Rasanya tidak pernah
merasa bosan untuk menceritakan Jember, lebih dalam dan lebih lengkap. Jember
tak hanya sekedar kata yang dirangkai dalam dua huruf vokal atau sekedar kota
yang berada hampir diujung pulau Jawa. Bukan. Jember lebih dari sekedar bahasa,
Jember adalah untaian cerita yang layak diceritakan sebagai pengantar tidur.
Jember adalah kesemestaan cerita!
***
Jember semakin dingin.
Kemarau menghembuskan udara dinginnya. Jember semakin sepi ditinggalkan
penghuninya, banyak diantaranya yang berebut untuk menikmati ritus suci Idul
Fitri. Namun, Jember tetap tidak kehilangan ceritanya. Disudut yang tak terlalu
ramai, beberapa penghuni yang tersisa di kota Jember menikmati kemeriahan malam
bersama canda tawa, perjumpaaan hangat setelah terpisah, cerita penuh semangat
atau sekedar suara lamat-lamat karena bercerita sedikit pribadi. Diantara semua
kehangatan itu, ada kepulan asap rokok, asbak yang penuh dengan puntung-puntung
rokok dan tentunya sahabat setia dari setiap kehangatan tersebut, Kopi. Yap,
kopi adalah bagian dari identitas yang berkembang bak jamur. Hampir setiap
sudut kota Jember berdiri warung-warung kopi. Dari mulai yang kelas kaki lima
sampai hotel bintang lima. Semua tempat berlomba memberikan sajian kopi
terbaiknya.
Warung kopi telah
menjadi rumah kedua bagi pecinta ‘ngopi’. Dari segala golongan, bersatu dalam
kebersamaan yang sederhana, menikmati kopi dan ngobrol ngalor-ngidul. Warung kopi telah menjadi identitas baru di Jember.
Ruang publik yang menceritakan banyak hal. Tidak ada si Kaya atau si Miskin.
Semuanya sama, merujuk pada pemikiran dari Habermas tentang konsep ruang publik
yang menekankan bahwa Ruang publik yang bebas dari campur tangan pemerintah dan
pasar—di mana semua warga terlibat secara adil dalam perdebatan rasional
mengenai kebaikan bersama dalam rangka mencapai konsesus dan tindakan yang
demokratis.
Dalam konsep ruang
publik, masyarakat datang ke warung kopi awalnya untuk sekedar menikmati kopi
disempurnakan melalui obrolan. Berawal dari obrolan tentang musik, seni lalu
beranjak pada obrolan sengit tentang politik atau ekonomi. Semua terjadi kesetaraan rasional tanpa hierarki. Obrolan-obrolan
tersebut tersedia melalui pengamatan, penglihatan pada kondisi lingkungan yang
tersebar memalui banyak sarana, media massa, sosial media dan banyak lainnya. Perdebatan,
obrolan tersebut melahirkan pemahaman baru, menciptakan kesadaran baru. Warung kopi
pada akhirnya bisa menjadi media untuk mengomunikasikan informasi dan juga
pandangan. Dalam keadaan masyarakat bertemu dan berdebat akan sesuatu secara
kritis maka akan terbentuk apa yang disebut dengan masyarakat madani. Secara
sederhana masyarakat madani bisa dipahami sebagai masyarakat yang berbagi
minat, tujuan, dan nilai tanpa paksaan—yang dalam teori dipertentangkan dengan
konsep negara yang bersifat memaksa.
Memang dalam
perkembangannya konsep ruang publik tidak hanya sebatas ruang fisik, namun juga
ruang-ruang lainnya sebagai tempat diamana arus informasi berada. Sosial media
bisa menjadi salah satu contohnya. Konsep ruang publik dalam bentuk virtual
tersebut justru melahirkan esensi yang berbeda dalam konteks komunikasi
komunal. Satu sama lain tidak bisa bertemu, tak bisa bertatap muka. Hal inilah
yang menurut John Horgan, The End of
Science sebagai salah satu bentuk kematian, kematian sosial. Warung kopi
sebagai nadi baru yang menghidupakan lagi proses-proses yang kultural cum
mengaksikan ini.
