Selasa, 19 Januari 2016

Awalan yang tak berawal




Riuh Jakarta sembat membuatku lupa. Ada rumah ku yang sempat tak terawat. Rumah berpikir, tempat segala kebebasan dan ide tak perlu diperdebatkan. Aku terbangun dari riuhnya, mencoba menengok kembali  rumah ide yang hampir satu tahun tidak terurus. Ada kontemplasi yang terawat, ada diskusi yang tak sempat tertulis, dan ada resah yang gagal abadi. Menulis ku tak kutuangkan dalam ruang ini, tercecer dalam kepentingan berbeda-beda. Menulis tak seintim sebelumnya.

Kembali ku rangkai ide, kembali ku tuangkan dalam kata-kata. Aku ingin merawatnya lagi. Pekerjaan, kemacetan, aktivitas padat membuatku harus  memulai untuk menulis dengan rutin agar amarahku lebih redup lebih endap.
Selamat datang 2016, aku ingin merawat rumah Satire yang tak satire-satire amat.

Obituary



Kembalilah menjadi tiada.
Hari sudah meminta bergegas
Kembalilah.
Kisahnya telah menemukan tempatnya
Bersama kabut keriput
bersama cerita yang tak teringat
bersama rindu yang tak terduakan.
kembalilah
Melewati rinai air mata melepas bersama
Kafan membalut usiamu
Pasar malam telah usai
Berganti ceria baru, menyaksikan komedi putar. Berlari, kalau hidup tentang datang lalu pergi
Terbang bersama titah-titah Tuhan yang kau yakini.
Pergilah.
Engkau telah pantas untuk pulang
Menemui Kuasa Nya. Meletakan lelah duniawi yang tak berkesudahan
Entah malam keberapa, alunan ayat suci mengantarkan nya dalam rebahan tidur semalam
Sesak mata menahan.
Meski rindu kelak menjadi ancaman
Tp terikhlaskan semua wujud raga melepas nya pulang
Bersama kisah Tuhan yang terus berlanjut
Untuknya.
Ku titipkan sisa rindu yang tak pernah usai.


Untuk Mbah Uti yang sudah dipanggil Tuhan.
13 Oktober 2015