Jumat, 24 Juni 2016

Surat Untuk Adikku, Pram.



Saya selalu percaya bahwa memilih adalah bentuk kebebasan yang paling dasar. Apapun pilihan itu, jika memang dilandasi oleh nurani dan logika maka pantas untuk dihargai.

Sejak kecil kami berada dalam jarak yang berbeda. Aku anak pertama, didikan nenek yang segala sesuatu dituruti. Kecilku menjadi anak yang egois, tidak ingin berbagi. Kemudian lahirlah adikku pertama, Pramoedya Krishna, selisihnya hanya tiga tahun denganku. ia lebih banyak mamah dan ayah yang mendidiknya. Tentunya, masa kecil kami berada dalam satu waktu yang tak jauh berbeda. Ketika aku sedang asyik dengan mainan bongkar pasang, miniatur tentara, mobil-mobilan dan lainnya, adikku pun sama. Namun aku tidak ingin berbagi dengannya. Masa kecilku tidak adil untuknya. 

Berpuluh tahun kemudian ketika aku merefleksikan diri setiap malam, menyesal rasanya melakukan itu. Tentu kamu masih ingat bukan, ketika kamu harus menangis karena tidak kuberi pinjam mainan?
Kemudian kita tumbuh besar. Banyak ketidak adilan yang aku lakukan padamu. Aku bahkan sampai lupa apa saja. Kemudian aku cukup menyadari bahwa kamu mengambil jarak padaku. Dari hal kecil, aku Interisti, kamu lebih memilih menjadi penggemar Juventus. Entah siapa yang mengenalkanmu. Kita pernah berseteru saling merobek poster atau aku yang memonopoli apapun dirumah. Disaat itu, aku tak juga begitu sadar. 

Hari semakin beranjak. Kita tumbuh menjadi dewasa. Kamu tumbuh dengan karaktermu yang pendiam dan tenang sedangkan aku tumbuh dengan karakterku yang selalu bersemangat. Masa-masa itu, kita mulai jarang berkomunikasi namun peduli satu sama lain, peduli yang malu-malu. Apa kamu ingat, ketika aku menantang Dinas Pendidikan Garut  soal Ujian Nasional kemudian aku diancam akan dianulir hasil ujiannya. Ketika itu, kamu masih SMP, sebelum berangkat sekolah kamu menyempatkan demo bersama kawan-kawan GmnI di Gedung DPRD Garut. Kamu masih bocah waktu itu namun kamu berani melempar telur ke gedung DPRD, kemudian berdiri diatas meja pimpinan sambil orasi. Saat itu, aku merasa kamu adalah sungguh-sungguh adikku yang tak terima kakaknya terancam. Sekecil itu. Kita memang berbeda dalam segala hal. Namun kita selalu dipertemukan dalam satu ruang. Dari SD sampai kuliah kita satu sekolah. Berbeda dengan Rama. Kalau soal sama-sama GmnI, aku rasa anak Agus Sugandhi akan memilih berproses di GmnI, termasuk Rama.  

Tentang Tujuan Hidup
Soe Hok Gie pernah menuliskan dalam puisinya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu. Ya. Kita berada dalam lingkungan kuliah yang sama. Namun berbeda dalam ruang berproses. Aku memilih berproses di dunia tulis menulis dan literasi. Kamu memilih belajar Teater. Masa kuliah ada waktu dimana persaudaraan biologis kita begitu sumir. Kita sering berjumpa  dilingkungan PKM namun sudah seperti layaknya kawan biasa. Aku tidak merasa kamu adalah adikku, kamu kawanku.
Sampai dititik tertentu, aku mulai khawatir padamu. Pada kuliahmu lebih tepatnya. Kekhawatiran yang diam-diam. Meski tak jarang aku memberikan ceramah panjang padamu, tentunya kamu menanggapinya dengan sangat dingin. Prespektif soal kuliah semakin mempertegas kalau kita berbeda pandangan. Aku meski tidak peduli-peduli amat masih memiliki antusias untuk berprestasi dijalur akademik, sedangkan kamu aku merasanya terlampau santai-santai saja. Hal itu yang seringkali membuatku gusar. Sampai kamu pun jengah dengan ‘kecerewetan yang keterlaluan’. Kamu pun pindah kost. Keadaan tersebut semakin membuat kita jarang bertemu. Satu kampus, satu lingkungan PKM namun bisa tiga bulan sekali bertemunya. Tentu karena aktifitas dan kecuekan satu sama lainnya. Seringkali aku meminta Anggie untuk mengecek keberadaanmu, mencari tau bagaiamana kuliahmu, makanmu bagaiamana. Sekali lagi, aku peduli padamu secara diam-diam. Anggie adalah perantara kedinginan hubungan persaudaraan kita. kamu lebih banyak cerita pada Anggie daripada aku.

