnya. kali ini, aku menuliskannya untukmu,

Untuk Perempuan diujung Pelukan
12-10-2014

0 komentar:

Posting Komentar