Senin, 30 Mei 2016

Rindu, itu saja!

       Suatu pagi, aku terbangun dengan tidak biasa. Langit Jakarta begitu muram. Aku terkapar  penuh tanya. Apa yang terjadi? Terbangun dengan kondisi sangat lelah. Padahal aku sudah tidur cukup lama, tidak seperti biasanya. Angin musim hujan berhembus, menyelinap melalui Jendela yang sengaja tak tertutup, sejuk sekali. Padahal  Jakarta tak ramah untuk kesejukan, pagi begitu segar. Tetap aku tak berdaya, persendian begitu ngilu, hanya mengedipkan mata sambil sesekali berusaha untuk menggerakan badan. Tetap saja, aku tak kuasa. Kali ini, perutku begitu sakit, melilit seperti ada Pyton yang ingin menerkamku. Melahap diam-diam. Tidak hanya itu saja, kesakitanku pun bertambah parah. Mataku menjadi nanar, lindap melihat cahaya.  Mulutku tak bersuara, lidahku kelu. Ada apa ini? Tidak biasanya aku semenderita ini.
Di pagi yang temaram, tubuhku lunglai tak berdaya. Dihantam pertanyaan yang belum terjawab. Namun aku terus mencari setiap kemungkinan yang bisa memberi jawaban. Coba menenangkan diri. Selang beberapa menit kemudian, mataku mulai bisa melihat dan tanganku mulai bisa digerakan. Kugapai sesegera mungkin Handphone, aku menghubungi Anggie kemudian semuanya kembali menjadi seperti sedia kala. Seperti itulah kiranya metafora ditikam rindu yang datang disaat pagi begitu senyap untuk dikhianati. Rindu harus dikhatamkan kemudian merangkainya kembali, kemudian terjebak pada absruditas ala Sisifus. Disiksa membawa batu ke atas bukit kemudian menggelindingkannya, terus demikian. Sejatinya, Rindu Perkara sederhana namun menjadi rumit jika tak ada cara ampuh menyederhanakannya.

Perkara Rindu Perlu disederhanakan.
Menyederhanakan rindu adalah perkara gampang-gampang sulit. Sesulit bangun pagi dan semudah memasak indomie goreng. Rindu begitu sederhana jika rindu dituntaskan dalam pertemuan, pertemuan memegat rindu yang kronis. Namun menjadi rumit jika bicara waktu dan kesempatan. Selalu ada saja yang menghalangi untuk bertemu, kemudian rindu menjadi liar dan lupa diri.
Beberapa hari ini, aku benar-benar rindu keberadaanmu. Merindukan hari yang begitu biasa di kota kita bersama, Jember. Menikmati suasana Jember setelah hujan, secercah cahaya matahari pertama setelah dibayangi mendung. Menggunakan Vespa tua berwarna Maron, kita menyusuri kota. Bercerita tentang halaman rumah yang dipenuhi bunga dan kucing, menekuri kebersamaan dan sore menjadi  khatam. Selalu demikian.
Aku pun rindu, kita berburu bahan masakan di Pasar Tanjung, kamu tangkas sekali menawar dan memilih bumbu-bumbu. Tanganmu awas menimbang-nimbang kentang mana yang lebih besar, memilih ayam yang masih segar sedangkan aku tak peduli soal hal-hal seperti itu. kemudian kita bereksperimen rasa. Masih ingat masakan pertamamu untukku? Kita memasak udang goreng yang sengaja dibeli dari Puger. Hanya untuk udang saja kita harus membuang banyak waktu ke Puger bukan? Saat itu, kita tak peduli meski panas begitu keji. Sekarang, panas yang begitu keji itu berkecambah menjadi rindu yang bercabang.
Apakah kamu masih mengingatnya juga? Ketika  Aku pernah membuatkan perkedel kentang. Sayang sekali, terlalu lembek dan asin. Sekarang aku sudah lebih jago memasak daripada dulu. Tidak hanya papahmu yang akan jago memasak. Sekarang, aku pun bisa beradu.hehe
Ada 30 tempat yang pernah kita kunjungi selama dua tahun kebersamaan di Jember, seluruh wilayah Tapal Kuda paripurna kita nikmati. Menikmati senja di belakang Gumuk Kerang dan pantai di Situbondo. Air terjun di Tanggul dan Watu Ondo. Tersesat saat menuju Pantai Selatan Jember. Kemalaman dan ban bocor di Gumitir. Terjebak hujan deras di Bande Alit. Kelelahan di Baluran. Kebersamaan kita di Jember begitu sederhana. Petualang kita yang luar biasa.
Kebersamaan di Jember bersamamu membawa ingatanku pada hari-hari itu. Beberapa waktu lalu aku benar-benar seperti sakaw. Tetiba saja, aku ingin kamu hadir disampingku. Menungguku terbangun kemudian menyuguhkan kopi hangat. Tetiba saja, aku ingin dielus-elus kepalaku untuk menenangkan amarahku. Tetiba saja, aku ingin kau menciumku menghentikan segala ceracau, meneduhkanku. Melupakan penat menyadarkan bahwa hanya ada kamu yang selalu menemaniku. Tetiba saja, pagi itu aku menjadi serindu-rindunya padamu. Disiksa rindu memang tak pernah menyenangkan.

Rindu untukmu, Perempuan Revolusionerku*


Selasa, 03 Mei 2016

Kelak, Pagi di 1 Mei




Ada nyanyian di saat pagi belum genap menyatu
Serombongan kemenangan berhasil dicuri
Kemerdekaan itu indah, Tu(h)an.
Muda mudi melepaskan pasungan kuasa lapuk
Saling bercumbu, bertukar warna.
Kita saling mengepal
Berada rapat dalam barisan long march
Menyanyikan pekik revolusi
Si tetua telah ditumbangkan
Untuk mencari hidup dan kemenangan
Sebagai sebuah keniscayaan
Para tetua pulang ke liang kubur
Tak perlu diingat
Apalagi disanjung
Kita berbeda!
Anak-anak yang lahir diatas penderitaan
Kini lupa dan asyik bernyanyi

Perjuangan penghabisan,
bersatu berlawan!
Internasionale,
pastilah di dunia![1]

Tanpa dendam apalagi curiga
Meski memar masih terasa
Kini, tiada kesangsian untuk sebuah harapan:
Kemenangan dan kemerdekaan
Pastilah di dunia
Merdeka


[1] Lirik Internasionale
#30 April 2016, Papandayan yang menggigil