Riuh Jakarta sembat membuatku lupa. Ada rumah ku yang sempat
tak terawat. Rumah berpikir, tempat segala kebebasan dan ide tak perlu
diperdebatkan. Aku terbangun dari riuhnya, mencoba menengok kembali rumah ide yang hampir satu tahun tidak
terurus. Ada kontemplasi yang terawat, ada diskusi yang tak sempat tertulis, dan ada resah yang gagal abadi. Menulis ku tak kutuangkan dalam ruang ini, tercecer dalam kepentingan berbeda-beda. Menulis tak seintim sebelumnya.
Kembali ku rangkai ide, kembali ku tuangkan dalam kata-kata.
Aku ingin merawatnya lagi. Pekerjaan, kemacetan, aktivitas padat membuatku
harus memulai untuk menulis dengan rutin
agar amarahku lebih redup lebih endap.
Selamat datang 2016, aku ingin merawat rumah Satire yang tak
satire-satire amat.