****
Kenyataan itu disadari
oleh banyak masyarakat khususnya di Jember. Banyak diantara saya dan penggemar
warung kopi lainnya akhirnya lebih memilih untuk hahahihi bersama diwarung kopi, bersama kopi dan obrolan-obrolan
hangat lainnya. Saya biasa menghabiskan waktu hangat tersebut diwarung Kopi Cak
Wang. Warung kopi yang menurut saya lebih epic dari tempat lainnya yang biasa
menjadi tempat nongkrong saya. Di Cak wang saya mengenal lebih akrab
kawan-kawan, sebut saja Whisnu, Arik, Rizal, Adjie, Ikhsan. Kawan se warung
kopi. Dari tempat ini pula, karena obrolan yang begitu bebas akhirnya
melahirkan ide-ide liar yang justru mencipta kreativitas.
Bicara soal warung
kopi Cak wang, ada hal yang istimewa
ditempat ini yaitu di Cakwang warung kopi yang buka selama 24 jam dan tujuh
hari non stop. Ditempat ini, benar-benar menghadirkan suasana yang bebas, saya
bisa berjam-jam disini dengan tanpa tahu malu hanya memesan segelas kopi hanya
untuk sekedar membunuh waktu dengan menulis, Wifi-an. Seperti saat saya menulis
tulisan ini, saya menulisnya di Cakwang
sejak pagi tadi.
Sungguh, ditempat ini
dengan suasana kekeluargaan pegawainya membuat saya benar-benar betah meski
menunya pun hanya itu-itu saja. Tidak penting. Saya sangat membutuhkan suasana
yang menciptakan kenyamanan. Itu poin pentingnya dari hal lainnya.
Di Cak Wang pula
tempatnya luas dan menyediakan jaringan wifi yang cukup bersaing diantara
warung kopi atau cafe yang ada di Jember. Alasan-alasan tersebutlah yang membuat
saya begitu jatuh hati pada ruang publik yang bernama warung kopi Cak wang. Saya
menjadi penggemar warung kopi Cak wang semenjak warung kopi ini berada
dilingkungan kampus, tepatnya didalam kampus FISIP. Setahun yang lalu, saya dan
tentu para penggemar Warung Kopi Cakwang yang biasa diseput Cak Wang Ranger sempat
bersedih karena warung kopi ini terpaksa ditutup karena kontraknya yang sudah
habis. Kesedihan itu hanya bertahan selama dua bulan saja sebab tak lama
setelah itu Warung Kopi Cak Wang dibuka kembali. Bahkan dibuka di tiga tempat
yang berbeda. Namun saya terlanjur jatuh hati pada warung kopi Cak Wang yang
berada di jalan Mastrip.
Namun, romantisme saya
bersama Cak Wang beberapa waktu yang
akan datang akan terganggu. Saya tidak bisa lagi ngopi dan berproses kreatif
disini karena saya harus beranjak mencari hal yang baru di tempat yang lain. Saya
akan bekerja di Jakarta secara otomatis saya pun berpisah dengan Jember, cak
wang dan segala ceritanya yang sempat tertulis dengan indah dalam ingatan saya.
Huft...
Apa boleh buat. Cerita
tentang Cak wang dan warung kopi yang lainnya adalah cerita yang tidak bisa
dilenyapkan dari Jember. Warung kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari
pecinta Jember. Warung kopi telah menjadi nadi baru dalam metamorfosis
silaturahmi masyarakat Jember dan warung kopi adalah ruang kelas yang lebih
nyaman dari kelas pada waktu kuliah. Warung kopi pun telah menjadi basecamp bagi perubahan-perubahan yang
terjadi di Jember. Cerita indah saya tentang warung kopi lahir dari Cakwang.








0 komentar:
Posting Komentar