Saat aku pergi dari Jember, jika kamu masih ingat kita ngopi terakhir di Cak Wang jam 3 pagi, dua jam sebelum kereta Logawa membawaku meninggalkan Jember. Itulah moment dimana kita bicara lagi dengan kualitas obrolan yang liyan. Aku memposisikanmu sebagai adikku yang telah dewasa dan berhak memilih tujuan hidupnya sendiri. Harus aku akui, selama ini aku terlihat memaksakan kebenaran dari sudut pandangku, sifat memonopoli kebenaran itu masih ada saja. Subuh itu, kuyakinkan diriku, kuluruhkan egoisku padamu. Kita adalah lelaki dewasa.
Subuh itu, aku sungguh-sungguh mempercayakan padamu bahwa kita bicara sebagai dua orang lelaki dewasa yang telah menentukan jalan hidupnya masing-masing. aku meninggalkan Jember untuk meraih passionku dan kamu bertahan di Jember untu belajar seni peran dengan sungguh-sungguh. Benar, tak ada satu setan pun tau akan menjadi apa kelak kita. Dasar itulah yang membuatku harus sadar diri bahwa memang sudah waktunya aku harus percaya padamu, pada adikku yang telah tumbuh dewasa dan merdeka. 

Menjadi Anti Thesis?
 Aku selalu ingin memperbaiki kesalahan masalaluku padamu-seperti yang kutulis diawal: dengan memberikan kepercayaan yang sungguh-sungguh.  Menjadi apapun adalah kebebasan. Namun aku tidak pernah merasa kamu menjadi anti thesisku, kamu berkembang bukan karena kamu menjadi liyan daripada aku, karena memang itu pilihanmu yang dipilih secara logis dan sesuai nuranimu. Kamu telah tumbuh menjadi lelaki, usiamu sudah 22 tahun bukan? Sudah bukan lagi  bocah SMP yang ikut demo digedung DPRD bukan? Tentu, kamu tau apa yang seharusnya kamu lakukan untuk dirimu sendiri dan kebahagian bersama. Keluarga kita adalah keluarga sederhana namun mengajarkan hal luar biasa. Meski ayah bukanlah orang yang demokratis, namun Mamah adalah penyeimbangnya. Ayah mengajarkan kita tentang ketegasan dalam memilih. Pilihan ayah untuk berada di akar rumput gerakan sampai usia matangnya, jika dilihat secara lebih dalam adalah pilihan yang mulia meski kita begitu gusar karena seringkali kita terbaikan. Namun banggalah pada Ayah, ia tetap memilih berada di tengah masyarakat pedesaan, membangun kesadaran komunal, membentuk koperasi kemudian dari desa yang awalnya sebatas menghasilkan pengangguran dan TKI kita desanya tumbuh. Para anak muda bangga menjadi petani, itu ayah kita yang lakukan. Begitu pula mamah, ia menjadi ibu yang lembut. Kamu ingat Tokoh Bunda, Ibu Pramoedya dan Nyi  Ontosoroh di Novel Pramoedya, nah Mamah perpaduaanya. Perempuan Jawa yang kental dengan pesan-pesan dan nilai-nilai Jawa, sabar mendengarkan kekalutan anaknya. Telaten memberikan kasih sayang yang tak berujung namun ia tegas bahwa anak-anaknya tidak boleh menjadi anak yang lemah, harus maju dan berkembang. Itulah orang tua kita. Jika kamu akhirnya menjadi apapun itu, tentu ada pertanggung jawaban, tidak hanya untuk kamu namun untuk Mamah dan Ayah. Bertanggung jawab padanya dan yakinkan mereka. 

