Suatu
pagi, aku terbangun dengan tidak biasa. Langit Jakarta begitu muram. Aku terkapar penuh tanya. Apa yang terjadi? Terbangun dengan
kondisi sangat lelah. Padahal aku sudah tidur cukup lama, tidak seperti
biasanya. Angin musim hujan berhembus, menyelinap melalui Jendela yang sengaja
tak tertutup, sejuk sekali. Padahal Jakarta tak ramah untuk kesejukan, pagi begitu
segar. Tetap aku tak berdaya, persendian begitu ngilu, hanya mengedipkan mata
sambil sesekali berusaha untuk menggerakan badan. Tetap saja, aku tak kuasa. Kali
ini, perutku begitu sakit, melilit seperti ada Pyton yang ingin menerkamku. Melahap
diam-diam. Tidak hanya itu saja, kesakitanku pun bertambah parah. Mataku menjadi
nanar, lindap melihat cahaya. Mulutku tak
bersuara, lidahku kelu. Ada apa ini? Tidak biasanya aku semenderita ini.
Di
pagi yang temaram, tubuhku lunglai tak berdaya. Dihantam pertanyaan yang belum
terjawab. Namun aku terus mencari setiap kemungkinan yang bisa memberi jawaban.
Coba menenangkan diri. Selang beberapa menit kemudian, mataku mulai bisa
melihat dan tanganku mulai bisa digerakan. Kugapai sesegera mungkin Handphone,
aku menghubungi Anggie kemudian semuanya kembali menjadi seperti sedia kala. Seperti
itulah kiranya metafora ditikam rindu yang datang disaat pagi begitu senyap untuk
dikhianati. Rindu harus dikhatamkan kemudian merangkainya kembali, kemudian terjebak pada absruditas ala Sisifus. Disiksa membawa batu ke atas bukit kemudian menggelindingkannya, terus demikian. Sejatinya, Rindu Perkara sederhana
namun menjadi rumit jika tak ada cara ampuh menyederhanakannya.
Perkara Rindu Perlu disederhanakan.
Menyederhanakan
rindu adalah perkara gampang-gampang sulit. Sesulit bangun pagi dan semudah
memasak indomie goreng. Rindu begitu sederhana jika rindu dituntaskan dalam
pertemuan, pertemuan memegat rindu yang kronis. Namun menjadi rumit jika bicara
waktu dan kesempatan. Selalu ada saja yang menghalangi untuk bertemu, kemudian
rindu menjadi liar dan lupa diri.
Beberapa
hari ini, aku benar-benar rindu keberadaanmu. Merindukan hari yang begitu biasa
di kota kita bersama, Jember. Menikmati suasana Jember setelah hujan, secercah
cahaya matahari pertama setelah dibayangi mendung. Menggunakan Vespa tua
berwarna Maron, kita menyusuri kota. Bercerita tentang halaman rumah yang dipenuhi
bunga dan kucing, menekuri kebersamaan dan sore menjadi khatam. Selalu demikian.
Aku
pun rindu, kita berburu bahan masakan di Pasar Tanjung, kamu tangkas sekali
menawar dan memilih bumbu-bumbu. Tanganmu awas menimbang-nimbang kentang mana
yang lebih besar, memilih ayam yang masih segar sedangkan aku tak peduli soal
hal-hal seperti itu. kemudian kita bereksperimen rasa. Masih ingat masakan
pertamamu untukku? Kita memasak udang goreng yang sengaja dibeli dari Puger. Hanya
untuk udang saja kita harus membuang banyak waktu ke Puger bukan? Saat itu,
kita tak peduli meski panas begitu keji. Sekarang, panas yang begitu keji itu
berkecambah menjadi rindu yang bercabang.
Apakah
kamu masih mengingatnya juga? Ketika Aku
pernah membuatkan perkedel kentang. Sayang sekali, terlalu lembek dan asin. Sekarang
aku sudah lebih jago memasak daripada dulu. Tidak hanya papahmu yang akan jago
memasak. Sekarang, aku pun bisa beradu.hehe
Ada
30 tempat yang pernah kita kunjungi selama dua tahun kebersamaan di Jember,
seluruh wilayah Tapal Kuda paripurna kita nikmati. Menikmati senja di belakang
Gumuk Kerang dan pantai di Situbondo. Air terjun di Tanggul dan Watu Ondo. Tersesat
saat menuju Pantai Selatan Jember. Kemalaman dan ban bocor di Gumitir. Terjebak
hujan deras di Bande Alit. Kelelahan di Baluran. Kebersamaan kita di Jember
begitu sederhana. Petualang kita yang luar biasa.
Kebersamaan
di Jember bersamamu membawa ingatanku pada hari-hari itu. Beberapa waktu lalu
aku benar-benar seperti sakaw. Tetiba saja, aku ingin kamu hadir disampingku. Menungguku
terbangun kemudian menyuguhkan kopi hangat. Tetiba saja, aku ingin dielus-elus kepalaku untuk menenangkan amarahku. Tetiba
saja, aku ingin kau menciumku menghentikan segala ceracau, meneduhkanku. Melupakan
penat menyadarkan bahwa hanya ada kamu yang selalu menemaniku. Tetiba saja,
pagi itu aku menjadi serindu-rindunya padamu. Disiksa rindu memang tak pernah
menyenangkan.







