Selasa, 12 Agustus 2014

Cak Wang dan Ingatan yang Menolak Lapuk



Rasanya tidak pernah merasa bosan untuk menceritakan Jember, lebih dalam dan lebih lengkap. Jember tak hanya sekedar kata yang dirangkai dalam dua huruf vokal atau sekedar kota yang berada hampir diujung pulau Jawa. Bukan. Jember lebih dari sekedar bahasa, Jember adalah untaian cerita yang layak diceritakan sebagai pengantar tidur. Jember adalah kesemestaan cerita!





***

 Jember semakin dingin. Kemarau menghembuskan udara dinginnya. Jember semakin sepi ditinggalkan penghuninya, banyak diantaranya yang berebut untuk menikmati ritus suci Idul Fitri. Namun, Jember tetap tidak kehilangan ceritanya. Disudut yang tak terlalu ramai, beberapa penghuni yang tersisa di kota Jember menikmati kemeriahan malam bersama canda tawa, perjumpaaan hangat setelah terpisah, cerita penuh semangat atau sekedar suara lamat-lamat karena bercerita sedikit pribadi. Diantara semua kehangatan itu, ada kepulan asap rokok, asbak yang penuh dengan puntung-puntung rokok dan tentunya sahabat setia dari setiap kehangatan tersebut, Kopi. Yap, kopi adalah bagian dari identitas yang berkembang bak jamur. Hampir setiap sudut kota Jember berdiri warung-warung kopi. Dari mulai yang kelas kaki lima sampai hotel bintang lima. Semua tempat berlomba memberikan sajian kopi terbaiknya. 

Warung kopi telah menjadi rumah kedua bagi pecinta ‘ngopi’. Dari segala golongan, bersatu dalam kebersamaan yang sederhana, menikmati kopi dan ngobrol ngalor-ngidul. Warung kopi telah menjadi identitas baru di Jember. Ruang publik yang menceritakan banyak hal. Tidak ada si Kaya atau si Miskin. Semuanya sama, merujuk pada pemikiran dari Habermas tentang konsep ruang publik yang menekankan bahwa Ruang publik yang bebas dari campur tangan pemerintah dan pasar—di mana semua warga terlibat secara adil dalam perdebatan rasional mengenai kebaikan bersama dalam rangka mencapai konsesus dan tindakan yang demokratis.  

Dalam konsep ruang publik, masyarakat datang ke warung kopi awalnya untuk sekedar menikmati kopi disempurnakan melalui obrolan. Berawal dari obrolan tentang musik, seni lalu beranjak pada obrolan sengit tentang politik atau ekonomi. Semua  terjadi kesetaraan rasional tanpa hierarki. Obrolan-obrolan tersebut tersedia melalui pengamatan, penglihatan pada kondisi lingkungan yang tersebar memalui banyak sarana, media massa, sosial media dan banyak lainnya. Perdebatan, obrolan tersebut melahirkan pemahaman baru, menciptakan kesadaran baru. Warung kopi pada akhirnya bisa menjadi media untuk mengomunikasikan informasi dan juga pandangan. Dalam keadaan masyarakat bertemu dan berdebat akan sesuatu secara kritis maka akan terbentuk apa yang disebut dengan masyarakat madani. Secara sederhana masyarakat madani bisa dipahami sebagai masyarakat yang berbagi minat, tujuan, dan nilai tanpa paksaan—yang dalam teori dipertentangkan dengan konsep negara yang bersifat memaksa.

Memang dalam perkembangannya konsep ruang publik tidak hanya sebatas ruang fisik, namun juga ruang-ruang lainnya sebagai tempat diamana arus informasi berada. Sosial media bisa menjadi salah satu contohnya. Konsep ruang publik dalam bentuk virtual tersebut justru melahirkan esensi yang berbeda dalam konteks komunikasi komunal. Satu sama lain tidak bisa bertemu, tak bisa bertatap muka. Hal inilah yang menurut John Horgan, The End of Science sebagai salah satu bentuk kematian, kematian sosial. Warung kopi sebagai nadi baru yang menghidupakan lagi proses-proses yang kultural cum mengaksikan ini.