Mamah Mencarimu
Mamah selalu khawatir padamu, tentu soal kuliah dan pilihan-pilihan yang kamu pilih. Aku selalu meyakinkan pada mamah, bahwa kamu telah menjadi anak yang dewasa yang berani dan bertanggung jawab atas pilihannya. Kemarin mamah khawatir karena beberapa waktu yang cukup lama kamu sulit dihubungi. Sampai aku harus meminta tolong Anggie lagi untuk mencari tau keberadaanmu dimana. Dalam obrolan keresahan seorang ibu yang sayang pada anaknya, ia bertanya padaku “ apakah adikkmu sudah tepat pilihan (hidupnya)?” “apakah dia ingin lulus kuliah?” “apakah Krishna hidup teratur di Jember? Ketika mamah masak, mamah suka sedih jika inget Krishna. Apa Krihsna sudah makan atau belum. Badannya kurus, rambutnya gondrong. Mamah minta untuk potong rambut, mamah ga berani takut membuat Krishan tidak nyaman, takut merasa diatur-atur ” dan pertanyaan-pertanyaan yang bernuansa peduli yang mendalam. Aku coba mengurai keresahannya,
“Mah, tentu mamah melihat Krishna dari sudut pandang pembanding Aku dan Rama. Itu kesalahannya. Mamah melihat aku sekarang yang sudah bekerja yang mana tentu hidupku jauh lebih teratur daripada ketika kuliah dulu. Sedangkan Rama, tentu karena ia memang punya keinginan kuat yang mana mamah setiap hari melihatnya, sehingga ia pantas masuk UGM dengan tanpa test. Mamah tidak tahu bahwa bagaimaan proses yang dilakukan Krishana di Jember seperti apa, dia akseleratif, menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Persoalan baju yang lusuh, rambut gondrong adalah soal waktu. Aku pun dulu kaya gitu, ga keurus. Kucel ga jelas, terbantu karena aku punya pacar ada yang mengingatkan. Lah Krishna memilih untuk tidak pacaran. Ya sudah. Persoalannya sama aja bukan?
 Dia sudah dewasa dan sudah paham akan pilihannya. Setiap orang punya definisi bahagia yang berbeda-beda. Krishna tentu tidak akan nyaman jika bekerja seperti aku kelak. Karena memang dunianya berbeda begitu pula sebaliknya, aku tidak nyaman jika mengerjakan apa yang Krishna biasa lakukan. Karena apa? Karena sedari awal mamah memberikan kami kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan hidup. Konsekuensinya adalah kita harus percaya dan mengkontrolnya saja. Yang paling penting adalah ia bahagia, ia menjadi diri sendiri dan ia merdeka tanpa melepaskan tanggung jawabnya pada diri sendiri dan pada orang-orang yang ia sayang. Kalau soal Kuliah, tentu Krishna ingin kuliah S2, ingin menjadi dosen yang artinya kewajibannya sebagai mahasiswa S1 harus selesai dulu. Persoalannya mengapa mamah khawatir  karena mamah tidak tau dengan detail perkembangannya, karena ia anak yang pendiam. Sedangkan aku tanpa mamah minta cerita aku akan cerita dengan sendirinya. Maka dari itu mah, Berlaku adil sejak dalam pikiran itu sungguh teramat penting. Percayalah ia akan meraih kehebatan yang dia inginkan. Tinggal soal waktu dan keseriusan mernggapainya”
Mamah lebih tenang. Kalau kamu bilang seperti itu”katanya lebih bersemangat. 

Begitulah Mamah, Krish. Seorang ibu yang sangat wajar jika khawatir. Ia selalu khawatir pada semua anaknya. Tidak saja padamu, padaku pun demikian. Mamah Khawatir ketika aku dua hari tidak mengabarinya. Tidak hanya Mamah, Rama pun menghubungi aku, “mas, Mas Krish kemana ya kok susah sekali dihubungi?” aku bilang hpmu rusak (mungkin) tentu kamu hidup bukan di era perundagian dan berburu bukan? Hubungilah orang dirumah agar lebih teduh. Jika memang bisa sempatkanlah pulang kerumah untuk lebaran atau setelah lebaran. Sebentar lagi rumah akan terasa sepi, hanya ada Mamah dan Ayah. Rama akan pindah ke Jogja pada bulan Juli ini. Tentu, rumah yang dulu riuh, gaduh. Meributkan hal paling konyol seperti berebut bantal, remote Tv, berebut kamar mandi hanya menjadi kenangan kelu Mamah dan Ayah dirumah. Orang tua kita sudah tidak muda lagi, selagi sempat buatlah mereka bahagia. Menceritakan capaian-capaianmu di Jember adalah kebahagiaan yang teramat besar bagi mamah dan ayah. 

Sebelum aku mengakhiri surat terbuka ini, aku ingin meminta maaf padamu atas masa lalu yang tak baik itu. Sungguh aku menyesal. Mamah selalu bilang, harta terbesarnya adalah anak-anaknya. Gulfino Guevarrato, Pramoedya Ardhi Krishna Murti, dan Parasurama Ardhi Tri Pamungkas. Ketiganya telah memilih jalannya masing-masing namun menjadi guyub adalah keharusan karena kewajiban kita membuat mamah dan ayah selalu tersenyum bahagia.

Selamat berproses dan berjuang, adikku. Merdeka!!!