****
Kenyataan itu disadari oleh banyak masyarakat khususnya di Jember. Banyak diantara saya dan penggemar warung kopi lainnya akhirnya lebih memilih untuk hahahihi bersama diwarung kopi, bersama kopi dan obrolan-obrolan hangat lainnya. Saya biasa menghabiskan waktu hangat tersebut diwarung Kopi Cak Wang. Warung kopi yang menurut saya lebih epic dari tempat lainnya yang biasa menjadi tempat nongkrong saya. Di Cak wang saya mengenal lebih akrab kawan-kawan, sebut saja Whisnu, Arik, Rizal, Adjie, Ikhsan. Kawan se warung kopi. Dari tempat ini pula, karena obrolan yang begitu bebas akhirnya melahirkan ide-ide liar  yang justru mencipta kreativitas.

Bicara soal warung kopi  Cak wang, ada hal yang istimewa ditempat ini yaitu di Cakwang warung kopi yang buka selama 24 jam dan tujuh hari non stop. Ditempat ini, benar-benar menghadirkan suasana yang bebas, saya bisa berjam-jam disini dengan tanpa tahu malu hanya memesan segelas kopi hanya untuk sekedar membunuh waktu dengan menulis, Wifi-an. Seperti saat saya menulis tulisan ini, saya menulisnya di  Cakwang sejak pagi tadi.

Sungguh, ditempat ini dengan suasana kekeluargaan pegawainya membuat saya benar-benar betah meski menunya pun hanya itu-itu saja. Tidak penting. Saya sangat membutuhkan suasana yang menciptakan kenyamanan. Itu poin pentingnya dari hal lainnya.

Di Cak Wang pula tempatnya luas dan menyediakan jaringan wifi yang cukup bersaing diantara warung kopi atau cafe yang ada di Jember. Alasan-alasan tersebutlah yang membuat saya begitu jatuh hati pada ruang publik yang bernama warung kopi Cak wang. Saya menjadi penggemar warung kopi Cak wang semenjak warung kopi ini berada dilingkungan kampus, tepatnya didalam kampus FISIP. Setahun yang lalu, saya dan tentu para penggemar Warung Kopi Cakwang yang biasa diseput Cak Wang Ranger sempat bersedih karena warung kopi ini terpaksa ditutup karena kontraknya yang sudah habis. Kesedihan itu hanya bertahan selama dua bulan saja sebab tak lama setelah itu Warung Kopi Cak Wang dibuka kembali. Bahkan dibuka di tiga tempat yang berbeda. Namun saya terlanjur jatuh hati pada warung kopi Cak Wang yang berada di jalan Mastrip.  


Namun, romantisme saya bersama Cak Wang  beberapa waktu yang akan datang akan terganggu. Saya tidak bisa lagi ngopi dan berproses kreatif disini karena saya harus beranjak mencari hal yang baru di tempat yang lain. Saya akan bekerja di Jakarta secara otomatis saya pun berpisah dengan Jember, cak wang dan segala ceritanya yang sempat tertulis dengan indah dalam ingatan saya. Huft...

Apa boleh buat. Cerita tentang Cak wang dan warung kopi yang lainnya adalah cerita yang tidak bisa dilenyapkan dari Jember. Warung kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pecinta Jember. Warung kopi telah menjadi nadi baru dalam metamorfosis silaturahmi masyarakat Jember dan warung kopi adalah ruang kelas yang lebih nyaman dari kelas pada waktu kuliah. Warung kopi pun telah menjadi basecamp bagi perubahan-perubahan yang terjadi di Jember. Cerita indah saya tentang warung kopi lahir dari Cakwang.


0 komentar:

Posting Komentar